Perkelahian itu masih berlanjut dengan sangat sengit. Anthony berusaha memukul Heru yang sejak tadi berdiri kokoh diantara dia dan Aryanti seolah ingin menunjukkan kepada Anthony bahwa dia kini yang sedang menjadi garda terdepan buat Aryanti. Tubuh Anthony bergetar dengan hebatnya saat dia tengah menahan cemburu melihat kebersamaan Heru dengan sang istri. Ketika pukulan Anthony yang kalap mengarah ke padanya dengan sigap Heru menghindar sambil menggeser tubuh Aryanti. Tak pelak lagi kejadian itu membuat darah di tubuh Anthony semakin mendidih. Akhirnya adegan perkelahian di antara kedua lelaki tegap itu terus berlanjut semakin sengit.
Setiap pukulan mendarat di tubuh Heru, Aryanti terpekik histeris. Dia benar-benar takut Heru akan kalah menghadapi serangan Anthony yang begitu garang.
Aryanti berteriak kencang ketika melihat Heru berusaha menangkis pukulan bertubi-tubi yang di arahkan Anthony. Mendengar teriakan Aryanti yang dengan jelas ditujukan sebagai dukungan buat Heru, membuat Anthony semakin membabi buta. Perasaan cemburu semakin menghimpit d**a ketika melihat istri yang dimilikinya mengkhawatirkan penderitaan lelaki lain. Anthony menatap Aryanti dengan gusar. Jelas terpancar pandangan cemburu dari sinar matanya.
Perasaan cemburu itu membuat gerakan Anthony semakin tidak terarah. Melihat pertahanan Anthony melemah, tentu saja itu tidak di sia-siakan Heru. Ketika ada kesempatan saat Anthony lengah dengan gerakan cepat dan kuat Heru memukul Anthony di bagian ulu hatinya, hingga membuat suami Aryanti itu terhuyung mundur ke belakang sambil menahan sakit. Tidak hanya itu sebelum Anthony memasang kuda-kuda kembali Heru menambah pukulan keras di tengkuk Anthony sehingga membuat lelaki itu akhirnya jatuh pingsan. Melihat lawannya tersungkur tidak membuat Heru menjadi lengah. Sambil tetap memasang kuda-kuda dengan perlahan dia mendekati tubuh Anthony yang tergeletak tak berdaya di depannya, ingin memastikan keadaan Anthony yang sebenarnya.
Heru segera berbalik arah dan beranjak membopong tubuh Aryanti ketika tiba-tiba dari arah jalan dia mendengar suara deru mobil yang kian mendekat. Tak menunggu lama lagi Heru segera melesat masuk ke dalam hutan setelah melihat ada tiga orang bertubuh gempal keluar dari dalam mobil. Ternyata mereka adalah orang-orang suruhan Anthony yang sengaja dia panggil untuk membantunya mengatasi Heru.
"Woyyy kejar! Mereka melarikan diri ke sana!" teriak salah satu dari mereka yang akhirnya menyadari gerakan Heru ketika melihat bayangan dia menyelinap di balik rindangnya pepohonan di dalam hutan.
"Tunggu, Kang! Lihat Bos kita lagi tergolek lemah di sini. Apa tidak sebaiknya kita tangani dulu. Aku takutnya dia mengalami cidera parah, bisa bahaya nasib kita nanti kalau terjadi apa-apa dengan Si Bos," ujar salah satu dari mereka menghentikan langkah temannya yang dia panggil 'Kang'.
"Ahhh ... betul juga pemikiranmu, Pit. Tumben otakmu encer," Pemuda yang dipanggil 'Pit' itu hanya nyengir kuda memamerkan deretan giginya yang menghitam saat temannya menoyor kepalanya.
Akhirnya mereka berbalik arah saat melihat tubuh Anthony yang tergolek tak berdaya. Mereka kemudian mengurungkan niat untuk mengejar Heru. Jumlah mereka cuman bertiga tidak memungkinkan untuk mengejar buruan. Apalagi dengan kondisi Anthony yang sedang tidak sadarkan diri. Karena rasa khawatir dan takut disalahkan akhirnya dengan tergesa mereka kemudian menggotong tubuh Anthony menuju ke mobil yang mereka parkir di tepi jalan.
Heru berlari terseok. Apalagi ditambah beban mengusung tubuh Aryanti di pundaknya membuat nafasnya tersengal. Perasaan dikejar anak buah Anthony membuat dia berlari terus tanpa menoleh ke belakang. Ketika dia merasa sudah jauh dari area gudang penyekapan kemudian dia berhenti dan menoleh kebelakang. Nafasnya serasa putus karena berlari tak kunjung berhenti. Melihat tidak ada yang mengejarnya lagi, kemudian dia meletakkan tubuh Aryanti yang tadi dibopongnya di sebuah batu besar di tepi sungai. Kaki Aryanti yang tadi terluka akibat sabetan kepala ikat pinggang Anthony tidak memungkinkan dia untuk berjalan sendiri.
"Kita harus segera keluar dari tempat ini, Mas. Aku takut mereka memanggil bala bantuan lebih banyak lagi untuk melacak keberadaan kita," ujar Aryanti ketika melihat Heru berjongkok di tepi sungai untuk meminum air dari sungai itu.
"Iya, aku sudah memikirkan akan hal itu. Kita tinggal keluar dari tempat ini karena aku sudah meminta bantuan Kang Maman untuk menjemput di ujung jalan sana," jawab Heru sambil terus berjongkok di tepi sungai itu.
"Iya, tapi bagaimana kita keluar dari hutan ini, Mas. Sedangkan kita tidak tahu arah jalan untuk keluar dari sini," lanjut Aryanti ketakutan karena dia menyadari rimbunnya hutan tempat mereka kini berada.
"Sudahlah, tenangkan pikiranmu, kamu ga perlu khawatir. Aku yang memegang peternakan itu sebelum ditangani Anthony. Daerah di sekitarnyapun aku juga sudah menguasainya sejak lama."
"Haahhh ... segaaar. Kamu mau?" tawar Heru.
Aryanti menggelengkan kepalanya lemah sambil menghembuskan nafas lega mendengar jawaban Heru dan akhirnya kini dia diam untuk memberikan kesempatan buat Heru berpikir rencana apa yang selanjutnya akan mereka lakukan.
Sementara itu kejadian beralih di tempat Anthony yang sedang pingsan. Dia kemudian dibawa anak buahnya ke sebuah rumah sakit. Tak lama kemudian ayah beserta ibunya yang diberitahu anak buah mereka datang dengan tergopoh-gopoh.
"Gimana, Dok? Apa yang terjadi dengan anak semata wayang saya?" tanya ibu Anthony ke pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan tempat Anthony menginap.
"Tidak apa-apa, Bu. Anak ibu hanya mengalami kelumpuhan sesaat di bagian leher. Sebenarnya sejak tadi dia sudah siuman. Hanya saja dia masih terkejut sehingga perlu menormalkan kembali kesadarannya untuk beberapa saat." Dokter itu memberikan penjelasan panjang lebar.
"Jadi kami sudah bisa menjenguknya, Dok?" lanjut Bu Ramly. Sedang dokter yang ditanyai hanya menjawab dengan tersenyum dan tangannya memberi kode mempersilahkan.
Tidak menunggu lama dengan bergegas Bu Ramly dan suaminya masuk ke dalam untuk menjenguk anak kesayangannya.
"Bapak sudah cari orangkah untuk mencari keberadaan p*****r murahan itu?" tanya Anthony ketika melihat kedatangan ibu bapaknya.
"Belum, Le. Bapak sama ibu tadi langsung ke mari karena khawatir mendengar keadaanmu."
Mendengar jawaban Bapaknya tiba-tiba tubuh Anthony menegang.
"b******k! Sebenarnya Bapak tahu tidak wanita jalang itu selama ini ada main dengan keponakan yang selalu menjadi kebanggaan Bapak sejak kecil itu?"
"Dia menikamku, Pak. Mereka bermain api di belakangku," lanjut Anthony geram ketika melihat pandangan Bapaknya hanya menekuri lantai.
"Stop! Apa yang kamu lakukan?" teriak Bu Ramly ketika melihat Anthony dengan kasar melepas infuse yang ada di tangannya.
"Kurang ajar! Berani-beraninya dia kabur dari ku, sejak kapan rencana kabur wanita murah*n itu melintas di otaknya."
"Aku sendiri yang akan mencari dan menamatkan riwayat si b******k itu," lanjut Anthony memberontak ketika bapaknya mencoba memeluk tubuhnya.
Namun tubuh tua Pak Ramly tak sanggup menopang tubuh kekar Anthony hingga akhirnya dia terdorong ke tembok saat mencegah Anthony ke luar ruangan tempat dia dirawat. Sedangkan Bu Ramly hanya bisa mematung menutup mulut melihat anaknya yang sedang kalap.
"Heruuu ... b******n! Tunggu pembalasanku."
Dalam keadaan penuh emosi, Anthony akhirnya keluar dari ruangan rumah sakit tempat dia dirawat.
Bersambung