Ketika Yoeja membuka matanya, aroma antiseptik yang khas langsung menyapa indera penciumannya. Cahaya putih dari lampu rumah sakit yang terpasang di langit-langit membuatnya mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan pandangan.
Perlahan, pemandangan sekelilingnya mulai jelas. Dia berada di sebuah kamar rumah sakit yang nyaman, lebih mirip kamar eksekutif daripada ruangan medis biasa. Rasanya, ia berada jauh dari keramaian dan ketegangan yang terjadi sebelumnya.
Yoeja mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri di perut membuatnya mengerang pelan.
"Jangan bergerak dulu, Nona. Anda masih perlu istirahat." Suara seorang dokter wanita terdengar menenangkan.
Yoeja menoleh dan melihat seorang dokter dengan wajah ramah yang tengah menatapnya. "Anda berada di Cahaya Mulia Hakim Hospital. Kami menerima panggilan darurat dan segera membawa Anda ke sini. Bayi Anda masih sangat muda dan rentan, jadi kami sarankan Anda untuk bedrest selama beberapa hari ke depan."
Yoeja menghela napas lega. Rumah sakit ini, meskipun di bawah naungan Hakim Corp, adalah tempat dengan fasilitas terbaik yang bisa ia harapkan dalam situasi seperti ini.
Namun, sebelum ia bisa mengatakan sepatah kata pun, pintu kamar terbuka dengan keras. Indriana, nenek mertuanya, melangkah masuk dengan wajah penuh emosi. Mata tajamnya menatap Yoeja yang terbaring lemah, dan raut wajahnya langsung berubah menjadi penuh kekhawatiran.
"Yoeja! Astaga, apa yang terjadi padamu?" Indriana berjalan cepat ke sisi ranjang dan menggenggam tangan Yoeja erat. "Siapa yang berani membuatmu seperti ini?!"
Air mata mulai menggenang di mata Yoeja, tapi ia menahannya, tidak ingin terlihat lebih lemah lagi. Indriana tidak menunggu jawaban. Dia sudah tahu siapa yang menjadi dalang dari semua ini. Dengan geram, dia meraih ponselnya dan segera menghubungi Mirza.
"Mirza! Kau bisa datang ke rumah sakit sekarang juga!" suaranya bergetar, namun jelas menunjukkan amarah yang memuncak.
Di seberang telepon, suara Mirza terdengar bingung. "Rumah sakit? Siapa yang sakit?"
"Kau masih berani bertanya?! Istrimu hampir kehilangan bayinya! Kau bahkan tidak ada di rumah saat dia membutuhkanmu!" bentak Indriana, suaranya nyaris pecah.
Hening sejenak di sisi sana. Mirza tampak terdiam, seolah terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.
Indriana melanjutkan dengan suara yang jauh lebih dingin, tegas, dan penuh ancaman, "Dengar baik-baik, Mirza. Aku sudah cukup sabar. Jika kau masih membiarkan w************n itu tinggal di rumahmu, aku pastikan kau akan kehilangan segalanya."
Telepon itu pun ditutup dengan kasar. Wajah Indriana masih tertekan, namun ia beralih menatap Yoeja dengan lebih lembut. "Kau tidak sendiri, Yoeja. Aku ada di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Di tempat lain, Mirza meletakkan ponselnya dengan tangan gemetar. Pikirannya kacau. Ia tahu betul bahwa oma Indriana tidak main-main. Jika dia terus membiarkan Chyntia tinggal di rumahnya, dia benar-benar bisa kehilangan lebih dari sekadar kendali atas rumah tangga dan usahanya.
Namun, sebelum ia sempat memikirkan langkah selanjutnya, ponselnya berbunyi lagi. Kali ini, dari manajemen pusat Hakim Corp. "Tuan Mirza, mohon perhatian Anda. Sesuai keputusan terbaru dari Nyonya Indriana, kami telah memutasikan Chyntia ke cabang di Berau. Tiket penerbangan dan akomodasi sudah disiapkan."
Mirza mengepalkan tangannya, mendengar kalimat yang keluar dari mulut pegawai itu. "Apa?! Siapa yang memberi perintah?" tanyanya dengan nada marah.
"Nyonya Indriana langsung. Semua sudah diproses, dan Chyntia harus segera berangkat besok pagi. Ini keputusan final." Pegawai itu menjawab dengan tegas.
Mirza merasa tubuhnya lemas. Matanya menatap Chyntia yang sedang duduk santai di sofa, tak menyadari apa yang terjadi. Indriana sudah mulai bergerak, dan jika dia tidak segera mengambil keputusan, dia akan kehilangan semuanya.
Namun, satu pertanyaan besar muncul dalam benaknya: ‘Apakah rencana oma Indriana benar-benar akan berhasil? Atau justru akan ada masalah yang lebih besar setelah ini?’
Yoeja terbangun, namun perasaan bingung dan sakit hati masih mencekam dirinya. Dia merasa terjebak dalam dunia yang penuh kebohongan dan pengkhianatan. Setiap kali matanya terpejam, wajah Mirza yang dingin dan acuh tak acuh terbayang jelas dalam pikirannya.
Dulu, perasaan hormat yang Yoeja miliki untuk pria itu kini hanya tinggal kepingan-kepingan hancur akibat serangkaian pengkhianatan yang tak pernah ia duga.
Indriana masih duduk di sisi ranjang, matanya terpejam seperti sedang berdoa. Ketika Yoeja menggerakkan tangannya, Indriana terbangun dan segera meraih tangan Yoeja dengan lembut.
"Yoeja, jangan khawatir," suara Indriana terdengar menenangkan, meski ada ketegangan yang terpendam di baliknya. "Kamu tidak sendiri. Aku akan membuat semua ini selesai."
Yoeja menatap Indriana dengan lemah. "Kenapa, Nyonya? Kenapa semua ini terjadi pada saya?" tanya Yoeja pelan, hampir seperti bisikan.
Indriana menghela napas berat, matanya penuh amarah yang terpendam. "Karena Mirza telah hilang dari jalurnya, dan aku tidak bisa diam saja. Kami sudah memberi terlalu banyak kesempatan padanya. Sekarang dia akan merasakan akibatnya."
Yoeja menunduk, merasakan kekosongan yang semakin dalam. ‘Apakah ini benar-benar yang ia inginkan?’
Pertarungan yang tiada akhir, konflik yang semakin rumit, dan keputusan besar yang harus diambil—untuk dirinya, bayinya, dan kebahagiaan yang tampaknya semakin jauh.
Di luar, langkah kaki terdengar mendekat. Pintu kamar terbuka perlahan, dan Mirza muncul. Wajahnya sulit dibaca, penuh keraguan. Ia tampak ragu, seperti baru saja diperintahkan untuk datang.
"Yoeja..." Suara Mirza terdengar lembut, namun rasa sakit yang ada dalam hatinya jelas terasa. Ia berjalan mendekat, namun tidak berani menyentuh Yoeja.
Sepertinya Mirza tahu betul bahwa saat ini, sentuhan atau kata-kata manis tidak akan bisa menyembuhkan semua luka yang telah ia buat.
Yoeja menatapnya dengan tajam, meskipun tubuhnya masih lemah. "Apa yang kamu inginkan, Mirza?" tanyanya, suaranya penuh beban dan rasa sakit.
Mirza mengangguk perlahan. "Aku... aku tahu ini semua salah. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku ingin memperbaiki semuanya, Yoeja."
Indriana berdiri dan melangkah mendekat dengan tatapan yang semakin tajam. "Perbaiki? Kamu pikir bisa memperbaiki semuanya setelah apa yang kamu lakukan padanya? Apakah kamu masih memiliki harga diri, Mirza? Atau semuanya sudah terlalu terlambat?" Suaranya semakin keras, penuh amarah.
Mirza terdiam, kata-kata Indriana seolah tamparan keras yang mengingatkannya pada kenyataan pahit yang selama ini ia coba hindari.
Yoeja menggenggam selimut di atas tubuhnya, menahan tangis. Rasa sakit di perutnya masih ada, tetapi kali ini rasa sakit itu lebih mendalam dari sekadar fisik.
"Saya tidak bisa melanjutkan seperti ini, Mirza," suaranya serak, hampir tidak terdengar. "Semua yang terjadi ini membuat saya merasa sangat kecil. Saya ingin... saya ingin melanjutkan hidup saya, tanpa ada yang mengendalikan saya lagi."
Mirza terdiam, tubuhnya terasa terpaku. Setiap kata Yoeja seperti pisau yang mengiris hatinya. "Tolong, Yoeja... jangan pergi." Suaranya terdengar hampir putus asa.
Indriana menyela dengan suara tegas. "Mirza, kau harus memilih sekarang. Kamu tidak bisa berada di antara dua wanita lagi. Ini bukan soal pilihan, ini soal harga diri dan tanggung jawab. Jika kamu masih merasa ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya, kamu harus membuktikannya. Dan itu dimulai dengan keputusanmu hari ini."
Mirza menghela napas berat, matanya mencari jawaban di mata Yoeja. Namun, Yoeja mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari tatapan penuh harapan itu.
"Keputusan apa yang harus aku ambil, Yoeja?" tanya Mirza, suara rendah, seperti sedang mencari cara untuk memperbaiki semuanya, namun juga tak tahu harus mulai dari mana.
Yoeja menatapnya, ada sedikit keteguhan dalam dirinya. "Keputusanmu sudah terlalu banyak menggores luka, Mirza. Saya butuh ketenangan. Saya akan tinggal di tempat lain dulu, saya perlu berpikir."
Mirza terdiam, seolah kata-kata Yoeja menamparnya dengan keras. Tanpa berkata lebih lanjut, Yoeja menoleh ke Indriana, yang kemudian menggenggam tangan Yoeja dengan erat.