17. Yoeja Jatuh tidak Tertolong

1035 Kata
Hari ketiga setelah kepergian Indriana, suasana rumah semakin terasa seperti neraka bagi Yoeja. Sejak kedatangan Cynthia, Mirza tak lagi memperhatikan. Bahkan, dia harus menerima kenyataan bahwa wanita itu benar-benar memperlakukan rumah ini seolah miliknya sendiri. Pagi itu, bel rumah berbunyi. Yoeja yang sedang duduk di ruang makan bangkit untuk membukakan pintu. Begitu pintu terbuka, dia mendapati pengurus yayasan tempatnya bekerja berdiri di ambang pintu dengan berkas di tangan. "Selamat pagi, Yoeja. Kami datang untuk menyerahkan berkas kontrak kerja sama terbaru," ucap pria berusia sekitar empat puluhan dengan senyum ramah. Sebelum Yoeja bisa menjawab, langkah kaki terdengar dari tangga. Cynthia muncul dengan santai, mengenakan piyama sutra tipis yang terlihat sangat menggoda. Rambutnya masih basah, terlilit handuk putih, seolah baru saja selesai mandi. "Yoeja, siapa yang datang?" Cynthia bertanya dengan nada malas sambil menguap kecil, lalu tanpa ragu menghampiri Yoeja dan menyenderkan tubuhnya pada kusen pintu. Pengurus yayasan tampak sedikit terkejut, matanya melirik ke arah Cynthia yang tampak terlalu nyaman di rumah ini. "Eh... permisi, Ibu. Saya dari yayasan tempat Bu Yoeja bekerja. Kami ingin menyerahkan beberapa dokumen." Cynthia tersenyum manis, lalu dengan santai berbalik, berjalan melewati ruang tamu menuju dapur. "Mirza! Sayang, ada yang mencarimu!" panggilnya dengan suara manja. Pengurus yayasan mengernyitkan dahi, ragu-ragu menatap Yoeja. "Maaf, Bu Yoeja... Apakah itu—?" Yoeja menelan ludah, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia tahu apa yang ada dalam pikiran pengurus yayasan itu. Seorang wanita lain yang berpakaian seperti itu di rumahnya? Seperti apa dia sekarang di mata orang lain? Tak lama, Mirza muncul dari dapur dengan ekspresi acuh tak acuh. "Ada apa?" Pengurus yayasan menyerahkan dokumen itu, berusaha tetap profesional meskipun suasana di rumah ini terasa aneh baginya. "Ini berkas untuk Bu Yoeja. Kami hanya ingin memastikan kerja sama ini berjalan lancar." Mirza mengangguk tanpa banyak bicara, lalu menandatangani berkas itu. Sementara itu, Cynthia kembali dengan secangkir kopi di tangan. Dengan sengaja, dia duduk di sandaran sofa di sebelah Mirza, tangannya menyentuh bahu pria itu seolah tak peduli ada orang lain yang melihat. Yoeja hanya bisa menundukkan kepala, menahan rasa malu dan sakit yang semakin dalam. Setelah pengurus yayasan pergi, Mirza menatapnya dengan tatapan dingin. "Kamu kenapa diam saja?" "Kenapa Cynthia masih di sini, Mirza?" Yoeja akhirnya membuka suara, suaranya nyaris bergetar menahan emosi. Cynthia tertawa kecil sebelum Mirza sempat menjawab. "Memangnya kenapa? Aku nyaman di sini, Mirza juga mengizinkanku tinggal. Lagipula, rumah ini lebih terasa seperti milikku daripada milikmu." Yoeja menoleh ke arah Mirza, mencari sedikit pembelaan, namun pria itu hanya mengangkat bahu. "Biarkan saja, Yoe. Kalau kamu tidak suka, kamu bisa tidur di kamar lain." Yoeja merasakan darahnya mendidih, tetapi dia tahu tidak ada gunanya bertengkar. Dengan napas berat, dia berbalik dan pergi ke kamarnya yang kecil di sudut rumah. Namun, air matanya tak bisa lagi terbendung. Perih, sakit, dan terhina. Dia tidak tahu sampai kapan harus bertahan dalam keadaan ini. Malam itu, Yoeja berusaha untuk tidur, tetapi suara tawa Cynthia dan Mirza di ruang tamu terus menghantui pikirannya. Setiap bisikan, setiap suara renyah tawa mereka menusuk jiwanya seperti ribuan belati. Ketika suara langkah kaki mendekat, Yoeja menahan napas. Pintu kamarnya terbuka, dan Mirza berdiri di sana. "Aku butuh ruangan ini untuk Cynthia." Yoeja menatapnya dengan mata yang membelalak. "Apa maksudmu? Aku—" "Tidurlah di ruang cuci atau di mana pun yang kamu mau," potong Mirza dengan nada dingin. "Jangan banyak protes, Yoeja. Aku lelah." Yoeja tak bisa berkata-kata. Dengan tubuh yang terasa lunglai, dia hanya bisa berdiri dan melihat Mirza mengangkut barangnya keluar dari kamar itu. Cynthia yang muncul dari belakang Mirza menatapnya dengan senyum kemenangan. "Kamu seharusnya sadar, Yoe. Dari awal, aku tidak akan pernah pergi dari hidup Mirza." Yoeja hanya menunduk, menggigit bibirnya sendiri agar tidak menangis. Dengan langkah lemah, dia berjalan keluar, membawa bantal dan selimutnya ke ruangan kecil di sebelah dapur. Malam itu, di atas lantai dingin, Yoeja berbaring dengan air mata yang mengalir tanpa henti. Dia tidak tahu berapa lama lagi bisa bertahan. Tapi satu hal yang pasti, harga dirinya kini telah diinjak-injak oleh orang yang seharusnya melindunginya. Malam itu, Yoeja terbangun karena suara ketukan di pintu kamarnya yang kecil. Dengan mata yang masih setengah mengantuk, dia berusaha fokus. Ketukan semakin keras. "Yoeja! Cepat bangun! Aku haus, buatkan aku minuman hangat!" suara Cynthia terdengar jelas, penuh perintah. Yoeja menarik napas panjang, menenangkan dirinya agar tidak emosi. Dalam keadaan mengantuk dan tubuh yang lelah, dia menyeret langkahnya menuju dapur. Perutnya sedikit terasa nyeri, tapi dia mengabaikannya. Dia sudah terbiasa menahan sakit sejak Mirza mulai berubah sikap. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena kantuk dan kelelahan, Yoeja menyeduh teh hangat sesuai permintaan Cynthia. Setelah memastikan semuanya sudah siap, dia membawa nampan berisi cangkir teh itu menuju ruang tamu, tempat Cynthia menunggu dengan angkuh. Namun, saat Yoeja hendak menyerahkan cangkir teh itu, tiba-tiba Cynthia menyentuhkan kakinya ke kaki Yoeja dengan sengaja. Gerakan itu begitu cepat, membuat Yoeja kehilangan keseimbangan. Nampan di tangannya terlempar, cangkir berisi teh panas tumpah ke lantai, dan tubuhnya terhempas ke lantai dengan suara keras. "Aduh!" Yoeja meringis, tangannya menyangga perutnya refleks. Namun bukannya membantu, Cynthia malah tertawa sinis. "Astaga, Yoeja. Kamu ceroboh sekali. Baru segitu aja nggak bisa seimbang?" Yoeja mencoba bangkit, menahan sakit di lutut dan perutnya yang terasa mencengkeram. Dia mengangkat wajahnya, berharap ada sedikit perhatian dari Mirza. Namun, Mirza hanya menatapnya datar. Tanpa sedikit pun rasa iba, dia meraih tangan Cynthia. "Ayo, kita keluar. Aku bosan di rumah." "Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu," sahut Cynthia sambil terkikik puas. Mirza tidak peduli pada Yoeja yang masih tergeletak di lantai. Dia pergi begitu saja bersama Cynthia, meninggalkan Yoeja dengan perasaan sakit dan hancur. Lututnya gemetar, dan napasnya mulai memburu. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan sesak yang semakin menyiksa. Beberapa menit berlalu, dan rasa nyeri di perutnya semakin menjadi. Yoeja berusaha bangkit, tapi pandangannya mulai kabur. Tubuhnya lemah. Dengan susah payah, dia meraih meja dan mencoba berdiri. Tidak bisa. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi-jadi. Dengan sisa tenaga, dia meraba meja dan menemukan telepon rumah. Tangannya gemetar saat dia menekan nomor darurat. Suaranya hampir tidak keluar, tapi dia memaksakan diri untuk berbicara. "Tolong... saya butuh bantuan. Saya hamil dan... sakit sekali. Rumah di..." Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, kepalanya terasa ringan dan tubuhnya terjatuh ke lantai. Kesadarannya perlahan menghilang, hanya meninggalkan suara napas tersengal yang semakin melemah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN