Bab 18. Benteng di luar Kontrak Hujan di luar rumah dinas Kolonel Wirawan turun begitu deras, menciptakan tirai air yang mengisolasi paviliun kayu itu dari dunia luar. Di dalam ruang kerja yang pengap oleh aroma tembakau dan kertas tua, ketegangan merayap seperti kabut. Kolonel Wirawan, ayah Arya, duduk dengan punggung tegak, menatap tajam ke arah dua perwira muda di hadapannya. "Kamu tahu risikonya, Arya," suara sang Kolonel terdengar berat, penuh peringatan. "Membawa bukti ini ke markas besar tanpa jalur komando resmi adalah tindakan bunuh diri karier. Dan kamu," pandangannya beralih pada Kinanti, "Kamu adalah perwira logistik yang seharusnya tahu bahwa data ini adalah properti negara yang sangat rahasia." Arya merasakan napasnya memberat. Selama ini, ayahnya adalah kompas moralnya,

