Bayangan masa lalu

1201 Kata
Luka Setelah Perpisahan 4 "Maaf sebelumnya ya Bu, dengan terpaksa saya katakan langsung pada ibu karena tak ada satupun keluarga ibu yang saya temui di sini. Begini ya Bu, akibat benturan keras yang terjadi pada ibu, dengan terpaksa kita harus segera mengambil tindakan." Kata Dokter yang menanganiku. "Tapi Dok, suami saya belum bisa pulang. Saya takut dia tak setuju dengan keputusan ini." Kataku sembari menangis menahan rasa sakit yang teramat sangat di bagian bawah perutku. "Astaghfirullah, sekali lagi saya minta maaf tapi nyawa ibu taruhannya. Saya juga sebenarnya tak tega mengatakan hal ini, tapi kami juga tak bisa menjamin semuanya baik-baik saja. Akibat pendarahan yang ibu alami ini, jika tidak segera ditangani rahim ibu bisa saja rusak." Kembali Dokter itu menjelaskan tentang keadaanku. "Tapi Dok, suami saya tidak setuju jika saya dikuret tanpa didampinginya." Kataku sembari menggigit bibir, menahan sakit. " Oh, baiklah kita tunggu beberapa saat lagi ya Bu. Tapi kalau dalam dua jam suami Ibu tidak juga datang, kita segera tindakan ya Bu." Kembali Dokter itu menjelaskan. Ku jawab dengan anggukan kepala. Aku pun kembali menelpon Mas Ramlan. Berkali-kali kutelepon jawabannya tetap sama memintaku untuk menunggunya. Sayangnya dia terlalu lama, waktu yang diberikan oleh tim dokter sudah lewat akibatnya pendarahan yang kualami semakin menjadi dan dokter tak mau mengambil resiko, dengan persetujuan dari orang tuaku yang baru saja datang akhirnya tindakan pun dilakukan. Sayangnya karena terlalu lama menunggu pendarahan yang kualami hampir tak dapat dihentikan. Dengan terpaksa tim dokter pun memutuskan untuk segera mengangkat rahimku. Duniaku seakan hancur saat mengetahui bahwa aku tak akan pernah lagi bisa mengandung dan melahirkan. Padahal suamiku sangat menginginkan kehadiran anak laki-laki dikeluarga kami. Bukan dia tak sayang pada anak perempuan, menurutnya kehadiran anak laki-laki merupakan suatu kebanggaan. Alasannya agar keturunannya dari keluarganya tak putus, entahlah. Mengingat hal itu semakin membuatku merasa bersalah. Seandainya aku bisa lebih berhati-hati mungkin kejadian itu tak akan pernah terjadi. Aku merutuki kecerobohanku sendiri. Karena terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendirian, aku menolak saran mas Ramlan. Padahal Mas Ramlan berkali-kali memintaku untuk mencari seorang asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaanku. Namun, selalu saja kutolak, alasannya karena aku masih sanggup mengerjakan semuanya sendiri, masih belum perlu. Sampai akhirnya kejadian naas itu pun datang. Waktu itu saat aku tengah beberes rumah di lantai bawah, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara kucing yang tengah berkelahi di lantai atas. Karena penasaran, aku pun buru-buru naik ke lantai atas, naasnya saat hampir mencapai tangga teratas tiba-tiba kucing-kucing itupun turun secepat kilat membuatku terkejut dan terpeleset. Membuatku terjatuh dan perut besarku membentur anak tangga, untuk beberapa saat rasanya seluruh tubuhku tak bisa digerakkan. Aku terdiam, nyeri di bagian bawah perut diiringi dengan darah yang mengalir membuatku histeris. Ingin rasanya berteriak entah kenapa rasanya tak sanggup bersuara. Sekuat tenaga ku paksa diri ini agar sampai ke pintu masuk, tak kupedulikan nyeri dan yang semakin menjadi. Untungnya aku masih sadar dengan segenap tenaga yang ada akhirnya aku bisa meminta tetangga untuk menelpon ibu dan anak-anakku. Jika tidak entahlah. Walau sudah berusaha agar cepat mendapatkan pertolongan, sayangnya semua seakan sia-sia karena Mas Ramlan datang terlambat, dan aku yang tak memikirkan keadaanku sendiri. Ya, semua itu memang kesalahanku. Setelah operasi selesai dilakukan barulah Mas Ramlan datang. Awalnya dia tak tahu jika rahimku telah di angkat, dia pikir aku hanya menjalani tindakan kuretase. Aku sengaja meminta pihak rumah sakit agar tidak mengatakannya langsung kepada suamiku. Alasanku tak ingin mengganggu kesehatannya, syukurnya pihak rumah sakit mengizinkan. Dokter pun tak mengatakan apa-apa kepada suamiku. Selama masa pemulihan Mas Ramlan sering mendapat tugas keluar kota. Kadang dalam sebulan hanya dua hari dia berada di rumah. Aku tak masalah malah beruntung, setidaknya aku bisa memikirkan bagaimana caranya untuk memberitahukan kepadanya tentang keadaanku dan semua yang terjadi saat itu. Tak terasa sudah tiga tahun lamanya rahasia tentang pengangkatan rahim itu tersimpan rapat. Mas Ramlan pun seolah lupa dengan keinginannya untuk memiliki anak laki-laki. Hidup kami masih seperti biasa hangat dan penuh cinta. Bahkan sikap Mas Ramlan pun semakin mesra, semuanya terasa sangat indah hidupku seakan sempurna. Aku tak menyangka di balik sikap romantisnya ternyata menyimpan sesuatu yang sangat menyakitkan. Perlahan sikapnya mulai berubah, kadang cuek dan tiba-tiba berubah menjadi romantis. Aku masih berpikir positif mungkin dia capek karena selalu keluar kota. Tak pernah sekalipun pikiran jelek itu muncul dibenakku. Sampai akhirnya aku menemukan sebuah kenyataan bahwa suamiku mulai tak setia. Saat tengah membereskan pakaian kotornya tak sengaja kutemukan alat kontras*psi dalam saku celananya. Entah kenapa aku malah takut untuk bertanya, harusnya aku marah dan bertanya langsung padanya. Tapi tidak kulakukan, aku tak berani menghadapi kenyataan bahwa suamiku telah menduakanku. Mungkin aku bo doh, iya aku memang terlalu naif karena selalu merasa bersalah atas kejadian yang menimpaku waktu itu. Seandainya aku bisa menjaga kandunganku dengan baik, mungkin Mas Ramlan takkan pernah menduakanku. Aku masih berpikir positif mungkin benda itu bukan milik suamiku. Setelah kejadian itu Aku tak pernah lagi menemukan benda-benda aneh lainnya di saku baju atau celana Mas Ramlan. Semakin membuatku yakin bahwa yang ku temukan itu bukanlah miliknya. Walau sikapnya masih belum berubah seperti biasanya aku tak begitu menghawatirkan semuanya. Saat dia kembali memintaku untuk segera hamil, jantungku mendadak berdegup kencang. Aku tak tahu harus berkata apa, setiap kali dia meminta haknya dan membisikkan kata-kata manis tentang keinginannya, selalu kujawab dengan senyuman setelah semuanya selesai barulah aku menangis dalam diam. Aku harus bagaimana Tuhan? Haruskah ku katakan yang sebenarnya? "Bu, loh ibu di sini? Salwa pikir dari tadi ibu pergi, rumah kita kok rasanya sepi ya Bu, hehehe." Aku tersentak saat merasakan tepukan di bahuku. Bayangan masa lalu itu selalu hadir menghantui pikiranku. Membuatku semakin terpuruk dalam kesedihan, hingga tak sadar ketika Salwa menghampiriku. "Aarrgh ... Astaga, ibu pikir siapa?" Kataku sembari mendongak dan hampir melompat, aku terkejut melihat Salwa tiba-tiba berdiri di depanku.Ternyata dari tadi tak terasa aku terduduk di sudut ruang makan ini layaknya anak-anak yang tengah bermain petak umpet, entah apa yang membuatku selinglung ini. "Alika kemana ya Bu, tadi Salwa ke kamarnya kok dianya gak ada ya?" Tanyanya sembari menggeser kursi, menimbulkan sedikit derit yang semakin menyadarkan ku. "Oh, tadi malam dia bermimpi katanya, terus pindah tidur ke kamar ibu. Biarin ajalah dulu." Kataku sembari berjalan kearah meja makan dan menyiapkan sarapan. "Hari ini Salwa gak ada kegiatan, kita jalan-jalan yuk Bu, bosen di rumah terus!" Katanya sambil mengaduk-aduk s**u yang barusan kubuat. "Jangan diaduk terus langsung saja diminum. Jalan-jalan? Hemm, ide yang bagus boleh juga itu tapi kemana?" "Emp ... Kalau kepantai boleh gak?" "Boleh, nanti kita pergi bertiga ya." "Yeah, asyik jalan-jalan." Tiba-tiba suara Alika memenuhi ruang makan, hal yang selalu dia lakukan bila berada di rumah. Alika memang sangat ceria. Walau kami hanya bertiga namun rumah tak pernah sepi karena Alika selalu saja memiliki banyak cara untuk membuat suasana rumah menjadi ceria dan menyenangkan. Seperti saat ini, namun jika dia tahu kejadian yang sebenarnya saat ini, apakah sikapnya akan tetap sama? jika tidak, akan seperti apa sepinya rumah ini? ya Allah, aku tak sanggup membayangkannya. Setelah selesai sarapan dan beres-beres rumah yang kami lakukan bersama, kamipun bersiap-siap untuk pergi ke tempat yang Salwa inginkan. Tempat favorit aku dan mas Ramlan. Sebelumnya telah kupesan taksi online, tak mungkin kami pergi bertiga pergi menggunakan sepeda motor. Karena kami hanya memiliki satu buah mobil, itupun yang selalu di pakai Mas Ramlan kerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN