16. Penderitaan Yoeja

1153 Kata
Malam itu, hujan masih turun dengan deras, seolah langit ikut merasakan kepedihan yang menghimpit d**a Yoeja. Ia duduk di sudut kamar pembantu, memeluk lututnya sambil berusaha menghangatkan diri. Rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa daripada dinginnya udara malam. Dari luar, suara tawa Cynthia dan Mirza masih terdengar. Mereka tertawa bahagia, seolah Yoeja tidak pernah ada dalam kehidupan Mirza. Seolah ia hanyalah debu yang tak berarti. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan kasar. Cynthia berdiri di ambang pintu dengan ekspresi penuh kebencian. "Hei, pelayan! Aku haus. Ambilkan aku segelas air!" ucap Cynthia dengan nada menyuruh. Yoeja menatap Cynthia dengan mata kosong. Dia tidak bergerak. Cynthia mendengus kesal. "Kamu tuli, ya? Aku bilang ambilkan air!" Dengan berat hati, Yoeja bangkit. Kakinya gemetar karena kehamilannya yang masih muda membuatnya cepat lelah. Namun, sebelum ia melangkah keluar kamar, Cynthia menahan lengannya dengan kasar. "Oh, dan satu lagi. Jangan pernah berani-berani menyentuh Mirza lagi. Dia milikku sekarang," bisiknya tajam di telinga Yoeja. Yoeja menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh. Tanpa membalas, ia berjalan keluar menuju dapur untuk mengambil air. Saat kembali, Mirza sudah berdiri di ruang tamu, memandangnya dengan tatapan penuh kejengkelan. "Kenapa lama sekali?" tanyanya dingin. "Maaf," jawab Yoeja pelan, menyodorkan gelas kepada Cynthia. Cynthia mengambil gelas itu dengan ekspresi meremehkan, lalu dengan sengaja menjatuhkan gelas tersebut ke lantai. Air tumpah, pecahan kaca berhamburan. "Astaga, Yoeja! Kamu ceroboh sekali!" seru Cynthia, menutup mulutnya seolah terkejut. "Mirza, lihat deh! Dia bikin berantakan rumahmu." Mirza memandang pecahan kaca itu dengan wajah masam sebelum menatap Yoeja dengan tajam. "Bersihkan sekarang." Yoeja menunduk, menahan tangis yang ingin pecah. Dengan hati-hati, ia berjongkok untuk membersihkan pecahan kaca dengan tangan kosong. Setiap serpihan tajam yang menusuk kulitnya terasa seperti cerminan hatinya yang terluka. Saat ia tengah membersihkan, tiba-tiba Cynthia menjatuhkan gelas lain hingga pecah di dekat tangan Yoeja. "Ups! Maaf, tanganku licin," kata Cynthia sambil tertawa. Mirza hanya menghela napas, tidak mengatakan apa pun. Seolah semua ini adalah hal biasa baginya. Saat Yoeja bangkit dengan tangan yang terluka, Mirza justru meraih pinggang Cynthia dan menariknya ke dalam pelukannya. "Sudah, sayang. Jangan rusak suasana gara-gara orang yang tidak penting. Ayo, kita lanjut nonton film." Cynthia tersenyum puas, merapatkan tubuhnya ke Mirza. Mereka berjalan pergi, meninggalkan Yoeja sendirian dengan luka di tangannya dan hati yang semakin remuk. Air mata yang tadi tertahan akhirnya jatuh juga. Malam itu, Yoeja sadar. Ia bukan hanya sendirian. Ia telah benar-benar ditinggalkan. Yoeja terdiam di tempatnya, menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai. Ada rasa perih di hatinya yang sulit digambarkan, lebih dalam dari luka fisik yang kini mengalir dari tangannya. Namun, rasa sakit itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kenyataan yang harus Yoeja terima, ia tidak lagi dihargai, bahkan sebagai seorang manusia. Dengan tangan berlumuran darah, ia mencoba mengumpulkan serpihan kaca yang tercecer di lantai. Setiap kali ujung jarinya menyentuh kaca yang pecah, rasa sakit itu semakin mengingatkannya pada kenyataan pahit yang harus ia hadapi. Tak ada yang peduli. Tak ada yang merasa bersalah. Semua orang di rumah ini lebih memilih untuk tetap hidup dalam kebahagiaan palsu, sementara Yoeja terperangkap dalam siksaan yang tak pernah berkesudahan. Tangannya yang terluka terus bekerja, membersihkan rumah yang tak pernah ia anggap sebagai rumah. Sudut-sudut rumah ini, yang dulu penuh dengan harapan, kini menjadi tempat yang hanya mengingatkan pada kegagalan dan penghinaan. Di setiap ruangan, Yoeja merasa semakin terasing, semakin terpinggirkan. Ketika ia akhirnya berhasil membersihkan pecahan kaca tersebut, ia merasa seperti kehilangan bagian dari dirinya. Tubuhnya lelah, jiwanya rapuh. Namun, ia tak punya pilihan selain menahan semuanya sendiri. Ia tahu, tak ada yang akan datang untuk menyelamatkannya. Tak ada yang peduli. Saat ia hendak kembali ke kamar kecilnya, langkah Yoeja terhenti di depan pintu ruang tamu. Ia mendengar suara tawa Cynthia dan Mirza, suara yang dulu begitu familiar, tapi kini terasa begitu asing. Mereka berbicara dengan santai, seolah dunia mereka berjalan normal, tanpa ada sedikit pun rasa bersalah atas apa yang telah terjadi padanya. "Yoeja... kamu masih di sana?" suara Cynthia tiba-tiba memanggil, membuat Yoeja terkejut. "Kamu bisa tidur di kamar pembantu, kan? Jangan ganggu kita. Dan pastikan kamu jangan pernah datang ke sini lagi kalau sudah selesai beres-beres!" Tanpa menunggu jawaban dari Yoeja, Cynthia kembali tertawa, merangkul Mirza dengan penuh kemesraan. Seolah Yoeja adalah bayang-bayang yang tak pernah ada. Air mata Yoeja jatuh lagi, kali ini lebih deras. Ia ingin berteriak, ingin melawan, namun semuanya terasa sia-sia. Keinginannya untuk dipahami, untuk dihargai, tampaknya sudah menjadi mimpi yang terlalu jauh. Ia hanya bisa menatap punggung mereka yang semakin menjauh, semakin jauh dari kehidupannya. Yoeja tahu, ia harus pergi. Tetapi ke mana? Dengan siapa? Semua jalur keluar seakan tertutup rapat, dan hatinya terasa terperangkap dalam lingkaran setan yang tak kunjung berakhir. Di tengah hujan yang terus mengguyur malam itu, Yoeja duduk di sudut tempat tidurnya. Ia mengusap wajahnya yang basah, mencoba menenangkan diri. Bayangan Mirza dan Cynthia masih menghantui pikirannya. Mereka tampak begitu sempurna, begitu bahagia, sementara ia... merasa sepi, hampa, dan tak berarti. Namun, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya malam itu. Ia tahu bahwa ia tak bisa terus seperti ini. Ia tidak bisa membiarkan dirinya terus menerus dihina dan diperlakukan dengan tidak adil. Sebuah perasaan baru muncul dalam dirinya—perasaan yang sempat ia lupakan: kekuatan untuk bertahan. "Jika aku tak bisa mendapatkan cinta mereka, aku akan mencintai diriku sendiri," gumamnya, pelan. "Aku harus lebih kuat. Aku tidak bisa terus menjadi korban." Yoeja menyeka air matanya dan merasakan keteguhan yang baru lahir dalam dirinya. Ia tahu, ia harus pergi dari tempat ini. Meskipun tak tahu ke mana, ia tidak bisa lagi bertahan dalam lingkungan yang menghancurkan harga dirinya. Pagi berikutnya, Yoeja mulai merencanakan langkah pertama dalam perjalanan baru hidupnya. Ia tahu bahwa tantangan di depan tak akan mudah, tetapi ia merasa, untuk pertama kalinya, bahwa ada harapan. Ia harus keluar dari bayang-bayang Mirza dan Cynthia, dan menemukan dirinya yang telah hilang. Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih jauh, langkahnya terhenti ketika mendengar suara pintu diketuk. Mirza berdiri di depan pintu kamar pembantu, wajahnya tampak serius. "Yoeja," suara Mirza terdengar tegas, "apa yang kamu lakukan tadi malam? Jangan pikir kamu bisa lari begitu saja. Kamu hanya pelayan di rumah ini, ingat itu." Yoeja menatapnya dengan mata yang lebih tajam dari sebelumnya. "Aku bukan pelayan, Mirza. Aku manusia," jawabnya dengan suara yang penuh ketegasan. Mirza terdiam sejenak, terkejut dengan perubahan sikap Yoeja. "Jangan macam-macam," katanya dengan nada memperingatkan, tetapi Yoeja bisa melihat ada sedikit ketegangan di wajahnya. Mirza, yang dulu selalu menganggapnya rendah, kini merasa ada yang berbeda. "Aku tidak akan diam lagi," lanjut Yoeja, "aku tidak akan terus menerus hidup dalam bayanganmu. Aku punya hak untuk bahagia, meskipun itu berarti aku harus pergi." Dengan langkah mantap, Yoeja melewati Mirza tanpa menoleh lagi. Ia tahu, langkah ini mungkin akan membuat semuanya semakin buruk, tapi ini adalah langkah pertama menuju kebebasannya. Ia tidak akan pernah kembali menjadi bayangan dalam hidup siapa pun. Di luar hujan masih mengguyur, namun Yoeja merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perjalanan panjangnya baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN