16

1081 Kata
Aire sudah kembali ke kantor setelah buru-buru meninggalkan lapangan. Untungnya, di kantor pun dia tidak menjumpai Sean. Sejak siang ke sore sampai Aire sudah selesai kerja, dia tidak melihat keberadaan Sean yang pernah 'iseng' berada di lantainya. Cewek itu merenggangkan tulang punggungnya, kemudian mendesah lega karena merasa peredaran darahnya terasa lancar kembali. Dia bereskan meja kerjanya setelah memasukkan beberapa lembar kertas kalkir ke dalam drafting tube untuk dibawa pulang. Kebetulan, Bila dan yang lain sudah pulang lebih dulu. Tinggal Aire yang ada disana karena terlalu serius mengerjakan desain lanskap untuk proyek lain. Setelah membereskan mejanya, cewek itu mendongak ke arah jendela. Pantas saja cahaya di dalam ruangan terasa lebih terang oleh lampu. Langit di luar sana sudah beranjak gelap rupanya. Aire cepat-cepat bergegas. Dia tidak berencana naik subway karena jam segini pasti sudah jarang yang beroperasi. Pilihan satu-satunya adalah pulang naik Gojek. Disampirkannya drafting tube di bahu kanan berikut tasnya, mematikan lampu kubikel, dan beranjak menuju lift dengan tangan kiri sibuk di ponsel. Bersiap memesan ojek online. "Oh, here you are. Naughty girl," ujar seseorang dengan nada dingin. Aire sontak mendongak, mendapati Sean sedang berdiri di dekat jendela dekat lift. Tangannya bersedekap angkuh dengan kaki disilang yang salah satu tumitnya bersandar pada dinding. "Pak--" Sean tersenyum miring. "Really-- such a naughty girl," bisiknya dengan penuh penekanan. Aire kesulitan menelan saliva. Satu-satunya pergerakan yang ia pikirkan untuk dilakukan secepat mungkin adalah menekan pintu lift agar tiba sesegera mungkin. Tapi, s**l*! Sean lebih cepat. Laki-laki itu sudah menangkap tangan Aire yang terulur, dan mendorong Aire sampai punggungnya menyentuh dinding marmer yang dingin. Ini benar-benar seperti reka ulang kejadian tadi pagi. Aire panik seketika. "Pak-- tolong..." Wajah Sean hanya sejengkal dari wajah Aire. Laki-laki itu menghirup aroma parfum di leher Aire, sebelum berbisik dengan suara yang masih sangat mengintimidasi, dan menakutkan, "Tolong apa, hm? Kantor sudah sepi, Aire." "Jangan gini--" Tidak Sean pedulikan. "Di lantai ini hanya ada saya dan kamu." "Pak--" Aire takut, berbisik dengan nada hampir menangis. Layaknya sebuah rengekan tidak berdaya. Yang membuat Sean justru makin mempersempit jaraknya dengan Aire. "Membuat saya seperti orang d***u karena kamu pergi begitu saja." Aire terkesiap saat Sean merapatkan tubuhnya. Apa itu?! Aire merasakan sesuatu menekan perutnya di bawah sana! Setengah menangis, wajah Aire justru merona. "It's not good, bunny." Sean berbisik tepat di telinga Aire. Hawa panas merambat ke telinga cewek itu, membuatnya merinding bukan main. "Mempermainkan saya seperti itu. You need to be punished, hm?" Aire nge-blank. "Saya-- mau dihukum apa, Pak?" Sean tersenyum. "Kamu maunya apa?" "Saya ngga mau dihukum." Agak merengek. Anehnya, rengekan itu menarik Sean untuk semakin merapatkan tubuhnya pada Aire. Dia menggerakkan pinggulnya sejenak, membuat sebuah desahan lolos begitu saja dari bibir Aire. Cewek itu sontak menutup mulut dengan salah satu tangannya yang bebas. Apa tadi?! Suara apa itu?! Aire tidak kenal. Tapi wajahnya merona lagi. Malu pada dirinya sendiri. Apa dia baru saja mendapat pelecehan dari atasannya?!! Sean tertawa kecil. Astaga! Bagaimana bisa Sean tertawa di saat seperti ini?! "Harus ada hukuman buat kamu," ujar Sean, tangannya yang bebas membelai lembut sisi wajah Aire. Kemudian menyampirkan helai rambutnya di belakang telinga. "Biar kamu jera dan tidak mempermainkan saya lagi." "Pak, maaf--" "Terlambat, Aire." Ya ampun, Aire ingin menangis saja rasanya. Dia takut dengan figur Sean yang tinggi besar