19. Kembali ke Perlindungan

1106 Kata
"Ayo, Yoeja. Kita akan bicarakan ini lebih lanjut nanti, setelah kamu cukup kuat. Tapi hari ini, yang terpenting adalah dirimu sendiri," kata Indriana penuh tekad. Mirza hanya bisa berdiri terdiam, menatap kepergian Yoeja yang semakin jauh darinya. Sepertinya, kali ini, ia telah kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada yang ia sadari. Setelah keluar dari rumah sakit, Yoeja merasa tubuhnya masih lemah, meskipun rasa sakit di perutnya mulai mereda. Semua yang terjadi begitu cepat—perasaannya, keputusan yang harus diambil, dan perasaan kecewa yang terus menggerogoti hatinya. Namun, kini yang paling ia butuhkan adalah ketenangan. Indriana, yang tampaknya semakin tegas dalam membela dirinya, membawa Yoeja kembali ke rumahnya, tempat yang penuh rasa aman meskipun penuh dengan teka-teki yang tak kunjung selesai. Indriana menuntun Yoeja menuju ruang tamu rumah megahnya yang selalu terasa dingin dan asing. Rumah itu, meskipun nyaman, seperti menahan udara berat yang belum sempat dilepaskan. Yoeja duduk di sofa empuk yang berwarna gelap, wajahnya masih terlihat lelah. Indriana, yang sudah duduk di seberangnya, menatapnya dengan ekspresi penuh perhatian. "Aku ingin kamu beristirahat, Yoeja. Jangan pikirkan apa pun untuk sementara waktu," suara Indriana tegas, namun lembut, mengingatkan Yoeja untuk tidak berbuat apa-apa terlebih dahulu. Yoeja mengangguk perlahan, meski hatinya masih dipenuhi dengan pertanyaan yang belum terjawab. "Tapi Nyonya, saya—" suara Yoeja hampir terhenti, menahan air mata yang hampir pecah. Ia merasa begitu kosong, tapi juga terjebak dalam suatu dunia yang penuh dengan tekanan dan ekspektasi. "Jangan coba untuk menyelesaikan apa pun sekarang," potong Indriana, matanya tajam menatap Yoeja dengan penuh peringatan. "Ini bukan waktunya untuk melawan atau mengutak-atik masalah yang ada. Kamu akan lebih buruk kalau terus memaksakan diri." Yoeja merasa seperti sebuah mesin yang dipaksa berhenti, meskipun dia merasa tidak siap untuk menyerah. "Tapi saya harus... saya harus tahu apa yang akan terjadi, Nyonya." Indriana menghela napas, matanya melunak sedikit. "Kau ingin tahu apa yang terjadi? Baiklah, aku akan jujur padamu, tapi kamu harus ingat, ini bukan saatnya untuk bertindak gegabah. Sekarang, tubuhmu lebih penting daripada segala urusan yang lain. Dengar, Mirza, dia harus memilih. Kau sudah tahu itu. Dan jika dia tidak bisa memberikan jawaban yang tepat, maka kau harus melangkah ke arah yang berbeda. Aku akan membantumu, tapi kamu harus kuat." Yoeja menatap Indriana, merasa seolah-olah dirinya berada di persimpangan jalan yang penuh kebingungan. Indriana benar, dia tidak bisa berpikir jernih saat tubuhnya lemah seperti ini. Tapi entah kenapa, hatinya menuntutnya untuk melakukan lebih dari sekadar beristirahat. "Baiklah," jawab Yoeja akhirnya, suara terputus-putus. "Saya akan beristirahat... tapi saya tidak tahu seberapa lama saya bisa bertahan dengan perasaan seperti ini." Indriana tersenyum lembut, meskipun tetap ada kekuatan di dalamnya yang menenangkan. "Kamu akan kuat, Nak. Semuanya akan baik-baik saja, tapi kamu harus memberi waktu untuk dirimu sendiri." Beberapa hari berikutnya, Yoeja terbaring di kamar tamu rumah Indriana. Tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada telepon, tidak ada pengunjung, dan bahkan Mirza tidak pernah muncul lagi. Indriana, dengan tegas, memastikan bahwa Yoeja hanya berfokus pada pemulihan. Meskipun Yoeja merasa hampa, setidaknya ada rasa aman yang menyelimuti dirinya. Tidak ada lagi pertanyaan atau konflik yang harus dihadapi—semuanya terhenti untuk sementara. Namun, satu hal yang selalu mengganggu pikirannya adalah Mirza. Apa yang sebenarnya dia rasakan? Apakah dia benar-benar menyesal? Ataukah ini hanya kebohongan lagi? Tapi Yoeja tahu, saat ini bukanlah waktu untuk mencari jawaban itu. Tubuhnya yang lelah dan pikirannya yang kacau lebih membutuhkan istirahat. Di malam hari, ketika udara mulai sejuk dan Yoeja terbaring dalam keheningan, Indriana datang menemuinya. Wajahnya tampak lebih tenang, meski ada sesuatu yang tersembunyi di balik tatapannya. "Yoeja," suara Indriana terdengar penuh perhatian. "Kamu merasa lebih baik?" Yoeja mengangguk lemah, merasakan sedikit kelegaan di dalam dirinya. "Sedikit... terima kasih, nyonya. Tapi saya merasa bingung. Semua ini begitu berat." Indriana duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Yoeja dengan lembut. "Saya tahu ini tidak mudah, Nak. Aku juga pernah melalui hal-hal yang sulit. Tapi ingatlah, kamu tidak sendirian. Kita akan menghadapi ini bersama-sama." Kata-kata itu memberi sedikit rasa hangat di hati Yoeja. Meskipun begitu, perasaan itu tidak bisa menghapus semua kekhawatiran yang ada. Apa yang akan terjadi jika Mirza tidak bisa membuat keputusan yang tepat? Apa yang akan terjadi pada masa depannya, pada bayinya, dan pada dirinya sendiri? Indriana mengelus kepala Yoeja dengan lembut. "Tenang saja. Semua akan selesai dengan baik. Sekarang istirahatlah. Kita akan bicara lagi nanti." Yoeja menutup mata, berusaha mengalahkan kekosongan yang mengganggunya. Di luar sana, dunia masih berputar dengan caranya sendiri. Sementara itu, di dalam kamar ini, hanya ada dirinya dan Indriana—seorang wanita yang telah menjadi pelindungnya. Yoeja akhirnya tertidur, meskipun gelisah. Mimpi buruk menghantuinya, tetapi di saat yang sama, ada secercah harapan bahwa mungkin, hanya mungkin, dia bisa mulai kembali dari semua rasa sakit yang telah dia alami. Namun untuk saat ini, satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah beristirahat, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yoeja terbangun beberapa jam kemudian, terkejut karena merasa begitu tenang. Tidak ada suara yang mengganggu, hanya kesunyian malam yang menyelimuti ruangan. Pikirannya masih melayang, berkutat pada bayang-bayang kebingungannya. Tapi kali ini, ada rasa lega yang mengalir begitu saja, meski sangat kecil. Mungkin Indriana benar, dia harus memberi waktu untuk dirinya sendiri. Tidak perlu terburu-buru, tidak perlu terjebak dalam keputusan yang bisa merusak dirinya lebih jauh lagi. Namun, meskipun tubuhnya terasa lebih bugar, pikirannya tetap berputar, bertanya-tanya apa yang sebenarnya akan terjadi pada dirinya setelah semua ini. Bagaimana jika Mirza tidak bisa berubah? Bagaimana jika semua yang dia hadapi ini adalah permainan, dan dia hanya bagian dari kisah yang lebih besar dari sekadar hubungan yang rusak? Pintu kamar perlahan terbuka, dan Indriana muncul dengan senyum yang penuh harapan. "Bagaimana perasaanmu sekarang, Yoeja?" tanyanya, suaranya penuh perhatian. Yoeja hanya bisa mengangguk lemah. "Lebih baik," jawabnya pelan. "Tapi saya masih merasa tidak tahu harus bagaimana. Semua yang terjadi begitu membingungkan." Indriana duduk di samping ranjang Yoeja, matanya penuh pengertian. "Aku mengerti. Tapi kamu harus ingat, hidup ini bukanlah tentang apa yang sudah terjadi, tapi bagaimana kita melangkah maju. Jangan biarkan satu kesalahan mengendalikan seluruh hidupmu. Jika Mirza benar-benar mencintaimu, dia akan berusaha untuk memperbaiki semuanya. Tapi jika dia tidak bisa, kamu masih punya dirimu sendiri, dan itu sudah cukup untuk memulai kembali." Kata-kata itu menembus langsung ke hati Yoeja, membuatnya sedikit lebih tenang. Mungkin dia benar. Jika Mirza tidak bisa berubah, jika hubungan itu memang sudah selesai, maka Yoeja harus memikirkan kebahagiaannya sendiri. Dia memiliki kekuatan untuk memulai kembali, bahkan jika itu terasa sangat menakutkan. "Terima kasih, Oma," suara Yoeja terucap pelan, dengan ketulusan yang baru. "Saya akan mencoba untuk kuat." Indriana tersenyum, penuh kepastian. "Kamu sudah lebih kuat dari yang kamu kira, Yoeja. Sekarang, yang terpenting adalah kamu bisa menemukan kedamaian dalam dirimu sendiri. Dan aku akan selalu ada untuk mendukungmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN