Senyuman lebar menghiasi wajah Aryanti mengiringi setiap tapak demi tapak langkah kaki lebarnya yang turun dari pesawat. Kakinya dengan lincah menapak di keramaian Bandar Udara Internasional Juanda. Bandara internasional yang terletak di Kecamatan Sedati di Kabupaten Sidoarjo, yang terletak dua puluh kilo meter sebelah selatan Surabaya tersebut. Bandara Internasional Juanda ini dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I.
Kebahagian itu jelas nyata terpancar dari raut wajahnya. Ucapan syukur tak pernah putus dia panjatkan sejak tadi dari bibir. Karena kini dengan selamat dia telah sampai kembali ke negara asal di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Sebuah negeri di mana telah menghadirkan banyak kisah dan pengalaman mengesankan. Dari yang termanis sampai yang terpahit sekalipun. Dari yang bahagia dan yang paling sedih. Perasaan di dalam d**a Aryanti terus berkecamuk bercampur aduk antara senang, sedih, rindu, benci semua menjadi satu kesatuan sehingga membuat kedua bola mata Indahnya tiba-tiba memanas.
Setelah mengambil seluruh barang bawaan menggunakan troly Bandara. Dia segera bergegas menuju pintu keluar bersama penumpang pesawat lain. Rona sumringah menghiasi wajah-wajah para penumpang. Senyum lebar juga menghiasi wajah-wajah mereka. Meski tak sedikit ada juga yang terlihat sendu dan bermuram durja. Manusia membawa problem masing-masing disetiap kehidupannya, karena setiap insan yang nafasnya masih bersatu di dalam raga, jika tidak sedang merasakan kebahagiaan pasti tengah merasakan kasedihan. Sudah hukum alam di bumi belah manapun kita tinggal.
"Selamat datang, Sayang," ujar Heru merentangkan kedua tangan menyambut kedatangan sang pujaan hati. Walau dengan penuh berurai air mata namun senyum Aryanti tertarik semakin lebar saat melihat orang-orang terkasihnya berjejer di pintu penjemputan. Setengah berlari dia menghambur dalam pelukan lelaki yang setiap malam menghiasi mimpi dan hayalnya. Lelaki yang banyak ikut andil menjadi pahlawan dalam kebebasannya dari kurungan mantan suami beserta keluarganya.
Empat tahun dia memendam rasa rindu di d**a. Kini ketika saat perjumpaan itu datang malah mengakibatkan rasa sebak di dalam d**a.
Sementara di belakang Heru kedua orang tua dan kedua adik Aryanti turut menyambut kepulangan sang kakak. Tangis haru mereka menyelimuti kepulangan Aryanti dari Hongkong. Empat tahun dia melabuhkan asa dan harapan di negeri imut yang dibalut dengan ke-glamour an itu. Negeri yang penuh dengan kompetitor-kompetitor tangguh yang berasal dari berbagai negara. Meninggalkan dua pria dengan perasaan berbeda. Kini dia siap menatap kembali masa depan karena surat kebebasan dari Anthony mantan suaminya telah berada di dalam genggaman.
"Sugeng rawoh, Nduk. Mudahan tansah diparingi kahanan kawilujengan," ujar ibu Aryanti berlinang air mata sambil memeluk tubuh sang putri tercinta.
("Selamat datang, Sayang. Semoga selalu dalam keselamatan.")
Begitu juga Aryanti air matanya tak kunjung mampu terbendung. Dia memeluk sang ibu dengan erat. Semenjak menikah dengan Anthony sampai empat tahun dia berlayar ke negeri orang, baru kali ini Aryanti bertemu langsung dengan sang ibu tercinta. Pertemuan yang biasanya mereka lakukan melalui layar kaca kini terealisasikan sudah. Dulu selepas dia bisa kabur dari kungkungan Anthony, ketakutan akan kejaran membuat dia memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Tujuannya langsung mendatangi tempat agennya dulu ketika dia masih bekerja di Singapore.
Suasana haru biru benar-benar menyelimuti pertemuan ibu dan anak tersebut. Sehingga ayah maupun kedua adik Aryanti tak mampu untuk mencairkan suasana. Mereka bahkan ikut hanyut dalam Suasana hati yang tak bertepi. Entah sudah berapa lama waktu mereka habiskan untuk melepas rindu, namun seolah rindu itu tak pernah mampu terkikis.
"Sudah Mba. Malu. Kita lanjutkan nanti setelah sampai rumah. Lihatlah! Kita menjadi tontonan banyak orang. Seolah kita sedang membuat konten," ujar Rasyid adik bungsu Aryanti berbisik.
Aryanti melepas pelukan sang ibu dengan cepat dan segera menghapus air matanya ketika dia melihat ada sebagian dari pengunjung bandara sedang merekam aksi mereka. terburu-buru dia memasang masker yang tadi sempat terlepas.
"Ahhh ... dunia gejet seolah hidup tak akan mampu berputar jika tanpa aploud," gumamnya sambil berlalu menuju mobil bandara yang di pesan Heru yang dari tadi sedang menunggu mereka dengan setia.
Sementara itu Heru melangkah sambil membawa barang-barang diikuti keluarga yang lain mengikuti langkah lebar Aryanti. Sedang para pengunjung yang sempat berkumpul akhirnya membubarkan diri melanjutkan aktifitas mereka masing-masing yang sempat tertunda.
Di perjalanan tak banyak yang mereka bicarakan. Pikiran mereka seolah bermain sendiri. Aryanti dan Heru duduk di kursi bagian belakang sambil berpegangan tangan. Kedua adiknya duduk terkantuk-kantuk di kursi tengah bersama sang Ibu. Sedangkan Bapak dari tadi sudah mendengkur di kursi bagian depan duduk di sebelah Kang sopir yang tengah berkonsentrasi menjalankan tugasnya.
"Sido ta, Le, awak e dewe iki bali njujug panggonanmu?" Suara ibu Aryanti memecah keheningan.
("Jadi kah, Le, kita pulangnya ke rumahmu?")
"Sioslah, Bu. Soalipun sak umpami njujug dateng nggriyo panjenengan, kulo ajreh Anthony bakal mireng kabar wangsule Aryanti lambat utawi cepet," jawab Heru saat melihat mata Aryanti juga mengajukan pertanyaan yang sama.
("Jadilah, Bu. Soalnya seumpama menuju rumah Ibu, saya takut Anthony akan mendengar kabar kepulangan Aryanti secara cepat ataupun lambat."
"Yo wes aku manut. Cuman njaluk e ibuk ndang dihalalke hubunganmu mbi anak e ibuk. Soale meski ibuk sak keluarga milu manggon nang omahmu tapi ga enak mbi pandangane tonggo lek hubunganmu wong loro durong sah," ujar ibu Aryanti kemudian.
("Ya udah aku ikut saja. Cuma permintaan ibu cepat dihalalkan hubunganmu dengan anak ibu. Soalnya meskipun ibu sekeluarga ikut tinggal di rumahmu tapi ga enak dengan pandangan tetangga jika hubungan kalian belum sah."
"Enggih, Buk," sahut Heru dari belakang.
("Iya, Bu.")
Tiba-tiba Bapak yang duduk di bagian depan menguap keras sehingga menghentikan percakapan seru yang tengah berlangsung.
Sedangkan Kang supir terus mengemudikan mobil diiringi musik yang mengalun lembut. Mobil Bandara yang mereka tumpangi masih terus merayap patuh, seolah Kang supir pengemudi dari tadi tidak pernah mendengar percakapan yang terjadi di antara para penumpangnya.
Karena tak ada aktifitas pembicaraan lagi, mereka kemudian akhirnya tertidur satu demi satu. Apalagi kepulangan Aryanti saat sampai ke Bandara tepat malam di waktu bagian Indonesia.
Karena pada tidur perjalanan mereka dari Bandara manuju rumah Heru tak terasa mereka lalui. Jarak antara kota Sidoarjo, Jawa Timur, Indonesia dan Jember, Jawa Timur, Indonesia di jalan umum adalah kira-kira seratus tujuh puluh tujuh koma sembilan puluh tujuh kilo meter atau seratus sepuluh koma tiga puluh empat mil. Jarak antara titik-titik dalam koordinat kira-kira seratus tiga puluh enam kilo meter atau delapan puluh satu koma enam mil. Untuk mengatasi jarak ini dengan kecepatan kendaraan rata-rata delapan puluh kilo meter per jam membutuhkan kira-kira satu koma tujuh jam atau seratus dua menit.
Bersambung ...