19

1320 Kata
"Kenapa mantan kamu sampai seperti orang ngga waras begitu?" Sean bertanya datar, seperti sedang menginterogasi hasil presentasi karyawannya. "Mau apa dia?" "Eh- Tristan minta balikkan, Pak." "Saya ngga tanya namanya." Aire meringis. "Orang kayak gitu jangan sampai diterima lagi. Kalau sudah buntu akalnya, kamu lihat kan? Dia bisa pakai k*******n. Tangan kamu hampir terkilir. Padahal kalian ada di tempat umum. Gimana kalau sepi? Dia juga kayaknya asal nekad. Semaleman ngotot nunggu disana? Cih!" Aire masih diam. Simak saja dulu. "Laki-laki kalau sudah pakai k*******n sama perempuan, bakal sulit berubah. Itu bukan karena reflek. Tapi karena dari pola pikirnya sudah tertanam bahwa perempuan itu makhluk lemah yang bisa mereka perlakukan sesuka hati." Rupanya Sean masih melanjutkan petuahnya, kemudian melirik Aire yang diam saja, "Paham sampai disini?" "Iya, Pak." Eh? Tumben Sean bicara panjang lebar? Padahal kalau urusan pekerjaan pun bicaranya singkat dan lugas. Bukan tipe-tipe yang memberi wejangan seperti saat ini. Tapi omong-omong soal kekerasan... Aire jadi ingat sesuatu. Apa kabar dengan Sean sendiri? Memang dia tidak pakai k*******n. Tapi, apa ya... mencuri ciuman pertama waktu tidur itu masuk kategori apa? Terus, yang Sean menempelkan tubuh mereka di lift itu apa? APA?! Sean berdehem, kembali ke mode direkturnya. "Jadi sekarang kamu single kan?" "Iya, Pak." Jawaban itu seperti sudah otomatis keluar dari mulut Aire. Sean mengangguk, bergumam, "Baguslah," yang membuat Aire sibuk berpikir. Memang kenapa kalau Aire sekarang single? Mau mengisi kekosongan di hati? Oh, sebaiknya jangan. Karena... "Ada yang kamu suka?" "Ada." Aire mengangguk pelan. Memang ada yang dia suka. Oh, kalau yang satu ini malah bukan sekedar suka. "Kamu baru putus dari mantan kamu dan sudah ada yang kamu suka?" Ada nada julid dalam suara Sean. Laki-laki itu melirik Aire sinis. "Saya suka dia jauh sebelum kenal Tristan, Pak." "Terus kenapa kamu terima mantan kamu kalau gitu?" "Yaaa, pengen aja." Lagi pula buat apa coba Sean tanya-tanya? Ini urusan pribadi lho ya. "Siapa orang itu?" "Cinta pertama saya." Sean mendenguskan tawa kecil, terdengar mencibir yang membuat Aire keki. Apa coba? Kenapa tanya-tanya? "Siapa sih namanya? Orang mana? Karyawan Imperio juga? Jangan-jangan masih bau kencur kayak mantan kamu itu." "Pak--" "Saya tanya, Aire." Uh! Memang Sean itu tidak menggunakan k*******n seperti Tristan. Tapi dia menggunakan kekuasaan. Apa bedanya? Cemberut, Aire menyahut, "Saya lupa namanya. Dulu tetangga, tapi habis itu orangnya pindah. Dan dia bukan yang masih bau kencur kayak Tristan." Sean lagi-lagi mencibirnya. "Itu bukan cinta pertama. Tapi cinta monyet." Aire mendelik tidak terima. Sean sendiri masih mengemudi dengan santai. Aire lanjutkan membela harga diri sang cinta pertama yang diremehkan bosnya, "Tapi dia patokan kriteria saya kalau nyari suami." "Seperti apa orangnya?" "Baik," jawab Aire pelan. "Orangnya tinggi dan pintar. Habis itu... selalu jagain saya." "Itu aja?" Aire bergumam pelan. Enggan menyahut. Ya memang orangnya baik. Sayangnya Aire lupa nama, apalagi rupa. Hanya saja, dia masih ingat bentuk kenangannya seperti apa. Yang kemudian membuat Sean lagi-lagi menertawainya. "Nama aja lupa, segala jadiin dia patokan kriteria suami idaman." Kalau seperti drama Korea yang judulnya Yumi's Cells, seluruh sel-sel di dalam tubuh Aire pasti sudah berasap telinga saking gerahnya ditertawakan Sean. Habisnya, laki-laki itu punya masalah hidup apa coba? "Pak?" "Hm?" "Bapak punya masalah apa sih? Sinis banget soal siapa yang saya jadiin kriteria. Lagian hidup juga hidup saya. Terserah saya mau suka sama siapa." Sean mengangguk. "Memang kenapa? Toh juga saya ngga ngelarang kamu suka siapa." Sial*! Benar juga. "Lagian kamu lupa ya?" Sean melirik Aire yang duduk manis dan wajah cemberut di sebelahnya. Sebelah alisnya naik, seolah Aire melupakan hal penting dan malah menganggapnya sepele. "Waktu di Bogor, saya udah bilang kalau saya ingin kenal kamu lebih dekat." Aire tercekat. Oh, dia ingat yang waktu itu. Ya sudah, harusnya ingat saja. Jantungnya tidak perlu ikut-ikutan dengan cara berdetak lebih cepat kan? Mendadak dia salah tingkah. Maksudnya, ingin menolak niat Sean yang ingin kenal Aire lebih dekat. Sebab jatuhnya dia jadi risih karena merasa Sean masuk terlalu jauh dalam hidupnya. Ditambah memanfaatkan otoritasnya untuk menyuruh Aire ini-itu yang di luar job desc-nya. "Pak--" "Saya serius sama kamu, Aire." Wajah Aire antara pucat pasi dan memerah. "Ap-apanya... yang serius, Pak?" "Serius ingin kenal kamu lebih dekat lah." "Uhm," Aire basahi bibirnya yang terasa kering, kemudian menelan saliva karena kerongkongannya terasa sekering gurun Sahara. "Biar apa?" "Biar saya tau kapan saya bisa bawa kamu ke hubungan yang lebih dari sekedar direktur dan karyawan." Hah? Aire nge-lag, saudara-saudara. *** "Pak, saya turun disini aja." Aire request saat mobil yang ditumpanginya hampir sampai kantor. Ada halte di depan yang biasa jadi tempat pemberhentian subway terdekat. Tapi Sean sama sekali tidak memperlambat kecepatan, atau pun mengambil lajur kiri. Mobil tetap di tengah. "P-pak--" "Kamu yakin mau turun di halte?" "Iya." Tentu saja! Aire masih dalam episode kecanggungannya gara-gara masalah hubungan yang disinggung Sean tadi. Jadi tidak mungkin dia naik lift yang sama dengan Sean dan orang-orang mungkin bakal mendapati kalau dia berangkat bersama Sean lagi kan? "Kalau kamu turun di halte, mobil saya bakal jalan di sebelah kamu sampai kamu tiba di kantor dengan selamat." "Lho, Pak?!" Aire panik. Hal itu malah makin aneh. "Ngga bisa gitu." "Kamu yang ngga bisa gitu," sela Sean. "Gimana kalau mantan kamu nekad nyusul sampai sini? Itu bahaya." "Ngga mungkin." "Ngga ada yang ngga mungkin," tegas Sean lagi. "Oke, berarti kita sampai kantor." Ya salam! Tamat sudah. Aire menghela napas pasrah, punggungnya bersandar lemas ke sandaran berlapis kulit mahal itu. Waktu mobil Sean melewati portal dimana seorang satpam yang juga Aire kenal menyapa, cewek itu menyembunyikan wajah dengan tasnya. Kurang ajarnya, Sean malah menghentikan mobil dan membuka kaca jendela. Membuat satpam bernama Adi itu menunduk untuk bicara dengan lebih sopan. "Ada apa, Pak?" "Bulan lalu saya dengar ada orang asing masuk kantor dan bikin ricuh admin depan?" Sean bertanya, tapi tidak sepenuhnya bertanya. Dia hanya butuh konfirmasi untuk memastikan Adi memahami apa yang akan dia bicarakan selanjutnya. "Betul, Pak." "Saya minta keamanan ditingkatkan lagi. Jangan sampai ada kejadian serupa yang bikin resah karyawan." "Siap laksanakan!" Sean mengangguk. Menutup kaca jendela dan kembali melajukan mobilnya. Sekilas melirik Aire yang seperti sudah menyatu dengan sandaran bangkunya. Melesak jadi satu untuk bersembunyi dengan wajah berpaling ke samping. Tapi tetap saja, gesturnya makin membuat Adi sempat melirik penasaran. Siapa perempuan sekantor yang berangkat bersama Pak Sean Abraham yang terhormat? Duduk di sampingnya seolah sosok yang istimewa? Dan tampaknya memang diistimewakan oleh orang nomor satu Imperio Group itu. Mobil yang dikendarai Sean menurun memasuki area basemen. Dia kembali melirik Aire yang masih melesak. Lucu. "Mau sampai kapan sembunyi kayak gitu? Malah aneh keliatannya." "Kalau ngga gini, malah keliatan dari luar kalau ini saya," jawab Aire kesal. "Aire Senjakala yang berangkat ke kantor bersama Pak Sean Abraham, lagi." Seolah sedang membaca judul majalah gosip imajiner dalam benaknya. "Ya sudah. Besok saya ganti mobil pakai kaca yang gelap." "Ngga bisa gitu, Pak." "Bisa. Mobil saya banyak." Ngga tanya, Malih! Batin Aire kesal. "Ngadi-ngadi deh." Dia bersungut kesal. Awalnya Sean tidak menyahut. Dia sedang serius memarkir mundur mobilnya agar masuk di slot parkir direktur, sebelum menyahut, "Apanya yang mengada-ada?" "Bapak tuh emangnya ngga ada kerjaan ya? Saya lihat kayaknya semingguan ini kerjaannya cuma ngurusin bagian properti. Pakai segala ikut ke lapangan. Ini ngga biasa tau, Pak. Aneh." "Terus yang ngga aneh menurut kamu gimana?" Aire berpikir sejenak, kemudian kembali melanjutkan ke-ceriwisisan-nya yang Sean dengarkan dengan tenang, "Harusnya Pak Sean ngga di kantor sini. Maksudnya, jarang. Harusnya Pak Sean keluar kota atau keluar negeri untuk melakukan lobi atau kesepakatan bisnis lainnya. Atau apalah." Kemudian, Sean tertawa kecil. Iya, menertawakan Aire yang makin kesini makin ceriwis dan banyak protes soal apa yang dilakukan Sean. "Saya ngga nyangka kamu bisa seperhatian itu sama saya." Aire terperangah. "Tapi, Aire," Sean menjeda sejenak, menatap cewek di sebelahnya dengan serius dan intens. "Saya ngga akan jadi direktur utama kalau ngga bisa mengatur waktu dengan baik. Paham?" Oh. Aire tidak paham. Dan semakin tidak paham saat tangan kiri Sean terulur ke arahnya, mengusap sudut bibir Aire dengan ibu jari. "Saya anggap kamu paham." *** []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN