Luka Setelah Perpisahan
Episode 3
'Malam ini harusnya dirimu di sini Mas. Menghabiskan malam setelah dua bulan tak pulang, sesuai janjimu. Tapi apa yang kudapatkan Mas, malah talak darimu!' batinku.
Aku pun kembali tergugu dalam isak tangisku, hanya bantal yang menjadi tumpuan kedukaan hati yang kualami. Semakin ku ingat semakin sakit rasanya hati ini.
Tak kusangka kata-kata manis yang selalu Mas Ramlan kirimkan melalui chatnya hanyalah kebohongan semata. Sandiwara yang sangat sempurna, membuatku tak mampu mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik setiap pesannya.
Entah apa yang akan kukatakan pada kedua anakku seandainya mereka sadar jika Ayahnya tak lagi pulang ke rumah. Apalagi Alika, gadis itu pasti kecewa jika tahu hubungan kedua orangtuanya tak lagi bersama utuh seperti dulu. Aku takut mentalnya akan terganggu, walaupun dia selalu ceria tapi tak menjamin dia mampu menerima semua ini dengan hati yang ikhlas dan lapang d**a. Aku sendiripun tak sanggup apalagi mereka.
"Ya Allah bantu aku, jangan sampai kejadian sore tadi terulang kembali. Berikan kekuatan untukku agar pikiranku tetap waras menjalani kehidupan ini. Jangan biarkan kedua putriku menderita karena perpisahan ini. Kuatkan mereka ya Allah, ya Tuhanku."
Hanya doa yang mampu kupanjatkan pada pemilik jiwa dan kehidupan penguasa semesta alam, dialah yang mampu membolak-balikan hati manusia. Lama aku terdiam setelah menyelesaikan sujud terakhir. Tak kuhiraukan air mata yang terus menetes membasahi mukena putih mas kawin pemberian Mas Ramlan yang memang jarang kugunakan.
Sengaja kugunakan untuk mengingatnya kembali sembari meminta melalui doa, semoga Allah melembutkan hati Mas Ramlan agar mengurungkan niatnya menceraikan ku. Naif memang, tapi itulah yang aku lakukan. Menangis sembari memeluk poto pernikahan kami dulu. Aku masih berharap semua ini hanya mimpi belaka.
Dulu saat masih bersama, Mas Ramlan selalu menginhatkanku tentang ibadah malam. Hampir setiap hari kami melangitkan doa di sepertiga malam. Meminta keberkahan dalam segala hal, dulu Mas Ramlan sangat menjaga ibadahnya.
Meskipun saat itu kehidupan kami masih sangat pas-pasan entah kenapa rasanya aku sangat bahagia. Mas Ramlan ayah dan suami yang bertanggung jawab. Tak pernah mengeluh meski keinginannya belum bisa aku wujudkan.
Seiring berjalannya waktu, rezeki pun semakin deras mengalir hingga pundi-pundi rupiah berhasil mengubah kehidupan kami. Aku bahagia karena Mas Ramlan tak banyak berubah. Namun, semuanya berubah drastis saat Mas Ramlan mulai menduduki jabatan tinggi di kantor cabang.
Mengingat semua itu rasanya ingin sekali diriku kembali ke kehidupan kami sebelumnya. Walaupun sederhana tapi selalu bersama, membesarkan anak dan menuntun mereka dalam beribadah. Daripada bergelimang harta malah membuatnya semakin jauh dari rumah dan Tuhannya.
Kuakui semenjak dirinya menerima tawaran pekerjaan di kantor cabang, dia justru terlihat jarang sekali beribadah. Terkadang jika waktunya pulang ke rumah dia hanya fokus pada ponsel dan laptopnya saja. Jika tak diingatkan untuk ibadah dia akan tetap fokus pada ponselnya. Ah, suamiku semakin tinggi jabatannya kenapa semakin rendah kesadarannya akan ibadah. Mengingat semua itu menambah sesak hatiku, mungkin semua ini terjadi karena diriku kurang bersyukur. Selama ini aku pun mulai jarang beribadah, begitulah manusia jika sudah terpuruk baru teringat Tuhannya.
Malam semakin larut, entah sedang apa kau di sana Mas? Tak khawatirkan kau pada kedua putri kita? Rasanya tak adil Mas, jika di sana kau tengah bahagia sementara aku di sini tak tahu harus bagaimana caranya memberi tahu kepada anak-anak tentang perpisahan kita.
"Apa yang kau lakukan, Nak? Kenapa kau gunting rambutmu? Kau itu perempuan, berhentilah mempermalukan ibu!"
Aku terkejut saat melihat anakku pulang dengan penampilan yang tak seperti biasanya. Alika, remaja itu saat pulang sekolah biasanya akan memakai hoodie atau sweater, tak lupa bergo maryam selalu menghiasi kepalanya. Namun tidak untuk hari ini.
Duniaku seakan runtuh saat melihat putri bungsuku pulang dengan penampilan berbeda. Rambut yang biasanya tertutup hijab kini dibiarkan terbuka dan dicukur habis. Padahal sejak kecil dia tak pernah mau jika kuajak untuk memotong rambutnya. Hari ini dia nampak seperti bukan dirinya.
"Aku bosan dengan penampilanku Bu, aku ingin terlihat menarik, tidak seperti ibu. Aku ingin Ayah kembali ke rumah ini." Katanya sembari menyeringai.
"Astaghfirullah, Alika ... Dengarkan Ibu, Ayahmu tak mungkin kembali lagi, Nak." Kataku lirih.
"Ini semua gara-gara ibu, iya kan? Pantaslah Ayah meninggalkan rumah kita, mungkin Ayah bosan melihat ibu seperti ini."
"Alika! Jaga ucapanmu!" Salwa putri sulungku berteriak.
Entah sejak kapan dia berada di sampingku, mungkin dia pulang saat aku tengah memperhatikan adiknya.
"Diam kau Salwa, kau tak tahu kan wanita seperti apa yang Ayah inginkan? Kau tak tahu kan, hah! Aku benci sama ibu!" Suara Alika bergetar, aku tahu sebenarnya dia sangat terluka.
"Alika, berhentilah menyakiti ibu. Ayah tak mungkin kembali ke rumah kita lagi." Salwa terus meyakinkan adiknya.
"Coba lihat ibu! Ayah bosan dengan Ibu karena penampilan Ibu kampungan. Aku tak mau membuat Ayah malu. Aku ingin seperti wanita yang bersama Ayah. Aku tak mau kehilangan Ayah, ini semua karena ibu yang tak bisa menjaga penampilannya!"
Plak.
"Salwa ... jangan nak, dia adikmu!" Kataku melerai keduanya, sayangnya aku terlambat, tangan lembut Salwa telah mendarat di pipi chuby Alika. Hal yang tak pernah kulakukan seumur hidupku. Kedua anakku berkelahi di depan mataku, mereka saling memukul. Ingin rasanya aku melerai dan meneriakkan nama mereka namun tenggorokanku rasanya kelu, suaraku hilang. Aku seolah terikat dan tak bisa bergerak.
"Hentikan ... Salwa, Alika! Salwa ... Alika!"
Nafasku tersengal, rasanya seperti nyata aku melihat ke dua anakku saling menyakiti satu sama lain. Keringat dingin membasahi tubuhku, aku tak sanggup melihat keduanya saling baku hantam. Aku tersentak, kulihat jam dinding masih setengah dua dini hari.
""Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Ya Allah untungnya hanya mimpi."
Ya Allah mimpi yang sangat nyata, sampai-sampai aku tak berani membayangkannya. Meskipun hanya mimpi namun degupan jantungku berdetak sangat kencang. Semua seperti nyata, aku sadar terlalu lama larut dalam kesedihan takkan mampu membawanya kembali dalam kehidupan kami, yang ada dia malah semakin menjauh.
Mungkin sebaiknya kuikhlaskan saja kepergiannya. Iya, aku harus ikhlas, banyak diluar sana perempuan-perempuan tangguh yang mampu bertahan walau hidup mereka pas-pasan. Tapi mampu membawa anak-anaknya dalam kesuksesan.
Aku yakin, aku pasti kuat. Namun, yang aku khawatirkan adalah mental kedua putriku, walau bagaimanapun kehilangan sosok Ayah pasti akan mempengaruhi psikis mereka. Aku tak tahu apa yang akan kulakukan jika aku salah mengambil keputusan. Nasib kedua putriku ada ditanganku, sekali saja aku lalai pasti akan berdampak buruk pada keduanya.
'Mampukan aku Tuhan, bimbing aku agar selalu di jalanmu.'
Hanya doa yang terus kupandangi pada-Nya sang pemilik kehidupan. Aku yakin dibalik semua ini ada rencana baik yang Allah berikan kepada kami. Semoga aku bisa melewatinya.
Jaman sekarang, pola asuh sangat mempengaruhi tingkah laku anak. Aku sering mendengar berita tentang kenakalan remaja korban dari perceraian orangtuanya. Tak jarang dari mereka mencari ketenangan jiwa dengan melakukan hal-hal yang negatif.
Aku jadi teringat cerita Alika saat di ruang makan tadi, tentang Dina temannya yang juga korban perpisahan orangtuanya. Katanya gadis itu hampir saja mencelakai dirinya sendiri kala memergoki ayahnya tengah bermesraan dengan seorang wanita. Saat itu hatiku langsung berdenyut nyeri, apalagi saat kulihat kilatan amarah dimatanya. Alika sangat mudah emosi, hatinya keras dan sering bertindak sesuka hati.
"Bu, mulai besok kak Bunga sebaiknya jangan lagi mengajar les di sini, dia itu perempuan gak bener. Kasian Dina gara-gara kak Bunga keluarganya hancur, hampir saja dia b*ndir." Katanya saat kami duduk di meja makan.
"Astaghfirullah, Adek tahu darimana?" Kataku terkejut.
Aku tak menyangka, gadis cantik yang kukira berhati baik itu ternyata iblis berwujud manusia. Ternyata di balik parasnya yang cantik tersimpan kecurangan yang mematikan. Sejenak aku teringat dengan Mas Ramlan, wanita seperti apakah yang berhasil menjauhkannya dari kami. Aku ingin sekali melihat seperti apa sosok perebut suamiku itu.
"Tadi siang Alika lihat sendiri kok, Ayahnya Dina gandeng tangan kak Bunga di mall dekat taman kota. Dina hampir aja ketabrak mobil kalau adek gak cepat datang."
Melihat Alika yang begitu berapi-api saat bercerita tentang temannya. Rasa takutpun menghantui pikiranku, apa yang akan terjadi jika mereka tahu bahwa Ayahnya juga memiliki wanita idaman lain. Bisakah mereka menerima semuanya dengan hati yang ikhlas? Atau ... Ya Allah, aku tak ingin mimpi barusan menjadi kenyataan.
"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah."
Tok, tok.
Suara ketukan di pintu kamar menyadarkanku dari lamunan. Kurapikan kembali penampilanku, aku tak ingin terlihat kacau di depan mereka. Sebisa mungkin kuusahakan agar mereka berdua selalu bahagia. Segera kubuka pintu kamar, terlihat putri bungsuku tengah berdiri di depan pintu dengan wajah pucat dan berkeringat.
"Bu, Adek tidur bareng ibu ya. Tadi Adek mimpi rumah kita kebakaran. Adekkan takut api Bu."
Segera kupeluk gadis kecilku tak biasanya dia begini. Seseram apapun mimpinya tak pernah sekalipun dia memintaku untuk menemaninya. Mungkinkah? Astaghfirullah, kenapa rasanya seperti kebetulan. Aku baru saja bermimpi jelek tentang kedua putriku. Dan Alika juga bermimpi jelek tentang kebakaran dirumah kami.
Astaghfirullah, ya Allah beri hamba kekuatan dan keikhlasan. Jangan sampai kedua putri hamba menyadarinya ya Allah. Setidaknya jangan sekarang.
Kubawa Alika dalam pelukanku, kuusap perlahan rambut indahnya dan dia pun kembali terlelap. Dengan sangat hati-hati kuselimuti tubuh gadis kecilku agar tidurnya semakin nyaman dan hangat.
Di luar sana suara petir seolah bersahut-sahutan, membuat Alika semakin mengeratkan pelukannya padaku. Dinginnya ruangan di tambah guyuran hujan deras di luar sana membawaku kembali terlelap ke alam mimpi.