Yoeja melirik ke arah kaca mobil BMW hitam metalik yang membawanya meninggalkan Hakim Corp. Ia menghela napas lega, lalu menoleh pada Burhan, sopir keluarga Hakim, yang tengah serius mengemudi. Pria paruh baya itu sekilas meliriknya melalui kaca spion, memperhatikan wajahnya yang masih menyimpan jejak ketegangan.
“Terima kasih, Pak Surya,” ujar Yoeja akhirnya, dengan senyum tipis.
Surya terkekeh kecil. “Jangan terlalu dipikirkan, Bu. Kalau soal Bu Chyntia, itu memang gayanya. Saya sudah terbiasa melihatnya begitu.”
Yoeja tersenyum lemah. Dalam hati, ia bersyukur atas kedatangan Burhan yang tepat waktu. Tanpa itu, ia mungkin akan lebih lama menghadapi serangan verbal Chyntia yang menusuk.
Namun, Yoeja juga sadar, insiden kecil ini adalah tanda bahwa hubungannya dengan Chyntia akan terus memburuk.
Sementara itu, di kantor Hakim Corp, Chyntia kembali ke ruangannya dengan wajah merah padam.
Amarahnya memuncak, dan setiap langkahnya memantulkan ketegasan sekaligus kesombongan. Ia menutup pintu ruangannya dengan keras, membuat beberapa staf yang sedang berlalu-lalang menoleh kaget. Namun, ia tidak peduli.
“Apa-apaan wanita itu?” gumam Chyntia sambil menjatuhkan diri ke kursinya.
Matanya melirik dokumen-dokumen di mejanya, tetapi pikirannya terfokus pada Yoeja. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa wanita itu, yang menurutnya tidak sebanding dengannya, berani berbicara seperti itu.
Chyntia memutuskan untuk menghadapi Mirza. Ia tahu Mirza berada di kantornya dan berencana memanfaatkan situasi ini untuk menegaskan posisinya. Dengan langkah anggun tetapi penuh ambisi, ia menuju ruangan Mirza.
Tanpa mengetuk, Chyntia masuk ke dalam. “Mirza, kita perlu bicara.”
Mirza, yang tengah duduk di balik mejanya, mengangkat wajahnya dengan sedikit kaget. “Chyntia, apa lagi sekarang?”
Chyntia mendekat, ekspresinya bercampur antara kesal dan menggoda. “Kau tahu apa. Kau membiarkan wanita itu, Yoeja menginjak harga diriku. Dan kau hanya diam saja!”
Mirza mendesah, mencoba mengendalikan emosinya. “Chyntia, aku tidak punya waktu untuk drama ini. Aku sedang sibuk.”
Namun, Chyntia tidak menyerah. Ia mendekati Mirza, menempatkan tangannya di bahunya. “Mirza,” bisiknya dengan nada menggoda, “kita bisa melanjutkan apa yang tertunda tadi, kau tahu?”
Mirza menggeser kursinya, berusaha menciptakan jarak. “Chyntia, aku benar-benar sibuk. Tolong jangan sekarang.”
Chyntia terdiam, terkejut dengan penolakan Mirza. “Apa maksudmu? Bukankah kau biasanya—”
Tepat saat itu, pintu terbuka, dan Maya, sekretaris Mirza, muncul dengan berkas di tangannya. Matanya membelalak melihat posisi Chyntia yang tampak ingin lebih dekat dengan bosnya.
“Permisi, Pak Mirza,” ucap Maya, berusaha menahan tawa. “Saya bawa dokumen yang Anda minta.”
Mirza langsung berdiri, meraih dokumen dari tangan Maya dengan gerakan cepat. “Terima kasih, Maya. Saya akan segera melihatnya.”
Maya melirik Chyntia yang berdiri dengan wajah kesal. “Saya permisi dulu,” ujar Maya sambil menahan senyum geli. Setelah keluar, ia tidak bisa menahan diri untuk tertawa kecil. “Drama lagi,” gumamnya.
Di dalam ruangan, Mirza pura-pura sibuk membaca dokumen untuk menghindari konfrontasi lebih lanjut dengan Chyntia. Namun, suasana jadi canggung. Chyntia mendekati meja Mirza, tangannya melipat di d**a. “Mirza, apa yang terjadi denganmu? Kau tidak seperti biasanya.”
Mirza menghela napas panjang. Perasaan bersalah mulai menyelimutinya. Ia tahu Chyntia memiliki perasaan padanya, dan ia juga tidak bisa sepenuhnya mengabaikan perasaannya sendiri terhadap wanita itu. Namun, keadaan sekarang membuat segalanya menjadi rumit.
“Chyntia, maaf,” ujar Mirza akhirnya. “Tapi tolong beri aku waktu. Aku perlu fokus dengan banyak hal.”
Chyntia menatapnya tajam, lalu menghela napas panjang. “Baiklah, Mirza. Tapi jangan lupa, aku di sini untukmu. Jangan membuatku merasa seperti aku harus berjuang sendiri.”
Setelah itu, Chyntia keluar dengan langkah anggun, tetapi jelas masih kesal.
Sementara itu, di rumah keluarga Hakim, Yoeja menyerahkan berkas-berkas yang telah ditandatangani Mirza kepada Oma Indriana. Wanita paruh baya itu menerima berkas itu sambil tersenyum tipis.
“Terima kasih, Yoeja,” ucap Indriana sambil memeriksa dokumen. “Apa kau bisa menulis dengan baik?”
Yoeja mengangguk sopan. “Ya, Oma. Saya bisa.”
“Bagus. Bantu aku sebentar,” ujar Indriana sambil memberikan beberapa dokumen tambahan. “Tolong tuliskan keterangan untuk berkas-berkas ini agar mudah diarsipkan.”
Suasana awalnya canggung, tetapi Indriana mencoba mencairkan suasana dengan berbicara santai. “Yoeja, kau tahu? Dulu aku juga sering mengurus arsip seperti ini. Mirza sering datang ke mejaku waktu kecil, ingin membantu. Tentu saja, bantuannya malah membuat segalanya berantakan!”
Yoeja tersenyum kecil mendengar cerita itu. Ia merasa sedikit lebih nyaman. Dengan cekatan, ia mulai menuliskan keterangan pada dokumen-dokumen yang diminta.
Di sela-sela kesibukan mereka, Yoeja melirik jam di dinding dan menyadari bahwa sudah waktunya menyiapkan makan malam. “Oma, saya akan ke dapur untuk memasak.”
Indriana mengangkat alis. “Oh, tidak perlu. Biarkan saja pelayan yang menyiapkan. Kau pasti sudah lelah.”
Namun, Yoeja menggeleng tegas. “Tidak apa-apa, Oma. Saya biasa melakukannya.”
Indriana akhirnya menyerah, tetapi dengan syarat. “Baiklah, tapi hati-hati. Jangan terlalu memaksakan diri.”
Yoeja segera menuju dapur dan mulai menyiapkan makan malam. Masakan yang ia buat sederhana tetapi penuh perhatian. Aroma harum mulai menguar dari dapur saat Mirza tiba di rumah.
Mirza, yang merasa lelah setelah hari yang penuh emosi, langsung mencium aroma masakan Yoeja begitu masuk ke dalam rumah. Ia mendesah pelan, mencoba mengabaikan perasaan kagumnya pada kemampuan memasak Yoeja.
Namun, ketika ia mencicipi masakan itu, tanpa sadar ia bergumam, “Ini enak sekali, Yoeja.”
Sayangnya, saat itu Mirza lupa bahwa ia sedang merekam voice note untuk Chyntia. Suaranya yang memuji masakan Yoeja terkirim tanpa sengaja.
Beberapa detik kemudian, telepon Mirza bergetar. Nama Chyntia muncul di layar. Panggilan pertama ia abaikan, tetapi Chyntia terus mencoba.
Di meja makan, Indriana melirik Mirza dengan pandangan penasaran. “Mirza, siapa yang menelepon?”
Mirza tersentak. “Tidak penting, Oma. Mungkin hanya urusan kantor.”
Namun, Indriana tidak bodoh. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan cucunya. “Mirza, apa kau yakin? Kau terlihat tegang.”
Mirza tersenyum kaku. Dalam hatinya, ia tahu, jika Indriana mengetahui masalah ini, ia mungkin harus menghadapi konsekuensi besar. Syarat terakhir yang diberikan Oma, untuk menjalani pernikahan dengan Yoeja sepenuh hati, kembali menghantuinya.
Saat itu, Chyntia mengirim pesan penuh kemarahan, menuntut penjelasan tentang voice note tadi. Mirza hanya bisa memijat pelipisnya, merasa bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini.
Di meja makan, suasana terasa sedikit canggung. Yoeja sibuk membereskan piring kotor sementara Mirza masih mencoba menghindari panggilan dan pesan-pesan Chyntia. Wajah pria itu tampak tegang, tetapi ia berusaha menyembunyikannya di depan Indriana.
"Yoeja," panggil Indriana tiba-tiba, membuat Yoeja menghentikan gerakannya.
"Ya, Oma?" jawab Yoeja sopan.
"Aku tadi mencicipi masakanmu," ujar Indriana dengan nada puas. "Kau benar-benar berbakat. Masakanmu mengingatkanku pada waktu dulu. Kau tahu, waktu aku masih muda, aku suka memasak sendiri untuk keluarga."
Yoeja tersenyum kecil, merasa tersanjung dengan pujian itu. Namun, ia hanya menjawab singkat, "Terima kasih, Oma. Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik."