20. Menata Hati yang Luka

1121 Kata
Hari-hari berlalu dengan lambat bagi Yoeja. Ia menghabiskan waktunya di rumah Indriana, mengikuti nasihat wanita itu untuk beristirahat. Namun, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Bayang-bayang masa lalu dan ketidakpastian masa depan terus menghantuinya. Setiap pagi, ia bangun dengan harapan akan ada kabar dari Mirza. Namun, setiap malam, ia tidur dengan kekecewaan yang sama. Pria itu benar-benar menghilang. Tidak ada pesan, tidak ada telepon. Seolah-olah Mirza telah menyerah dan memilih jalan yang berbeda. "Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Indriana suatu pagi saat mereka menikmati sarapan di teras belakang. Yoeja menyesap tehnya perlahan. "Lebih baik, Oma. Tapi tetap saja... saya merasa seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak pasti." Indriana menghela napas panjang, menatap gadis di depannya dengan penuh kasih. "Jangan menunggu sesuatu yang belum tentu datang, Yoeja. Hidupmu tidak bisa bergantung pada keputusan orang lain." Kata-kata itu menusuk tepat ke hati Yoeja. Ia tahu Indriana benar. Namun, hatinya masih belum siap menerima kenyataan sepenuhnya. "Aku hanya ingin tahu," gumamnya pelan. "Apakah Mirza benar-benar peduli? Ataukah aku hanya bagian dari permainan yang lebih besar?" Indriana tersenyum tipis, lalu menggenggam tangan Yoeja. "Aku tidak tahu, Yoeja. Tapi satu hal yang aku yakin, kau berhak mendapatkan seseorang yang bisa memperjuangkanmu. Jika Mirza adalah orang itu, dia akan datang dan membuktikannya. Jika tidak, kau harus siap melangkah tanpa menoleh ke belakang." Yoeja mengangguk pelan. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih kuat. Malam harinya, saat Yoeja bersiap untuk tidur, ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. Indriana masuk dengan wajah sedikit tegang. "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucapnya hati-hati. Yoeja menegakkan tubuhnya. "Siapa?" Indriana ragu sejenak sebelum menjawab, "Mirza." Jantung Yoeja berdegup lebih cepat. Tangannya mengepal di atas selimut. Apakah ia siap untuk ini? Setelah beberapa hari dalam ketidakpastian, sekarang pria itu muncul? "Apa yang harus aku lakukan, Oma?" tanyanya lirih. Indriana tersenyum lembut. "Itu tergantung padamu. Jika kau ingin bertemu dengannya, aku akan membawanya masuk. Jika tidak, aku bisa menyuruhnya pergi." Yoeja terdiam, pikirannya berputar dengan berbagai kemungkinan. Lalu, setelah menarik napas panjang, ia mengangguk. "Baiklah, biarkan dia masuk." Indriana keluar, dan beberapa menit kemudian, Mirza berdiri di ambang pintu. Wajahnya terlihat lebih tirus, matanya penuh dengan sesuatu yang sulit diartikan. Ia menatap Yoeja seakan ingin mengatakan banyak hal, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana. "Yoeja..." suaranya terdengar serak. Yoeja menelan ludah, berusaha menenangkan gejolak hatinya. "Apa yang kau lakukan di sini, Mirza?" Pria itu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Aku... aku ingin bicara denganmu. Aku tahu aku banyak salah. Aku tahu aku mungkin sudah kehilangan kesempatan untuk memperbaiki semuanya, tapi aku tidak bisa terus diam." Yoeja menggigit bibirnya, berusaha menahan emosinya. "Lalu, apa yang ingin kau katakan?" Mirza mendekat, lalu berlutut di depan tempat tidurnya. "Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah berniat menyakitimu. Aku bodoh. Aku pengecut. Aku membiarkan semuanya terjadi tanpa berusaha melindungimu. Tapi aku ingin berubah, Yoeja. Aku ingin memperbaiki semua kesalahan ini." Air mata menggenang di mata Yoeja. Bagian dari dirinya ingin mempercayai Mirza, tetapi bagian lainnya masih penuh luka. "Aku tidak bisa langsung percaya padamu, Mirza," ucapnya jujur. "Terlalu banyak yang terjadi. Terlalu banyak luka yang aku alami." Mirza menundukkan kepala. "Aku mengerti. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku ada di sini. Aku akan menunggumu, selama yang kau butuhkan." Yoeja menatapnya lama, lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah, Mirza. Jika kau benar-benar ingin memperbaiki semuanya, buktikanlah. Jangan hanya dengan kata-kata." Mirza mengangkat wajahnya, matanya penuh harapan. "Aku akan buktikan, Yoeja. Aku berjanji." Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Yoeja merasa sedikit lebih ringan. Ia tahu perjalanan ini masih panjang, tetapi setidaknya, ia telah mengambil langkah pertama menuju jawaban yang selama ini ia cari. Malam semakin larut, tetapi pikiran Yoeja masih berputar dengan begitu banyak pertanyaan. Mirza masih duduk di kursi dekat tempat tidurnya, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Apa yang kau rencanakan setelah ini, Mirza?" tanya Yoeja, suaranya sedikit bergetar. Mirza menghela napas berat sebelum menjawab, "Aku akan membuktikan semuanya, seperti yang kau minta. Aku tahu kata-kata saja tidak cukup. Aku tahu aku telah menyia-nyiakan kepercayaanmu, tapi aku tidak ingin menyerah." Yoeja menatapnya dalam-dalam, mencoba mencari kebenaran dalam sorot mata pria itu. Ia telah mendengar begitu banyak janji dari Mirza, tetapi apakah kali ini berbeda? "Aku tidak ingin berharap terlalu banyak," ucapnya jujur. "Aku sudah terlalu sering kecewa." Mirza mengangguk pelan. "Aku mengerti. Karena itu, aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku sekarang. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku benar-benar menyesali semuanya." Sejenak, hanya keheningan yang mengisi ruangan. Yoeja merasa lelah, tetapi juga enggan menutup mata. Ia takut bahwa jika ia tertidur, semua ini hanya akan menjadi mimpi. "Aku akan pergi sekarang," kata Mirza akhirnya. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja." Yoeja tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, membiarkan Mirza berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun, sebelum pria itu membuka pintu, ia berhenti dan berbalik menatapnya lagi. "Aku mencintaimu, Yoeja," ucapnya lirih. "Aku tahu aku telah gagal membuktikannya, tapi aku akan berusaha lebih baik." Lalu, tanpa menunggu jawaban, Mirza membuka pintu dan melangkah keluar. Saat pintu tertutup, Yoeja membiarkan dirinya menghela napas panjang. Ia tidak tahu apakah ia bisa percaya pada Mirza lagi, tetapi setidaknya, kali ini pria itu tidak pergi tanpa penjelasan. Yoeja mulai merasa lebih kuat. Meskipun luka di hatinya belum sepenuhnya sembuh, ia menyadari bahwa ia tidak bisa terus-menerus terperangkap dalam kebimbangan. Setiap pagi, ia mulai membiasakan diri untuk berjalan-jalan di halaman rumah Indriana. Udara segar membantu menenangkan pikirannya, meskipun bayangan masa lalunya masih sering menghantuinya. Indriana selalu ada di sisinya, memberikan dukungan tanpa mendesaknya untuk mengambil keputusan apa pun. "Kau terlihat lebih baik hari ini," komentar Indriana suatu pagi saat mereka duduk di teras belakang. Yoeja mengangguk. "Aku mencoba, Oma. Aku mencoba untuk tidak terus-menerus memikirkan hal-hal yang tidak bisa aku kendalikan." "Itu langkah yang baik," kata Indriana sambil tersenyum. "Tapi aku juga ingin kau tahu bahwa tidak apa-apa untuk merasa ragu atau takut. Yang penting adalah bagaimana kau menghadapinya." Yoeja menggenggam cangkir tehnya erat-erat. "Aku hanya ingin menemukan jawaban, Oma. Aku ingin tahu apakah aku benar-benar bisa mempercayai Mirza lagi atau tidak." Indriana menghela napas dan menatapnya lembut. "Hanya waktu yang bisa menjawabnya, Yoeja. Tapi ingatlah satu hal—kepercayaan bukanlah sesuatu yang diberikan begitu saja. Kepercayaan harus diperjuangkan dan dibuktikan." Yoeja menatap wanita itu dalam-dalam. Kata-katanya terasa begitu benar. Jika Mirza benar-benar ingin mendapatkan kembali kepercayaannya, maka ia harus melakukan lebih dari sekadar berkata-kata. Sementara itu, di tempat lain, Mirza berdiri di depan sebuah gedung tinggi. Matanya menatap lurus ke arah jendela lantai atas, di mana seseorang sedang menunggunya. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dan kali ini, ia akan memastikan bahwa Yoeja tidak perlu lagi meragukan niatnya. Mirza menghela napas, lalu melangkah masuk ke dalam gedung, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN