bc

Luka Setelah Perpisahan

book_age16+
34
IKUTI
1K
BACA
drama
tragedy
like
intro-logo
Uraian

perpisahan selalu memberikan luka. Namun ada bahagia dibalik semua derita.

Aysila di talak saat rumah tangganya tengah harmonis, obsesi sang suami yang tak pernah berubah membuat keluarga mereka tercerai-berai.

chap-preview
Pratinjau gratis
Talak yang tiba-tiba.
Luka setelah perpisahan. Bab 1 "Bismillah. Aysila Paramitha, hari ini dengan sadar aku Ramlan Yahya menjatuhkan talak padamu. Mulai saat ini dirimu bukan lagi tanggung jawabku." Dengan lantang Ramlan mengucapkan kata talak pada istrinya. Disaksikan pak RT dan beberapa orang tetangganya, dia menceraikan istrinya tepat di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke delapan belas tahun. Serasa disambar petir. Aysila, wanita paruh baya itu pun terduduk lemas di lantai rumahnya. Dia tak menyangka kepulangan suaminya bersama warga pagi ini membawanya dalam kedukaan hati yang teramat sakit. Dia terus menunduk, menahan pedih hatinya terlalu dalam luka yang ditorehkan lelaki itu padanya. Membuatnya tak berani melawan tatapan iba beberapa tetangganya. Tak ada satupun yang mampu mereka ucapkan, semuan terdiam. Rasa kecewa dan marah nampak jelas di wajah mereka. Namum, tak ada yang bisa mereka perbuat. Pak RT dan beberapa warga hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku Ramlan. Mereka tak menyangka pria yang selalu bersikap ramah kepada setiap warga itu tega menceraikan istrinya. Perlahan satu persatu dari mereka meninggalkan tuan rumah, memberi kesempatan pada mereka untuk menyelesaikan urusan yang lainnya. "Tahu gini saya gak ikut tadi, kirain ada apa." Kata salah seorang warga. Yang di sambut anggukan warga lainnya. "Lakinya aja yang ma ruk, istri cantik begitu disia-siakan." Balas yang lainnya. Mendengar itu Ramlan pun berdehem, membuat kerumunan warga yang tadi diundangnya membubarkan diri. Tak ingin larut dalam kemelut hatinya Ramlan pun bergegas bangkit dari duduknya. Meninggalkan rumah yang di bangun dari hasil jerih payahnya, beserta seluruh kenangan bersama anak istrinya. Namun, belum sempat dia keluar ruangan. Sila, wanita yang baru saja ditalaknya itu memintanya untuk tinggal. Sepertinya dia belum bisa menerima keputusan lelaki itu. Dia terus saja menangis meratapi kesedihannya karena tak tahu apa kesalahannya. "Istighfar Mas, katakan bahwa semua ini hanya leluconmu kan Mas? Maafkan aku, karena belum sempat membeli kue kesukaanmu." Katanya sembari menghapus kasar air matanya. "Maaf Sila, Mas minta maaf." Ucap Ramlan dengan nada bergetar. "Apa salahku Mas? Apa salahku? Lihat ini Mas, lihatlah aku bahkan belum menghapus chat kita semalam." Katanya sembari menunjukkan riwayat chating mereka. "Maafkan aku Sila, kemarin aku hanya menyenangkanmu. Aku tak ingin kau selalu memikirkan aku, maaf aku harus pergi." Katanya sembari berjalan ke luar rumah. Aysila hancur, impiannya untuk menua bersama dengan pria itu kini musnah, seiring kepergian Ramlan yang kini resmi menjadi mantan suaminya. Meskipun sakit dia berusaha untuk bersikap tenang walau di dalam hatinya tengah berkecamuk kedukaan. Kembali diusapnya air matanya, tergopoh-gopoh dia berlari mengejar pria itu. "Mas Ramlan tunggu, aku mohon tinggallah sebentar sampai anak-anak kita pulang." Ucap Sila pada lelaki yang baru saja menjatuhkan talak padanya. "Aku sudah mengurus semuanya, rumah dan semua isinya aku serahkan padamu. Aku berjanji akan tetap menafkahi kalian. Masalah anak-anak sebaiknya rahasiakanlah dulu." Ucap Ramlan. "Tapi Mas, bukan itu yang kuinginkan. Apa kau tak kasihan pada anak-anak? apa yang harus aku katakan pada mereka? Mau sampai kapan kita merahasiakannya? Mereka putrimu, darah dagingmu, lambat laun mereka pasti tahu!" "Sudahlah Sila, harusnya kau bersyukur karena aku tak meminta secuil pun harta kita. Kita tak mungkin lagi bersama. Masalah anak-anak nanti aku pikirkan bagaimana cara memberitahukannya" "Tapi kenapa Mas? Bukankah selama ini semuanya baik-baik saja? Katakan apa salahku? Aku janji akan memperbaiki semuanya. Katakan Mas, kumohon." Aysila terus memohon sembari memegang kedua lutut Ramlan, dengan tenang dan lembut Ramlan menyingkirkan tangan Sila agar tak menyakiti tubuh wanita itu. "Kau merasa semuanya baik-baik saja? itu menurutmu, tapi tidak menurutku. Sudahlah Sila aku tak ingin melihatmu semakin terluka, maafkan aku. Kau tak salah, aku yang tak bisa menjaga hati dan perasaanku. Maafkan aku." Katanya sembari berdiri dan melangkah pergi. Namun belum sempat dia masuk ke dalam mobilnya, Aysila kembali menarik lengannya. "Apa karena aku tak bisa memberimu anak laki-laki, hah? Aku paham, a-aku mengerti tapi ... tolong, bertahanlah demi anak-anak. Aku rela kau abaikan asalkan mereka bisa terus bersamamu. Aku mohon pikirkan nasib kedua putri kita." "Maafkan aku Sila. Aku tak bisa, aku tak ingin menyakitimu dengan menghadirkan madu untukmu. Aku ... mengertilah posisiku!" Ramlan, pria paruh baya itupun bergegas masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Sila yang terus mengejarnya sembari berteriak dan memohon. Berharap pria yang sangat dicintainya itu berbalik dan kembali merengkuhnya. Sayangnya Ramlan tak perduli, hatinya seakan mati. Dia terus melajukan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah beserta isinya dengan perasaan lega. Wanita itu tak kuasa menahan laju air matanya. Dengan langkah gontai dia pun beranjak dari tempatnya. Entah berapa lama dia meratapi kepergian suaminya, sembari menyalahkan dirinya sendiri. Rasanya seperti mimpi, semua terjadi begitu saja. Tak ada yang janggal, bahkan saat Ramlan di perjalanan mereka masih bertukar kabar dengan sangat mesra. Tak ada keanehan semuanya masih seperti biasa. Nanar ditatapnya rumah yang di bangun atas namanya sebagai bukti cinta Ramlan padanya. Rumah besar itu kini terasa sepi seperti hatinya. Perlahan dia menapaki teras rumah mereka, hatinya meringis mengingat kembali hari-hari indah yang pernah mereka lalui. Lama dia menangis sembari memandangi figura yang terpajang rapi di tembok ruang tamu, air matanya seolah tak bisa berhenti, terus mengalir menambah sesak yang terus-menerus merajam hatinya. Tanpa dia sadari sepasang mata ikut menangis, menyaksikan semuanya dari balik jendela rumah mereka. Salwa, gadis manis berusia tujuh belas tahun itu pun menangis, saat mengetahui perpisahan kedua orang tuanya. Pagi itu seperti biasanya dia berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya. Namum, saat di perempatan jalan dia kembali lagi untuk mengambil tugas sekolahnya yang tertinggal di rumah. Hatinya gembira saat melihat mobil Ayahnya terparkir di depan rumah. Salwa pun berharap Ayahnya tak buru-buru berangkat ke luar kota seperti biasanya. Namun, saat dia hendak masuk ke dalam rumah, tak sengaja dia mendengar pembicaraan orang tuanya. Salwa terlambat, seandainya dia datang lebih cepat mungkin kalimat talak itu tak akan pernah terucap dari bibir sang Ayah. Salwa kecewa tapi tak tahu harus berbuat apa. Hatinya hancur saat mengetahui hubungan kedua orang tuanya telah kandas. Salwa tak menyangka hubungan yang nampak harmonis itu ternyata menyimpan banyak duri di dalamnya. Sakit sangat-sangat sakit hanya itu yang dia rasakan tapi tak berani mengungkapkannya. Apalagi saat melihat tangisan ibunya, membutnya