Bab 25. Menjadi Pelarian Hutan Bogor di malam hari adalah labirin yang bernapas. Suara jangkrik dan gesekan daun pinus menciptakan simfoni yang menyamarkan suara langkah kaki yang terburu-buru. Arya merasakan paru-parunya seperti terbakar. Udara dingin pegunungan yang masuk ke tenggorokannya terasa tajam, namun genggaman tangan Kinanti di pergelangan tangannya adalah satu-satunya kekuatan yang membuatnya tetap bergerak. Mereka baru saja melompat dari balkon lantai dua ke atas atap mobil penjemput yang terparkir, lalu berguling ke semak-semak sebelum unit taktis Hardianto sempat mengunci posisi mereka. Kini, mereka berada jauh di dalam vegetasi yang rapat, menjauh dari cahaya lampu vila yang kini tampak seperti mercusuar maut di kejauhan. "Berhenti... sejenak," bisik Arya terengah-engah.

