Aysila putus asa

1618 Kata
Luka Setelah Perpisahan 7 Prang. "Aarrghh!" Suara-suara benda pecah dan teriakan tertahan di tengah malam membangunkan Salwa yang tertidur di sofa ruang tamu. Sengaja dia tak tidur di kamarnya karena menunggu adiknya yang belum juga pulang, padahal malam telah larut. Dia pun bergegas menuju arah suara-suara itu. Jantungnya berdegup kencang tatkala menyadari suara berisik benda pecah disertai suara isak tangis itu berasal dari kamar ibunya. "Bu, ibu kenapa Bu?" Katanya sembari mengetuk pintu kamar ibunya. Berulangkali dia mencoba membuka pintu itu tapi gagal karena terkunci dari dalam. "Bu, Salwa mohon buka pintunya, biarkan Salwa masuk Bu, berhentilah menyakiti diri sendiri. Salwa mohon Bu!" Teriaknya sembari menggedor-gedor pintu kamar. Namun tetap tak ada jawaban, semakin membuatnya ketakutan. "Ibu, tolong buka pintunya Salwa takut Bu ...!" Tangisnya pun pecah sambil terus mengetuk-ngetuk pintu kamar itu. Hening, tak ada jawaban. Salwa semakin ketakutan, pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam prasangka buruk. Salwa pun menangis sembari terus mengetuk-ngetuk pintu kamar itu. Karena khawatir dia pun bergegas mengambil kunci cadangan yang tergantung di dinding dekat pintu ruang keluarga. Rasa takut dan khawatir membuatnya gemetar, entah kenapa disaat-saat genting seperti ini tangannya mendadak terasa licin dan berkeringat. Berulang kali kunci-kunci itu jatuh membuatnya semakin gelagapan. Setelah mencoba beberapa kali barulah anak kunci itu masuk kelubangnya membuatnya bernafas lega, akhirnya pintu itupun terbuka. Salwa langsung menghambur masuk, alangkah terkejutnya dia saat melihat pemandangan yang sangat mengerikan di depan matanya. "Aarrghh ... Ibu, apa yang ibu lakukan, Bu? Ya Allah ... Tolong, ibu!" Salwa memeluk ibunya yang terduduk lemas di dekat tempat tidur dengan tangan yang berlumuran darah. "Astaghfirullah, Ibu kenapa jadi begini ya Allah." Teriakan Salwa menggema di seluruh sudut kamar. Diambilnya handuk kecil yang biasa digunakan untuk mengeringkan rambut yang kebetulan tergantung di pintu kamar mandi dan membalutkanya ketangan ibunya. Tanpa pikir panjang Salwa berlari ke luar rumah dan berniat memanggil beberapa orang tetangganya. Namun diluar sana tak ada satupun orang yang lewat, atau sekedar duduk-duduk di teras rumah. Semua pintu rumah tetangganya tertutup rapat, mungkin karena malam yang semakin larut dan semua orangpun telah masuk ke peraduannya masing-masing. Sehingga tak ada satupun yang menyadari kegelisahan serta ketakutan gadis itu. Salwa terus berpikir sembari mengedarkan pandangannya, rasa takutnya seketika hilang tak dipedulikannya malam yang telah larut. Dengan nafas memburu dia pun bergegas mengetuk pintu salah satu rumah tetangga yang paling dekat dengan rumah mereka. "Assalamualaikum Pak Mamat, Bu Sarah, tolong Salwa Bu, Pak!" Teriaknya sembari menggedor-gedor pintu rumah tetangganya. Beruntung kedua pasutri itu telah terjaga, mereka memang terbiasa bangun ditengah malam untuk melaksanakan sholat malam. Mendengar suara orang minta tolong sembari menggedor-gedor pintu rumahnya, kedua pasutri itupun langsung keluar. Mereka berdua terkejut melihat siapa yang datang dan menangis sembari minta tolong. "Salwa!" Keduanya serempak mengucapkan nama itu. "To_tolong, to-tolong Salwa pak! Ibu, i-ibu--" Gadis itu tak mampu melanjutkan kalimatnya, dia sangat gugup dengan sekuat tenaga dia pun menarik tangan kedua pasutri itu sembari menunjuk rumahnya. Pak Mamat pun segera mengikuti Salwa, sementara Bu Sarah mengunci pintu rumah mereka. Setelah memastikan pintu rumahnya terkunci dengan baik dia pun bergegas menyusul suaminya. "Astaghfirullah." Ucap keduanya setelah berada di kamar Aysila. Alangkah terkejutnya pasangan suami istri itu saat melihat kondisi Aysila dan pecahan kaca yang berserakan di lantai. "Pak, panggil dokter Erik, siapa tahu dia belum tidur. Biasanya hari gini dia kan baru pulang. Atau langsung saja kita kerumah sakit?" Kata Bu Sarah kepada suaminya. "Iya Bu, sebentar bapak telpon dulu siapa tahu dia belum tidur." Katanya sembari mengambil ponselnya dan segera melakukan panggilan. Syukurnya langsung tersambung, benar kata istrinya dokter itu baru saja pulang. Sebenarnya rumah dokter Erik tepat berada di depan rumah mereka, namun karena sudah larut malam tak enak rasanya menggedor pintu rumah orang. Syukurnya dokter itu belum tidur dan diapun bersedia datang memberi bantuan. Setelah dokter muda itu datang mereka pun bergegas masuk dan melihat keadaan Aysila. Melihat keadaannya yang lemas dan tak sadarkan diri dokter Erik langsung memberikan pertolongan pertama. Setelah memastikan semuanya diapun membersihkan sisa-sisa darah dari luka itu. "Syukurlah, lukanya tak begitu dalam, hanya tergores saja. Tak perlu kerumah sakit." Kata dokter Erik memastikan. "Alhamdulillah, terimakasih dokter, maaf sudah merepotkan." Kata Bu Sarah. "Tak masalah Bu, namanya juga tetangga wajarlah kalau kita saling tolong menolong. Oh iya, ini obatnya usahakan agar segera diminum agar lukanya cepat kering." Katanya sambil merapikan peralatannya dan memberikan beberapa obat kepada Bu Sarah. "Tapi kenapa Bu Aysila belum sadar juga ya Dok?" Tanya pak Mamat penasaran. Pria itupun kembali memeriksa keadaan Aysila, di usapkanya beberapa tetes minyak kayu putih kehidung wanita itu. Setelah beberapa saat mata Aysila pun mengerjap, dia mencoba bangkit dari tidurnya namun rasa lemas membuatnya tak berdaya. "Alhamdulillah." Serempak orang-orang yang berada di dalam kamar itu berucap. Salwa pun bergegas memeluk tubuh ibunya, tak habis-habisnya dia mengucap syukur. Bu Sarah dan Pak Mamat pun tampak lega. Keduanya saling pandang beberapa saat dan tersenyum pada dokter Erik yang nampak menarik nafas lega. "Saya permisi dulu Pak, Bu. Jangan lupa minumkan obatnya agar lukanya cepat sembuh. Bu Aysila hanya kelelahan." Katanya pelan. "Biar saya antar dokter." kata Pak Mamat yang telah berdiri di depan pintu kamar. "Oh iya, mari Pak." Keduanya pun bergegas keluar. "Terimakasih dokter." Kata Salwa sembari menghapus air matanya. Dan dijawab anggukan oleh dokter itu. Setelah pak Mamat dan dokter Erik pergi. Bu Sarah pun membantu Salwa merapikan pecahan kaca yang berserakan di lantai kamar tersebut. "Adikmu di mana, Nak? Kok dari tadi gak kelihatan?" Tanya Bu Sarah. Salwa yang masih menangis langsung menggelengkan kepalanya. "Gak tahu Bu, dari Maghrib belum pulang. Salwa sudah keliling mencarinya, ditelpon juga gak aktif nomornya. Mungkin karena itu ibuku jadi seperti ini." Katanya disela-sela isak tangisnya. "Astaghfirullah, jadi Alika kabur? Ayah kalian apa sudah dihubungi?" Salwa kembali menggelengkan kepalanya. "Salwa benci sama Ayah Bu, lebih baik dia gak usah tahu." "Astaghfirullah, gak boleh gitu, Nak. Ya udah Salwa tenang ya Nak, nanti biar pak Mamat yang menelpon Ayah kalian." Kata Bu Sarah menenangkan Salwa, wanita paruh baya itupun bergegas memanggil suaminya dan memintanya untuk menelpon Ramlan. Ada rasa tak nyaman dihati pria paruh baya itu saat istrinya meminta dia untuk menelpon pemilik rumah ini. Walau bagaimanapun dia harus tahu keadaan keluarganya, tak elok rasanya mengedepankan emosi. Meski dihati sebenarnya tak setuju, namun rasa ibanya melihat keadaan keluarga itu mengalahkan rasa egonya. Setelah didesak istrinya pria itu pun akhirnya mau menuruti permintaan wanita terkasihnya itu demi rasa kemanusiaan, begitulah pikirnya. Sebenarnya keluarga Ramlan dan keluarga Pak Mamat dulunya sangat akrab, bahkan tanah tempat rumah Ramlan berdiri dulunya milik keluarga Pak Mamat. Tadinya tanah dan rumah peninggalan orang tua pak Mamat itu tak dijual, Pak Mamat hanya memberi mereka tumpangan. Suatu hari saat keluarga Pak Mamat butuh uang untuk pengobatan anaknya yang mengalami kecelakaan, Ramlan menawarkan bantuan dengan syarat tanah dan rumah sebagai jaminan. Karena tak ingin mengulur waktu pak Mamat pun bersedia, dia pikir hanya meminjam bukan menjual tak ada salahnya. Suatu saat pasti bisa ditebus, begitulah pikirnya. Namun, yang dilakukan Ramlan justru sebaliknya, dia meminta pak Mamat menandatangani akta jual beli tanah, tanpa curiga pria tua itupun langsung menandatangani surat tersebut. Setelah menyadari kekeliruannya pak Mamat pun meminta penjelasan pada Ramlan, dengan entengnya pria itu menghina keluarga pak Mamat. Sempat terjadi perdebatan diantara mereka, namun pak Mamat tak berdaya karena kondisi keuangannya saat itu tengah carut-marut. Dia pun mengalah dan mengikhlaskan semuanya. Sejak saat itu hubungan antara keluarga mereka pun perlahan renggang. Apalagi setelah Ramlan kaya-raya keluarga pak Mamat tak pernah sekalipun dianggapnya ada, seperti kacang lupa kulitnya begitulah Ramlan memperlakukan keluarga Pak Mamat. Sembari menunggu kedatangan Ramlan, pasutri itupun memutuskan untuk tetap berada di rumah tetangga mereka, berjaga-jaga siapa tahu Aysila kembali melakukan hal yang tak diinginkan. Salwa bersyukur karena Bu Sarah dan Pak Mamat mau menemaninya menjaga sang ibu. Tak berapa lama mobil Ramlan pun akhirnya sampai di rumah itu, setengah berlari dia masuk ke dalam rumah. "Asalamualaikum, maaf Pak sudah merepotkan. Terimakasih ya Pak." Katanya sembari mengulurkan tangannya kepada Pak Mamat, yang kebetulan tengah duduk di kursi ruang tamu. "Tak masalah yang penting Pak Ramlan sudah datang." Katanya sembari menyambut uluran tangan Ramlan. "Sekali lagi saya ucapkan terimakasih."katanya sembari memandang wajah pria didepannya dengan tatapan tajam. Pak Mamat pun segera berdiri kembali, dia mengerti apa maksud ucapan Ramlan. Tak ingin berlama-lama melihat pria angkuh didepannya, Pak Mamat pun bermaksud memanggil istrinya. "Bu, ayo pulang!" Katanya sedikit meninggikan suaranya karena sang istri masih berada di kamar menemani Salwa menjaga Aysila. "Saya harap kamu mempertimbangkan keputusan kamu, kasihan anak dan istrimu bagaimanapun mereka yang selalu menemanimu dalam suka dan duka." Kata Pak Mamat. "Maaf Pak, keputusan saya sudah bulat. Dan saya sudah mendaftarkan gugatan saya dua bulan yang lalu ke pengadilan. Saya rasa alasannya tak perlulah saya jabarkan kepada bapak. Cukup saya dan hakim saja yang tahu. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih, karena sudah membantu dan peduli dengan keluarga saya. Saya permisi dulu, mau melihat keadaan Aysila. Satu lagi jangan pernah ikut campur urusan keluarga saya." Pak Mamat terkejut dengan ucapan Ramlan, tak menyangka niat baiknya dianggap lain oleh Ramlan. Dia pun mengerti dengan maksud ucapan pria didepannya itu, dengan langkah tegap dan suara tegas dipanggilnya istrinya yang masih di kamar Aysila. "Bu, mari kita pulang. Insya Allah nak Salwa dan ibunya akan baik-baik saja. Ayo Bu!" "Ta-tapi pak--" Ucapan Bu Sarah terputus saat melihat tatapan isyarat dari suaminya. Perlahan dia pun bangkit dari tempat duduknya, mengelus rambut Salwa yang tengah tertidur dan berlalu dari kamar Aysila. Tanpa kata pasutri itupun pergi meninggalkan rumah tetangganya. Setelah tetangganya pulang Ramlan bergegas masuk ke kamar Aysila, memeriksa keadaan wanita itu dan mengelus rambutnya. "Maafkan aku."bisiknya ditelinga Aysila. Namun wanita itu bergeming dia masih tertidur pulas. "Maafkan Ayah, jagalah ibumu Ayah akan mencari Alika." Ucapnya pelan ditelinga Salwa. Saat tangannya hendak mengelus rambut gadis itu dengan sigap gadis itu mengelak. "Jangan sentuh aku, kau bukan lagi orang tuaku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN