MENIKAH SIRI

1117 Kata
Kupandangi wajah lelaki berjas hitam itu dengan pandangan lekat sambil melangkah perlahan mendekat ke arahnya, tempat di mana akan kudengar lelaki itu menggaungkan ucapan sakral. "Menikah itu, carilah lelaki yang mampu mengutamakan ibunya, Nduk. Jika dia mampu mencintai ibunya dengan sangat, bisa dipastikan wanita yang akan menjadi istrinya akan dicintainya juga dengan sangat." Masih kuingat lekat nasehat ibu dulu sebelum aku menerima pinangan. Sifat pencinta ibu tak pernah kulihat dari karakter Anthony. Namun sifat dan sikap itu begitu nyata ada pada diri Mas Heru. Sebelum menikah walau aku belum pernah bersitatap dengan ibunya, namun aku sudah mengenal bagaimana besarnya perasaan cinta dia terhadap malaikatnya itu beserta adik-adiknya. Tak salah jika ibu kandungku memberikan nasehat itu. Karena semua itu adalah pengalaman dari ibu pribadi. Bapakku adalah pencinta ibunya, Beliau sangat memuja dan mentaati ibunya. Sifat menghormati dan mengayomi wanita selalu ditujukan Bapak. Memuliakan ibu dan istrinya adalah tujuan hidup Bapak. Sehingga ketika dulu Bapak meminang ibu, dengan sepenuh hati Beliau menerima dan memilih Bapak untuk dijadikan tempat berlindung dengan tanpa ragu. Beruntung mertua ibu juga sangat menyayangi menantu seperti halnya ibu yang menyayangi mertuanya. Sehingga dari hidup sampai akhir usia mertuanya memilih tinggal dengan ibu ketimbang tinggal dengan anak perempuannya. Alasannya hanya satu. Jika ibu adalah tanggung jawab anak lelakinya bukan anak perempuannya. Aku ingin mengikuti jejak ibu. Mencintai, mengayomi dan merawat wanita yang telah menghadirkan lelaki yang menjadi pahlawan hidupku itu. 'Lelaki ini pilihan terakhirku,' ucapku dalam hati menegaskan perasaan yang kadang masih ada kekhawatiran dan keraguan walaupun setitik. Kegagalan yang sempat kualami bukannya tidak menyisakan luka. Akan tetapi pemandangan teman sebaya yang sudah pada menenteng lucunya tingkah para buah hati membuat keraguan itu kutepis sejauh mungkin. Pernikahan pertamaku bukan hanya memberikan hikmah tapi juga pengalaman yang sangat berharga. Paket komplit pernah aku rasakan saat menjalani pernikahan dengan Anthony. Mempunyai suami gila, memiliki mertua jahat. Kadang semua itu membuat aku ragu untuk melangkah. Namun selalu ku tegaskan dalam jiwa bahwa aku harus tetap menatap ke depan. Dalam kehidupan menoleh ke belakang sebentar juga sangat dibutuhkan, supaya dapat menjadi tolak ukur agar tidak selalu tenggelam dalam kubangan yang sama. Setelah sampai di tempat Mas Heru duduk, kemudian aku ikut duduk bersisihan dengan lelaki yang sebentar lagi akan merubah status jandaku itu. Suasana kemudian menjadi hening. Hanya suara bapak desa yang dituakan untuk menjadi penghulu yang terdengar memandu ritual yang akan kami jalani. "Saya terima nikah dan kawinnya Aryanti Rahayu Binti Darwis Sasongko dengan seperangkat alat sholat dan uang satu juta sembilan ratus delapan puluh ribu rupiah dibayar tunai." "Bagaimana para saksi?" ucap Pak penghulung sambil menoleh ke arah para saksi. "Sah!" Para saksi yang dimaksud akhirnya secara kompak berteriak lantang. Ucapan sakral itu akhirnya kembali digaungkan untukku. Dua kali ucapan sakral itu aku terima dari dua lelaki berbeda. Hanya bedanya, Anthony tidak hanya menikahiku secara siri akan tetapi dia langsung mensahkan hubungan kami melalu catatan sipil. Sedangkan kini aku harus menunggu kehadiran ibu mertua untuk mendapatkan surat sah dari negara. Karena menurut mas Heru. kedatangan ibunya adalah hal paling penting yang tidak bisa diganggu gugat dalam acara sakral dalam hidupnya itu Perasaanku membuncah. Antara sedih dan senang bebaur menjadi satu. Walau keinginanku menikah resmi tidak bisa dikabulkan Mas Heru dalam waktu-waktu dekat ini. Seenggaknya hubungan kami telah halal. Mas Heru tidak harus menjawab terbata ketika ada yang bertanya siapa wanita yang sedang menginap di rumahnya. "Menikah siri itu juga sah, Nduk. Walau sebenarnya bapak juga ingin kamu segera meresmikan pernikahan kamu. Namun untuk sementara nikah siri ini yang harus kita lakukan dulu." Bapak berucap saat Mas Heru didesak para warga ketika mengetahui kami sudah tinggal serumah terlalu lama namun masih belum terjalin suatu ikatan sah karena sang calon ibu mertua belum bisa hadir. Saat itu rasa malu sempat membuat aku tidak nyaman ketika harus berkumpul dengan para warga, apalagi kaum ibu yang memang sudah terkenal dengan perkumpulan ghibahnya. Sedangkan untuk melakukan upacara resmi Mas Heru benar-benar bersikeras menunggu kedatangan ibu beserta adik-adiknya yang menurut kabar, kedatangan mereka sedang dipersulit pihak keluarga Anthony. "Syarat-syarat menikah siri itu juga hampir sama dengan syarat menikah negara, bedanya jika menikah negara ada surat dari kantor catatan sipil. Terus menikah siri sebaliknya," timpal seseorang warga yang sepertinya dituakan di kampung itu. "Nah Nak Heru silahkan melengkapi untuk persyaratannya sebagai berikut : Ke satu calon mempelai harus memenuhi lima rukun nikah. Ke dua Bagi calon mempelai pria tidak boleh memiliki empat istri. Ke tiga wali dari mempelai wanita telah memberikan izin. Ke empat nikah siri tidak boleh dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Ke lima nikah siri tidak dilakukan secara terpaksa. Kemudian yang ke enam nih tidak dilakukan dalam keadaan ihram atau umrah." ujarnya kembali ke pada Mas Heru yang waktu itu direspon dengan anggukan kepala. "Alhamdulillah sah, Nduk," ucap ibu berhasil membuyarkan segala lamunanku. Alhamdulillah." Aku juga ikut mengucapkan syukur. Seperti prosesi pernikahan yang pernah aku jalani dengan Anthony, aku digiring untuk mencium tangan Mas Heru, akan tetapi kali ini ada yang beda. Mas Heru tidak membaca hak dan kwajiban yang harus suami penuhi di buku pernikahan, karena Pak Penghulu yang membacakannya. Setelah itu kami diarahkan untuk sungkem ke pada kedua orang tua. Kemudian menyalami para saksi dan segenap yang hadir di ruangan tempat kami melangsungkan akad. Tidak ada kegiatan lain. Aku duduk di ruang tamu menyambut sahabat-sahabat Mas Heru yang belum pulang karena setelah ini acara akan dilanjutkan pengajian pernikahan untuk memberikan doa ke pada kami. Setelah acara pengajian atau sering disebut walimatul urus berakhir kami menjamu para sahabat Mas Heru yang datang dengan suka cita. Tak henti senyum bahagia terpancar di wajah Mas Heru ketika digoda para sahabatnya. Aku juga tersenyum saat sesekali candaan itu mampir ke arahku. Suasana begitu hangat dan akrab. Bahkan sering ku dengar tawa ibu dan bapakku di antara riuhnya obrolan tetangga. Kebahagiaan ini benar- benar mereka rasakan tanpa cela. Semoga ini yang terakhir. Karena setiap membayangkan pernikahan yang aku jalani tiba-tiba dadaku berdesir. Sepasang suami istri, Hanafi dan Ida juga tak kalah sibuknya mengurus segala prosesi acara dari A sampai Z. "Mereka adalah sahabatku, saudaraku dan orang-orang yang selalu ada buatku saat aku membutuhkan," Suamiku menjelaskan saat melihat pandanganku terarah ke setiap aktifitas mereka. Kupegang jemari suamiku dan mengusapnya lembut. "Di waktu mendatang, aku yang akan selalu ada di setiap susah senangmu, Mas," jawabku sambil tersenyum. Mas Heru juga tersenyum kemudian meremas lembut jemariku yang sejak tadi mengusap tangannya. Kupejamkan mata saat melihat perlahan wajah mas Heru mendekat ke arah wajahku. Berdesir hati membayangkan apa yang akan di lakukan lelaki yang kini telah sah menjadi imamku itu. "Aciyeee penganten baru. Sabar dikit kenapa?" ujar istri Hanafi yang tiba-tiba sudah ada di belakang tempat duduk kami. Aku segera menarik wajah kemudian tersenyum malu melihat Ida tertawa senang karena berhasil menggoda Mas Heru dan tentu saja imbasnya juga ke arahku. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN