Aku mengikuti langkah suamiku dengan pelan dalam keadaan hati bertanya-tanya. Seserius apakah masalah yang akan dia bahas ke padaku.
"Kamu tahu Hanafi, Kan?" Dia memulai pertanyaan saat mendapati pant**ku sudah mendarat di ranjang sebelah dia duduk.
Hanafi adalah suami Ida yang memang kutahu sejak lama dia dan suamiku sangat dekat. Ada hubungan persaudaraan di antara mereka walau tanpa ikatan darah.
"Aku sempet ngobrol dengan dia dan istrinya kemarin saat pulang dari kerja," lanjutnya saat melihatku hanya mengangguk menjawab pertanyaan pertamanya.
"Trus ...," responku saat kulihat dia berhenti beberapa lama.
"Dia sahabatku, sahabat baikku. Empat tahun kamu di luar negeri mereka saudaraku di sini. Mereka yang selalu ada di saat aku membutuhkan dukungan seseorang dari dekat. Mereka lebih ada ketimbang Haris yang selama ini ku ikuti."
Panjang lebar dia bercerita. Sedangkan aku masih mendengarkan dengan seksama, belum bisa menerka, kenapa hanya bercerita tentang itu saja dia harus membawa aku ke kamar.
Dia memandangku kemudian menghentikan cerita saat dia menyadari bahwa aku menunggu inti dari pembicaraan ini. Dia tersenyum sambil menggaruk kepala. Aku jadi semakin yakin, sebenarnya ada persoalan penting yang ingin dia sampaikan.
"Kamu tahu, kan anaknya sudah ada tiga? lanjutnya masih berbelit.
"Ya ..."
"Di umur segitu rumahnya masih menyewa."
"Heum."
"Jadi kemarin istrinya bilang mau pinjam duit." Dia berbicara sambil menunduk.
"Pinjami dah kalau ada, apa susahnya?" Mas Heru mengangkat kepala. Ada senyuman semringah terpancar dari wajahnya. Tertawa kencang aku membayangkan jika mas Heru sebegitu takutnya terhadapku.
"Jadi kamu mengijinkan, Mas untuk meminjami dia? Aku masih tertawa sampai kedua mataku mengeluarkan air.
"Dia pinjam untuk membeli tanah habis itu mau dia bikin rumah," lanjutnya tanpa bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
"Dia punya uang berapa? Trus kita nambahi kurang berapa?" jawabku setelah aku bisa menguasai diri.
"Dia ga punya uang sama sekali makanya dia mau pinjam kita." Aku terkejut dan tak sengaja mataku melotot ke arahnya.
"Yang bener, Mas? Beli tanah langsung bikin rumah dan dia ga punya uang simpanan sama sekali?" Aku melotot kemudian melanjutkan, "Dikira semua itu hanya seharga gorengan di pinggir jalan."
"Ada tanah yang sudah ada ragangan rumah. Tinggal dindingin aja, murah kok, Dek, cuman 75 juta rupiah saja.
"Mas punya uang nganggur segitu? Pinjamin mereka kalau ada. Trus seumpama ada kebutuhan mendadak biar pakai uangku saja." Aku memberikan dukungan tak mampu membiarkan rona bahagia itu hilang dari wajahnya.
Aku memandangnya dalam saat kudengar hembusan berat nafasnya.
"Masalahnya aku ga punya uang segitu, Dek. Maksudku tadi aku mau pakai uangmu buat minjamin mereka."
"La iya, Mas. Kalau tanah sama ragangannya aja udah segitu. Trus biaya perbaikan rumahnya berapa? Apalagi dia menyewa. Belum biaya sewa belum biaya kehidupannya. Lahhh kapan bisa ngembalikan ke kita?" jawabku mencoba membuka wawasan dia.
"Kalau tadi Mas ada uang untuk minjamin mereka, paling enggak kalau suatu saat kita butuh, dan pas mereka ga ada uang kita nggak merongrong mereka untuk lekas mengembalikan." Aku berbicara panjang lebar.
"Apalagi Mas tahu kan adikku yang bungsu. Kemarin dia bilang mau usaha. Jadi rencanaku, aku mau membelikan dia pick up." Aku berhenti sejenak kemudian melanjutkan, "Jadi seandainya uang itu aku pinjamkan ke Hanafi berarti itu uang pick up yang akan aku kasihkan ke Rasyid, Mas."
"Bilangnya dia tadi begini ...,"
"Assalamu'alikum ...." Seru salam dari depan menghentikan ucapan mas Heru.
"Waalaikumsalam ...," jawab kami sambil beranjak kompak.
Kami beriringan ke luar kamar untuk melihat siapa tamu yang datang saat maghrib akan menjelang. Belum kubuka pintu suara adzan maghrib dari musholla terdengar begitu nyaring. Karena jarak rumah dengan musholla tergolong dekat. Kubuka pintu walau adzan maghrib tengah berkumandang.
Saat pintu terbuka, kulihat Hanafi beserta istri dan ketiga anaknya berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum ...." Kini suara Ida yang terdengar mengucap salam.
"Walaikumsalam ...." Mas Heru menjawab salamnya sambil membuka pintu lebar.
"Lekas tutup pintu. Adzan maghrib sudah berkumandang," ujarku setelah melihat semua keluarga masuk.
"Ayooo lekas wudhu kita sholat bersama-sama," ujar Ida menggiring anak-anak mereka ke tempat wudhu.
Ternyata sholat di rumahku sudah mereka rencanakan karena semua sudah pada membawa mukenah masing-masing.
"Ayo wudhu," ujar Ida saat melihat aku masih berdiri memperhatikan mereka.
Setelah menunggu aku selesei wudhu kemudian kami sholat maghrib bersama-sama dengan di imami oleh Hanafi.
Selesei sholat dan berdoa. Anak-anak di giring Ida ke ruang tivi. Sedangkan aku menyiapkan hidangan kecil buat mereka.
"Tumben Ida tidak ikut ke dapur membantuku," gumamku tentu saja heran. soalnya tak seperti biasanya Ida tak menyusulku ke dapur saat aku berkutat menyiapkan hidangan.
Setelah selesei kusuguhkan hidangan di ruang tivi dan juga ruang tamu tempat Mas Heru, Hanafi beserta istrinya tengah berbincang.
Obrolan mereka terhenti sejenak saat aku datang. Sedangkan kulihat tatapan Mas Heru dan Hanafi mengarah ke Ida.
"Taruh sini dulu nampannya, Mba. Kami ingin bicara." Ketika hendak mengembalikan nampan ke dapur, Ida memegang pergelangan tanganku.
Dia mengambil nampan yang ada di tanganku dan menaruhnya di bawah meja. Karena sudah tahu apa yang akan dibicarakan aku hanya diam dan menurut saat dengan pelan dia mendorongku untuk duduk di sampingnya.
"Mungkin mas Heru sudah menyambungkan lidah kami. Kami tak akan bertele-tele untuk menyingkat waktu aku hanya ingin tahu apa Mba Yanti mengijinkan."
Mereka bertiga memandangku dengan penuh harap, sedangkan ketiga anak Ida dan Hanafi begitu anteng melihat layar kaca di depannya. Mereka memang anak-anak baik. Tak pernah bikin ulah jika sedang diajak bertamu ke rumah ini.
Kembali pandanganku tearah ke Ida dan Hanafi yang masih menunggu jawabanku.
"Uang tujuh puluh lima juta yang aku pinjam ke Mba Yanti nanti rencananya akan aku buat beli tanah bersama ragangannya. Ini termasuk murah karena tanah itu sudah ada ragangannya tinggal dindingi," ucap Ida bersemangat saat aku belum merespon kata pembuka dia.
"Masalahnya Mas Heru ga punya uang sebanyak itu, Mba."
Ada sekilas keterkejutan yang kulihat di wajah Ida saat mendengar jawabanku.
Namun langsung dengan mudah dia menyembunyikannya. Kemudian dia berkata, " Maksud kami, kami ingin meminjam uang Mba Yanti hasil kerja dari Hongkong itu."
"Ga mungkin kan Mba Yanti tidak punya simpanan segitu. Scara empat tahun looo Mba Yanti ini di Hongkong. Belum lagi sebelum dari Hongkong Mba Yanti delapan tahun kan di Singapore. Bukan waktu yang sedikit kalau uang segitu mah, pasti kecil lah buat Mba Yanti."
Belum sempat ku jawab. Ida sudah memberondongku dengan analisa-analisanya.
Sempat rasa sedih tiba-tiba menyeruak saat teringat delapan tahun aku di negara dengan simbol singa itu namun tidak membuahkan hasil apapun. Karena ulah b***t tunanganku yang memperdaya dan membohongiku beserta keluarga.
"Bisakan, Mba. Mas Heru dan kami sudah menjadi keluarga dekat. Kami tak akan ingkar. Secepatnya akan kami kembalikan. Bahkan sebelum Mba Yanti memerlukannya," ucap Ida memutus lamunanku.
"Begini ya, Mba Ida. Aku bekerja di Hongkong tidak hanya untuk keperluanku saja. Ada keluarga yang harus aku topang karena aku anak pertama. Sedangkan kini aku sudah menikah. Banyak kebutuhan yang akan aku keluarkan setelah ini. Mba tau sendirikan kalau kami masih menikah siri, masih harus mempersiapkan untuk acara penikahan resmi. Belum lagi ..."
Belum selesei aku menjekaskan Ida sudah memotongnya dengan cepat.
"Mba Yanti ... aku lho ga lama pinjamnya. Kasih waktu aku tiga bulan dah. Pasti aku kembalikan uang, Mba itu." Dia menghentikan ucapannya sejenak kemudian melanjutkan kembali masih dengan berapi-api, "Setelah aku bisa memiliki tanah itu langsung aku bikinkan surat. Langsung dah atas nama aku biar suratnya langsung bisa aku masukin ke Bank. Dari Bank cair uangnya langsung aku kembalikan ke MBA Yanti."
Sedangkan Hanafi dan Mas Heru hanya mendengarkan sambil bergantian memandang ke arah kami. Aku menatap kecewa saat kulihat Mas Heru mengangguk yakin.
"Maaf, Mba. Sebelum nya aku ingin nanya. Memangnya berapa yang MBA bisa keluarkan dari Bank. Sedangkan Mba ingin mengembalikan ke padaku tujuh puluh lima juta," ujarku penuh selidik, mengabaikan mata protes Mas Heru.
"Aku menganggarkan seratus juta, Mba. Yang tujuh puluh lima juta buat bayar Mba Yanti. Sisanya buat angsuran pertama entah berapa itu untuk memberi stand buat kami cari uang untuk membayar angsuran ke-dua." Ida memberikan penjelasan dengan berapi-api.
"Mba sudah pinjam sama pihak Bank ada berapa kali?" ujarku masih menyelidik.
"Baru sekali ini." AKu mengarahkan pandangan ke Hanafi yang ikut menjawab tiba-tiba.
"Baru sekali? Memang sanggup langsung cair seratus juta? Sedangkan Mertua sahabatku aja yang sering pinjam Bank baru bisa pinjam lima puluh juta itupun lima tahun karena dia harus ada nama baik di Bank tersebut," ujarku menirukan kata-kata Lunia sahabatku.
"Aahh itu kan karena ga ada orang dalam, Mba. Sekarang ini jaman mudah, jika ada orang dalam urusan apapun bisa langsung kelar dengan hanya sekedip mata," ujarnya masih dengan percaya diri.
"Ayolah, Sayang. Percaya sama Ida, suaminya ini sahabatku tak akan mungkin mereka menipu kita." Mas Heru ikut membujuk sambil terus memandangku dengan tatapan memohon agar aku tidak mempersulit mereka.
"Bukan permasalahan tipu menipu, Mas." Kupandang tajam mata mas Heru yang terus ikut membujuk.
"Begini, Mba Ida. Terus terang uang yang akan kami pinjamkan ini adalah uang yang akan dibuat membeli pick up adikku buat usaha. Jadi ku harap Mba Ida dan Mas Hanafi sesuai janji waktu pengembaliannya," lanjutku masih menatap mata mas Heru yang terus memohon.
Walau dengan perasaan was-was namun karena Mas Heru sangat mempercayai mereka akhirnya aku menyetujui permintaan Hanafi dan istrinya. Ku janjiin jika besok uang itu akan ada.
Wajah-wajah bahagia mereka begitu terpancar. Apalagi wajah Mas Heru sejak tadi tak henti-hentinya dia mengucap terima kasih padaku. Aku tahu dia sangat menyayangi Hanafi melebihi saudara kandungnya. Itulah kenapa kebahagian Hanafi adalah kebahagiaan dia juga.
Setelah Hanafi dan keluarganya pamit pulang. Tak ada hentinya Mas Heru menceritakan bagaimana sejak dulu Hanafi selalu mengimpikan punya rumah sendiri. Walau sederhana di rumah sendiri. Tanpa harus dikejar-kejar pemilik rumah asli karena telat membayar sewa. Begitu banyaknya yang diceritakan suamiku itu sampai tak sadar sayup-sayup suaranya menghilang dan aku terbuai ke alam mimpi.
Bersambung ...