Bab 19. Jejak yang Tertinggal Mobil SUV hitam itu melaju membelah jalanan pinggiran kota yang basah. Di dalamnya, keheningan yang biasanya terasa menyesakkan kini berubah menjadi sesuatu yang lebih tenang, hampir menyerupai rasa aman. Arya memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk setir seirama dengan detak jantungnya yang mulai stabil setelah ketegangan di rumah ayahnya tadi. Ia melirik Kinanti yang duduk di sampingnya. Wanita itu sedang menatap keluar jendela, memperhatikan lampu-lampu jalan yang berpendar dalam bias sisa hujan. Kinanti tidak tampak seperti perwira yang baru saja diinterogasi oleh seorang Kolonel, ia tampak seperti seorang wanita yang sedang memikul beban seluruh dunia namun menolak untuk mengeluh. "Kenapa kamu diam saja tadi, Nan

