Part 24
Seminggu setelah acara pernikahan. Pada suatu sore hari aku dan Ida duduk di teras rumah menikmati angin sepoy karena hawa mendung tengah menyelimuti. Ida dan suaminya adalah pasangan keluarga yang paling dekat dengan suami baruku, Mas Heru. Entah mereka ada hubungan saudara bagaimana aku juga belum terlalu faham. Akan tetapi yang pasti saat acara pernikahan di rumah berlangsung, dia dan suaminya yang paling sibuk mengurus segala kelancaran prosesi pernikahan kami. Bahkan suami Ida yang menjadi saksi pengantin dari pihak pria.
Karena jarak rumah dia dan rumah Heru hanya berjangka tiga rumah, jadi memudahkan mereka untuk wira-wiri dan menghandle penuh acara kami kemarin yang berlangsung. Hanya bedanya jika Heru selama ini sudah memiliki rumah sendiri namun mereka masih menyewa. Suami Ida ini orangnya sangat ramah dan baik sebenarnya, Ida pun juga tak kalah baik. Karena kulihat di bagian perdapuran kemaren dia juga total membantu persiapan acara. Namun demikian, mungkin karena manusia tidak ada yang sempurna ada salah satu sifat Ida yang mulai tampak tidak aku suka, dia selalu berusaha terkesan ingin dilihat 'wah' dalam setiap penampilan dan gaya bahasanya.
Walaupun cuma pernikahan siri namun acara setelahnya sangat ramai karena sahabat-sahabat Heru begitu banyak yang datang mengucapkan selamat. Ada perasaan sedih juga karena walaupun setelah akad acara cuman digelar semacam pengajian biasa itu tidak dihadiri ibu beserta adik-adik dari mas Heru.
Tak lama kami duduk di teras rumah kemudian lewatlah beberapa ibu muda yang kurasa umurnya tak jauh beda dengan Ida.
"Eh Sari, Yuni, Diyah, sini. Ini tetangga baru kita kalian sudah kenalan belum?" tanya Ida yang jika kuraba kisaran umurnya sepertinya berada lima tahun di bawahku ke pada teman-temannya yang sedang lewat di depan rumah.
"Wahhh penganten baru salam kenal ya, Mba. Saya tinggal di sebelah sana dekat alun-alun," ujar wanita yang dipanggil Sari mendekat ke arah kami sambil menunjuk ke belakang yang entah ke arah mana.
Aku hanya tersenyum karena pandanganku fokus ke arah anak mungil yang sedang dituntun apalagi dengan anak yang ada dalam gendongannya. Anak berpipi gembil itu berumur kurang lebih satu tahun setengah kalau tidak salah. Pipinya cabi dan terlihat cute banget dan ketika sedang bersitatap denganku dia memamerkan deretan gigi mungilnya sambil mengkerutkan hidung.
"Mba ...," ucap Sari sambil menyenggolkan tangan yang sedang terulur ke arahku.
"Aryanti ...." Aku tergeragap sambil buru-buru mengulurkan tangan. Senyum ramah tak lupa kusunggingkan ke pada Sari dan beberapa teman yang baru datang. Maklumlah orang baru jadi harus pandai membawa diri karena aku belum tahu sifat masing-masing dari para tetangga tersebut. Sedangkan wanita yang tadi mengenalkan aku hanya tersenyum simpul.
Kucubit gemas pipi anak dalam gendongan Sari kemudian kuusap pelan kepala kakaknya yang berdiri tak jauh dari kaki adiknya yang selalu bergoyang. Di umur ke tiga puluh empat tahun terasa hampa kehidupan kurasakan saat menyadari semua teman di sekitarku bahkan Mungkin yang berumur di bawahku sudah pada memiliki momongan. Sedangkan aku. Entahlah aku masih begitu sibuk dalam menata liku-liku kehidupan yang aku jalani.
"Oya, Ges, Mba Yanti ini baru pulang lho dari Hongkong." Kualihkan pandanganku ke arah ida. Aku hanya tersenyum mengangguk mendengar ucapannya.
"Hebat wanita tangguh," ujar Dyah takjub
"Bener Mba Yanti," ucap Yuni terpana
"Wiihhh ... tebel donk dompetnya," sambar Sari tak kalah heboh
Aku hanya menanggapi ucapan mereka dengan kembali tersenyum sambil mengangguk.
