10. Bayangan di Balik Skandal

1028 Kata
Mirza, yang diam-diam mendengarkan percakapan itu, merasa sedikit tergelitik. Ia ingat betapa banyak orang yang selalu memuji masakan Yoeja, termasuk dirinya sendiri. Tetapi sekarang, pujian itu malah membuatnya semakin bingung. Ponsel Mirza kembali bergetar. Kali ini, Indriana menatap cucunya dengan alis terangkat. "Mirza, kenapa kau tidak angkat saja? Sepertinya penting," ujar Indriana dengan nada yang terdengar seperti perintah. Mirza terdiam sejenak, lalu berdiri dari kursinya. "Saya akan angkat di luar, Oma. Permisi sebentar." Mirza berjalan keluar ruang makan dengan langkah terburu-buru, meninggalkan Yoeja dan Indriana. Begitu sampai di ruang kerjanya, ia menghela napas panjang dan akhirnya menjawab panggilan Chyntia. "Apa, Chyntia?" tanyanya dengan nada setengah jengkel. "Mirza!" suara Chyntia terdengar tajam di ujung telepon. "Apa maksudmu tadi? Apa aku salah dengar, atau kau baru saja memuji masakan dia?!" Mirza mengusap wajahnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Itu tidak seperti yang kau pikirkan, Chyntia. Aku hanya mencicipi masakannya karena itu kebetulan sudah di meja makan. Tidak ada maksud apa-apa." "'Tidak ada maksud apa-apa'? Mirza, aku ini pacarmu, bukan dia! Bagaimana mungkin kau memuji wanita itu?!" Mirza menghela napas panjang. Ia tahu pembicaraan ini tidak akan berakhir baik. "Chyntia, aku tidak punya waktu untuk berdebat soal ini. Aku hanya lelah dan ingin istirahat. Kita bicarakan ini nanti, oke?" Namun, Chyntia tidak menyerah. "Mirza, kau harus ingat siapa aku. Jangan biarkan wanita itu merasa lebih baik dariku!" Panggilan itu akhirnya ditutup sepihak oleh Chyntia, membuat Mirza semakin frustrasi. Ia melempar ponselnya ke sofa dan duduk dengan wajah tertekan. Di dapur, Yoeja sedang mencuci piring ketika Indriana menghampirinya. Wanita tua itu membawa secangkir teh dan menawarkannya pada Yoeja. "Minumlah dulu," ujar Indriana lembut. "Kau pasti lelah." Yoeja menerimanya dengan senyum kecil. "Terima kasih, Oma." Indriana mengamati Yoeja sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kau tahu, Yoeja, aku melihat sesuatu yang berbeda dalam dirimu. Kau punya ketenangan dan kesabaran yang jarang dimiliki orang lain. Itu kelebihan yang luar biasa." Yoeja sedikit terkejut mendengar pujian itu, tetapi ia hanya tersenyum dan berkata, "Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik, Oma." Indriana mengangguk pelan. "Aku tahu. Dan aku menghargainya." Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati suasana damai di dapur. Namun, di dalam hati Yoeja, ada banyak hal yang berkecamuk. Ia tahu hubungannya dengan Mirza tidak pernah mudah, dan keberadaan Chyntia hanya membuat segalanya semakin rumit. Setelah memastikan Chyntia tidak akan menelepon lagi malam itu, Mirza kembali ke ruang makan. Ia duduk dengan ekspresi lelah, tetapi aroma sisa masakan Yoeja masih membuatnya tergoda. Tanpa sadar, ia menyendok sedikit makanan dari piringnya dan mencicipinya lagi. "Bagaimana teleponnya?" tanya Indriana, memecah keheningan. Mirza tersentak, hampir tersedak makanannya. "Uh, tidak ada apa-apa, Oma. Hanya urusan kantor." Indriana menatap cucunya dengan tatapan curiga."Kau yakin?" "Ya, tentu," jawab Mirza cepat, berusaha mengalihkan perhatian. Namun, di dalam hatinya, Mirza tahu bahwa masalah ini jauh dari selesai. Ia hanya berharap bahwa esok hari akan membawa sedikit ketenangan di tengah kekacauan ini. Sementara itu, di apartemennya yang mewah, Chyntia duduk di sofa dengan wajah marah. Ia membuka galeri ponselnya dan menatap foto-foto Mirza. Dalam hatinya, ia berjanji bahwa ia tidak akan membiarkan Yoeja merebut posisi yang seharusnya menjadi miliknya. "Aku akan pastikan kau memilihku, Mirza," gumamnya dengan senyum licik. "Tidak peduli apa pun yang terjadi." Chyntia mulai merancang rencana baru, sesuatu yang akan membuat Yoeja merasa terpojok dan memastikan Mirza tetap berada di sisinya. Malam itu, ponsel Yoeja bergetar. Sebuah pesan masuk dengan foto terlampir. Tangan Yoeja gemetar ketika membuka foto itu. Di layar, terlihat Mirza yang sedang tidur di atas tempat tidur apartemen Chyntia. Tubuhnya tak tertutup apa pun kecuali selimut yang tersampir asal. Ekspresinya terlihat damai, tanpa kesadaran bahwa fotonya diambil secara diam-diam. Pesan singkat menyusul di bawah foto: "Dia milikku. Ingat tempatmu." Yoeja mematung. Detak jantungnya berdentam, bergema di kepalanya. Namun, ia tidak membiarkan dirinya terjebak lama dalam rasa kaget. Ia menutup ponsel itu perlahan, lalu menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosi yang bergejolak. ’Jadi ini cara dia menunjukkan kekuasaannya?’ pikir Yoeja. Ia merasa perih, tetapi bukan karena cemburu. Rasa sakit itu lebih berasal dari kesadaran bahwa dirinya hanyalah pengganti. Sebuah posisi yang seharusnya memang milik Chyntia sejak awal. Namun, ia tidak menangis. Yoeja tahu menangis tidak akan mengubah apa pun. "Aku tidak bisa terus hidup dalam bayangan orang lain," pikirnya. "Aku di sini sekarang, bukan karena keinginanku. Jika aku harus bertahan, aku harus menemukan cara untuk berdiri dengan kepalaku tegak." Dalam keheningan malam, Yoeja berjanji pada dirinya sendiri. Apa pun yang terjadi, ia akan menjalani perannya tanpa menyerah, tanpa berharap apa-apa dari Mirza. Jika kebahagiaan harus ia temukan sendiri, maka ia akan melakukannya tanpa merasa kalah. Setelah mematikan ponsel, Yoeja mencoba menenangkan dirinya. Namun, belum lama ia mencoba mengalihkan pikirannya, ponselnya kembali bergetar. Nama Mirza muncul di layar. Dengan napas panjang, ia menjawab panggilan itu. “Ada apa?” tanyanya datar. “Yoeja,” suara Mirza terdengar rendah, namun nadanya tegas, “Aku tidak bisa pulang malam ini. Ada urusan penting yang harus kuselesaikan.” Yoeja menggigit bibir, mencoba menahan diri untuk tidak mengungkapkan kekesalannya. Namun, sebelum ia sempat merespons, Mirza melanjutkan. “Dan satu hal lagi.” Suaranya berubah tajam, hampir seperti ancaman, “Oma tidak perlu tahu soal ini. Kau mengerti, kan?” Yoeja terdiam sejenak. Ia tahu maksud tersembunyi di balik ucapan Mirza, dan itu membuat dadanya semakin sesak. Dengan nada pelan namun dingin, ia menjawab, “Baiklah, aku mengerti.” “Bagus,” jawab Mirza singkat, lalu menutup telepon tanpa basa-basi. Yoeja menatap layar ponselnya yang kini kembali gelap. Ia merasa amarahnya membuncah, tapi ia tak tahu harus melampiaskannya ke mana. “Urusan penting,” pikirnya, mengejek dalam hati. Ia tahu betul apa yang dimaksud Mirza dengan "urusan penting." Dengan langkah berat, ia menuju kamar. Setelah mengganti pakaian dan naik ke tempat tidur, pikirannya terus dipenuhi oleh kata-kata Mirza, juga pesan dan foto dari Chyntia. ’Kenapa aku harus terus bertahan dalam situasi seperti ini?’ batinnya penuh dengan amarah bercampur kesedihan. Yoeja menarik selimut, berusaha memejamkan mata, namun bayangan Mirza di apartemen Chyntia terus menghantuinya. Yoeja memejamkan mata lebih erat, berusaha menepis semua pikiran buruk yang menghantui. "Aku tidak boleh membiarkan diriku hancur hanya karena ini. Aku lebih kuat dari ini," pikirnya. Namun, meski mencoba meyakinkan diri, hatinya tetap terasa berat. Dengan penuh rasa kesal, akhirnya ia memaksa dirinya untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN