17

1389 Kata
"Ruang terbuka hijau sama pentingnya dengan oksigen, karena dari sanalah sumber kehidupan berasal. Kita tidak hanya menjaga kebersihan air untuk lingkungan, tapi juga menjaga agar bumi dan manusia dapat bernapas dengan lebih baik." Aire menarik napas, kemudian melanjutkan kembali, "Dan berikut adalah desain lanskap yang sudah saya siapkan untuk proyek ruang terbuka hijau di daerah Jakarta Utara. Adapun segala informasi geografis di lahan yang bersangkutan sudah saya gambarkan secara rinci di map yang ada di hadapan Bapak dan Ibu... " Presentasi itu berlangsung lebih dari 2 jam. Dimana Aire berusaha meyakinkan para atasannya bahwa desain lanskap yang ia rancang bersama tim-nya sudah dibuat melalui proses yang panjang. Sehingga keputusan matang. Dan berharap proses dari presentasi sampai eksekusi tidak menemui aral melintang. Setelah melalui diskusi dan menjawab pertanyaan yang cukup menantang, meeting kali itu selesai. Desain diterima. Dan Aire bersama tim-nya akan segera melakukan eksekusi lebih lanjut sekaligus mengadakan beberapa pertemuan lagi dengan klien. Selanjutnya, proposal berisi rincian biaya yang diperlukan akan segera dibuat. Meeting lagi. Lantas bisa segera bertindak di lapangan. Sebagai seseorang yang presentasinya di-acc alias diterima, Aire merasa lemas. Seluruh sendinya seperti berteriak minta diistirahatkan setelah beberapa hari begadang mengejar target. Maklum, perusahaan swasta. Karyawannya dituntut proaktif dan gesit mengejar target. Semakin bagus prospeknya untuk perusahaan, semakin dihargai pula disana. Bonus juga bisa turun lebih cepat. Usai para petinggi hengkang dari ruang meeting, barulah Aire duduk di kursinya seraya mengerang. Lega. Berarti dia tidak perlu merevisi desain. Arjuna yang juga masih ada disana terkekeh. Dia menyodorkan kepalan tangannya pada Aire : tos. Di ruang meeting itu, hanya tinggal Aire dan Arjuna. "Bagus," pujinya santai. "Ngga sia-sia gue usahain lo masuk sini." Aire nyengir. "Iya dong." "Berhubung ini awalan yang bagus, berarti nanti malam anak-anak divisi jadi keroyokan ke Hanamasa," kata Arjuna. "Lo yang umumin ke anak-anak. Gue sibuk. Habis ini langsung cabut." "Siap, bos." Wah, dengan senang hati Aire membawa kabar gembira ini ke kubikel lantai 27. Kalau presentasi mereka berhasil lolos, biasanya Arjuna suka traktiran sebagai bentuk support untuk divisi yang dia pimpin. Omong-omong waktu rapat tadi, Aire tidak melihat Sean. Tapi bagus lah, dia bisa fokus kerja kalau begitu. Langkahnya ringan kembali ke kubikel sambil memeluk map tebal berisi bahan presentasi. Kemudian ketika tiba disana, Bila dan yang lain sudah menunggu. "Gimana? Lolos?" Aire mengangguk. "Nanti malam kita keroyokan ke Hanamasa. Traktirannya Pak Arjuna." Kubikelnya langsung ramai oleh sorak-sorakan dan tepuk tangan. Aire menaruh berkasnya di meja dan merenggangkan punggung. Dia meraih ponsel kemudian berujar pada teman-temannya, "Aku mau ke kantin. Ada yang mau kopi?" Dan mereka segera berebut menyebutkan pesanan. *** "Es Americano 3, Caramel Macchiato 4, sama Frappuccino 1. Semua ukuran L." Aire menyebutkan pesanan yang dia tulis di notes ponselnya. Petugas kasir yang sudah akrab dengannya itu segera membuat pesanan. "Totalnya 186 ribu." "Oke." Aire mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Aku bayar pakai Ovo." "Oh, oke." Kemudian urusan bayar-membayar selesai. Struk dicetak. Sebelum menyerahkan struk pembayaran pada Aire, petugas kasir yang bernama Amanda itu nyengir pada Aire, "Kayaknya lagi seneng, mbak?" Aire tersenyum lebar, mengangguk. "Hu'um. Tadi habis lolos presentasi." "Wiihh, selamat ya, mbak." "Makasih, Manda. Doain ya mudah-mudahan proses seterusnya lancar." "Pasti dong, mbak." Amanda mengacungkan jempolnya, kemudian menyerahkan struk Aire sambil melanjutkan, "Soalnya kalo lagi seneng gini suka pada traktiran." Aire terkekeh. Iya, sepertinya traktiran sudah jadi budaya di kantor. Terutama di divisinya. Soalnya gaji mereka juga jauh di atas rata-rata. Jadi mau traktiran sana-sini pun oke saja. Sama seperti proyek sebelumnya. Proyek yang lanskapnya hasil desain tim Aire dan dia kebagian presentasi juga. Desainnya lolos. Dan dia juga traktiran seperti ini. Kemudian malamnya giliran Arjuna. Ah iya, proyek sebelum ini yang dimaksud Aire adalah proyek dimana Sean juga turun tangan. Sadar bahwa dia baru saja memikirkan Sean, Aire mengerjap. Menggeleng samar. Tidak, harusnya laki-laki itu tidak ikutan menyusup ke benaknya. Bahaya. Dia lantas segera mencari sofa kosong untuk menunggu selagi pesanannya dibuat. Duduk di sudut yang agak tersembunyi dari pintu masuk kafetaria, Aire menghenyakkan diri setelah meraih sebuah majalah untuk dibaca. Itu majalah bisnis dengan sampul bergambar gedung kantor tinggi menjulang tempatnya berada. Di sisinya, ada beberapa foto para direksi yang mengisi kolom wawancara di majalah edisi bulan lalu itu. Salah satunya, wajah Sean terpampang disana. Dalam hati Aire merutuk. Kenapa rasanya Sean ada dimana-mana sih?! Sebelum hari Senin lalu dimana dia mengenal Sean pertama kali, rasanya dia tidak terlalu memperhatikan siapa itu Sean-sean Abraham dan seperti apa penampakannya. Dia hanya fokus kerja dan bersenang-senang setiap akhir pekan. "Beneran itu Pak Sean?" "Iya." "Pak Sean Abraham?" "Siapa lagi?!!" Nah kan, sekarang Aire mendengar seseorang yang baru masuk kafetaria malah sedang membicarakan Sean. Aire menoleh sekilas, memastikan siapa 2 karyawan yang sekarang duduk di mini bar dan sedang memperbincangkan Sean Abraham. Oh, Aire tidak kenal. Berarti mereka karyawan dari lantai lain. "Ngga mungkin ah." "Terus menurut lo itu punya siapa? Ya kali Pak Sean mau-maunya bawain barangnya orang lain? Dia itu bos, bukan ajudan." "Tapi tetep aja, Pak Sean loh ini. Ngapain coba beliau bawa kotak hadiah ke kantor?!" "Mana gue tau, buat monyetnya kali." "Menurut lo ada yang jadi inceran Pak Sean disini?" "Mungkin..." Uh, gosip macam apa itu? Aire tutup lagi majalahnya, bertepatan dengan itu Amanda memanggilnya, "Aire Senjakala?" Aire segera beranjak menuju kasir, menerima jinjingan 2 karton berisi 8 cup kopi untuk teman-temannya. Sesaat, perghibahan 2 karyawan beda lantai itu terjeda sejenak, mereka juga memesan minuman tanpa memperhatikan Aire yang sudah menjauh. Cewek itu kembali ke lift. Dengan susah payah menekan tombol menggunakan siku. Tau begini dia mengajak Bila saja biar tidak kerepotan. Habisnya lupa. Gara-gara tergesa ingin segera memenuhi tubuh dengan asupan kafein. Aire kemudian tiba di lantai 27, meninggalkan lift dan hendak berbelok memasuki ruangan kubikel saat dia lagi-lagi mendengar nama Sean. Tapi kali ini, pembicaraan itu ikut melibatkan namanya. "Ngga mungkin deh Pak Sean yang ngirim hadiah buat Aire." "Mungkin aja. Lo ngga liat gimana Pak Sean kalau lagi ngeliat Aire?" "Gimana emang?" "Kayak yang... gimana ya, lo ngerti ngga sih orang lagi menargetkan sesuatu, terus targetnya ada di depan mata?" "Terus kalian inget kan waktu Pak Sean mojokin Aire di dekat lift kemarin?" "Yoi. Posisinya mana kane banget." "Dunia serasa milik berdua." "Terus kemarin lip cream Aire ketinggalan di mobil Pak Sean. Menurut lo kenapa bisa begitu kalau bukan karena mereka habis ngapa-ngapain?" "Eh, kok serem?" "Menurut lo presentasi Aire lolos apa karena ada campur tangan Pak Sean?" "Ngga deh kayaknya, kan Pak Sean ngga ada." Kasak-kusuk itu masih berlanjut menjadi sebuah spekulasi yang makin dibicarakan, kok makin panas ya? Aire jadi rikuh. Rupanya, mereka bukan hanya berpikir kalau ada hubungan asmara di antara dia dan Sean. Tapi lebih seperti... Aire 'menukar' tubuhnya dengan posisi kerja yang bagus seperti sekarang. Tentu saja itu tidak benar. Siapapun tau Aire mengawali karirnya dari bawah, dari yang hanya mahasiswa magang sampai karyawan magang, lalu jadi karyawan tetap. Dari yang tadinya asisten arsitek senior, menjadi chief architect. Memang termasuk cepat, tapi itu murni prestasi kok. Sadar bahwa dia sudah cukup lama berdiri di balik dinding, Aire kemudian melangkah masuk. Memutus sesi kasak-kusuk yang terjadi di belakangnya itu. Seketika, suasana terkesan ceria kembali seperti sebelumnya. Aire menaruh 2 karton kopi pesanan itu di meja hias dekat mesin printer. "Kopinya kalian ambil sendiri ya." "Oke." "Thank you, Cantik." Dan ketika Aire tiba di mejanya, dia melihat itu. Kotak hadiah berukuran besar. Warna hitam dengan pita satin warna merah. Dibukanya tutup kotak itu dan mendapati ada sebuah wadah kaca berisi tanah dan sejumlah tanaman kaktus yang diposisikan dengan sedemikian rupa sehingga orang akan bilang : ini estetik! Well, hadiah itu adalah kerajinan terarium yang terkenal di antara arsitek lanskap seperti Aire. Lucunya, Aire seperti mengenal kaktus yang ada dalam wadah kaca itu. Kaktus yang dibeli Sean waktu mereka ke Bogor. "Itu dari siapa sih, Re?" Sebuah suara bertanya penasaran, mewakilkan yang lain. Aire tersenyum kaku, menggeleng. "Ngga ada nama pengirimnya. Yang naruh disini siapa emang?" "Pak Arjuna." Oh, kalau Arjuna memang tidak mungkin memberi hadiah semacam itu. Aire duduk di bangkunya, masih menatap isi kotak hadiah itu dengan sangsi. Tidak mungkin ini seperti yang dipikirkannya kan? Tapi kemudian sebuah pesan masuk. Menjawab pertanyaan Aire sekaligus membantah ketidak mungkinan yang menjadi harapan dalam benak cewek itu. Pesan dari Sean. 'Saya dengar presentasi kamu lolos. Selamat. Saya kirim sesuatu buat kamu. Harus dijaga baik-baik. Itu kesayangan saya.' Aire seketika lemas. Apa-apaan Sean ini?! Bisa tidak sih dia melebur saja jadi jeli? *** []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN