KEMARAHAN JION

1080 Kata
Pupil mata Lunia membesar melihat tulisan pesan yang dikirim suaminya ke pada nomor yang sejak tadi diduga adalah milik Anthony suami dari Aryanti, sahabat terbaiknya sejak sekolah menengah pertama. Beberapa kali dia menatap suaminya kemudian beralih menatap ke layar hand phonenya yang menampilkan tulisan pesan yang telah mempunyai status terkirim itu. Kemudian ke suaminya lagi dan pandangannya kembali luruh ke layar hand phone yang sejak dari tadi ada dalam genggamannya itu lagi, sambil menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Sementara di sampingnya sang suami masih berdiri dengan muka berang dan mengumpat tiada henti. [Heh penge**t jangan seenak jidatmu mengirim pesan kotor ke pada istriku] [Tangan kotormu pingin kupotong ku jadikan makanan anjin*? Atau tanganmu itu memang sejak lahir tidak pernah dibacai doa oleh kedua orang tuamu?] [Dasar banc* kepara* beraninya cuman sama perempuan, kalau memang benar kamu lelaki sejati kutunggu di mana hendak kita bertatap muka supaya kamu tahu seberapa garang suami Lunia sebenarnya.] [Sekali lagi kamu usik ketenangan istriku, kupastikan sisa hidup yang kamu jalani akan lebih sengsara dari kehidupanmu di neraka kelak.] Ada lebih dari lima kali Aryanti melihat Jion mencoba menghubungi nomor Anthony lewat ponselnya, namun sepertinya Anthony tidak ingin menjawab. Alasan itulah rupanya yang membuat mulut Jion meracau tiada henti dari sejak tadi. "Apa?" jawab Jion tak lupa dengan suara beratnya, saat dia mendapati Lunia kembali melayangkan tatap mata protes meminta penjelasan. "Dia lo di Jawa sedang kita di Samarinda. Ayah lupa?" Lunia akhirnya tertawa tak mampu menyembunyikan perasaan geli yang tiba-tiba menggelitik dalam hatinya. "Dia ngajak ketemuan sekarang, sekarangpun aku bisa terbang memenuhi undangannya, dia jual akupun bisa beli!" lanjut suaminya berapi-api. "Hadehhh dibuatnya kita stres hari ini, Sayaaang. Dasar ... hati-hati ikut gila nanti Kau, Yah." Lunia menatap suaminya sambil tak berhenti menertawakan kelakuan sang suami. "Hadeh dia ketawa, dikira aku nih guyonan. Menghadapi orang gila tuh kita harus lebih gila, Nda. Jangan kasih kendor karena orang gila hanya mampu dihadapi jika kita ikut gila." Lunia hanya menggeleng-gelengkan kepala menanggapi kelakuan suaminya yang mulai kumat keluar sifat kasarnya. "Disabari, sebentar lagi punya buntut dua. Jadi jangan merasa seperti masih bujangan." Lunia mengelus perutnya yang semakin hari kian membesar. Setiap ada janin yang ada dalam kandungannya seperti saat begini dia selalu was-was jika mendengar orang berkata kasar dan mengumpat sembarangan, apalagi saat kata-kata itu keluar dari mulut sang suami sendiri. "Jangan ikutan emosi, Yah. Yang akhirnya membuatmu mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya. Ingat binimu ini lagi berbadan dua, Loh. Semua omongan itu di jaga." Setelah berkata demikian, kemudian dia beranjak berdiri dari ranjang tempat dia duduk dari tadi. Namun kemudian urung dia lakukan karena kedua tangannya kini telah berada dalam genggaman tangan besar sang suami. Lunia bertubuh mungil sehingga ukuran tangannyapun terkesan kecil jika disejajarkan dengan tangan sang suami yang nota bene tubuh suaminya memiliki ukuran tinggi dan besar. Dengan menggeretakkan gigi Jion kemudian berkata, "Aku bukannya ga bisa sabar, namun jika ada yang mengusik ketenanganmu tak akan kubiarkan! Siapapun itu! Yang menyakitimu walaupun hanya sebatas tulisan dia akan berhadapan langsung dengan aku," ujar Jion sambil menggenggam tangan sang istri. "Aku benar-benar tak akan sanggup mendengar ataupun melihat jika ada orang lain melecehkan wanita yang aku cintai," lanjutnya berubah lembut sambil menelisipkan anak rambut Lunia kebelakang telinga karena sejak tadi beterbangan ditiup angin yang berasal dari kipas di pojok kamar. Mendapati perlakuan romantis tersebut Lunia sibuk mengerjapkan kedua bola matanya yang kian memanas, namun bukannya hilang sedetik kemudian netra itu malah berkaca-kaca. Dia memang wanita perasa, mudah sekali terharu, sehingga ketika mendengar ucapan romantis sang suami jiwa bapernya pasti meronta. Bahkan kini air matanyapun tak sanggup lagi dia bendung saat merasakan betapa besar perhatian yang dia dapat. Biarpun setiap bicara, nada yang diucapkannya selalu keras, akan tetapi selama lima tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya Jion adalah lelaki yang super baik. Lelaki pelindung yang selalu siap menjadi garda terdepan buat keamanan istri dan anak-anaknya. Lelaki yang selalu menuruti apapun yang dia inginkan. "Sungguh nikmat mana lagi yang akan aku dustakan. Memiliki suami yang sanggup berkorban, memiliki seorang anak lelaki tampan yang penuh dengan kasih sayang dan kini masih ada lagi buah hati yang sedang bersamayam dalam rahim," desisnya sambil mengelus perut buncitnya. Lunia tersipu sejenak ketika sang suami menghapus air mata yang tak henti jatuh melewati pipinya. Setelah itu dengan lembut Jion mendaratkan kecupan hangat di keningnya. Lunia memejamkan kedua bola matanya saat merasakan kecupan itu semakin dalam. Ada kedamaian yang begitu saja hadir yang selau dia rasakan ketika bersama lelaki tinggi besar yang menikahinya di tahun 2006 silam tanpa prosesi pacaran itu. Namun tiba-tiba netranya terbuka karena dia merasakan sebuah ketukan keras di jidatnya. "Ga ngenakin orang aja," ujar Lunia memberengut saat mengetahui suaminya kembali ke sifat asal. Tidak seromantis tadi. "Sudah jangan lebay, begini pang jadinya kalau sering nonton film india," jawab sang suami sambil tertawa lepas kemudian berlalu keluar dari kamar. Dengan memutar bola mata perlahan Lunia mengikuti langkah sang suami yang lebih dulu sudah berada di luar kamar. "Hai jagoan asyik bener liat marshanya," ujar Jion menyapa anak lelakinya yang sudah berumur empat tahun lebih empat bulan itu. "Ayah lapal," ujar sang anak masih dengan bahasa cedalnya. Pandangan mata tetap asyik tak lepas pada layar kaca di hadapannya. "Baahhh bagusnya anak jagoan ayah, begitu kah kalau orang pingin makan," jawab sang Ayah sambil mengacak rambut sang anak. Sedangkan yang diajak bicara hanya nyengir karena sadar sang ayah tengah memprotes kelakuannya. "Abang mau makan sekarang?" sahut Lunia mendekati anak dan suaminya sambil membawa piring nasi lengkap dengan lauk dan sayur. "Eh Ibun nangis?" ujar anak lelaki Lunia sambil mengusap pipi sang ibu. "Ayah apakan Ibun abang?" lanjutnya sambil memandang ke arah sang ayah dengan pandangan menghakimi. "Loh kok ayah?" jawab sang ayah tambah kebingungan apalagi saat melihat sang anak yang tiba-tiba berdiri. "Udah udah, mata ibun loo cuman kelilipan, tadi di kamar membersihkan kotoran di atas lemari sekalinya kotorannya jatuh ke mata ibun," jawab Lunia menengahi perdebatan para lelakinya. "Oohhh. Kilain Ayah yang bikin Ibun nangis. Soalnya Ayahkan pelnah bilang jika kaum wanita menangis, belalti kami pala pia yang telah membuat meleka menangis." Sang anak berujar kembali sambil nyengir memamerkan deretan giginya yang putih. Sedangkan Jion hanya mampu memandang saat Lunia kembali mentertawakannya. "Kadang mudah nangis kadang mudah tertawa. Untung sayang," gumamnya malah bikin Lunia kembali tertawa lebih kencang "Maafin abang, Ya Ayah. Ayo Ibun. Aaaa ..." ujar sang anak sambil membuka mulut mungilnya tanpa menunggu respon dari sang ayah. Lunia kembali tertawa sambil menyuapkan sendok ke mulut anak lelakinya yang masih cedal itu. Sedangkan Jion hanya sanggup menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN