Kalau ditanya apa yang Sean lakukan saat Aire tidur, Sean akan menjawab : ada beberapa hal yang dia lakukan.
Pertama, dia pasangkan jasnya di tubuh Aire untuk menghalau dingin.
Kedua, dia rebahkan sandaran bangku Aire. Betul biar cewek itu tidak sakit leher karena terantuk-antuk sebab mobil yang sedikit-sedikit harus berhenti.
Ketiga, ehm... Sean adalah sebab kenapa lip cream di bibir Aire berantakan. Untung warnanya masih natural. Coba merah? Tadinya Sean pikir Aire akan touch up sehabis bangun tidur dan tau lebih cepat. Ternyata tidak.
Keempat, uhm... ini yang agak parah. Sean sempat membuka 2 kancing teratas kemeja Aire. You know lah, makanya begitu bangun, kerah kemeja Aire agak berantakan. Tapi Sean tidak meninggalkan jejak. Itu bagian kurang ajarnya.
Yang lebih parah lagi, Sean tidak sedikitpun merasa menyesal. Tidak peduli kalau dia baru saja bikin anak gadis orang ketakutan.
"Ngga usah nangis," tukasnya tanpa perasaan. "Kamu sensitif gini karena lapar."
Aire melengos di sebelahnya. Tidak peduli. Dia hanya diam.
"Aire-"
"Pak Sean diam aja deh," sentak Aire kesal. Ya, mungkin Sean benar soal dia yang lapar makanya jadi sensitif. Soalnya, Aire juga tidak peduli kalau habis ini dipecat gara-gara menyentak bosnya itu.
Toh dia tidak peduli. Buat apa kerja sama orang yang sudah mengapa-apakan bibirnya?
Sean menurut, dia diam. Meski kesal padanya, toh Aire masih bergelung di balik jas yang dia pinjamkan. Tandanya, tidak marah-marah amat. Sekarang tugas Sean adalah mencari tempat makan yang menunya juara. Siapa tau Aire tidak cemberut lagi seperti sekarang.
Kebetulan juga, di depan sana, plang menuju Puncak menunjuk ke arah kiri.
Sean menyalakan sein kiri, dengan santai berbelok tanpa memberi tau Aire kemana tujuannya.
Mungkin saking kesalnya pada Sean, Aire jadi tidak tau jalan. Baguslah, Sean tidak perlu menjawab apapun sejauh ini.
***
"Pak, jalannya kok naik?" Aire telan gengsinya demi pertanyaan itu sejak melihat jalanan yang makin menggerus kewaspadaannya.
Sean berdehem. Mengiyakan secara tersirat. Memang naik, begitu.
"Kalo arah Jakarta mestinya jalanan mulai turun," gumam Aire, menyipitkan mata, berusaha membaca papan petunjuk jalan selagi mobil berhenti karena... ya agak macet. "Loh? Kok Puncak?!" Agak histeris. Panik. Mau dibawa kemana dia?
Apalagi makin ke atas jalanan makin lengang karena ini hari Selasa siang. Dan sedang hujan pula. Perkebunan teh dan pohon pinus menyejukkan mata. Meski begitu, hati Aire tidak ada sejuk-sejuknya.
"Pak, balik aja Jakarta." Aire memelas. Kenapa harus ke Puncak? Berdua pula dengan makhluk menawan berbahaya seperti Sean.
Yang laki-laki diam saja. Fokus melajukan mobil yang dapat kesempatan jalan. Sampai mereka tiba di pekarangan Club Huis yang sederhana tapi nyaman. Kafe kecil itu punya pekarangan luas yang sedang sepi parkirannya. Hanya ada beberapa mobil.
Sean menarik rem tangan. Matanya melirik Aire yang mengkerut di tempat. "Kan saya sudah bilang. Saya lagi pengen jalan."
Tapi... masa iya jalannya harus sama Aire? Dia kan agak rungsing begini.
"Turun sekarang. Saya laper," suruhnya.
"Hujan, Pak." Yeu, manja!
Jadi Sean turun lebih dulu dengan payung dan ke pintu sebelah untuk menjemput Aire. "Pakai aja jas saya, di dalam dingin."
Begitu turun dari mobil, Sean langsung merengkuhnya lagi. Berjalan ke kafe bak mereka adalah pasangan romantis waktu Sean menghampiri meja depan.
"Reservasi atas nama Sean Abraham."
"Baik, Pak. Tempatnya sudah siap. Di sebelah sini."
Aire mengikuti langkah Sean dengan penasaran. "Bapak kapan reservasinya?"
"Tadi pagi."
Niat sekali, kawan.
Begitu tiba di meja yang dipesan, Aire terdiam takjub. Meja mereka ada di sudut bersebelahan dengan jendela besar yang mengarah ke perkebunan teh. Beberapa lilin kecil membuat suasana jadi sangat 'sesuatu', mendukung sekali dengan hujan dan mendung di luar sana.
Sean menarik satu dari dua kursi yang ada, menyuruh Aire duduk dengan gestur yang mengintimidasi.
Di tempatnya, Aire menemukan sebuah kartu ucapan. Kurang lebih begini,
'Dear Miss Aire,
Hope you enjoy our meal and have a wonderful date with the lovely one'
Ternyata sudah direncanakan.
Eh- sebentar! DATE, KATANYA?! Apanya yang nge-date?!
Tidak mungkin isi pesan itu sekedar template yang sudah dicetak ke kartu. Karena, semua itu adalah tulisan tangan! Ini pasti ulah Sean!
"Itu murni inisiatif kafe." Sean menjawab seolah dia bisa membaca pikiran. "Ngga usah mikir itu pesenan saya."
Aire tidak yakin.
"Saya cuma reservasi tempat untuk 2 orang dengan bangku dekat jendela."
Sayangnya, tidak terlihat begitu. Aire memutuskan untuk tidak percaya. Dia kemudian menatap keluar jendela. Pandangannya menerawang jauh ke bukti seberang. Ada sebuah pekarangan luas dengan pohon-pohon tinggi. Sebuah rumah besar tingkat 2 ada di tengah pekarangan itu. Berdiri angkuh dan kokoh.
Lagi-lagi Aire melamun, membayangkan betapa mengerikannya tinggal di rumah sebesar itu sendirian, di tengah pekarangan luas pula. Seperti latar cerita horor.
Yang tentu saja, Aire tidak luput dari perhatian Sean. Benar kan? Cewek itu punya dunia sendiri dan memang suka melamun.
Makanan yang sudah Sean pesan sewaktu reservasi itu akhirnya datang. Aire tersadar dari lamunannya. Berhubung perutnya sudah keroncongan sejak tadi, dia melahap makanannya tanpa repot-repot Sean persilahkan.
Enak juga.
Maksudnya, makanannya. Sepertinya tidak sampai setengah jam sampai semua makanan itu ludes. Terakhir, Aire menyesap minumannya. Saking khidmat dia bersantap sampai tidak sadar kalau daritadi Sean memperhatikan.
"Mau tambah?" tawar laki-laki itu.
Aire menggeleng. Memang wajah dia kelihatan seperti yang ingin tambah makanan ya?
"Yakin?"
"Iya, Pak." Yakali Aire minta tambah sama bosnya?!
Sean mengangguk. "Ya udah." Laki-laki itu juga menyesap minumannya dengan santai. Punggung bersandar di sandaran kursi. Pandangan Sean edarkan keluar. Sepertinya sedang menikmati keadaan di luar.
Biarpun sekarang siang hari, hujan membuat kabut turun lebih dulu di lembah.
"Aire?"
"Iya, Pak?" Aire yang ikut menikmati keadaan di luar menoleh pada Sean.
Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya ke depan dengan siku di pinggir meja. Tangannya bertautan di atas meja, dan tatapan dalamnya mengunus Aire. Lekat dan Intens. "Saya mau tau tentang kamu."
"Gimana, Pak?"
"Semua tentang kamu, saya ingin tau." Sean membasahi bibirnya sejenak, gerakan sederhana yang membuat jantung Aire berpacu cepat. Hanya begitu saja, tapi kenapa level gantengnya Sean jadi to the max?
Kok Sean seperti sedang menggodanya?
Tapi tidak juga sih. Raut wajahnya serius.
"Kamu bisa mulai dari hal-hal sederhana."
Tidak ada yang terasa sederhana gara-gara topik yang membuat Aire panas dingin seperti ini. Buat apa Sean ingin tau? Apa karena laki-laki itu sedang menunggu hujan reda?
Tapi tidak mungkin. Mereka ada payung dan bawa mobil.
Apa mungkin karena suasana gloomy di luar, makanya Sean jadi aneh? Sean Abraham loh ini, direktur utama yang super sibuk dan tidak seharusnya ada disini dalam rangka jalan-jalan. Sambil belanja bebungaan pula.
"Suka hujan?" Sean bertanya.
Aire mengangguk. Dia suka hujan. Makanya sangat menikmati hari ini. Tapi harap diingat, itu bukan karena ada Sean!
"Saya juga suka hujan."
Oh ya pantas, Sean juga terlihat sedang menikmati hujan. Tapi kan Aire tidak tanya.
"Suka buku apa?"
"Novel, Pak. Sama bacain kolom komentar di postingan orang." Yang ini memang agak kurang kerjaan. Tapi kadang membaca kolom komentar memberinya pandangan yang lebih luas. Daripada iya-iya saja sama apa kata admin.
"Kalau film?"
"Suka semua, Pak." Agaknya Aire lebih rileks kalau mau bicara soal film. Habisnya, siapa sih yang tidak suka nonton?
"Genre apa?"
"Saya suka semua genre. Mulai dari yang bikin depresi kayak film zombie, sampai yang bikin mual kayak Tusk. Terus saya juga suka Harry Potter dari kecil. Kayak yang ngga bisa bosan liatnya. Oiya ada lagi..."
Sean mendengarkan tanpa menyela. Sebenarnya, dia lebih ke memperhatikan wajah Aire saat bercerita tentang film-film yang dia suka. Mata kucingnya berbinar dan bibir yang selalu jadi perhatian Sean sedang tersenyum sumringah. Giginya yang rapi dan lucu membuat Sean bertanya-tanya. Bagaimana rasanya digigit Aire? Ehm.
"Tuh kan, Pak, jangan ngelamun." Akhirnya Aire sadar kalau dari tadi Sean memandanginya tanpa bosan. Karena Sean tidak kedip, Aire pikir dia melamun.
Sean berdehem untuk menetralkan suaranya yang lagi-lagi terjun ke mode berat dan agak serak. "Saya dengerin."
"Terus Bapak sukanya film apa?"
"Apapun yang ber-genre action dan pemainnya aktor ternama, saya bakal nonton."
"Action aja, Pak?"
"Ada lagi yang baru sempat saya lihat belakangan ini." Sean basahi bibirnya, yang entah kenapa membuat pipi Aire langsung bersemu. Dia alihkan perhatiannya sendiri dengan tanya,
"Film apa, Pak?"
"Fifty Shades of Grey."
Waw. Aire sampai tidak tau harus komen apa. Speechless. Ternyata... film seperti itu Sean lihat juga.
"Tapi ngga sampai selesai." Sean lanjutkan, "Ngga enak kalau nonton sendiri."
Tatapannya lekat dan dalam. Seolah dari sana dia ingin bilang pada Aire, temani saya nonton.
Napas laki-laki itu agak berat saat tatapannya turun ke leher Aire, dan semakin ke bawah.
Wah. Aire merinding seketika.
***
[]