Bab 21. Sandiwara di Balik Hujan Jakarta diselimuti mendung yang menggantung rendah sejak pagi, seolah langit ikut merasakan ketegangan yang merambat di dalam apartemen lantai dua belas itu. Di ruang tengah, Arya dan Kinanti duduk berhadapan, namun atmosfernya terasa berbeda. Sesuai rencana semalam, mereka harus mulai membangun narasi bahwa ancaman dari Marsekal telah berhasil menanamkan benih keraguan di antara mereka. "Kamu yakin bisa melakukan ini, Nan?" tanya Arya dengan suara rendah. Ia memperhatikan Kinanti yang sedang merapikan peralatan taktisnya ke dalam tas, sebuah tindakan yang sengaja dilakukan untuk terlihat seolah ia sedang bersiap-siap untuk pergi. Kinanti berhenti sejenak, jemarinya yang lentur namun kuat terdiam di atas ritsleting tas. "Aktor terbaik adalah mereka y

