Drrrrtttt ..
Drrrttttt ...
Drrrrtttt ....
Dering dari ponsel seorang wanita di sebuah rumah menjerit nyaring. Tergopoh-gopoh wanita itu berlari dari dapur untuk segera mengangkat alunan ponselnya yang dari tadi menjerit nyaring. Tertera nomor baru yang tampilkan di layar ponsel. Dia menekan tombol dail yang berwarna hijau di layar ponsel tersebut dengan lincah.
"Nomor baru?" Dia bergumam sambil sibuk membuka layar ponsel yang tiba-tiba terkunci.
"Ahhh mati, ga sabaran amat," ucapnya sambil gegas berdiri karena mengingat di dapur masakannya tengah menunggu.
Belum jauh langkahnya mendekati pintu kali ini ponselnya kembali berdering namun dengan alunan nada berbeda. Alunan SMS yang memang sengaja dibuatnya beda nada.
[Hei jala** tunjukkan di mana kamu sembunyikan istriku?]
"Hah istri ...." serunya.
Berapa kali wanita itu mengucek mata membaca pesan yang ditampilkan pada layar benda pipih yang ada dalam genggamannya. Belum hilang rasa kagetnya kembali benda itu berdering nyaring bahkan semakin sering menandakan bahwa pesan yang masuk lebih dari satu kali.
[Woyy seta* kamu sengaja kan ga mau angkat ponselmu]
[Bang*** penghiana* kamukan yang mengajari istriku bagaimana jadi lon**]
[Dasar lont* tak bermoral]
[Penghancur rumah tangga orang]
[Berapa kamu jual kehormatanmu Pela**r]
Masih banyak lagi pesan yang tak mampu dia baca. Dia kembali menelisik nomor baru siapa yang telah ditampilkan layar ponselnya.
Drrrtttt ....
Kaget membuat ponsel yang ada di genggamannya tiba-tiba terlepas.
"Apalah hari ini!" teriaknya dengan marah.
Kemudian dia ambil ponsel itu dan segera mendailnya.
"Apa maumu? Siapa kamu seenak jidatmu mengumpat dan bicara kasar terhadapku?"
Wanita itu berteriak dan terus mengomel karena emosi tiada angin dan tiada hujan dia di hujat tanpa tau masalahnya apa.
"Oeyyy sabar, oooey ini aku, Ndari?" ucap suara di seberang.
"Ndari? Kau ...," ucap wanita tersebut masih ingin melampiaskan amarahnya yang tertahan.
"Apa maksudmu mengirimiku pesan hujatan di ponsel?" lanjutnya lagi masih dengan terengah.
"Pesan apa? Hujatan? Kamu baru bangun tidur, kah, Lunia? Oeey cuci muka dulu, Diajeng" ujar suara di seberang yang semakin bingung.
"Pesan apa yang kamu maksud?" lanjutnya.
Wanita yang disebut Lunia itu kemudian melihat layar ponselnya kembali. Segera dia aktifkan cahaya dan melihat nomor siapa yang telah mengirimi pesan. Sedangkan di belakangnya suaminya hanya menatap dengan penuh tanya.
"Kompor matikan kompor," ujar Lunia kemudian.
"Ya Allah apalagi sih, Lunia? Kompor siapa? Kompor apa?" tanya bingung wanita di seberang yang dia panggilnya Ndari.
"Buahhhaaaaa aku menyuruh suamiku, Ndari. Ya ampuuun hari ini aku stres tau ga?"
"Enggak ..."
"Husshh ga empati banget." Lunia memanyunkan bibirnya walau dia tau lawan bicaranya tak akan bisa melihat gerak bibirnya itu.
"Apes banget sih nasibku, niatnya mau cari teman ngobrol sekalinya kena semprot tanpa tau salahnya apa." ujar Ndari ngedumel.
"Eh bentar kayaknya ada panggilan masuk nih dari Rahma. Konferensi call, mau?" tanya Lunia minta persetujuan Ndari.
"Boleh." ujar Ndari bersemangat.
"Dengar ... dengar ... aku mau ngobrol tentang sahabatmu." sambar suara Rahma ketika panggilannya telah terhubung.
"Eh gosip kah ini?" ujar Lunia terkekeh.
"Apalagi. Tuh si Aryanti nih suaminya kurang waras, kah?" jawab Rahma di seberang dengan berapi-api.
"Lahh kabar apalagi," timpal Lunia sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Apaan?" ujar Ndari ikut nimbrung.
"Jadi kalian ga tau kabar terbaru dari dia?"
"Kabar apa? jangan berbelit deh, maksudku kabar yang kamu bawa tadi nah yang mengatakan suaminya kurang waras. Kurang waras gimana maksudnya? Hati-hati looo kalau ngomong jangan asal," cecar Lunia tidak terima karena sahabat baiknya dibicarakan.
"Ho oh," ujar Ndari menimpali.
"Bagaimana mau dibilang waras? Tak ada angin tak ada hujan dia SMS i aku kata-kata jorok dan kasar?" Nada suara Rahma naik satu oktaf
"Lho kamu juga dapet?" Teriakkan Lunia terdengar cukup keras ditangkap indra pendengaran Sundari dan Rahma.
"Apa sih? Dapet apa?" tanya Ndari semakin kebingungan.
"Maksudmu? Kamu juga dapet, Lun?" jawab Rahma sekaligus bertanya kepada Lunia dan mengabaikan pertanyaan Ndari.
"Isyyy kalian nih bikin aku bingung," ujar Ndari ikut manaikkan suaranya satu oktaf juga.
"Bentar-bentar, Ndari, Sekarang kita kasih kesempatan buat Lunia ngomong," ujar Rahma menengahi.
"Begini ceritanya, sebelum Ndari telpon, aku mendapat SMS dari nomor baru yang isinya hujatan dan makian kasar. Aku tak tahu dia siapa tapi sungguh omongannya lo tak beradab banget," ujar Lunia bercerita.
"Wooohhh yang tadi? Sekalinya gara-gara itu tidak ada angin tidak ada hujan kamu juga ngomel-ngomel sama aku?" sambar Ndari.
"Heum," jawab Lunia singkat.
"Coba liat nomor nya mana?" timpal Rahma masih dengan nada ragu.
Akhirnya Lunia menyebutkan nomor yang tadi mengiriminya pesan kasar.
"Nahhh bener ini nomornya. Apa yaaa maksud dia? Apa Aryanti kabur dari rumah suaminya?" jawab Rahma setelah mencocokkan nomor yang disebut Lunia dengan nomor yang tadi pagi juga mengiriminya dengan kata kasar.
"Aku lo juga ga tau. Jarang pang Aryanti curhat semenjak dia menikah. Aku tau dia menikah dengan pemuda yang beda kepercayaan aja dari kalian ceritanya," gumam Lunia namun masih jelas terdengar di pendengaran Rahma dan Ndari.
"Terus masalah dia sama hubungan dengan kalian apa?" tanya Ndari polos.
"Mangkanya itu, Ndari, tujuan aku telpon Lunia itu mau nanya masalah itu?" ujar Rahma.
"Lah apa kamu kira aku juga tahu," jawab Lunia dongkol.
"Nah nah nah SMS si gila itu datang lagi. Percaya deh bentar lagi kamu juga dapet," ujar Rahma dari seberang.
"Hmmm bener katamu, kayaknya kamu dah cocok berperan jadi cenayang." Lunia menjawab setelah tak lama kemudian dia juga mendapat pemberitahuan SMS dari nomor yang barusan mereka bicarakan.
"Kok aku ga dapat?" tanya Ndari dari seberang.
"Aaa udah ahhh tanyakan sama Rahma. Aku pusing kita tutup konferensi call kita sampai di sini dulu, ya," jawab Lunia dan segera menekan tombol merah setelah mendapat persetujuan dari kedua rekan nya.
Lunia memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing.
Suaminya yang dari tadi mendengarkan percakapan mereka dengan tatap tanya akhirnya bersuara, "Apa sih? Kalian nih heboh ga da ujungnya."
Tanpa bicara Lunia mengangsurkan ponsel yang dari tadi ada dalam genggaman tangannya.
"Lahhh ga bisa dibiarkan ini," ujar Jion suami Lunia dengan berang.
Setelah beberapa kali melakukan aktifitas mengetik dan mengirim sesuatu di ponsel, tak lama kemudian dia menaruh ponsel itu di telinganya. Rupanya dia tidak sabar karena seseorang yang dikirimi pesan tak kunjung membalas. Akhirnya aktifitas menelponpun dia lakukan. Beberapa kali dia berusaha menghubungi namun kelihatannya yang dia hubungi tak kunjung merespon panggilannya.
"Banc*!" Mendengar suaminya mengumpat Lunia mengerutkan alis dan berusaha mengambil ponsel dia yang dari tadi ada di genggaman Jion suaminya.
Pupil mata Lunia membesar melihat tulisan pesan yang dikirim suaminya ke pada nomor yang sejak tadi diduga adalah milik Anthony suami dari Aryanti. Beberapa kali dia menatap suaminya kemudian beralih menatap ke layar ponselnya yang menampilkan tulisan pesan yang telah mempunyai status terkirim itu. Kemudian ke suaminya lagi dan pandangannya kembali luruh ke layar ponsel yang sejak dari tadi ada dalam genggamannya itu lagi, sambil menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Sementara di sampingnya sang suami masih berdiri dengan muka berang dan mengumpat tiada henti.
Bersambung