Pagi itu, di meja makan, suasana terasa canggung bagi Yoeja. Indriana menyesap teh hangatnya, matanya melirik kursi kosong yang biasanya ditempati Mirza.
"Yoeja," panggil Indriana lembut namun penuh arti. "Kemana Mirza? Kenapa dia tidak sarapan?"
Yoeja tertegun, namun dengan cepat memasang wajah tenang. "Oh, dia pergi sangat pagi sekali, Oma. Ada urusan kantor yang mendadak."
Indriana mengangguk perlahan, meski terlihat ada sedikit keraguan di matanya.
"Mirza memang sibuk akhir-akhir ini," gumamnya. Kemudian, ekspresi wanita tua itu berubah ceria. "Kalau begitu, Yoeja, buatkan bekal untuknya. Kau bisa mengantarnya langsung ke kantor. Aku yakin Mirza pasti senang."
Yoeja membelalakkan mata, hampir tersedak air putih yang baru saja ia minum. "Mengantar bekal, Oma? Tidak perlu, Mirza pasti sudah makan di luar."
Namun, Indriana mengangkat tangan, menghentikan penolakan Yoeja. "Tidak ada tapi-tapian. Suami harus dijaga, termasuk makanannya."
Dengan wajah pasrah, Yoeja akhirnya mengangguk dan bergegas menyiapkan bekal. Dalam hati, ia berulang kali mengumpat Mirza. Sebelum pergi, ia sempat mengirim pesan singkat:
“Langsung ke kantor sekarang. Oma berpikir kau pergi kerja pagi-pagi. Jangan sampai kebohongan ini ketahuan!”
Setelah semuanya siap, Yoeja akhirnya berangkat ke kantor Mirza. Di sepanjang jalan, ia terus mengomel dalam hati. "Dasar lelaki tidak tahu diri. Sudah membuat masalah, aku yang repot menutupinya. Kalau bukan karena Oma, aku tidak akan mau mengantarkan ini!"
Namun, keluhannya seketika terhenti begitu ia tiba di depan Hakim Corp. Tepat di saat ia akan turun dari taksi, matanya menangkap sosok Mirza yang keluar dari sebuah mobil mewah. Hatinya mencelos saat melihat siapa yang bersamanya. Chyntia.
Mereka berjalan berdampingan, bahkan bergandengan tangan dengan santainya, seperti pasangan yang sempurna. Yoeja merasa dadanya sesak. Benaknya langsung dipenuhi bayangan foto tadi malam.
’Jadi, memang benar mereka tidur bersama,’ pikirnya getir.
Yoeja ingin langsung pulang, tak peduli dengan bekal yang ada di tangannya. Namun, ketakutannya terhadap pertanyaan Indriana membuatnya terpaksa melangkah masuk ke dalam gedung.
Dengan langkah ragu, Yoeja mengekor di belakang Mirza yang kini berjalan sendirian, sementara Chyntia telah menuju divisinya.
Ketika sampai di depan lift, pintu terbuka, dan Mirza ada di dalamnya. Mata mereka bertemu. Yoeja langsung ingin mundur, namun Mirza dengan cepat meraih tangannya dan menariknya masuk ke dalam lift.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Mirza, suaranya rendah, nyaris panik. Ia menekan tombol lantai, memastikan lift tertutup sebelum ada orang lain yang melihat.
Yoeja menepis tangannya dengan kesal. "Mengantar bekal. Oma yang menyuruh," jawabnya ketus.
Mirza memandangnya dengan tatapan tidak percaya. "Kau serius? Kau pikir aku butuh bekal?"
Yoeja mendengus, lipatan di keningnya semakin terlihat. "Tentu saja tidak. Tapi coba bilang itu pada Oma, bukan padaku. Aku juga tidak mau mengantar ini kalau bukan karena beliau."
Mirza menghela napas, tampak frustrasi. "Kau memang selalu membuat segalanya lebih rumit."
Yoeja menyilangkan tangan di depan d**a. "Oh, jadi ini salahku sekarang? Bukan kau yang datang ke kantor pagi-pagi dengan wanita lain? Kau tidak tahu rasanya melihat itu."
Mirza menatapnya tajam, langkahnya maju mendekat. Ia menekan tubuh Yoeja ke dinding lift, tatapannya penuh amarah dan ketegangan. "Hati-hati dengan ucapanmu, Yoeja. Kau tahu situasi kita. Jangan mengharap lebih dariku!"
Yoeja memiringkan kepala, matanya membalas tatapan Mirza dengan sorot menantang. "Aku tahu, aku istrimu di atas kertas. Tapi kalau melihatmu berpegangan tangan mesra dengan selingkuhan, aku harus pura-pura buta juga?"
