Bab 22. Di balik Bayang-bayang Kekuasaan Pagi itu, udara di Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, seolah-olah AC di apartemen mereka tidak lagi mampu menahan hawa dari luar. Kinanti berdiri di depan cermin besar, mengenakan seragam dinas harian militernya yang kaku. Ia merapikan kerahnya dengan gerakan mekanis, namun matanya yang terpantul di cermin menunjukkan keraguan yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun, kecuali Arya. Arya berdiri di ambang pintu kamar, bersandar pada kusen kayu sambil memegang secangkir kopi yang kepulannya sudah menipis. Ia memperhatikan istrinya atau lebih tepatnya, rekan seperjuangannya dengan perasaan campur aduk. "Kamu terlihat berbeda dengan seragam itu, Kinanti," ujar Arya memecah keheningan. "Lebih... berbahaya." Kinanti menoleh, senyum tipis ters

