15. Kehadiran Cynthia

1178 Kata
Pintu terbuka, dan Cynthia melangkah masuk dengan senyum penuh percaya diri. Aroma parfum mahalnya segera memenuhi ruangan, menciptakan aura d******i yang menyesakkan d**a Yoeja. Wanita itu berjalan seperti pemilik rumah, tanpa sedikit pun rasa segan. Matanya langsung tertuju pada Mirza, seolah dunia hanya milik mereka berdua. "Mirza! Aku kangen banget sama kamu," kata Cynthia sambil tertawa renyah, tangannya dengan mudah menyentuh lengan pria itu. Yoeja berdiri di sudut ruangan, tangannya menggenggam kain bajunya erat. Dadanya berdegup keras, bukan karena cemburu, tapi karena perasaan terinjak yang semakin menumpuk. Cynthia berbicara dengan santai, menggoda Mirza dengan nada yang membuat Yoeja merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. "Kamu kenapa diem aja, Yoe?" tanya Cynthia, suaranya terdengar sinis. "Masih betah di sini?" Yoeja menarik napas panjang. "Tentu saja, ini rumah suamiku." Cynthia menyeringai, lalu melirik Mirza. "Sayang, aku haus. Boleh aku minum teh? Tapi aku maunya buatan kamu, bukan dari orang lain." Mirza tertawa kecil dan mengangguk. "Tunggu sebentar." Tanpa berkata apa-apa pada Yoeja, Mirza melangkah pergi ke dapur. Yoeja merasa dadanya sesak. Saat Mirza pergi, Cynthia mendekat. Matanya yang tajam menatap Yoeja penuh kemenangan. "Dengar, Yoe. Aku nggak akan pergi. Aku akan tetap di sini, persis di samping Mirza. Kamu tahu kenapa? Karena aku adalah wanita yang seharusnya ada di sisinya. Kamu? Cuma numpang." Yoeja mengepalkan tangannya, mencoba menahan diri agar tidak meledak. Dia hamil, dia lelah, dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika Mirza kembali membawa secangkir teh, Cynthia menyambutnya dengan senyum lebar. "Kamu tahu kan, aku suka teh yang agak manis. Terima kasih, sayang." "Sayang." Satu kata itu menusuk telinga Yoeja seperti pisau tajam. Ia menatap Mirza, mencari sesuatu—setitik perasaan bersalah, setitik simpati. ’Sadar, Yoeja, ini bukan tempatmu. Saat ini kamulah tetap tersangkanya. Bahkan kamu merebut posisi dia, wajar dia begini padamu,’ Yoeja menenangkan dirinya di dalam hati. Tapi tidak ada. Yang ada hanya Mirza yang duduk santai di sebelah Cynthia, menikmati obrolan tanpa peduli pada istrinya yang berdiri kaku seperti patung di sudut ruangan. Malam datang, dan Yoeja berbaring sendirian di kamar pembantu. Ya, kamar pembantu. Tempat tidur sempit dan dinding kusam seakan menjadi simbol dari bagaimana dia diperlakukan sekarang—tidak lebih dari seseorang yang bisa diletakkan di sudut rumah. Dari kejauhan, dia mendengar suara tawa. Mirza dan Cynthia masih bercanda di ruang tamu. Suara mereka memenuhi rumah, seakan sengaja dibiarkan terdengar hingga ke kamar Yoeja. Setiap tawa Cynthia seperti paku yang menghujam dadanya. Yoeja menutup telinganya dengan bantal. Dia tidak ingin mendengar. Dia tidak ingin tahu apa yang mereka lakukan. Tapi suara itu tidak bisa diabaikan. Akhirnya, dia bangkit, berjalan perlahan menuju ruang tamu. Hanya sekadar ingin melihat, hati kecil Yoeja bermimpi di posisi Cynthia. Yoeja kembali merutuki kesalahannya. Di sana, di sofa ruang tamu, Mirza dan Cynthia duduk berdampingan. Cynthia menyandarkan kepalanya di bahu Mirza, tangannya bermain-main di d**a pria itu. Mirza? Dia membiarkannya. Bahkan ada senyum tipis di bibirnya. Yoeja terpaku, hatinya mencelos melihat suaminya kini berdekatan dengan wanita lain seolah dia tidak ada. Napasnya memburu, rasa sakit menusuk ke dalam, dan air mata menggenang di pelupuk matanya. "Mirza," panggilnya, suaranya lirih namun cukup untuk membuat Cynthia menoleh dengan tatapan mengejek. Mirza menatap Yoeja dengan ekspresi datar. "Ada apa?" Yoeja menelan ludah. "Aku nggak bisa tidur." Cynthia tertawa kecil. "Oh, kasihan. Mungkin karena kasurnya kurang nyaman? Atau mungkin karena sendirian?" Mirza tidak berkata apa-apa. Tidak ada pembelaan, tidak ada perasaan bersalah. Hanya diam, membiarkan Cynthia terus menginjak harga diri Yoeja. Yoeja mencoba tetap kuat. "Mirza, aku istrimu. Aku hamil anakmu. Apa kamu benar-benar tega melakukan ini padaku?" Mirza akhirnya berdiri, menghampiri Yoeja. Ada kilatan amarah di matanya. "Jangan mulai drama, Yoeja. Aku capek. Kalau kamu nggak suka, silakan pergi." Kata-kata itu membuat dunia Yoeja runtuh. Seakan dia bukan siapa-siapa. Seakan dia tidak ada artinya lagi. Cynthia tersenyum puas, lalu dengan sengaja menarik tangan Mirza kembali duduk di sebelahnya. "Udah, sayang. Jangan buang-buang waktu untuk hal nggak penting." Yoeja merasa tubuhnya melemah. Dia ingin berteriak, ingin menampar Cynthia, ingin mengguncang Mirza agar sadar. Tapi tidak ada gunanya. Mirza telah berubah. Dengan langkah tertatih, Yoeja kembali ke kamarnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar sendirian. Tanpa suami, tanpa keluarga, tanpa siapa pun yang peduli. Malam itu, hujan turun perlahan, mengetuk jendela kamar kecil yang kini menjadi penjara Yoeja. Dia duduk di tepi ranjang, memandangi perutnya yang mulai membesar. Tangan gemetar mengusap perutnya, mencoba menyalurkan sedikit kehangatan yang dia butuhkan. "Maaf ya, Nak..." bisiknya pelan, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Dia ingin kuat. Dia ingin bertahan. Tapi bagaimana caranya bertahan jika orang yang seharusnya melindunginya justru yang paling menyakitinya? Di luar, suara tawa Cynthia dan Mirza masih terdengar. Dunia mereka terasa begitu jauh dari penderitaan yang Yoeja alami sendirian. Mungkin, inilah saatnya dia berhenti berharap. Malam itu, hujan masih turun dengan deras, seolah langit ikut merasakan kepedihan yang menghimpit d**a Yoeja. Ia duduk di sudut kamar pembantu, memeluk lututnya sambil berusaha menghangatkan diri. Rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa daripada dinginnya udara malam. Dari luar, suara tawa Cynthia dan Mirza masih terdengar. Mereka tertawa bahagia, seolah Yoeja tidak pernah ada dalam kehidupan Mirza. Seolah ia hanyalah debu yang tak berarti. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan kasar. Cynthia berdiri di ambang pintu dengan ekspresi penuh kebencian. "Hei, pelayan! Aku haus. Ambilkan aku segelas air!" ucapnya dengan nada menyuruh. Yoeja menatap Cynthia dengan mata kosong. Dia tidak bergerak. Cynthia mendengus kesal. "Kamu tuli, ya? Aku bilang ambilkan air!" Dengan berat hati, Yoeja bangkit. Kakinya gemetar karena kehamilannya yang masih muda membuatnya cepat lelah. Namun, sebelum ia melangkah keluar kamar, Cynthia menahan lengannya dengan kasar. "Oh, dan satu lagi. Jangan pernah berani-berani menyentuh Mirza lagi. Dia milikku sekarang," bisiknya tajam di telinga Yoeja. Yoeja menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh. Tanpa membalas, ia berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil air. Saat kembali, Mirza sudah berdiri di ruang tamu, memandangnya dengan tatapan penuh kejengkelan. "Kenapa lama sekali?" tanyanya dingin. "Maaf," jawab Yoeja pelan, menyodorkan gelas kepada Cynthia. Cynthia mengambil gelas itu dengan ekspresi meremehkan, lalu dengan sengaja menjatuhkan gelas tersebut ke lantai. Air tumpah, pecahan kaca berhamburan. "Astaga, Yoeja! Kamu ceroboh sekali!" seru Cynthia, menutup mulutnya seolah terkejut. "Mirza, lihat deh! Dia bikin berantakan rumahmu." Mirza memandang pecahan kaca itu dengan wajah masam sebelum menatap Yoeja dengan tajam. "Bersihkan sekarang." Yoeja menunduk, menahan tangis yang ingin pecah. Dengan hati-hati, ia berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca dengan tangan kosong. Setiap serpihan tajam yang menusuk kulitnya terasa seperti cerminan hatinya yang terluka. Saat ia tengah membersihkan, tiba-tiba Cynthia menjatuhkan gelas lain hingga pecah di dekat tangan Yoeja. "Ups! Maaf, tanganku licin," kata Cynthia sambil tertawa. Mirza hanya menghela napas, tidak mengatakan apa pun. Seolah semua ini adalah hal biasa baginya. Saat Yoeja bangkit dengan tangan yang terluka, Mirza justru meraih pinggang Cynthia dan menariknya ke dalam pelukannya. "Sudah, sayang. Jangan rusak suasana gara-gara orang yang tidak penting. Ayo, kita lanjut nonton film." Cynthia tersenyum puas, merapatkan tubuhnya ke Mirza. Mereka berjalan pergi, meninggalkan Yoeja sendirian dengan luka di tangannya dan hati yang semakin remuk. Air mata yang tadi tertahan akhirnya jatuh juga. Malam itu, Yoeja sadar. Ia bukan hanya sendirian. Ia telah benar-benar ditinggalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN