Ralat!
Rengkuhan Sean mana ada hangat dan nyaman? Tidak sama sekali!
Kesimpulan itu berubah beberapa detik lalu waktu mereka sudah hampir tiba di lokasi. Alih-alih melepaskan tangannya dari pinggang Aire, Sean justru menahan selama beberapa saat.
Saat rengkuhan itu akhirnya dilepas pun, Sean sempat memberi remasan kecil di pinggangnya. Membuat Aire mendelik. Sentuhan intens dan nakal itu membuatnya kehabisan kata-kata.
Seolah tidak melakukan perbuatan tercela sedikit pun, Sean dengan santainya menutup payung dan menitipkannya pada salah satu pegawai disana. Tidak mengindahkan Aire yang wajahnya merah padam karena rasa geli yang menyengat tiba-tiba.
Cewek itu mengekori langkah Sean di saat seharusnya Aire-lah yang melangkah lebih dulu. Yang menyadari hal itu adalah Sean. Dia mengernyit pada Aire yang salah tingkah. "Harusnya kamu yang jalan duluan. Ngapain di belakang saya?"
"..." Aire diam. Sensasi tadi masih terasa nyata di pinggang. Pipinya sampai memerah lagi.
"Saya liat daftarnya."
Aire cepat-cepat menyerahkan selembar kertas yang sejak tadi dia simpan di saku rok, membiarkan Sean membacanya satu per satu. Kebetulan Sean juga tau semua jenis tanaman yang akan ditanam untuk proyek terbaru mereka.
Pada akhirnya, Aire tetap mengintili langkah Sean. Sesekali dia menerima tatapan tertarik dari orang-orang yang menatap Sean lebih dulu.
Sean Abraham yang tinggi menjulang dengan tubuh tegap gagahnya adalah pemandangan menarik di antara para tanaman hias itu. Tersegar di antara yang tersegar.
Wajahnya yang putih bersih itu meninggalkan gurat dingin dan tegas yang mengesankan. Mengundang bisik-bisik kaum hawa yang terpana seakan melihat seorang model sedang melintasi catwalk.
Cara jalan Sean saja entah bagaimana sangat menarik. Padahal hanya jalan biasa.
Laki-laki itu kemudian berhenti, menoleh pada Aire yang mengekor di belakangnya. "Bonsai kayak gini yang kamu cari?"
Aire mengangguk.
Dan untuk selanjutnya, dia tetap mengintili Sean Abraham mengelilingi tempat yang besar itu. Lebih banyak mengangguk saat Sean bertanya karena laki-laki itu rupanya mengerti lebih banyak dari yang dikira Aire.
Mereka survei banyak bonsai unggul dan berhasil mendapatkan beberapa nomor telepon yang diperlukan untuk konsultasi lagi.
Sekarang, pekerjaan Aire selesai lebih cepat berkat bantuan Sean.
Alih-alih Aire yang keliling kesana kemari mencari tau, dia justru mengikuti Sean karena sepertinya laki-laki itu lebih mengenal tempat ini.
Aire menatap heran Sean yang sedang bertransaksi. "Bapak pernah kesini ya?"
Sebab dilihatnya Sean akrab dengan beberapa penjual tanaman. Laki-laki itu mengangguk usai menerima satu pot kecil berisi kaktus Gymno yang harganya bisa buat beli pulsa internet sebulan. "Dulu saya sering kesini."
"Oh- beli tanaman juga, Pak?"
"Iya," jawabnya sambil berjalan menjauh yang diikuti Aire. "Berarti suka tanaman ya, Pak?"
Retoris. "Kalau saya ngga suka ngapain saya beli?"
"Barangkali buat hadiah?"
Sean tidak menjawab lagi.
"Pak Sean suka kaktus?"
Sekali lagi... "Kalau saya ngga suka ngapain saya beli?" Sean heran deh, kenapa pertanyaan Aire tidak ada yang make sense. Seperti anak kecil yang melihat induknya beli coklat banyak dan masih bertanya apakah beli coklat itu karena suka atau tidak.
Aire yang sudah berjalan di sebelah kiri Sean mengangguk-angguk, menggumamkan 'iya juga' sambil menatap sekeliling. Kemudian dia mendongak lagi ke arah Sean yang menjulang, "Pak-"
"Apalagi?"
"Kenapa Bapak suka kaktus?"
Pertanyaan sederhana yang sayangnya tidak dijawab Sean. Membuat Aire makin penasaran. Iya, kenapa?
Biasanya nih ya, laki-laki sekalipun yang memiliki hati lembut, palingan lebih memilih hewan peliharaan daripada tanaman. Kucing atau anjing. Kalau ekstrim, peliharanya reptil.
Nah Sean, ternyata suka tanaman. Kaktus pula yang bentuknya mungil menggemaskan. Uh, Aire jadi rindu deretan koleksi kaktusnya.
Sampai mereka tiba di dekat sekumpulan bunga mawar yang jenisnya beragam. Banyak sekali. Warnanya juga macam-macam.
Saat itu, selagi tangan kanan Sean menggenggam kantong daur ulang berisi kaktus barunya, tangan kiri laki-laki itu menyentuh tangan kanan Aire dengan lembut.
"Saya suka kaktus karena mereka punya duri buat melindungi diri," jawab Sean.
"Kayak mawar?"
"Iya."
"Suka mawar juga, Pak?"
"Saya ngga suka mawar."
"Kenapa?"
"Ngga tertarik."
Aire mengangguk-angguk. "Tapi menurut saya kaktus sama mawar ngga sama, Pak. Kalo mawar, biarpun durinya jarang, tapi sakit banget kalau kena. Kalau kaktus, biarpun durinya full dan kelihatan gahar, tapi duri mereka sebenarnya lebih lembut dan ngga nyakitin. Kadang malah rapuh."
Sean menatap Aire yang kemudian sedang terkagum-kagum melihat mawar berwarna hitam di hadapan mereka.
Dengan halus, diraihnya tangan Aire dan menggenggamnya erat. Dia berhasil mendapatkan atensi Aire berikut wajah memerahnya. Dan bibirnya... yang selalu jadi titik utama pandangan Sean jatuh setiap mereka bersua.
"Hati-hati. Karena pemikiran kayak gitu yang bikin orang jadi terluka karena kaktus. Ngga semua kaktus punya duri lembut," balas laki-laki itu. "Jangan tertipu."
Aire, seperti kebiasaannya setiap mendengar perkataan orang, mengangguk-angguk. Seakan dia sudah lupa tentang betapa tidak nyamannya pergi berdua dengan Sean Abraham. Mata kucingnya menatap Sean dengan penasaran. "Bapak kayak kaktus yang mana?" tanyanya.
Sean hanya menaikkan sebelah alis sebagai respon.
"Kaktus yang durinya lembut atau tajam?"
"Kamu menyamakan saya sama kaktus? Ngga sopan!"
Yeu! Kan Aire cuma tanya. Lumayan kan dia bisa melihat sisi lain Sean Abraham. Habis suasananya mendukung buat sesi filosofis begini.
Hujan deras di luar, dingin, tanaman berbunga, dan... orang ganteng.
Omong-omong, sekarang Aire lapar.
***
Satu kaktus rupanya tidak cukup bagi Sean. Dia kembali berkeliling. Yang mau tidak mau Aire ikuti.
Sean kemudian membeli lagi sebuah kaktus grafting yang pucuknya berwarna keunguan. Dan Aire kebagian tugas menjadi ajudan karena sekarang dialah yang harus membawa belanjaan Sean.
Terakhir, laki-laki itu membeli sebuket bunga sedap malam yang membuat pikiran Aire travelling kemana-mana.
Soalnya, buat apa coba laki-laki sekelas Sean Abraham beli bunga sedap malam juga? Titipan juga bukan. Sean beli untuk dirinya sendiri. Entah betulan buat ditaruh di vas atau bukan.
Apa jangan-jangan Sean itu makan bunga ya? Makanya punya wajah paripurna parah. Siapa tau dia punya ilmu-ilmu semacam itu.
Selain sedap malam, Sean juga membeli seikat mawar putih dan lagi-lagi Aire yang membawa semuanya. Sean bahkan tidak menoleh sedikitpun untuk melihat raut protes Aire karena dia mulai kerepotan.
Sean itu aneh juga. Bilang tidak suka mawar, tapi dibelinya juga.
Ketika mereka akhirnya tiba kembali di pintu depan, Sean meraih payungnya. Hujan yang masih turun membuat Aire kembali berada dalam rengkuhan Sean.
Menaruh belanjaan di bagasi, Aire sudah duduk kembali di bangkunya, kembali bergelung di balik jas Sean yang kebesaran untuknya.
Begitu saja. Tapi Sean belum juga melajukan mobilnya. Hanya radio saja yang kembali menyala dan sedang memutar musiknya Adele.
Aire menoleh, hendak bertanya ada apa saat Sean memajukan tubuh ke arahnya. Tatapan tajam Sean terasa mengintimidasi. Tangan kanan Sean terulur... meraih pengait sabuk pengaman Aire dan memasangkannya. Klik.
Setelah itu, masih belum juga menarik diri, Sean habiskan secuil waktu berharganya untuk mengamati wajah Aire yang jaraknya hanya sejengkal.
"Kamu harus saya apakan untuk tau kalau sabuk pengaman itu penting?" bisiknya dengan tatapan intens yang mendominasi.
Aire mengekerut di tempat, membasahi bibirnya yang sebetulnya tidak kering. Salah tingkah saat pandangannya dipenuhi wajah Sean. "P-pak-"
"Hm?" Suaranya rendah dan berat. Pandangannya sayu saat lagi-lagi terpaku pada bibir Aire.
Ya ampun! Kenapa kalau sedang berdua begini, Sean terasa sangat berbahaya? Dilihat dari pandangan dan tindakannya pada Aire, dia seperti sedang ingin menunjukkan dominasinya. Biar apa?!
Lalu, dengan kesengajaan yang membuat Aire lemas, Sean menyentuhkan ujung hidung mereka dengan lembut, dan mendaratkan sebuah kecupan ringan disana.
ASTAGA!!
Sedikit lagi turun, Aire bisa kehilangan kecupan pertamanya! Sean keterlaluan! Mau marah, tapi Aire keburu lemas.
Sean tersenyum miring sebelum menarik diri dan mulai melajukan mobil. Dia masih gemas dengan perempuan yang bersamanya itu. Tapi berhubung dia mendengar suara perut Aire yang berkeruyuk, Sean harus menunda.
Di sebelahnya, Aire menghela napas pelan dengan wajah syok.
Baik!
Berduaan dengan Sean memang tidak ada bagus-bagusnya. Ini bahaya!
Cewek itu meraih ponsel, hendak pura-pura sibuk sampai dia terpaku melihat pantulan dirinya di layar.
Disana, di bibirnya. Lip cream yang dia kenakan berantakan! Seperti... sesuatu memainkan bibirnya sedemikian rupa sampai membuatnya keluar dari garis bibir.
Jangan-jangan, sebab kenapa tadi orang-orang memandangi Aire adalah karena ini?
Merasa tidak bisa lebih syok karena baru saja mendapat sentuhan yang bikin merinding dari Sean, Aire menatap laki-laki itu dengan horor.
Dia menemukan sedikit noda lip cream di sudut bibir laki-laki itu.
Jadi... yang dia mimpikan tadi itu... betulan?
Sadar dipandangi cukup lama oleh Aire, Sean menoleh sekilas. Dan menemukan mata kucing yang cantik itu berkaca-kaca. "Kamu kenapa?"
"Saya... Bapak apain saya tadi?"
***
[]