20

1027 Kata
"Perlu saya ingatkan sekali lagi. Imperio Group memiliki 5 anak perusahaan. Farmasi, pariwisata, otomotif, pertambangan, dan properti. Mari kita fokuskan bahasan di bagian properti." Sean menengahi rapat dengan tenang. "Target Imperio Living tahun ini adalah membuka ekspansi ke Australia. Kenapa Australia? Karena perhatian masyarakat global sedang tertuju pada geliat kebangkitan perekonomian Australia di berbagai bidang, salah satunya perekonomian." "... meningkatnya perekonomian mempengaruhi gaya hidup masyarakat urban... " "... adanya keputusan ekspansi tahun ini ditentukan karena meningkatnya produktivitas perusahaan selama 5 tahun terakhir. Didukung kestabilan sistem dan anggaran keuangan selama satu dekade..." "... jadi ketika saya menerima laporan keuangan yang tidak balance, bukan ini masalah yang saya bayangkan akan terjadi..." Dan begitulah, rapat Sean di pagi menjelang siang itu. Ada masalah, biasa. Meskipun biasanya masalah itu akan selesai ditangani para manajer. Kalau para manajer tidak bisa, direktur divisi akan turun tangan. Kalau parah, Sean sendiri yang harus turun tangan. Berhubung tanggung jawabnya besar untuk membawa laju perusahaan, masalah internal seperti ini harusnya tidak sampai masuk ke laporan rapat direktur. Biasanya, Sean terima beres. Laporan rapat yang memberi tau kalau perusahaan berjalan dengan stabil berfungsi untuk menyamakan frekuensi dengan visi misi yang dibawa Sean di luar sana. Untuk menentukan seberapa layak perusahaan bersaing dengan pasar asing. Begitu. Usai rapat, Leon selaku asisten pribadi segera menghampiri Sean yang sedang melonggarkan ikatan dasinya. "10 menit lagi rapat dengan komisaris di lantai 29 untuk laporan anggaran perusahaan," katanya mengingatkan jadwal Sean. Yang dikabarkan mengangguk. "Bawakan saya kopi yang biasanya." Leon mengangguk sopan. "Baik, Pak." Kemudian hengkang dari ruang rapat di lantai 27, meninggalkan Sean yang membaca bahan presentasi di layar tablet. Sebenarnya Sean memang sesibuk itu. Kerjaannya sering kali hanya rapat, tanda tangan, dan pengawasan. Tapi bagian tersulitnya di balik itu semua adalah, ketika mengambil keputusan. Soalnya Sean adalah wajah perusahaan. Ujung tombak. Tentu saja. Selain logika tajam, dia juga dituntut berpikir kreatif alias out of the box. Dan proses mengambil keputusan selalu harus berdasar pada analisa data jangka panjang yang seringkali harus diputuskan dalam waktu singkat. Jadi... lucu sekali kalau Aire bilang Sean itu seperti tidak ada kerjaan. Padahal ada. Banyak, malah. Tapi Sean maklum. Karena sekalipun dia sedang sibuk memfokuskan Imperio Living untuk ekspansi ke ranah global, dia tetap membentuk sebuah tim untuk tetap fokus di ranah domestik. Tim dimana ada Aire, contohnya. Karena anggota tim itu lebih sedikit dengan tanggung jawab lebih besar, tentunya lebih sibuk. Kenapa Sean fokuskan Aire di ranah domestik? Bukan, bukan karena Aire tidak mampu berada di tim global. Justru karena Aire memiliki kapasitas menjaga kestabilan internal, makanya Sean tempatkan disana. Begini-begini juga keputusan Sean ada setelah melalui proses evaluasi panjang seluruh karyawannya dari para manajer. Dan karena tim domestik terlalu sibuk, mungkin sampai lupa kalau Imperio Living juga mulai melebarkan sayap. Sudahlah, keceriwisan Aire tadi bukan masalah. Sean malah suka dengarnya. Seperti mendengar burung berkicau. Omong-omong soal Aire, Sean tidak bisa tidak heran dengan tingkahnya. Terutama tadi pagi. Dan sejujurnya dia agak tersinggung. Biar apa sih turun dari mobil Sean sambil berjingkat-jingkat mirip maling? Pakai menutupi wajah pakai tas pula! Memang se-aib itu ya kalau berangkat kerja dengan Sean? Menghela napas, laki-laki tinggi itu berdiri. Melalui dinding kaca ruang rapat, dia bisa melihat Aire di kubikelnya. Sibuk dengan desain, sebelum mengacak-acak kertas kalkirnya sendiri. *** "Kalkulator mana kalkulator?" Aire riweuh sendiri. Baru sadar mejanya berantakan oleh lembaran kertas kalkir yang sudah bergambar semua. Disibaknya tumpukan kertas itu dan menemukan benda tipis berwarna merah muda yang dicari. Menumpuk kertas kalkirnya jadi lebih rapi, Aire meraih kertas HVS dan mulai membuat coretan kasar. Menulis sederetan angka, kemudian dihitung. Dia sedang membuat rancangan anggaran untuk proyek lanskap mendatang. Nantinya rancangan itu akan dia fix-kan ke sistem, lantas dibahas di rapat bersama Arjuna. Kemudian mengajukan ke bagian keuangan. Sederhana sih rencananya. Tapi prosesnya panjang. Selalu begitu. Otak Aire kadang korslet kalau lebih dari satu jam harus menghitung tanpa henti. Ibaratnya kalau fokus itu biasanya di salah satu belahan otak saja, yang seperti Aire harus 2. Otak kanan dan otak kiri harus jalan semua. Untungnya, hari Sabtu dan Minggu libur. Dia bisa mewaraskan lagi otaknya yang dipakai gambar dan berhitung sepanjang hari itu. 1 jam berlalu. Sebelum otaknya makin korslet, dia rehat. Sejenak memejamkan mata, kemudian merilekskan ototnya yang kaku. Pandangannya mengedar ke sekitar kubikel. Semua masih sibuk dengan kerjaan masing-masing. Baiklah, sepertinya Aire butuh segelas s**u* hangat di kafetaria. Dia meninggalkan kubikel, dan... demikianlah, sekilas info tentang 'kesibukan' Aire dan Sean yang kelihatannya tidak sibuk padahal sibuk. *** Tiba di kafetaria yang tidak terlalu ramai, Aire dihadapkan pada Ina yang tampak sedang mengeluh pada Amanda. "Ada masalah, Na?" Aire bertanya, sekaligus bersiap memesan. Melihat Aire, Amanda langsung stand by di kasir sambil tertawa untuk Ina. "Ina lagi galau, mbak." "Kenapa?" "Mantannya mau nikah." Amanda cekikikan meledek. "Terus kenapa? Kan mantan, Na." Agaknya Aire masih belum nyambung. Maklum, otaknya masih terbayang-bayang harga tanah dan tanaman. Amanda yang menjawab, "Dia takut datang kayak Upik Abu, mbak. Terus ngga tau mau ngajak siapa pas kondangan. Makanya ngajakin aku belanja. Tapi aku ada part time lagi habis dari sini." "Oh-- emang mau belanja kapan, Na?" "Secepatnya, mbak." "Pulang kantor mau bareng aku ngga? Aku juga mau belanja soalnya." "Eh, serius, mbak?" "Hu'um." Aire mengangguk, sekilas menyebutkan pesanannya pada Amanda, sebelum kembali bicara pada Ina, "Gimana?" "Boleh, mbak. Tapi jangan ke GI ya, mbak. Bangkrut aku kalau belanja disana." Aire terkekeh, mengiyakan. "PIM mau?" "Boleh, mbak." "Oke deh, nanti aku mampir lagi kesini." "Siap, komandan." Kemudian Aire menuntaskan acara beli minumnya. Dia bawa balik satu cup besar strawberry milkshake ke lantai 27. Begitu pintu lift terbuka dan Aire hendak keluar, langkahnya terhenti. Sean ada disana, tatapannya serius menekuri layar tablet yang dia pegang pakai tangan kanan. Sedangkan tangan kirinya di saku celana. Di sebelah Sean, ada Leon yang sudah tersenyum sopan pada Aire. Mereka bersisian di pintu lift. Tapi Sean masih saja fokus menekuri layar tablet sampai tidak sadar kalau dia baru saja melewati Aire. Aire Senjakala lho ini! Cewek yang katanya ingin Sean kenal lebih dekat dengan serius. Tapi bisa-bisanya setidak sadar itu waktu mereka berpapasan?! Sampai posisi mereka sekarang berbalik. Sean di lift, Aire di luar. Aire berbalik, menatap Sean tidak menyangka. Masih secuek itu?! Uh. Kok dia kesal? *** []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN