Luka Setelah Perpisahan 5
Kami bertiga pun pergi ke pantai yang letaknya tak jauh dari rumah, kira-kira satu jam perjalanan. Dulu tempat inilah yang selalu aku dan Mas Ramlan kunjungi sebagai tempat melepas penat setelah bekerja seharian, karena jaraknya yang tak jauh dari pabrik dan juga rumah orang tuaku.
Aku dan Mas Ramlan bertemu pertama kali juga di pantai ini, saat kami berdua kerja di pabrik yang sama. Karena seringnya bertemu serta tempat tinggal kami yang searah, membuat benih-benih cinta itu pun tumbuh subur di hati kami berdua.
Selain bekerja Mas Ramlan juga memanfaatkan waktu luangnya untuk terus melanjutkan kuliahnya. Sedangkan diriku harus membantu perekonomian keluarga, karena kami bukanlah orang yang berada. Sedangkan Mas Ramlan, sebenarnya dia terlahir dari keluarga yang berada namun dia memilih untuk hidup mandiri. Alasan sebenarnya aku sendiri tak mengerti. Selain jauh dari keluarga Mas Ramlan juga tertutup jika ditanya tentang keluarganya.
Berulangkali kucoba untuk mengorek informasi tentang dirinya dan keluarganya, namun selalu berakhir dengan pertengkaran. Sejak saat itu aku memilih untuk diam, dan tak pernah lagi mengungkit masalah keluarganya sampai kami berdua menikah.
Sebenarnya aku juga ingin seperti dirinya bisa kerja sambil kuliah. Namun, keadaanlah yang tak mendukungku.
Ayahku lumpuh akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa tahun yang lalu, membuatnya tak bisa lagi bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami. Sedangkan ibuku hanyalah ibu rumah tangga biasa yang tak memiliki pengalaman bekerja. Untungnya ibu tergolong hebat dalam mengelola keuangan jika tidak, mungkin saat ini rumah yang menjadi satu-satunya tempat berteduh keluargaku sudah lama jatuh ke tangan rentenir. Karena saat ayahku mengalami kecelakaan orang yang menabraknya kabur, dan biaya rumah sakit yang tak sedikit itu pun harus kami tanggung sendiri.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari Ibuku membuka usaha kecil-kecilan di depan rumah, untungnya uang pesangon dari tempat Ayah bekerja masih cukup untuk di modalkan. Itulah sebabnya aku tak bisa mengejar impianku melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah menyelesaikan kuliahnya Mas Ramlan pun melamarku dan kami berdua masih tetap bekerja di tempat yang sama.
Semua berjalan dengan baik dan lancar, kehidupan kami benar-benar bahagia. Tepat setahun usia pernikahan kami, akupun memberikan kabar bahagia kepadanya. Layaknya orang yang tengah berbahagia, Mas Ramlan pun mengucap syukur dan selalu menjagaku dengan sangat baik.
Karena hyperemesis yang kualami membuatku mau tak mau harus berhenti dari pekerjaan. Walau begitu hidup kami tetap baik-baik saja, Mas Ramlan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kami sampai aku melahirkan anak kedua. Tak pernah sedikitpun kasih sayangnya berubah, kami sangat bahagia.
Orang tua Mas Ramlan tinggal di kabupaten yang berbeda dengan kami, selain jauh mereka juga tak pernah ikut campur urusan rumah tangga kami. Karena sedari awal mereka memang tak merestui hubungan kami. Itulah sebabnya mengapa Mas Ramlan tak pernah sekalipun melibatkan keluarganya dalam hubungan kami. Setelah bertahun-tahun pernikahan kami hanya beberapa kali saja orang tua Mas Ramlan datang ke rumah kami, itupun karena urusan keluarga mereka. Sebenarnya aku sangat sedih, kedua putriku tak pernah mengenal keluarga dari pihak Ayahnya.
Aku tak pernah menganggap ketidaksukaan keluarga Mas Ramlan padaku sebagai penyebab hancurnya rumah tangga kami. Walaupun orang tuanya tak merestui kami, tapi tak pernah sekalipun mereka menggangguku. Obsesinyalah yang menjadi duri dalam rumah tangga kami. Aku sadar dengan kekuranganku dan aku memaklumi keinginannya.
Sebagai anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara, pastilah dirinya ingin memiliki anak laki-laki juga. Seperti yang selalu diucapkannya bahwa anak laki-laki adalah penerus keturunan. Itulah sebabnya dia selalu berharap aku bisa memberikannya anak laki-laki. Membuatku selalu merasa tertekan memikirkan keinginannya.
Ketakutan akan kehilangan dirinya membuatku selalu dibayangi rasa curiga. Aku sadar takkan bisa selamanya menyembunyikan kebenaran tentang diriku. Jika nanti semuanya terungkap dan Mas Ramlan tahu keadaanku yang sebenarnya aku tak tahu harus bagaimana. Aku tak berani membayangkan semuanya. Membuatku semakin ketakutan dan tertekan.
Tak ingin larut dalam ketakutan aku pun sadar dengan kekuranganku, membuatku mau tak mau harus menerima semuanya dengan ikhlas. Jika suatu saat dirinya memintaku untuk berbagi, aku rela asalkan tetap bersama dan anak-anak tetap mendapat perhatian darinya. Entah kenapa dia malah tak mau atau mungkin wanita itu yang tak ingin menjadi yang kedua? Ah, entahlah.
"Seandainya Ayah ikut pasti rasanya seru, iya kan kak!" Kata Alika sumringah.
"Biasa aja kali, dari dulu juga kita jarang pergi bareng Ayah." Salwa menimpali, entah kenapa aku merasa putri sulungku itu tak nyaman jika berbicara tentang Ayahnya. Padahal mereka berdua sangat dekat.
"Ish ... kakak sewot banget sih, sebel deh. Namanya juga kangen, lagian Ayah kok makin jarang pulang ya? Sudah dua bulan loh, aneh gak sih?" Katanya sembari menatap ke arahku, buru-buru kubuang pandanganku darinya dan berpura-pura tak mendengar pertanyaannya.
"Yaelah, gitu aja ngambek. Jelek tau, biarin ajalah Ayah gak pulang, siapa tahu Ayah memang sibuk. Kalau kangen ya ditelpon lah ribet banget sih!"
Jawaban Salwa membuatku semakin salah tingkah. Aku yang sedari berpura-pura tak mendengar hanya menatap keduanya, tanpa mampu berkata-kata. Karena aku sendiripun tak tahu apa yang harus aku katakan. Hatiku menghangat melihat tingkah mereka yang selalu bercanda ria. Bercerita tentang kerinduan mereka pada sosok yang kini entah dimana.
' Ya Allah, seandainya mereka tahu mungkinkah suasana seperti ini akan terus terjadi?' batinku.
Tak terasa mobil yang kami tumpangi pun sampai di tempat tujuan, kamipun bergegas turun. Setelah memasuki areal pantai, suara cempreng Alika disusul derai tawa Salwa yang tak henti-hentinya menggoda sang adik membuat suasana hatiku yang tadinya beku seketika menghangat.
"Asyik, dah sampai! Huhh ... Ibu, adek kesana ya!" Kata Alika sembari menunjuk ke suatu tempat.
"Iya, jangan jauh-jauh ibu tunggu kalian di situ." Kataku pada mereka sembari menunjuk sebuah pondok tempat pengunjung pantai bersantai.
Tanpa menjawab mereka berdua berlalu ke tempat-tempat yang dirasa cocok untuk berswapoto.
Namun, baru beberapa saat mereka pergi tiba-tiba kulihat dari kejauhan Alika berlari sembari menangis menuju parkiran. Dibelakangnya kulihat Salwa pun ikut berlari sembari meneriakkan nama adiknya. Pasti ada yang tak beres segera kususul keduanya ke arel parkir.
Pemandangan yang tak pernah kulihat terpampang jelas di depanku, Alika dengan sekuat tenaga tengah memukul-mukul sebuah mobil dengan batu. Entah darimana dapatnya batu sebesar kepalan tangan itupun mendarat bertubi-tubi di seluruh body mobil. Tak hanya itu kaca spion mobil itu pun tak luput dari hantaman tangan mungil Alika. Entah apa sebabnya bungsuku bisa semarah itu, tunggu, sepertinya aku mengenali mobil itu. Setelah kuperhatikan ternyata mobil itu milik Mas Ramlan.
"Astaga, adek ... hentikan, Nak!" Kataku histeris.
Alika tak memperdulikan ucapanku, dia terus memukuli mobil itu dengan batu, sementara Salwa hanya berdiri sembari menangis. Tak berapa lama seseorang yang sangat kukenal datang dan memeluk Alika sembari menenangkannya. Aku terkejut ternyata Mas Ramla juga ke sini, namun tak kulihat perempuan lain bersamanya.
"Alika, sudah Nak, sudah ... maafkan Ayah. Ayah tak bermaksud melukai hatimu. Dengarkan Ayah--"
"Arrrghh, aku benci kalian semua! Kalian pembohong!" Ucap Alika sembari melepaskan pelukan Ayahnya. Dia terus meronta dan memukuli Mas Ramlan. Teriakannya memancing kerumunan orang, membuat Mas Ramlan terpaksa melepaskan pelukannya.
Aku bergegas memeluknya, namun dengan kasar Alika mendorong tubuhku membuatku terhuyung dan hampir jatuh. Alika pun pergi, disusul Salwa. Aku pun segera menyusul mereka berlari sekuat yang kubisa, sayangnya aku kalah cepat kedua putriku telah hilang dari pandangan.
Saat aku tengah kebingungan mencari keberadaan mereka, mobil Mas Ramlan datang dari belakang dia pun memintaku untuk masuk. Rasanya enggan, tapi demi anak-anak terpaksa aku masuk ke dalam mobilnya. Entah berapa lama kami mencari keduanya namun tak juga kami temukan.
Aku sengaja tak menangis di depannya, aku tak ingin terlihat lemah di depan laki-laki itu. Walau rasa khawatir terlihat jelas di wajahku, namun tak sedikitpun aku mengadu padanya. Melihat kegelisahanku Mas Ramlan pun akhirnya memintaku untuk menunggu di rumah, akupun mengiyakan selain malas berduaan dengannya siapa tahu anak-anak sebenarnya sudah sampai di rumah. Lagi-lagi aku kecewa, ketika sampai di rumah tak kutemui satupun dari mereka. Hatiku gelisah aku sangat mengkhawatirkan kedua anakku.
'Ya Allah lindungilah mereka berdua dimanapun berada.' do'aku.
Entah berapa lama aku tertidur, saat mata ini mengerjap yang kulihat hanyalah ruangan yang temaram karena lampu ruangan ternyata belum kunyalakan. Aku tertidur di kursi ruang tamu, saat menunggu Mas Ramlan dan anak-anak. Di luar terlihat mendung dan gerimis mulai turun, semakin menambah kegelisahan hatiku.
Terlalu lama tertidur membuatku lupa dengan kewajibanku sebagai seorang muslim. Kuakui, semenjak kata talak itu terucap aku semakin jauh dari ibadah, setan telah menguasai hatiku. Dengan hati gelisah kuadukan semuanya pada sang pemilik kehidupan.
Ada rasa damai menelusup hatiku setelah mengerjakan perintah agama. Mungkin semua ini memang teguran dari sang pencipta untukku yang selalu lalai dalam menjalankan kewajiban sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Aku sadar tugasku sebagai ibu kedepannya akan semakin besar dan berat, bukan hanya mendampingi mereka, aku juga harus bisa menuntun mereka menjalani hari-harinya dengan baik seperti biasanya.
Tak sabar menunggu akupun mondar-mandir di depan rumah sembari melihat kearah jalanan. Berharap kedua putriku segera muncul sebelum adzan Maghrib berkumandang.
Kulihat dari kejauhan mobil Mas Ramlan berjalan perlahan ke arahku. Ada rasa senang sekaligus resah.
'Semoga kedua putriku berhasil ditemukan Ayahnya.' begitu terus kalimat yang keluar dari mulutku.
Semakin dekat mobil itu semakin tak karuan rasanya hatiku.
Akhirnya apa yang kuharapkan datang juga, kedua putriku turun dari mobil dan langsung berlari ke dalam rumah. Melihat itu akupun bergegas mengejar mereka tanpa memperdulikan panggilan Mas Ramlan.
"Maaf Mas, sebaiknya kamu pergi saja. Biar aku yang mengurus mereka." Kataku tanpa menoleh ke arah pria yang telah menorehkan luka itu.
"Ta-tapi Sila, Mas mau--"
"Maaf, biar aku yang mengurus keduanya silahkan pergi!"
Tanpa menunggu lagi aku segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu dengan kasar. Tak kuperdulikan gedoran pintu dari pria itu. Gegas ku susul kedua putriku di kamar mereka.
Sebelum aku sampai di kamar Alika, kulihat Salwa keluar dari kamarnya. Langsung kupeluk tubuhnya sebagai wujud syukur karena dia tampak baik-baik saja.
"Alika mana, Nak? Maaf kan Ibu karena tak jujur pada kalian." Kataku sembari memeluknya.
Salwa hanya menggeleng, matanya merah perlahan butiran-butiran bening itupun jatuh di pipi mulusnya.
"Ibu gak salah, dari awal kakak sudah tahu semuanya. Ibu gak salah." Katanya sembari menangis dalam pelukanku.
"Astaghfirullah, Nak. Maafkan Ibu sayang." Kamipun menangis bersama.
Ya Allah ternyata perubahan sikap Salwa selama ini akibat dari perpisahan kami. Ampuni kami ya Allah. Aku bersyukur putri sulungku mampu menghadapi kenyataan dengan hati yang ikhlas. Namun, aku tak yakin Alika bisa setegar Salwa.
Sejak hari itu sikap Alika perlahan mulai berubah, tak pernah lagi dia pulang tepat waktu. Jika ditanya tak pernah dia mau mengatakan alasannya. Alika semakin tak terkendali, sikapnya pun semakin kasar padaku dan juga Salwa.
Semakin lama aku semakin tak mengenali sifat putri bungsuku. Berbagai macam cara sudah kucoba untuk mendekati Alika, tapi tak pernah berhasil. Dia semakin jauh dari jangkauanku, tak putus asa malam ini akan kucoba lagi untuk bicara padanya. Siapa tahu dia mau mengatakan apa keinginannya dan kembali ceria seperti dulu.