"Pokoknya duit dia nih kagak berseri, Sar," ujar Ida sambil tertawa. Dan merekapun tertawa bersama. Apalah daya aku hanya nyengir kuda tanpa bisa menjawab harus bilang apa.
"Waahhh enak yaaa bisa punya duit sendiri. Apalagi banyak jadi pingin. Scara Hongkong lo gaes yang dia datangi kemaren. Negara mewah itu," ucap Sari berapi-api.
"Lain kali pinjam duitnya, yo, Mba," lanjut Sari menimpali.
Kalau kulihat-lihat Sari ini paling heboh mudah sekali takjub dengan ucapan lawan bicaranya. Entah sekedar mengimbangi atau memang dia mudah terpesona aku belum bisa meraba sifat aslinya.
"Ga banyak, Mba. Karena aku kerja yaaa itu tadi karena banyak kebutuhan, jadi bukan duit diam," jawabku berusaha merendah.
"Aahhh mana ada maling mau ngaku, ya kan, Sar." Ida berseru menggoda.
"Ya itu langsung bilang begitu keliatan betul ga mau dipinjami." Aku jadi merasa ga enak mendengar ucapan Sari. Apalagi kini bibirnya yang tiba-tiba manyun. Sedangkan yang lain hanya tersenyum simpul.
"Eh udah aku pulang dulu. Mendung nih kayaknya bakal turun hujan deh. Cucianku takut basah," ujar Yuni sambil berlari tanpa menunggu respon kami.
"Eh aku juga pulang dulu. Oya jangan sungkan ke pada kami. Kami memang begini. Santai aja," ucap Dyah berlalu di susul ida yang ikut beranjak sambil melampaikan tangan. Aku hanya tersenyum dan mengangguk masih bingung mau menjawab apa.
Sedangkan Sari juga tergesa-gesa berlalu sambil menggandeng anak pertamanya yang dari tadi berdiri disampingnya.
Setelah mereka pamit aku segera masuk ke dalam rumah karena memang benar tak lama kemudian hujan rintik pun tiba.
Rumah terasa sepi karena kini kami hanya tinggal berdua karena Ayah, Ibu, dan kedua adikku pagi tadi telah kembali ke Banyuwangi. Daerah di mana aku dan kedua adikku menjadi putra daerah di sana.
Kembali aku berkutat dengan pekerjaan di dalam rumah sambil menunggu kembalinya Mas Heru dari kerjaan. Semenjak dia menetap di Jember dia mengalokasikan semua penghasilan dia saat bekerja di pulau Bali ke hobi montir yang kini ditekuninya. Usaha bengkel yang didirikannya sejak setahun silam itu yang kini jadi penopang kehidupan seluruh keluarganya.
Untuk menjauh dari keluarga Anthony dia terpaksa mengikuti salah satu teman yang berdomisili di Jember dan yang dulu pernah bersamanya merantau di Pulau Bali.
******
"Sayang sini deh aku mau ngomong." Aku menghentikan aktifitasku mencabuti rumput di samping rumah saat mendengar suara Mas Heru memanggil dari pintu depan.
Aku berdiri dan mengikuti dia yang malah masuk. Bukannya duduk di ruang tamu. Mas Heru malah terus melangkahkan kaki menuju kamar.
"Mas ini masih sore. Bahkan sudah mau maghrib," ujarku mencegah dia saat dia mau masuk kamar.
"Lah kenapa memang," ujarnya malah bengong.
Aku menimpuk mukanya pelan dengan tanganku.
"Ingat waktulah, enggaknya harus ngasal mintanya meskipun pengantin baru, mentang-mentang nolak suami dosa, mintanya semau sendiri." Aku mengerut tidak suka saat melihatnya tertawa lepas. Bahkan sempet-sempetnya dia tertawa tertunduk-tunduk sambil memegangi perut. Seolah apa yang aku bicarakan sangatlah lucu dia dengar.
"Piktor ...," ujarnya sambil menonyor kepalaku pelan.
"Ayo dah masuk!" lanjutnya setelah membuka pintu kamar.
Aku mengikuti langkah suamiku dengan pelan dalam keadaan hati bertanya-tanya. Seserius apakah masalah yang akan dia bahas ke padaku.
Bersambung ...