semakin terluka. Dia berusaha agar tak terlihat lemah di depan wanita yang telah melahirkannya. Dia berusaha bersikap biasa saja saat masuk ke dalam rumahnya. "Asalamualaikum, ibu ....!" Panggilnya. Sengaja dia memanggil ibunya dari luar berharap ibunya tak tahu kalau dia telah menyaksikan semuanya. Mendengar suara salam dari putrinya, Aysila yang semula tak bersemangat tiba-tiba tersentak. Spontan dia berlari ke kamar membersihkan sisa-sisa kesedihan pada wajahnya. Mencoba bersikap manis seperti biasa di depan putrinya. "Wa'alakumsalam, anak ibu. Kok pulang? Pasti ada yang ketinggalan, ya?" Tanyanya. "Emm, iya nih Bu untung belum jauh kalau tidak, bisa gawat, hehehe. Ibu lagi ngapain kok Salwa panggil dari tadi gak keluar?" "Eh, emm ... Anu tadi ibu lagi ...." Melihat kegugupan ibunya gadis itupun pura-pura tak tahu, dia pun kembali pergi setelah mengambil tugas sekolahnya. "Yaudah deh, Salwa berangkat ya Bu, eemmuaahh." Katanya sembari mencium pipi ibunya. Hal yang selalu dilakukannya sedari dulu. "I-iya, hati-hati di jalan sayang. Jangan ngebut!" "Iya Bu." Katanya sambil berlalu. Salwa pun kembali mengendarai sepeda motornya, tapi bukan ke sekolah. Niat kembali ke sekolah urung dilakukannya, rasa sedih dan kecewa berbaur menjadi satu. Namun tak membuatnya berhenti, dia terus saja melajukan sepeda motornya tak tentu arah. Sesekali tangannya membenahi hijabnya yang terasa longgar akibat terpaan angin. Gadis manis berhidung mbangir itu pun menghentikan laju motornya di tanam kota. Sepertinya dia tak berniat untuk kembali ke sekolah. Hatinya tengah kecewa, berulang kali diusapnya cairan bening yang keluar dari sudut matanya. Salwa mencoba tak memikirkan peristiwa yang terjadi hari ini. Sayangnya, semakin dia mencoba bersikap tenang semakin sesak pula rasa yang menghimpit dadanya. Salwa pun menangis menumpahkan kesedihannya. Tak dihiraukannya tatapan orang yang melihatnya. Dia terus menangis menumpahkan kesedihannya. Salwa termenung sembari memeluk lututnya. Masih terngiang di telinganya ratapan ibunya sembari memohon. Hatinya sakit kala sang Ayah tanpa rasa bersalah meninggalkan ibunya yang terduduk di halaman rumah mereka. Dia tak menyangka pria yang selalu memberikan apapun yang dia inginkan ternyata begitu tega. Dalam hatinya terbersit keinginan untuk membuat pria itu menderita karena telah menyia-nyiakan mereka. Namun, disisi lain sebenarnya dia juga tak ingin kehilangan keduanya. Perlahan Salwa bangkit dari duduknya berjalan mengitari taman, sembari melihat berbagai macam aktivitas orang-orang di sana. Untuk sesaat pandangan matanya lurus kedepan memandangi aktivitas keluarga kecil yang tengah bermain bola tepat di depannya. Saat bola itu menggelinding tepat di kakinya, diapun dengan senang hati melempar kembali. Melihat keceriaan keluarga kecil itu membuatnya teringat saat-saat bersama sang Ayah. Dulu saat Ayahnya belum sukses, Beliau sangat memanjakannya, menggendongnya kemanapun mereka pergi. Bahkan ketika tidurpun dia selalu ingin Ayahnya lah yang membacakan dongeng pengantar tidur mereka. Semua mulai berubah saat Ayahnya menerima tugas keluar kota, jangankan bermain sekedar makan bersama saja bisa dihitung dengan jari. Hidup mereka mulai berubah, meskipun semua impian mereka mulai terwujud, sayangnya waktu dengan sang Ayah perlahan mulai berukurang. Dan kini semuanya benar-benar hilang. Keluarga mereka tak lagi utuh, karena sang Ayah memiliki keluarga dan rumah baru.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

WAKTU YANG HILANG

read
43.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
14.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook