Yoeja melangkah keluar dari gedung Hakim Corp dengan langkah cepat, mencoba menenangkan gejolak dalam hatinya. Namun, pikiran tentang percakapannya dengan Chyntia dan Firdaus yang tiba-tiba muncul tadi masih membekas.
Perasaan kesal bercampur bingung menguasai dirinya. "Apa lagi yang harus dia hadapi di hari ini?"
Di sudut parkiran, Mirza berdiri bersandar di pintu mobilnya, menatap Yoeja yang sedang berjalan menuju jalan raya. Wajahnya tetap dingin, tetapi ada sorot aneh dalam matanya, seperti perasaan bersalah yang tertahan.
"Yoeja," panggil Mirza akhirnya, suaranya tegas namun terdengar ragu di telinga Yoeja.
Yoeja menghentikan langkahnya, menoleh dengan ekspresi yang sulit ditebak. "Apa lagi, Tuan Hakim? Belum cukup menghancurkan hari saya?" katanya tajam, nada suaranya mengandung kekecewaan yang tidak ia sembunyikan.
Mirza mendekat, tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya, mencoba menyembunyikan kegugupannya. "Aku tidak menghancurkan harimu, Yoeja. Kau sendiri yang terlalu mempersulit semuanya."
Yoeja mendengus, matanya tajam menusuk ke arah Mirza. "Mempersulit? Setelah semua yang terjadi, kau berani bilang aku yang mempersulit? Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku alami!"
"Dan kau pikir aku tidak merasakan apa pun?" balas Mirza, nada suaranya meninggi. "Setiap kali aku mencoba mendekat, kau selalu berusaha menjauh. Kau kira mudah bagiku menghadapi ini semua?"
Yoeja terdiam sejenak, terkejut dengan ketegasan Mirza. "Lalu apa yang kau inginkan dariku, Mirza? Aku lelah. Aku lelah harus terus bertahan di situasi yang selalu membuatku kalah." Suaranya melemah, matanya mulai berkaca-kaca.
Mirza terdiam, tak mampu menjawab. Ia tahu ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi kata-kata itu tertahan. Alih-alih menjawab, ia hanya menatap Yoeja dengan intens, seakan ingin menyampaikan sesuatu yang tak terucap.
"Kau tahu apa yang paling menyakitkan?" lanjut Yoeja sambil menahan air matanya. "Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa percaya padamu... atau pada siapa pun di dunia ini."
Mirza menelan ludah, menyadari bahwa kata-kata Yoeja memukulnya lebih keras dari yang ia bayangkan. Tapi seperti biasa, ia memilih untuk menyembunyikan emosinya. "Aku tidak meminta kau untuk percaya sekarang. Tapi setidaknya, jangan menjadikan aku musuhmu."
Yoeja menatapnya dengan mata yang dipenuhi emosi. "Kau tahu apa yang lebih buruk dari seorang musuh? Seseorang yang berpura-pura peduli, tapi tidak pernah benar-benar ada."
Setelah mengatakan itu, Yoeja berbalik dan berjalan pergi. Mirza hanya berdiri di sana, menatap punggungnya yang semakin menjauh. Hatinya ingin mengejarnya, tetapi egonya menahannya untuk tetap diam. Di dalam hati, ada perasaan yang ia sendiri belum mampu pahami. Sesuatu yang perlahan menggerogoti tembok kebekuan di dalam dirinya.
Di sisi lain, Yoeja memilih untuk berjalan kaki sambil menikmati angin pagi yang mulai hangat. Pikirannya berkecamuk, mengingat ancaman Chyntia yang terasa nyata. Dia tahu Chyntia bukan orang sembarangan. Dengan kekuatan yang dimiliki Chyntia di perusahaan, tentu akan mudah bagi wanita itu untuk menyudutkannya.
Namun, Yoeja menggelengkan kepalanya. Aku tidak akan menyerah. Tidak peduli seberapa berat, aku harus bertahan untuk diriku sendiri, batinnya tegas.
Ketika ia tiba di pinggir jalan, sebuah mobil hitam berhenti di dekatnya. Jendela kaca perlahan turun, memperlihatkan wajah Firdaus yang tersenyum ramah.
"Yoeja, kan? Kamu mau kemana? Aku bisa antar," tawar Firdaus dengan nada santai.
Yoeja terkejut sejenak, lalu mengerutkan kening. "Kamu tahu namaku?"
Firdaus tertawa kecil. "Tentu saja. Aku mendengarnya saat di kantor tadi. Jadi, boleh aku antar?"
Yoeja ragu sejenak. Ia belum mengenal Firdaus, dan jelas sekali pria itu adalah teman atau kolega Mirza. Tapi, di sisi lain, ia merasa terlalu lelah untuk menolak.
"Aku... hanya mau pulang," jawab Yoeja singkat.
"Baiklah, masuk saja. Aku antar ke rumah," ujar Firdaus sambil membuka pintu penumpang.
Yoeja akhirnya setuju dan masuk ke mobil. Selama perjalanan, mereka tidak banyak berbicara. Namun, suasana yang tercipta cukup nyaman. Firdaus tampak sebagai pria yang santai, berbeda jauh dari Mirza yang penuh tekanan dan emosi.
"Yoeja," Firdaus tiba-tiba memecah keheningan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Mirza. Tapi... kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa mengandalkan aku."
Yoeja menoleh, terkejut mendengar ucapan itu. "Kenapa kamu berkata seperti itu?"
Firdaus hanya tersenyum tipis. "Karena aku tahu seperti apa Mirza. Dia bisa sangat sulit... dan aku tidak ingin melihat seseorang seperti kamu terluka karena dia."
Yoeja terdiam, mencoba mencerna kata-kata Firdaus. Ada kehangatan dan ketulusan dalam nada suaranya, sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Mirza. Tapi, ia juga tahu bahwa terlalu dini untuk percaya pada siapa pun di lingkaran Mirza.
"Terima kasih, Firdaus. Tapi, aku bisa mengurus diriku sendiri," jawab Yoeja akhirnya.
Firdaus mengangguk kecil. "Aku mengerti. Tapi tawaranku selalu terbuka, Yoeja."
Sesampainya di rumah, Yoeja turun dari mobil dengan perasaan campur aduk. Firdaus melambaikan tangan sebelum mobilnya melaju pergi, meninggalkan Yoeja yang berdiri di depan rumah dengan pikiran melayang.
Sementara itu, di kantor, Mirza duduk di kursinya dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. Pertemuan singkat dengan Yoeja tadi benar-benar mengganggu pikirannya. Ia merasa tidak seharusnya marah-marah seperti itu, tetapi egonya terlalu besar untuk mengakui kesalahan.
Pikirannya teralihkan saat Chyntia masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Wajah wanita itu menunjukkan ekspresi tidak senang.
"Mirza, kita perlu bicara," ujar Chyntia sambil duduk di kursi di depan meja Mirza.
"Apa lagi sekarang?" tanya Mirza dengan nada malas.
"Wanita itu, Yoeja," kata Chyntia, suaranya terdengar penuh amarah. "Kenapa dia masih berada di sini? Bukankah kamu bilang pernikahan ini hanya sementara? Kalau begitu, kenapa kamu membiarkan dia terus mengganggu hidup kita?"
Mirza menatap Chyntia dengan tatapan tajam. "Dia istriku, Chyntia. Tidak peduli apa pun alasannya, aku tidak akan membiarkan siapa pun mempermalukan dia."
Chyntia terbelalak. "Kamu membelanya sekarang? Mirza, apa kamu mulai menyukainya?"
Mirza terdiam. Ia tahu bahwa jawaban atas pertanyaan itu lebih rumit daripada yang ia ingin akui. Tetapi, alih-alih menjawab, ia memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Chyntia, berhenti memperumit semuanya. Fokus saja pada pekerjaanmu," ucapnya tegas.
Chyntia menghela napas panjang, jelas merasa tidak puas. Tetapi, untuk kali ini, ia memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan. Namun, dalam hati, ia bersumpah bahwa ia tidak akan membiarkan Yoeja menang. Wanita itu harus disingkirkan secepatnya.
Malam harinya, Yoeja duduk sendirian di kamar sambil memandangi foto keluarga kecilnya yang sudah lama ia simpan. Foto itu selalu memberinya kekuatan, mengingatkan pada perjuangan hidup yang telah ia lewati.
Namun, pikirannya terganggu oleh pesan masuk di ponselnya. Pesan itu dari nomor tak dikenal.
"Hati-hati, Yoeja. Banyak mata yang mengawasi. Jangan terlalu nyaman di tempat yang bukan milikmu."
Yoeja membacanya dengan hati berdebar. Siapa yang mengirim pesan itu? Dan apa maksudnya? Tapi ia tahu, satu hal pasti—ada seseorang yang tidak ingin dia berada di posisi ini. Dan itu mungkin lebih dari sekadar Chyntia.
Yoeja menatap layar ponselnya dengan tatapan serius. "Baiklah," gumamnya pelan. "Kalau mereka mau melawanku, aku tidak akan mundur. Aku akan menunjukkan bahwa aku bukan wanita lemah."