Mirza mendekatkan wajahnya, nadanya rendah dan penuh peringatan. "Jangan cari masalah denganku, Yoeja."
Namun, Yoeja malah tersenyum kecil, seolah menertawakan Mirza. "Tenang saja, Tuan Mirza. Aku di sini hanya untuk mengantarkan bekal, bukan mencari masalah. Tapi, apa aku perlu tambahkan catatan untuk Chyntia? Mungkin dia ingin mencicipi juga."
Jawaban itu membuat Mirza semakin kesal. Ia menatap Yoeja tajam, namun sebelum sempat membalas, lift berbunyi tanda mereka telah sampai di lantai tujuan.
Mirza melepaskan tangannya dari dinding dan mundur selangkah, wajahnya tetap dingin. "Jangan berlagak seolah kau tahu segalanya."
Yoeja melangkah keluar lift sambil mendengus. "Kalau begitu, aku akan langsung tanya ke Oma. Setidaknya dia tahu aku sudah melakukan tugasku hari ini."
Mirza hanya berdiri di lift, menyaksikan punggung Yoeja yang menjauh. Ada rasa aneh yang muncul di dadanya, sesuatu yang membuatnya merasa terusik. Namun, seperti biasa, ia terlalu keras kepala untuk mengakuinya.
Yoeja berjalan cepat menuju ruang kerja Mirza setelah keluar dari lift. Di belakangnya, Mirza mengekor dengan langkah panjang, ekspresi wajahnya gelap penuh amarah. Karyawan yang mereka lewati langsung memasang wajah penasaran, beberapa mulai berbisik-bisik.
"Romantis banget, ya?" bisik seorang staf perempuan.
"Mana romantis? Tuh, wajah Tuan Mirza dingin banget," sahut yang lain, menahan tawa kecil.
Namun, bisikan-bisikan itu tidak mengurangi langkah Mirza. Dalam hati, ia mengumpat kesal. ’Romantis? Dasar orang-orang bodoh. Apa mereka tidak lihat aku sedang marah?’
Yoeja sampai lebih dulu di ruangan Mirza, di mana sekretarisnya, Maya, sedang sibuk mengetik di komputer. Maya langsung berdiri dan tersenyum menyapa.
"Selamat pagi, Bu Yoeja," ucap Maya ramah.
Yoeja membalas sapaan itu dengan sopan. "Pagi, Maya. Aku hanya mengantar ini untuk Mirza," katanya sambil mengangkat bekal di tangannya.
"Baik, Bu. Silakan masuk saja," jawab Maya, lalu kembali ke pekerjaannya.
Yoeja masuk dan segera meletakkan bekal di meja Mirza. Saat ia hendak keluar, Mirza muncul di ambang pintu, menutup pintu di belakangnya dengan gerakan kasar.
"Sudah selesai? Pergilah, aku tidak butuh kau di sini," ucap Mirza dingin.
Yoeja mendesah panjang, matanya memandang Mirza dengan datar. "Tentu saja aku mau pergi. Jadi, minggir."
Namun, bukannya menyingkir, Mirza justru berdiri tegap di depannya, menatapnya dengan tajam. "Apa kau pikir aku tidak tahu apa yang ada di kepalamu? Kau sengaja datang untuk membuatku terlihat buruk di depan semua orang, kan?"
Mirza masih bertahan, ia tidak bergerak dari posisinya berdiri. Yoeja menatapnya kesal, apalagi saat mendengar ucapannya membuat Yoeja tertawa kecil, sebuah tawa yang jelas bernada mengejek.
"Oh, aku? Membuatmu terlihat buruk? Mirza, aku di sini hanya untuk menjalankan perintah Oma. Kalau itu membuatmu terlihat buruk, itu bukan salahku." Kalimat itu memicu emosi Mirza.
Mirza mengepalkan tangan, menahan diri agar tidak meledak. "Kau selalu berbicara seolah-olah kau tahu segalanya."
"Aku tidak perlu tahu segalanya," jawab Yoeja dengan nada santai. "Lagipula, aku hanya istri sementara, kan? Kau sendiri yang bilang pernikahan ini hanya untuk memastikan warisanmu tetap aman. Jadi, kenapa kau repot-repot menahan aku?"
Kata-kata itu membuat wajah Mirza semakin gelap. Ia mendekat, berdiri hanya beberapa inci dari Yoeja. "Kalau kau tahu itu, seharusnya kau tidak perlu bertingkah berlebihan."