Bab 24. Di Tengah Hujan Peluru Suara detak jam dinding di ruang kerja Marsekal Hardianto seolah melambat, berubah menjadi dentuman yang menyiksa di telinga Arya. Layar besar yang menampilkan panti asuhan tempat adiknya, Arini, bekerja menjadi ancaman yang lebih nyata daripada moncong pistol Baskoro. Di sana, di layar itu, Arini sedang tertawa sambil menggendong seorang anak kecil, sama sekali tidak menyadari bahwa maut sedang mengintainya melalui lensa kamera jarak jauh. "Sepuluh detik," bisik Kinanti, nyaris tak terdengar. Arya melirik Kinanti. Wajah wanita itu masih sedingin es, namun ada binar di matanya yang hanya bisa dibaca oleh Arya, “ Bersiaplah.” Hardianto tersenyum, jemarinya yang keriput mengetuk meja mahoni. "Bagaimana, Dokter Arya? Satu data untuk nyawa semua orang di p

