Luka Setelah Perpisahan 6
Maghrib telah lama berlalu, biasanya tanpa diminta kedua putriku akan turun untuk makan bersama di ruang makan. Kulihat Salwa sudah turun sedangkan Alika belum, biasanya Alika lah yang akan datang lebih dulu. Tak sabar menunggu aku pun bergegas ke kamar Alika di lantai atas, mengetuk pintu kamarnya sembari memutar handle pintu.
"Sayang, makan yuk!" Kataku meraba-raba saklar lampu karena ruangan ini sangat gelap. Tak seperti biasanya namun, betapa terkejutnya aku melihat kondisi kamar yang sangat berantakan. Padahal yang kutahu Alika bukanlah anak yang tak peduli dengan kondisi kamar yang tak tertata rapi. Sedari dia kecil aku telah membiasakan anak-anakku untuk selalu merapikan kamar mereka.
Hari ini pertama kali kulihat pemandangan yang tak biasa, tak hanya itu jendela yang tadinya tertutup kini terbuka, membuat angin dari luar leluasa masuk menerpa wajahku. Nafasku memburu, seketika jantungku berdegup kencang emosi telah menguasai hatiku. Ada rasa marah sekaligus khawatir menelusup hatiku, marah karena tingkah aneh Alika dan khawatir karena dia kabur dari rumah. Ya Allah, ampuni hamba.
Aku pun berlari keluar kamar dan menuruni anak tangga, hal yang paling aku takuti semenjak kejadian itu. Dengan hati berdebar karena bayangan masa lalu sempat terlintas membuatku hampir terjatuh.Tak kuperdulikan suara teriakan Salwa yang terus memanggil namaku. Aku terus berlari kepintu gerbang, mataku awas mencari-cari Alika di sana sayangnya aku terlambat, tak kutemui sosok itu dimanapun. Tak ada satupun orang di sana karena memang semua pintu rumah tetangga tak ada satupun yang terbuka.
Tubuhku pun luruh ke jalanan, aku lemas pandanganku buram, rasa khawatir memenuhi rongga hatiku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Air mata seolah berlomba meluncur tanpa bisa kucegah. Bulir-bulir bening itu seolah mengerti kesedihan diri. Ya Allah, kemana perginya Alika?
Lama aku termenung di depan pintu rumah, tak kuperdulikan rintik hujan yang turun perlahan. Sesak rasanya d**a ini, entah cobaan apalagi yang akan Tuhan beri untukku. Air mata seolah tak lagi mampu meringankan beban hatiku, mungkin karena terlalu banyak sudah ia tumpah. Seakan tak mampu lagi memberikan ketenangan jiwa yang kini diambang kehancuran. Pandanganku kosong aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa.
Kini diriku tak mampu lagi menghadapi dunia, hidupku serasa tak berguna dan hancur semenjak mas Ramlan pergi. Dia yang kucinta telah menorehkan luka yang entah kenapa rasanya semakin hari justru semakin menyakitkan.
Jika saja aku berani berkata jujur mungkin rasanya tak akan sesakit ini. Seandainya pun berpisah mungkin caranya tidak seperti ini. Salahkah aku yang terlalu takut kehilangannya? Memintanya untuk tetap disampingku? Salahkah aku? Hanya karena aku tak lagi mampu melahirkan keturunannya dia tega meninggalkanku. Membawaku ke dalam neraka dunia, dan menganggapku tak pernah ada.
Salahku memang, semua kekacauan ini akulah penyebabnya. Aku yang terlalu takut menghadapi kenyataan. Mengabaikan perasaan anak-anakku, menjadikan mereka korban dari keegoisanku. Tak bisakah ku tebus semua itu dengan cara lain?
Tak henti-hentinya kusalahkan diriku karena memang semua kekacauan ini salahku. Namun, tak bisakah aku merasakan ketenangan jiwa sebentar saja? Apakah harus seperti ini ganjaran yang kuperoleh karena kesalahanku itu?
Salwa kini menuntunku masuk ke dalam rumah, membawaku duduk di sofa ruang tamu.
"Ibu, maafkan aku. Aku tak becus menjaga Alika." Dia pun menangis dipangkuanku.
Aku tak mampu lagi berkata-kata, hatiku perih melihat tingkah anak bungsuku. Harusnya aku yang dihukum bukan anak-anakku. Tuhan, mengapa kau tambah lagi cobaan hidupku menjadi seberat ini. Apakah kesalahanku teramat besar? hingga anakku pun tak lagi mendengarkan ucapanku.
Belumpun hilang luka akibat perceraian kemarin, kini datang luka baru yang lebih menyakitkan. Ya Allah, mampukah aku melewatinya?
Kami berdua pun menangis bersama. Meratapi kepingan luka yang seolah tak mau kering. Aku bersyukur putri sulungku mampu bertahan walau kutahu hatinya pun sama sepertiku. Setidaknya dia tak menampakkan kekecewaannya dengan bertingkah aneh.
Malam semakin larut, entah kemana perginya Alika. Berkali-kali kuhubungi ponselnya tetap saja tak aktif, Salwa pun berusaha mencari tahu keberadaan adiknya melalui teman-temannya. Sayangnya tak ada satupun dari mereka yang melihatnya.
Aku sadar, semenjak Alika tahu perceraian kami sikapnya perlahan berubah. Dia menjadi pendiam dan tertutup. Padahal sebelumnya dia selalu ceria dan menyenangkan. Aku tak lagi mengenal putri bungsuku itu. Ini semua salahku, karena lalai menjaganya dan gagal meluluhkan hatinya yang semakin keras membatu.
Lama aku mematut wajah di cermin meja rias ini. Aku sadar usia membuat penampilanku tak lagi menarik. Bukan, bukan karena itu alasan Mas Ramlan menceraikanku. Meskipun aku selalu berpenampilan cantik dan menarik aku yakin tetap saja tak bisa menarik perhatiannya. Karena bukan itu penyebab Mas Ramlan mencampakkanku.
Aku sadar, tak lagi bisa melahirkan keturunannya. Obsesinyalah yang membuatnya tak lagi menyayangiku. Ternyata pandangannya tentang anak laki-laki belum juga berubah. Aku ingat di awal-awal pernikahan kami dulu dia selalu bermimpi ingin memiliki anak laki-laki. Namun, saat yang lahir perempuan dia terlihat biasa saja. Tetap diterimanya dengan suka cita. Setelah kelahiran Alika diapun masih memperlakukanku layaknya ratu, kasih sayangnya masih sama. Dia sangat memanjakan kedua putri kami. Mengingat semua itu membuat dadaku kembali sesak. Ada yang sakit namun tak berdarah di dalam sana.
Ya Allah, mengapa ingatan itu datang kembali? Kenapa rasanya sulit untuk keluar dari bayangan masa lalu. Apalagi saat membayangkan dirinya tengah b******u dengan wanita lain membuat darahku berdesir. Aku tak sanggup membayangkan perlakukannya selama bersamaku dulu, kini beralih pada wanita lain. Oh ... Tuhan, kuatkan aku. Hilangkan semua ingatan tentang dirinya dari pikiranku jangan tambahkan luka lain bersarang di hatiku.
Setitik air matanya mengalir dari sudut mataku, rasanya sakit sangat-sangat sakit. Pria yang selalu memperlakukanku bak seorang ratu itu, kini bertekuk lutut di hadapan wanita lain. Ada rasa benci dan marah yang berkecamuk di dalam hatiku. Ku remas gaun tidur yang kini melekat di tubuhku, gaun yang selalu menemani malam-malam panjang kami kini menjadi sasaran amarahku. Tak terasa remasan jemari itu berubah menjadi cengkraman yang justru meninggalkan jejak luka di kulit tubuhku. Rasa sakit dan perih yang tercipta dari goresan kuku-kuku ini tak seberapa sakitnya dibandingkan dengan sakit hati karena ditinggal oleh orang terkasih.
"Aarrghh."
Prang.
Cermin di depanku pun kini pecah berkeping-keping, menggambarkan kelukaan hatiku yang hancur dan tak mungkin lagi bisa kembali seperti utuh seperti semula. Aku membencinya, aku sangat-sangat membencinya. Aku bersumpah akan membalas setiap tetes air mata ini agar dia pun merasakan sakitnya kehilangan seperti yang aku rasakan.
Namun aku kalah, setan berhasil membisikkan kata lain dipikiran ku. Kudekati pecahan kaca yang berserakan di lantai, kilatan cahaya dari pecahan kaca yang berserakan karena pantulan lampu kamar itu menuntunku. Membisikkan sesuatu yang membuatku tak ragu untuk menggenggam erat serpihan kecil benda tajam itu. Ada rasa nyeri saat benda itu menembus lapisan kulitku. Walaupun rasanya sakit setidaknya setelah ini semuanya akan baik-baik saja, aku tak akan lagi merasakan sakitnya kehilangan orang-orang yang sangat aku sayangi, begitulah pikirku. Lebih baik akulah yang pergi, agar tak ada lagi drama memilukan yang terjadi dalam hidupku.
"Aarghh!"
Sayup-sayup kudengar suara Salwa berteriak memanggilku.