dan sedang mengukungnya seperti ini. Dia juga takut dengan kondisi kantornya yang agak remang-remang di balik punggung Sean. Serius deh, kalau Sean mau mengapa-apakan Aire, sekarang saatnya. Memikirkan kemungkinan itu membuat Aire akhirnya meloloskan air mata. Dia menangis begitu saja. Yang tentu saja tidak Sean pedulikan. Siapa suruh nakal? "Saya-- ngga mau dihukum..." Aire meringkuk, sesenggukan. "Kamu tetap harus dihukum." "Saya... jangan diapa-apain, Pak. Please..." Sudut bibir Sean menahan senyum. "Memang diapa-apakan bagaimana?" "Pokoknya jangan, Pak." Aire. Bisa-bisanya semenggemaskan ini saat Sean sudah berpikir jauh untuk membuat Aire kapok dan menurut saja padanya. Anyway, Sean sudah membayangkan sedikit hukuman yang akan ia berikan untuk Aire si kelinci nakal Kemudian, karena Aire masih menangis, Sean raih Aire dan melingkarkan kedua lengan kokohnya di tubuh cewek itu. Memeluknya. "Saya ngga suka dibantah, Aire. Apalagi dibodohi," jelas Sean, menyandarkan dagunya di puncak kepala Aire. "Yang kamu lakukan tadi itu keterlaluan." "Maaf, Pak," cicit Aire. Merasa gamang saat sadar kalau dia ada dalam pelukan Sean. "Soalnya saya juga ngga suka kalau Pak Sean semena-mena kayak tadi." "Itulah gunanya kekusaan," gumam Sean. "Pak?" "Hm?" "Berarti saya dimaafkan, kan?" Diam. Sean tidak menyahut. Aire hanya bisa merasakan detak jantung Sean dan napasnya yang teratur. Seolah wajah dingin dan mengintimidasi tadi lenyap entah kemana. "Tapi kamu tetap saya hukum." Telak. Seolah Sean sudah mengetuk palu 3 kali. Keputusannya tidak berubah sekalipun Aire agak jinak-jinak merpati. Di pelukan Sean yang kokoh, Aire mengeluh. "Apa hukumannya, Pak?" "Saya pikirkan dulu," jawab Sean. "Dan selagi saya berpikir hukuman apa yang pantas buat kamu, jangan pernah sekalipun kamu membantah saya lagi, apalagi mempermainkan saya seperti tadi. Paham?" "Hm." Aire bergumam tidak ikhlas. "Jawab yang benar, Aire." "Iya, Pak." Mau tidak mau harus diiyakan. Asal hukumannya jangan yang iya-iya. "Terus saya juga punya permintaan, Pak." "Apa itu?" "Jangan sampai bikin orang lain punya spekulasi yang aneh-aneh soal saya dan Pak Sean." "Contohnya?" "Perkara lip cream saya yang jatuh tadi." "Itu kan kamu yang ceroboh." "Tapi orang kantor ngga akan tau kalau Pak Sean ngga bilang apa-apa ke yang lain." Aire akhirnya menyampaikan protesnya. Yang diangguki Sean tanpa suara. "Terus, Pak," Aire melanjutkan, "Kalau manggil saya jangan yang terlalu mencolok banget lah." "Itu tergantung kamu langsung datang ketika saya panggil atau ngga." "Ya tetep aja! Ngapain coba kemana-mana yang dicari saya?! Mana nyarinya harus lewat orang lain?!" Sean gerakkan tangannya di punggung Aire menjadi sebuah usapan lembut. "Terus kamu maunya gimana?" "Chat aja lah, biar yang lain ngga perlu mikir yang aneh-aneh." "Kamu sama saya kalau barengan itu ngga aneh, Aire." Sean kembali menegaskan. Biar bagaimana pun, egonya sangat tersentil karena cewek dalam pelukannya itu terang-terangan ogah didekati Sean. "Aneh. Ngga etis ada hubungan asmara sesama rekan kerja." Sean menaikkan sebelah alis. Asmara, katanya? "Kamu mau saya pecat aja atau gimana biar segalanya jadi etis menurut kamu?" "Ya ngga gitu juga kali, Pak!" Aire kembali nge-gas. "Pokoknya permintaan saya yang tadi itu harus disetujui." "Ya ya..." Lucu, bukan? Permintaan Aire justru terkesan seperti pasangan yang sedang backstreet. "Pak?" "Apalagi?" "Lepasin pelukannya." Sean bergumam enggan. "Saya udah terlanjur nyaman," katanya. "Mau nginap disini sama saya? Ada kamar pribadi--" "NO!!" Sean tertawa kecil. Aire melenguh. Kenapa lift dari basemen ke lantai 27 lama sekali sih?! Takutnya... dia juga terlanjur nyaman seperti ini. Hm. *** []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN