Yoeja menatapnya dengan senyum sinis. "Berlebihan? Kalau ada yang berlebihan di sini, itu kau. Kau pikir aku senang terjebak dalam permainan ini?"
Mirza mendengus, merasa diremehkan. "Berhenti bersikap seperti kau lebih baik dari ini. Hati-hati, Yoeja, jangan sampai kau sendiri yang jatuh cinta padaku."
Yoeja tertawa keras, membuat Mirza semakin kesal. "Aku? Jatuh cinta padamu? Maaf, aku tidak tertarik pada lelaki yang bahkan tidak bisa setia pada dirinya sendiri."
Mirza, yang merasa diremehkan, tiba-tiba mengunci pintu ruangannya. Yoeja memandangnya dengan kaget, tetapi ia tetap berdiri di tempat, berusaha tenang.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Yoeja, suaranya rendah namun penuh kewaspadaan.
Mirza mendekat, mendorong Yoeja hingga punggungnya menyentuh dinding. Ia menatapnya dengan intens, membuat Yoeja merasakan tekanan yang luar biasa.
"Jangan sok tahu, Yoeja," bisiknya, tepat di dekat telinganya. "Kau mulai menyukaiku, bukan? Kau ingin aku memperhatikanmu."
Yoeja mendengus, menolehkan wajahnya menjauh dari Mirza. "Mimpi di siang bolong. Jangan menyamakan aku dengan perempuan yang rela menunggu di depan pintumu."
Mirza tersenyum miring, tetapi senyum itu tidak menunjukkan rasa senang. "Mungkin kau lupa, aku bisa melakukan apa pun yang kumau. Kau ada di sini karena aku."
Kata-kata itu membuat Yoeja muak. Ia teringat foto yang dikirimkan seseorang tadi malam, wajah Mirza yang tertidur dengan damai di ranjang Chyntia. Perasaan jijik menyelimuti dirinya, membuatnya berusaha mendorong Mirza menjauh.
"Jangan sentuh aku, Mirza. Kau membuatku jijik," desis Yoeja dengan tajam, ekspresi wajahnya penuh kebencian.
Namun, alih-alih mundur, ucapan itu justru membuat Mirza semakin mendekat, jaraknya nyaris tidak ada lagi. "Kau yang membuatku begini, Yoeja. Kau yang selalu menantangku."
Yoeja mendongak, menatapnya dengan penuh keberanian. "Aku menantangmu karena aku tidak takut padamu. Kau pikir aku lemah? Kau salah besar."
Wajah jijik Yoeja semakin memicu rasa frustrasi dalam diri Mirza, namun ia tetap menahan diri untuk tidak kehilangan kendali sepenuhnya. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ia akhirnya mundur selangkah, melepaskan tekanan dari tubuh Yoeja.
"Kau tidak akan menang dariku, Yoeja," gumam Mirza, suaranya lebih rendah namun penuh ancaman.
Yoeja hanya tersenyum tipis. "Aku tidak perlu menang. Aku hanya perlu bertahan, Mirza. Dan itu sudah cukup untuk membuatmu kesal."
Dengan kata-kata itu, Yoeja melangkah melewatinya, membuka pintu ruang kerja Mirza dengan tegas. Ia keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Mirza yang masih berdiri di tempat, terdiam dalam kekacauan emosinya sendiri.
Yoeja melangkah keluar dari ruang kantor Mirza dengan wajah sedikit kesal, tetapi dia berusaha tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya.
Langkahnya terasa berat, meskipun ia berusaha terlihat tenang di luar. Hari ini, perasaannya sudah terlanjur terguncang, dan Mirza telah membuatnya muak dengan segala tingkah laku arogan dan egoisnya.
Sesampainya di dekat lift, Yoeja terkejut ketika tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang pria yang baru saja keluar dari salah satu kantor.
"Ah, maaf!" kata Yoeja buru-buru, berusaha menjaga keseimbangannya.
Pria itu tersenyum santai dan menatapnya dengan tatapan ramah. "Tidak masalah," jawabnya sambil sedikit menahan pintu lift yang hampir tertutup. "Silakan masuk, saya Firdaus."
Yoeja hanya membalas senyum itu dengan anggukan ringan, lalu masuk ke dalam lift.Saat lift mulai bergerak turun, Yoeja hanya tersenyum sednirian di dalam lift.
"Firdaus..." gumam Yoeja dalam hati, "Dia menarik, sepertinya baik."
Saat lift tiba di lantai dasar, pintu terbuka, dan Yoeja melangkah keluar dengan langkah cepat. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Chyntia yang berdiri tidak jauh dari sana.
Chyntia tersenyum tipis, ekspresinya penuh kemenangan. "Ah, Yoeja, kamu sudah selesai mengantar bekal untuk Mirza? Sepertinya kamu sedang berjuang keras, ya. Agar gosip menyebar di sini?" sindir Chyntia dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh Yoeja.
Yoeja hanya menatapnya sekilas, lalu menjawab singkat dengan nada tenang, "Silakan ambil dia, Chyntia. Aku tidak ada niat untuk bersaing denganmu. Aku hanya perlu menjaga bayi ini. Aku juga tidak mau sama dia."
Chyntia tertawa sinis, seakan merasa sudah memenangkan pertempuran. "Baguslah kalau begitu. Tidak masalah kalau dia bersamaku, toh dia memang lebih cocok denganku. Lagian dia memang milikku, yang kamu jebak dan rebut." jawab Chyntia dengan nada mengejek.
Yoeja tersenyum dingin, "Terserah."
Namun, tanpa Yoeja sadari, dua pria yang baru keluar dari lift menatap mereka. Salah satu pria, yang tampaknya lebih muda dan tampan, berkata dengan nada serius, "Aku tertarik dengan wanita itu."
Pria di sebelahnya menatap dengan tatapan dingin, jelas menunjukkan ketidaksukaan.
"Kamu tidak mau membela kekasihmu, kasihan Chyntia nanti lecet," sindir pria itu. "Kenapa mereka tampak seperti bertengkar, Mirza?" tanya pria tampan itu lagi.
Mirza, yang ternyata pria di sebelahnya, hanya menatap dengan mata tajam dan penuh dingin. Ia tidak menjawab langsung, hanya memandang Chyntia dan Yoeja yang masih terlibat dalam percakapan singkat itu.
"Biarkan mereka. Kita pergi sekarang, Firdaus," jawab Mirza dengan suara datar, memutuskan pembicaraan tersebut. "Ada sekuriti yang akan melerai jika perlu. Kalau tidak, mereka akan bubar begitu saja."
Firdaus mengangguk, meskipun tampak sedikit bingung dengan sikap Mirza. "Oke, Mirza. Kalau begitu, ayo pergi."
Mereka berdua berjalan menjauh, meninggalkan Yoeja dan Chyntia yang masih berdiri saling menatap. Meskipun Mirza telah pergi, tatapan penuh kemarahan dan kebingungan Yoeja masih tergambar jelas di wajahnya.
Yoeja menatap Chyntia dengan tatapan tenang, meskipun hatinya sedang bergejolak. "Maaf, bukannya ini masih jam kerja? Seharusnya kamu bekerja, bukan menyempatkan waktu untuk mendatangiku," ujar Yoeja dengan nada yang tidak terlalu tinggi, tetapi cukup tegas.
Chyntia terdiam sejenak, ekspresinya berubah seketika. Wajahnya memerah, kesal karena sindiran itu. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan amarah yang mulai memuncak.
Dengan suara rendah yang penuh kebencian, Chyntia mengerutu, "Kamu memang tidak tahu siapa aku, Yoeja. Jangan pikir kamu bisa terus seperti ini tanpa konsekuensi."
Chyntia lalu melangkah maju, mendekati Yoeja dengan tatapan tajam. "Jangan terlalu sombong, karena aku bisa membuat hidupmu lebih sulit daripada yang kamu bayangkan," ancamnya dengan suara penuh kebencian.
Namun, Yoeja tidak memberi kesempatan untuk melawan. Dengan sikap yang tetap tenang, Yoeja berbalik dan meninggalkan Chyntia yang berdiri di sana, terdiam dalam amarah yang tertahan.
Chyntia hanya bisa menatap punggung Yoeja yang berjalan menjauh, merasa tersinggung, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Setelah beberapa saat, ponsel Yoeja bergetar. Sebuah pesan masuk dari Mirza, penuh dengan amarah yang jelas terlihat.
"Jangan coba-coba cari masalah dengan Chyntia. Apa yang terjadi tadi di lobi? Jangan buat aku marah lebih dari ini!" tulis Mirza dengan nada yang tajam.
Yoeja membaca pesan itu dengan tatapan datar, tak terpengaruh oleh ancaman yang terkandung di dalamnya. Dengan tenang, ia memilih untuk tidak membalas segera.