Aku berusaha melangkah lebar walau masih tertatih karena ingin segera mengikis jarak dengan Kang Maman yang sedang menunggu di seberang jalan. Namun langkahku terhenti. Ketika sebuah tangan kekar tiba-tiba menghentikan langkahku. Tangan itu kuat mencekal lenganku dari belakang. Kupandang dengan seksama tangan kekar siapa yang kini sedang ada di lenganku. Perlahan kutelusuri tangan kekar itu dengan manik mata menelisik. Dan aku hanya bisa terkejut ketika pandanganku jatuh di wajah manusia yang memiliki tangan kekar itu sebenarnya.
"Haaahhh ..."
Aku berteriak tertahan. Kakiku goyah. Tubuhku hampir saja jatuh terjerembab, dengan sempoyongan aku berusaha mencengkeram tangan itu untuk mendapatkan dukungan. Kembali ku edarkan pandangan ke arah Kang Maman yang berada di seberang jalan.
Namun kini sosok bayangan lelaki itu tak kulihat lagi berdiri di sana. Dadaku berdesir dengan hebat saat aku menyadari bahwa aku telah gagal dalam rencana melarikan diri. Tiba-tiba pandangan mataku menggelap. Dunia sekelilingku seolah berputar sehingga aku tak tahu lagi apa yang kemudian terjadi.
***********
Byuuurrr
Tergeragap aku bangun ketika sebuah air mengguyur tubuhku yang lemah, bahkan ember tempat air itupun dilempar sekalian sengaja ditimpakan ke tubuhku. Terkesiap aku bangun saat mendapati tubuh yang sudah tergolek di sebuah kamar dan kini dalam keadaan basah kuyup. Sedangkan niqop dan hijab yang sedari tadi ku pakai entah tersingkap ke mana. Posisi terbaring di lantai membuatku berpikir berulang kali tentang apa yang sebenarnya yang terjadi.
Aku kemudian beranjak duduk dari posisi rebah. Ku edarkan pandang ke arah kamar. Bolak-balik kukucek mata untuk meyakinkan diri bahwa kini aku sedang berada di dalam sebuah kamar. 'Ohh tidak ini tepatnya sebuah gudang karena banyak barang-barang menumpuk tak beraturan.'
"Bagus sekali kelakuanmu. Rupanya kamu sudah berani melawanku, Jalang!"
Aku sangat terkejut mendengar suara menggelegar saat belum kembalinya berkumpul nyawa ke dalam raga, suara yang selama ini membuat badanku selalu bergetar ketakutan. Siapa lagi kalau bukan suara si b******k Anthony.
Tubuh Anthony yang semula bersandar garang di pintu gudang, kini mendekatiku perlahan. Matanya merah menyala menyimpan amarah yang sepertinya dari tadi dia tahan dan kini siap dimuntahkan. 'Berpikir ... berpikirlah Aryanti,' pekik hatiku menyemangati diri.
"Pakai ini!" Teriak Anthony sambil melempar baju tidur tipis ke arah mukaku.
"Ma_maaf, Thon. Bolehkah aku ijin ke kamar mandi sebentar. Aku ingin buang air kecil." ujarku ingin mencari kesempatan untuk menghubungi Heru.
Namun, dia hanya menyeringai membuat tubuhku semakin gemetar. Aku beringsut mundur penuh ketakutan ketika melihat dia membawa seutas tali.
"Cepat pakai!"
Aku segera melepas baju basah yang melekat di tubuh di hadapannya. Kemudian segera mengganti baju tidur yang tadi dia berikan padaku. Lalu dengan kasar kedua tanganku di ikatnya di salah satu kaki meja yang ada di dekatku.
Perasaan muak memenuhi dadaku ketika mendengar dia berbisik di telinga, "Tak usah ijin ke kamar mandi. Kamu boleh melakukan itu di sini," ujar dia mengerling mesu*.
Kini pancaran matanya tidak segarang tadi. Namun kengerian bahkan lebih terpancar ketika nafsu syahwatnya sedang menguasai.
Aku semakin takut ketika tanpa sengaja melihat dari cermin di depanku pergerakan dia meloloskan ikat pinggangnya dengan kasar. Karena saat ini posisi tubuhku tengah tengkurap, aku hanya bisa melihat ekspresi wajah dia melalui kaca besar tersebut.
Cetaarrr ... cetarrr ... cetarrr
Tanpa menunggu lama, akhirnya ikat pinggang itu melesat ke arah tubuhku dengan cepat. Rasa perih dan ngilu kembali kurasakan di area punggung dan lenganku. Belum sempat ngilu yang kemaren sembuh. Kini cambuk itu kembali menggelegar di atas luka di punggungku. Bau amis darah mulai tercium saat sabetan itu mendarat entah sudah berapa kali. Aku menggigit bibir menahan sakit dan perih yang kini kuderita.
"Ayoo merintih! Ayo merintih, Sayang! Teriaklah agar aku bisa mendengar suaramu yang seksi," ujar dia sambil menjambak rambutku dengan keras.
'Gustiii ... sampai kapan ini berakhir. Kenapa aku harus kembali pada lelaki gila ini.'
Dia mencium dan menggigit bibirku dengan brutal. Aku terus bertahan agar tidak merintih. Karena ku tahu mendengar rintihanku bukannya akan membuat dia kasihan, akan tetapi justru akan menjadi pemicu birahi dia semakin meningkat.
Aku hanya bisa pasrah ketika dia terus melancarkan aksi liarnya. Seolah sedang menaiki kuda dia terus memacu sambil sekali-sekali memukul anggota tubuhku dengan kasar. Dia terlihat puas dan bahagia dengan segala penderitaan yang aku alami.
Blammmmm ...
Dua jam kemudian, setelah dia puas menyalurkan hasrat seksual dan juga hasrat menyiksa terhadapku akhirnya dia keluar gudang dan menutup pintu dengan keras. Seringai kepuasan terpancar dari wajah tampannya. Sedang aku ... teronggok begitu saja di sudut ruangan seperti barang sisa yang sudah tiada di butuhkan.
Ceklek ...
Pintu gudang bergerak. Terdengar sepasang kaki melangkah masuk mendekat ke arahku. Aku tak ingin mengalami penyiksaan itu lagi sehingga aku tak bergerak sedikitpun pura-pura tak sadarkan diri.
"Yan ..."
Namun sebuah suara yang sejak tadi aku rindukan kedatangannya tiba-tiba terdengar. Aku tak ingin terbuai, kupertajam pendengaran dengan mata tetap terpejam.
"Yan, bangun! Kuatlah ayo kita kabur sekarang," ujar dia sambil menepuk pelan pipiku yang lebam.
Dengan gerakan cepat kubuka mata. Ingin memastikan apakah pendengaran telingaku tidak salah atau tingkat hayalku yang sudah mulai meninggi karena mendapat siksaan bertubi-tubi. Kini dengan jelas aku bisa melihat sosok Heru yang sedang berjongkok di sampingku sambil membuka ikatan yang ada di tanganku. Kuraba wajahnya untuk memastikan bahwa ini bukanlah imajinasi saja. Setelah aku benar-benar yakin jika yang ada di depanku ini memang Heru yang nyata, segera kupeluk tubuhnya erat dengan tangisan tak terbendung.
Sekian detik aku hanya menangis tanpa sanggup berkata-kata. Ketika dia berusaha melonggarkan pelukan sengaja aku menariknya lagi karena tak ingin dia meninggalkan aku seperti saat ada di rumah sakit kemarin.
"Yan ... kita harus cepat. Kamu tak ingin gagal lagi 'kan? Cepatlah! Jangan lemah saat ini."
Heru melonggarkan pelukannya dengan paksa. Kemudian dia lepas jaket yang sejak tadi dipakainya dan memakaikan ke tubuhku yang hanya memakai baju tipis dan kini sudah sobek di bagian punggung.
**********
Plok plok plok plok.
Suara tepukan tangan menggema ketika tubuh Aryanti dan Heru keluar dari pintu gudang. Setelah Berada di luar gudang, Aryanti baru sadar bahwa dia disekap di tempat asing. Gudang ini terlihat berada jauh dari pemukiman.
"Rupanya kamu otak di balik semua ini?" tanya Anthony tidak lepas menatap wajah Heru.
Kemudian dengan gerakan cepat dia memukul Heru yang kini tengah berdiri diantara dia dan Aryanti. Dengan sigap Heru menghindar sambil menggeser tubuh Aryanti. Tak pelak lagi terjadi adegan perkelahian sengit yang terjadi di antara kedua lelaki tegap itu.
Setiap pukulan mendarat di tubuh Heru, Aryanti terpekik tertahan. Dia benar-benar takut Heru akan kalah menghadapi serangan Anthony yang garang.
Bersambung.