14. Kepergian Oma Indriana

1040 Kata
“Mirza, jaga Yoeja baik-baik, ya,” kata Oma Indriana sambil melangkah masuk ke dalam mobil, matanya penuh kekhawatiran. Mirza hanya mengangguk, tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. “Iya, Oma, tenang aja.” Yoeja hanya bisa diam, menatap punggung Oma yang semakin menjauh. Rasa kosong mulai menyusup. Kehilangan Oma berarti kehilangan satu-satunya tempat dia bisa bergantung. Mirza tidak peduli, tidak ada perhatian. Ditinggalkan begitu saja di rumah besar ini, dengan perut yang semakin membesar. Setelah kepergian Oma, Mirza semakin sering tidak ada di rumah. Yoeja yang awalnya sudah merasa terasing, kini semakin merasakannya. Mirza lebih banyak menghabiskan waktu bersama Cynthia, kekasih lamanya, yang datang dengan sengaja menginap. Hari itu, ketika Yoeja masuk ke ruang tamu, Cynthia sudah duduk santai di sofa dengan Mirza di sampingnya. Mereka tertawa, berbicara seperti dunia milik mereka berdua saja. Yoeja berhenti sejenak, merasa semakin tak berguna. “Ada apa, Yoe? Kok diam aja?” tanya Cynthia dengan senyum tipis. Yoeja mencoba tersenyum. “Enggak apa-apa.” Mirza hanya menoleh sesaat, tidak ada ekspresi peduli. “Kamu gimana? Apa sudah makan?” Yoeja menelan ludah, hatinya perih. “Sudah.” Cynthia menambahkan, “Mirza ini kalau udah sama aku, kadang lupa waktu. Kamu nggak apa-apa, kan, Yoe?” Yoeja menunduk, menahan diri agar tidak menangis di depan mereka. “Enggak apa-apa,” jawabnya pelan. Tapi dalam hatinya, Yoeja merasa seperti benda yang hanya ada di rumah ini tanpa tujuan. Mirza, yang seharusnya menjadi pelindungnya, malah semakin menjauh. Kehadirannya hanya sebagai hiasan, bukan sebagai seorang suami. Dan Cynthia? Perempuan itu perlakuannya semakin tajam, seolah ia adalah orang asing yang boleh melakukan apa saja. Malam itu, Yoeja terjaga. Suara dari luar kamar mereka cukup jelas terdengar, tawa dan suara canda Mirza dengan Cynthia. Rasanya seperti ada yang menusuk hatinya setiap kali mereka berbicara. Yoeja menatap langit-langit, mencoba untuk tidak mendengarkan suara itu, tapi tetap saja terdengar. Mirza akhirnya masuk ke kamar dengan wajah yang kosong, matanya seakan jauh. “Aku ke luar sebentar,” kata Mirza tanpa melihat Yoeja. Yoeja mencoba bertahan, “Mirza… jangan ke mana-mana, aku butuh kamu.” Mirza tidak menjawab, hanya berjalan ke luar dengan langkah cepat, meninggalkan Yoeja yang terbaring sendirian di tempat tidur. Di luar, suara tawa mereka terdengar semakin jelas. Mirza dan Cynthia, dua orang yang sedang menikmati kebersamaan tanpa peduli siapa pun yang terluka. Yoeja terdiam, merasa semakin tak berharga. Ia bukan lagi bagian dari hidup Mirza. Cynthia yang selalu datang dan pergi, yang selalu memanfaatkan kesempatan, kini seolah sudah menjadi istri kedua dalam rumah tangga mereka. Keesokan harinya, Mirza datang dan pergi dengan alasan pekerjaan. Yoeja sudah tidak bertanya lagi. Ia tahu jawabannya tidak akan jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Sejak Oma pergi, suaminya semakin sibuk dengan dunianya sendiri bersama Cynthia. Cynthia kali ini datang lagi, tidak memberi salam, langsung duduk di ruang tamu seperti dia adalah pemilik rumah. “Mirza kemana, Yoe?” tanyanya sambil membuka-buka ponselnya. “Ke luar,” jawab Yoeja dengan suara datar. Cynthia menyeringai, “Wah, sering banget ya. Kayaknya Mirza lagi asyik banget deh belakangan ini.” Yoeja diam, hatinya dipenuhi amarah yang ia coba tahan. Namun, Cynthia semakin tak peduli. “Yoe, kamu nggak apa-apa, kan? Bisa mandiri, kan?” tanya Cynthia dengan nada menyindir. “Aku kan hanya di sini sementara. Kamu kan lebih baik di rumah ini daripada di luar, ya kan?” Yoeja menatapnya, tak mampu lagi berkata-kata. Semua terasa makin absurd. Cynthia yang begitu lancang, dan Mirza yang tidak berbuat apa-apa. Tidak ada sedikitpun upaya untuk memperbaiki keadaan, bahkan hanya untuk menenangkan Yoeja. Mirza masuk, matanya yang lelah memandang mereka berdua tanpa ekspresi. "Kamu makan siang belum?" tanya Mirza kepada Cynthia, tanpa menyadari betapa Yoeja sedang terisak di dalam hati. “Belum,” jawab Cynthia, dan Mirza langsung berdiri. “Yaudah, ayo makan di luar.” Yoeja hanya bisa menatap mereka berdua yang pergi tanpa memedulikan dirinya. Tidak ada pelukan, tidak ada perhatian. Seakan-akan, ia hanya menjadi figur yang tak ada artinya lagi. Malam itu, setelah semuanya sepi, Yoeja kembali duduk sendirian di kamar pembantu yang kini menjadi kamarnya. Dulu, ini adalah kamar yang pernah ia tinggali bersama Mirza, di saat semuanya tampak begitu indah. Sekarang? Hanya sepi yang menyelimuti. Dari ruang tamu, tawa Mirza dan Cynthia kembali terdengar. Mereka bersenang-senang, sementara Yoeja terjebak dalam kenyataan bahwa pernikahannya mulai hancur, tanpa ada yang peduli. ‘Apa yang harus dia lakukan? Akankah ia tetap bertahan dalam pernikahan yang sudah jelas tidak lagi memberinya kebahagiaan?’ Tak ada jawaban. Yang ada hanya keheningan yang mencekam. Yoeja menundukkan kepala, merasa kosong. Setiap detik terasa seperti jam yang terus berdetak tanpa henti. Bahkan suara detak jam di kamar terasa begitu keras, mengingatkan dirinya akan waktu yang terus berjalan, namun perasaan tak pernah berubah. Semua terasa begitu hampa. Di luar sana, Mirza dan Cynthia masih tertawa. Pintu kamar terbuka, dan Yoeja mendengar suara langkah Mirza yang kembali ke dalam rumah. Tetapi, dia hanya berdiri di ambang pintu, tak berani masuk. Mereka berdua, Mirza dan Cynthia, lebih memilih duduk berdua di ruang tamu, bercanda tanpa peduli bahwa Yoeja hanya bisa menyaksikan semuanya dari kejauhan. Hatinya serasa diremas-remas. "Yoeja, kenapa sih enggak ikut keluar? Kamu cuma di kamar aja, kan? Ayo keluar, kita ngobrol," ajak Cynthia dengan suara yang menyengat, seperti sedang menguji kesabaran Yoeja. Yoeja memalingkan wajah, menatap keluar jendela. "Enggak, aku capek," jawabnya pelan. Tapi dalam hati, ia tidak bisa berhenti bertanya, kenapa semua ini harus terjadi padanya? Apakah dia tak pantas untuk dihargai? Mirza, yang baru saja masuk ke dalam kamar, hanya berdiri di sana, tidak mengatakan apa-apa. Seakan-akan, Yoeja dan perasaannya tidak ada artinya. Dia tahu persis betapa Yoeja sedang terluka, tapi dia memilih untuk menghindar, menghabiskan waktu bersama Cynthia. Entah mengapa, saat bersama wanita itu, Mirza tampak lebih hidup. Lebih bahagia. Yoeja merasakan sesuatu yang lebih sakit daripada rasa lapar atau haus rasa terabaikan, seolah ia adalah hantu dalam rumahnya sendiri. Tidak ada yang peduli padanya, tidak ada yang melihatnya. Kehamilannya yang semakin besar hanya menambah perasaan terperangkapnya. "Aku hamil, Mirza... aku butuh kamu," pikirnya dalam hati, tapi kata-kata itu hanya terpendam. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar kembali. Mirza keluar dengan Cynthia di sampingnya, tangan mereka bersentuhan, dan Yoeja hanya bisa menatap tanpa daya. Perasaan cemas, marah, dan kecewa berbaur dalam hatinya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa selain diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN