18

1268 Kata
Aire menerima suapan daging dibungkus daun selada dari Bila. Mulutnya penuh oleh suapan besar itu, mengunyahnya perlahan selagi Bila juga menyuapi Cila yang duduk di sebelah kanannya. Oh, mereka bersenang-senang malam itu, merayakan lolosnya presentasi dengan harapan proses ke depannya bakal lebih mudah. Lupakan soal kasak-kusuk yang terjadi di belakang Aire. Malam ini inginnya Aire acuh dan fokus pada grill yang ada di depan mata. Tapi sekali lagi, Sean tampaknya tidak membiarkan Aire melupakan laki-laki itu. Notifikasi pesan masuk itu buktinya. Dari Sean, yang pesannya tidak Aire balas sejak mengirim sederet ucapan selamat tadi siang. 'Kamu dimana? Ikut saya makan malam.' Tentu saja tidak Aire balas. Dia abaikan ponselnya sejenak karena sepotong daging yang baru matang mendarat di piringnya. Daging itu enak. Lembut dan tidak alot. Sangat pas dinikmati di momen seperti ini. Kemudian ada pesan susulan dari Sean, 'Kenapa hanya di-read?!' Duh, Sean itu apa-apaan sih? Sebegitunya sama Aire. Kepada yang lain jelas tidak begitu karena kalau iya, pasti sudah ada gosip yang Aire dengar kan? Berarti, bisa jadi baru Aire yang dapat pesan sebegininya dari Sean? Yang sayangnya, terkesan agresif. Iya, Aire simpulkan begitu berhubung Sean sangat menuntut untuk diperhatikan. Ah, Aire tidak tau. Dia abaikan kembali pesan itu dengan mematikan jaringan ponselnya. Usai makan malam hasil traktiran Arjuna, Bila berbaik hati mengantar Aire pulang ke kosannya. Lantas dengan motor maticnya itu, Bila hengkang. Meninggalkan Aire yang hendak memasuki gerbang kosnya. Saat sudah larut begini, wilayah kosan eksklusif itu terlihat lelang. Memang tidak ada jam malam disana berhubung tempatnya dikhususkan untuk karyawan perempuan, yang kerapkali mendapat jam lembur dari kantor. "Aire." Sebuah suara memanggilnya. Aire menoleh, menemukan pemuda yang sudah semingguan ini dia hindari. Bahkan ia blokir nomor dan segala akses media sosialnya. Nama : Tristan. Status : mantan. Kasus : gagal melupakan. "Oh. Kenapa, Tris?" Aire bertanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antara. "Aku mau bicara sebentar aja, bisa?" "Sori banget ya, aku ngga bisa. Tau sendiri aku baru pulang kerja kan, capek banget." Aire berkilah, padahal hanya dalih. Habisnya lelah gara-gara dengar alasan selingkuh yang itu lagi-itu lagi. "Kalau gitu kita ngomong lewat telepon aja ya? Please, tapi tolong buka blokiran nomor aku." "Gimana ya," Aire tampak berpikir serius, walau sebenarnya tidak serius-serius amat. Dia kan sedang kekenyangan, mana bisa berpikir. "Beberapa nomor memang perlu diblokir, Tris. Apalagi yang udah mengganggu banget." Menyindir Tristan. Dan orangnya tersindir. Tristan tersenyum getir. "Kamu masih nyalahin aku gara-gara aku selingkuh?" Ya terus Aire mau menyalahkan siapa? Dirinya sendiri? Yakali! "Aku kayak gini kan karena kamu sibuk kerja. Ngga ada waktu buat aku. Kamu juga sering pergi sama cowok lain." Seriously? Mulai deh. Tristan itu suka playing victim. Aire pikir sifat itu dulu menggemaskan karena Tristan jadi terkesan lembut. Tapi kok ya lama-lama bikin ilfeel. Kalau ada apa-apa, Tristan selalu memposisikan diri sebagai korban. Padahal dia yang melakukan. Dia yang ambil keputusan. Untungnya, hubungan itu berjalan baru 2 bulan saja. Hebatnya, dalam 2 bulan itu, Tristan sudah selingkuh 3 kali. Untungnya lagi, Aire tidak menaruh perasaannya terlalu dalam. Jadi begitu Tristan selingkuh pertama kali, Aire masih oke-oke saja waktu memberi kesempatan kedua. Tapi ternyata Tristan selingkuh lagi. Otomatis Aire minta putus. Karena Tristan tidak mau, jadi mereka break. Di tengah proses break, Tristan malah jalan dengan cewek lain yang otomatis jadi perselingkuhannya yang ketiga. Jadi... Aire mana mau kasih kesempatan lagi. Bhayy!! "Gini ya, Tris. Kalau kamu mau punya hubungan sama perempuan yang selalu ada buat kamu, kenapa ngga cari baby sitter aja? Atau pacaran sama cewek yang emang dia nganggur?" "Re, please, masa kamu ngomong kayak gitu sih?" Aire bengong. "Ya terus aku harus gimana?" "Kita balikan lagi yuk?" Dih?! "Sori banget ya, dari kamu sendiri juga ngga ada tekad apa-apa buat memperbaiki diri. Jadi bukan ngga mungkin yang lalu-lalu bakal terulang." "Kasih aku kesempatan lagi ya, Re." Uh, maaf ya, begini-begini maafnya Aire itu mahal. Cewek itu menggeleng. "Mending kamu pulang deh--" "Ngga! Aku ngga bakal pulang!" tekad Tristan. "Aku bakal nungguin kamu disini sampai kamu kasih aku kesempatan lagi." Tristan betul-betul cari masalah. Aire menutup pintu pagar dan menguncinya, tersenyum pada Tristan sembari melambaikan tangan. "Ya udah terserah kamu, dah!" Langkahnya segera menuju kamar kos, buru-buru meninggalkan Tristan sebelum cowok itu berteriak memanggilnya dan kembali membuat Aire dalam masalah. Tiba di kamarnya, Aire langsung menyalakan AC dan mengunci pintu. Dilepasnya alas kaki, tas, dan kemeja kerja hingga menyisakan tank top putih. Dia berkaca, mematut dirinya dalam kebingungan. Apa yang salah dengan dirinya? Atau... ada apa dengan laki-laki? Dari jaman dia kuliah, semua laki-laki yang mendekati Aire awalnya manis. Kemudian naik level jadi posesif, dan makin lama malah jadi agresif, yang membuat Aire jadi ogah didekati. Maksudnya, bisa tidak sih mereka melakukan pendekatan yang membuat Aire merasa 'setara'? Para laki-laki itu... mereka tidak harus menunjukkan sikap dominan sampai sebegitunya kan? Dulu, alasan yang membuat Aire menerima Tristan adalah, karena laki-laki yang pernah jadi seniornya di kampus itu adalah sosok yang manis dan perhatian. Tampang good looking. Dompet bisa diandalkan buat jajan sana-sini. Buat cewek seumuran Aire dan berpemikiran seperti Aire, siapa sih yang tidak mau? Lagi pula karena sempat stres karena tekanan pekerjaan, dia juga tidak pikir panjang waktu menerima Tristan. *** Hari Jum'at. Aire bangun dengan perasaan ringan. Menjelang akhir pekan seperti ini, pekerjaan bisa lebih santai. Usai membereskan kasurnya, dia bergegas mandi. Bersiap dengan pakaian kerjanya berupa : celana jeans hitam, blouse coklat muda yang kerahnya lebar dan cantik serta lengan berbentuk balon. Dia menjepit poninya ke samping dengan sebuah jepit hitam polos. Terakhir, flat shoes dari Sean. Uh, sepertinya Aire harus beli flat shoes sendiri biar dia tidak terus-terusan ingat Sean. Oke, nanti pulang kerja dia bakal belanja. Sentuhan terakhir, parfum wild rose dari Avril Lavigne yang feminin dan segar. Sekali lagi dia bercermin. Penampilannya hari ini lebih seperti mahasiswa yang sudah lulus sidang dan siap wisuda. Segar dan paripurna. Senyumnya juga cerah menyambut akhir pekan. Yang sayangnya, senyum itu luntur sesaat kemudian karena melihat apa yang tidak ingin dilihat. Tristan. Masih duduk di undakan anak tangga terbawah yang menghubungkan jalan dengan pagar kecil kosannya. Pintu pagar berderit dibuka. Tristan menoleh, langsung berdiri begitu melihat Aire disana. Menatapnya prihatin. "Udah bisa bicara sama aku?" "Ngga bisa, Tristan." Aire berusaha sabar. "Ngga bisa sampai kapan pun. Udah ya? Selesai sampai disini." Aire melangkah lebih dulu melewati Tristan, tapi cowok itu sudah mencengkeram tangan Aire dengan kasar dan menatapnya marah. "Kamu tuh egois dan keras kepala banget ya--" BUGH!!! Uh. Oh. Cekalan Tristan di tangan Aire terlepas, menyusul tubuhnya yang terhempas nyaris masuk parit saat sebuah tinjuan mendarat di wajah yang dia agungkan itu. Tinjuan itu sendiri bukan main kekuatannya. Sampai membuat Tristan agak terhempas. Aire melotot ngeri melihat Sean mengeluarkan kekuatan sebesar itu. Iya, direktur utama Imperio Group pelakunya. "Pak-- udah." Aduh, kenapa dia selalu tergeragap sih? Aire berusaha sekuat tenaga menarik lengan Sean saat laki-laki itu hendak menghampiri Tristan yang sudah tersungkur. "Jangan, Pak. Nanti kena kasus," bisik Aire takut. Menyadari kekuatan Sean bahkan ketika Aire hanya menahan lengannya saja membuat cewek itu merasa kerdil. Pantas saja... Sean tidak masalah waktu menggendong Aire sehari 2 kali. Memang bukan levelnya. Sean berbalik, langsung meraih pinggang Aire dan mengarahkannya ke mobil Sean di seberang jalan. Mengabaikan beberapa pasang mata yang menatap penasaran. Aire berjalan dengan menunduk, sampai Sean membukakan pintu untuknya. Dan mereka sudah duduk di bangku masing-masing. Sean meraih pergelangan tangan Aire yang tadi dicekal Tristan, memeriksanya. "Sakit?" Aire menggeleng. Sean mengangguk. Mulai melajukan mobil usai memasang sabuk pengaman. "Pak Sean... kok datangnya bisa pas?" Mirip adegan di film-film begitu maksud Aire. Yang Sean balas tanpa ekspresi, "Kamu ngga pernah dengar idiom kalau jodoh itu memang datang di waktu yang tepat?" *** []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN