Terpuruk

1683 Kata
Luka Setelah Perpisahan Episode 2 Rintik gerimis perlahan turun membasahi bumi, alam seolah ikut merasakan duka di hati gadis berseragam putih abu-abu yang tengah duduk di bangku taman itu. Hatinya menjerit, merutuki perbuatannya sendiri yang hanya diam ketika melihat orang tuanya berpisah. Sifatnya yang tertutup dan tak berani mengeluarkan pendapat membuatnya tak memiliki banyak teman, dia lebih suka menyendiri dan menyimpan permasalahannya sendiri. Bukan hanya di sekolah, di lingkungan tempat tinggal mereka pun Salwa tak banyak bergaul. Dia tak menyukai keramaian, kegiatannya hanya sebatas belajar dan bermain ponsel. Itulah sebabnya dalam kondisi apapun dia tak pernah melibatkan orang lain untuk memecahkan masalahnya. Sikapnya yang tertutup membuatnya terlihat baik-baik saja ketika dalam masalah. Entah berapa lama dia menangis, sengaja dibiarkannya rintik gerimis itu membasahi hijab putihnya. Membiarkan air hujan menyamarkan tangisannya. Sekuat apapun dia menahan amarahnya tetap saja air mata itu tak mampu dicegahnya. Dia terus menangis menumpahkan amarahnya yang tak bisa diluapkannya dengan kata-kata. Setelah merasa tenang dia pun bergegas kembali ke rumahnya. Tak ingin jejak kesedihannya diketahui sang ibu, gadis itu pun pergi ke kamar mandi umum di sekitaran taman. Membasuh wajah cantiknya yang kelihatan sembab akibat tangisannya tadi, berkali-kali dia mengguyurkan air kran ke wajahnya agar panas itu segera menghilang. Setelah merapikan penampilannya yang basah akibat air hujan, Salwa pun berjalan menuju pelataran parkir. Melangkah dengan perlahan sembari menata hati agar tak lagi dirundung malang. Tak dihiraukannya beberapa pasang mata yang melihatnya berjalan gontai di tengah gerimis yang masih setia menemani hari hingga menjelang senja. Lama dia menatap sepeda motor yang terparkir manis di area parkir tersebut, lintasan peristiwa beberapa bulan yang lalu seolah menari-nari di pikirannya. Seakan kembali mengingatkannya pada hari yang sangat spesial beberapa bulan yang lalu. Saat itu usianya genap tujuh belas tahun, seluruh keluarganya termasuk sang Ayah sengaja membuatkan pesta kecil untuknya. Bukan main girangnya hati Salwa saat tahu Ayahnya telah mengabulkan permintaannya selama ini. Hari itu setelah jam pelajaran di sekolah selesai, seperti biasa Salwa pun bergegas pulang ke rumahnya. Tak pernah sekalipun dia pulang terlambat jika memang tak ada kegiatan lain di sekolahnya. Gadis itu benar-benar tak terpengaruh dengan kegiatan yang tak bermanfaat. Baginya sekolah nomor satu, dan terbukti dari nilai-nilai akademik yang diperolehnya selalu memuaskan. Dia bahkan mendapat peringkat pertama di kelasnya. Namun, karena sikapnya yang tertutup membuatnya tak memiliki banyak teman, bukan karena sombong dia hanya tak berani menonjolkan diri dan berperan aktif dalam berbagai kegiatan. Siang itu saat Salwa pulang dari sekolah, tak seperti biasanya pintu dan jendela rumah mereka semuanya tertutup. Hal yang jarang terjadi karena sang ibu tak pernah melakukannya jika mereka tak sedang berpergian, hatinya pun kalut. Bergegas dia masuk memeriksa keadaan mencoba membuka pintu dan mengintip dari jendela. Sayangnya seluruh pintu dan jendela rumah itu semuanya terkunci. Dengan perasaan takut Salwa menggedor-gedor pintu tapi tetap tak ada jawaban dari dalam. Bergegas diambilnya ponsel dan mencoba untuk menghubungi ibunya, panggilan pertama tak ada jawaban hingga berulang kali dia menelpon hasilnya tetap sama. Tak habis akal dia pun kembali menelpon adik serta keluarga lainnya. Namun, tak ada satupun yang mengangkat telponnya. Mereka seolah kompak tak bisa dihubungi, dengan perasaan takut dan kalut Salwa pun terdiam sembari berpikir. Dia pun segera duduk menetralkan degupan kencang di dadanya, rasa takut dan khawatir menghantui pikirannya. Perlahan dia beranjak dari duduknya berjalan perlahan kerumah tetangga, niatnya ingin bertanya pada mereka dan berharap salah satu dari tetangganya itu bisa membantunya mencari tahu tentang keluarganya. Baru beberapa langkah dia berjalan tiba-tiba pintu rumah pun terbuka, rasa senang sekaligus kalut bercampur menjadi satu membuatnya hampir saja menangis. Bergegas dia masuk, alangkah terkejutnya dia ketika melihat banyaknya balon aneka warna menghiasi ruang tamu mereka. Karena gelap dan penasaran dia pun tak menghiraukan balon-balon lucu itu, dipercepatnya langkah menuju inti rumah. Tepat di ruang keluarga tiba-tiba lampu menyala dan alunan musik khas ulang tahun pun menggema memenuhi ruangan. Tangisnya pun berubah menjadi tawa tatkala sang Ayah menghampirinya dengan kue ulang tahun yang sangat indah. Salwa tersenyum mengingat semua itu, rasanya baru kemarin kebahagiaan itu menghampiri keluarganya. Saat kehidupan mereka mulai membaik beberapa tahun belakangan ini semua itu berkat kegigihan sang Ayah. Tak hanya itu dia juga senang karena bisa mewujudkan impiannya tinggal di rumah mewah dan bersekolah di sekolah favoritnya. Meski semua itu harus di tukar dengan waktu dan kebersamaan mereka dengan sang Ayah yang harus tinggal terpisah. Membuat mereka semua tak bisa lagi tinggal bersama setiap harinya. Seketika senyumnya menghilang kala mengingat kembali peristiwa duka yang menyesakkan dadanya pagi tadi. Semua kenangan indah itupun sirna berganti rasa kecewa yang membuatnya kembali menitikkan air mata. Berkali-kali dia menghapus air matanya, berharap kesedihan itu segera berlalu bersama lelehan bening yang seolah tak ingin berhenti. Berkali-kali diusapnya cairan itu, sayangnya malah semakin menetes. Dia pun bergegas menuju motornya, saat dia hendak menghidupkan mesin itu. Tiba-tiba dia merasa melihat seseorang yang sangat dia kenal tengah berlari diantara kendaraan yang tengah berlalu-lalang, ceroboh sekali pikirnya. Sempat ragu, dia pun berpikir mungkin hanya mirip adiknya bukanlah orang yang ceroboh seperti itu. Karena penasaran Salwa pun menghampiri anak perempuan yang memakai seragam sekolah yang sama dengannya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa anak perempuan itu. "Astaghfirullah, Alika!" Teriaknya sambil terus mengejar anak perempuan yang mirip adiknya. Salwa pun menarik tangan anak perempuan itu, menahannya agar tak lagi berlari. "Alika, berhenti! Kamu kenapa Dek?" Katanya sembari menghentikan langkahnya. Sengaja dia berlari untuk mengejar anak perempuan itu, tak dihiraukannya motor kesayangannya. "Kakak? Lepasin kak, sakit tau!" Katanya sembari menghentakkan tangan Salwa. "Kau kenapa Dek? Kok lari-larian? Jalanan licin, banyak kendaraan ceroboh banget sih!" Omelnya. "Ish, apaan sih kak. Tadi itu Aku dan Dina barusan ketemu Om Radit, Ayahnya Dina di parkiran sana, lagi gandengan tangan sama cewek lain. Kakak tahu siapa cewek itu? Dia kak Bunga, guru les kita gil* tuh cewek!" Sungutnya. Deg. Mendengar penjelasan adiknya Salwa pun terdiam. Dirinya tak menyangka, ternyata wanita perebut itu orang yang sangat dekat dengan mereka. Bahkan mereka telah menganggapnya seperti kakak sendiri. Melihat kebencian di mata Alika pada sosok perebut itu, membuat hatinya takut. Apa jadinya jika Alika tahu orang tua mereka telah bercerai, juga karena orang ketiga? Apa yang akan dilakukan adiknya itu saat tahu keadaan ibu mereka? Salwa hafal tabiat Alika yang tak kenal rasa takut. Yang paling dia takutkan hanyalah mental sang adik. Tak sanggup rasanya gadis itu membayangkan gambaran kedukaan yang bakal melanda sang adik, jika nanti dirinya tahu kebenaran tentang keluarga mereka. "Te- terus kenapa kamu lari-larian?"tanyanya gugup. "Aku lagi ngejar Dina kak, kasihan dia sepertinya kecewa banget, aku pergi dulu ya kak. Bilang sama Ibu aku pulangnya agak malam, mau nemenin Dina dulu." Katanya sambil berlalu. "Tunggu Dek--" belum sempat Salwa berkata, Alika telah hilang di antara lalu lalang kendaraan. Dengan langkah gontai Salwa kembali ke parkiran, menstarter motornya dan segera meluncur pulang ke rumahnya. Tempat yang biasanya selalu membuatnya rindu itu kini tak lagi memberinya ketenangan. Lama dia berdiri memandangi teras rumah mereka. Rumah mewah yang baru beberapa tahun mereka tempati itu tampak gelap dan suram. Rasanya belum pun genap sehari sang Ayah menceraikan ibunya, namun rumah itu seperti kehilangan cahaya kegembiraannya. Entah apa yang akan terjadi pada hari-hari berikutnya, gadis itu tak berani membayangkan. Biasanya saat dia pulang, senyum manis ibunya lah yang selalu menjadi pemandangan pertama yang akan menyambutnya. Tak seperti hari ini, bahkan saat hari mulai gelap lampu teras pun tak kunjung menyala. Salwa bergidik, hatinya kalut karena tak biasanya sang ibu membiarkan teras rumah dalam keadaan gelap. Timbul rasa khawatir di hatinya pada wanita yang telah melahirkannya itu. Rasa lelah membutnya seolah melupakan berbagai lintasan kejadian hari ini dibenaknya. Setelah memarkirkan sepeda motornya, diapun masuk. "Assalamualaikum. Ibu, aku pulang!" Sepi, tak ada jawaban, rumah besar itu terasa sunyi.Tak ada lagi kehangatan dari sang ibu saat dia mengucapkan salam. Rumah ini benar-benar kehilangan cahayanya, tak ingin menunggu dia pun bergegas masuk ke kamarnya membersihkan diri dan berganti pakaian. Biasanya dia akan segera turun untuk menikmati hidangan yang disajikan ibunya. Hari ini entah kenapa rasanya dia enggan keluar kamar, padahal seharian dia belum mengisi perutnya. Rasa laparnya seolah menguap entah kemana. Berkali-kali dia mencoba memejamkan matanya, berharap rasa lelah membawanya ke alam mimpi. Sayangnya semakin dia berusaha untuk melupakan kejadian pagi tadi. Semakin jelas pula rentetan kejadian itu berkecamuk di dalam benaknya. Salwa mengerjap, matanya tak kuat lagi menahan genangan tangis yang seolah enggan berhenti. Menambah kepiluan hatinya yang rapuh. Dia lelah, bahkan sangat lelah menahan sesak yang tak tahu harus di ceritakan ke siapa. Entah berapa lama dia tertidur saat sentuhan lembut sang ibu membangunkannya. Dalam keremangan lampu tidur dia menggeliat, memandangi wajah teduh wanita paruh baya yang telah melahirkannya. "Salwa, belum makan kan Nak? Ayo kita makan bersama, adikmu sudah menunggu sepertinya dia sudah kelaparan, hehehe." Senyum manis ibunya seolah memberikan kekuatan padanya. Dia mengerjap beberapa saat, kembali dipandangnya sang ibu. Tak dijumpainya kedukaan dimata teduh wanita itu. 'Astaga, semoga semua ini hanya mimpi.' bathinnya. Di ruang makan tengah duduk dengan manis Alika yang terlihat asyik dengan ponselnya. Malam ini seperti biasa mereka makan bertiga. Tak ada canda tawa, mereka larut dalam pikiran masing-masing. Setelah selesai makan malam, ketiganya pun mulai asyik dengan ponselnya masing-masing. Begitulah hari-hari mereka. Karena terbiasa tanpa kehadiran sang Ayah, Alika tak menemukan kejanggalan dalam rumah mereka. Sedangkan Salwa berpura-pura tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal hatinya tengah berkecamuk kedukaan dan rasa penasaran yang masih membayangi pikirannya, antara percaya dan tidak. Berkali-kali hatinya berkata ingin bertanya langsung kepada ibunya, apakah kejadian pagi tadi benar atau hanya mimpi buruk. Namun, urung dilakukannya saat dilihatnya sang ibu tengah asyik membaca. Dia pun menepis perasaannya, mencoba kembali bersikap biasa dan melanjutkan aktivitasnya berselancar di dunia maya. Tanpa mereka berdua sadari di sudut ruangan sang ibu yang berpura-pura membaca tengah meneteskan air mata. Mencoba menata hati untuk bersikap biasa jika suatu saat sang anak bertanya tentang Ayah mereka. Jiwanya ingin sekali berontak namun, kesedihan hati tak mampu mengungkapkan perasaannya yang tengah berkecamuk. Aysila sadar dia tak boleh terlihat lemah di mata anak-anaknya. Sayangnya keinginan dan kenyataan tak pernah sejalan, meskipun dia berusaha tegar sesungguhnya hatinya sangat rapuh. Kewarasannya hampir saja hilang jika Salwa tak segera pulang. Sebenarnya dia mendengar suara salam dari putri sulungnya sore tadi, sangat jelas membuatnya tersentak dan menyadarkan dirinya dari niat mengakhiri hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN