Tau apa yang ada di mimpi Aire saat ini?
Sebelumnya, ingat tidak di kejadian hari Senin kemarin waktu peninjauan lahan? Saat hidungnya dan Sean bersentuhan?
Iya, awal mula mimpinya berasal dari situ. Waktu Aire masih nemplok di punggung kokoh Sean.
Memori itu terputar menjadi mimpi. Yang sayangnya, karena itu mimpi, adegannya jadi dilebih-lebihkan. Entah adegan yang kelebihan itu karena bisikan setan atau murni imajinasi pemimpinya. Ehm.
Tidak ada yang tau.
Tapi yang jelas, usai hidung yang bersentuhan itu, kening mereka juga bersentuhan. Sean yang inisiatif memajukan wajahnya lebih dulu. Aire kemudian menyambut inisiatif itu dengan... memajukan bibirnya sampai bertemu juga dengan milik Sean.
Aroma musk dan woody yang segar memenuhi penciumannya. Begitu dekat. Seolah-olah hanya ada aroma seperti itu di dunia ini.
Awalnya hanya sebuah sentuhan ringan. Betul-betul seperti helai bulu yang numpang lewat menyapu permukaan kulit. Tapi mampu mendirikan bulu roma.
Sentuhannya kemudian jadi lebih berat karena... Sean menggigitnya? Sepertinya begitu. Gigitannya kecil-kecil, tapi terus menerus. Sepertinya Sean sedang gemas.
"Ahh..."
Sampai Aire melenguh. Agak sakit.
Selagi berpagutan, samar-samar Aire mendengar suara orang menyanyikan lagu Sesuatu Di Jogja milik Adhitia Sofyan.
Kemudian saat rasa sakitnya menjadi makin terasa, Aire membuka mata. Bersamaan dengan lenguhan terakhirnya yang lolos begitu saja.
"Unghh."
Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Sean, persis ada di hadapannya.
Aire sontak mendelik kaget. "Bapak ngapain?!" tanyanya agak histeris.
Sean mengernyit, menarik diri usai melakukan tindakannya semula. "Apa maksud kamu?"
"Tadi- itu..." Aire gelagapan menatap penjuru mobil yang tentu saja hanya ada mereka berdua. Langsung duduk dan memeluk jas Sean yang menutupi tubuhnya. "Ngapain?"
"Saya rebahin sandaran kursi kamu biar ngga sakit leher."
"Terus?"
"Kamu mau saya terus? Seperti yang ada di mimpi kamu?" Sean balik menudingnya tanpa ekspresi. Lampu di depan sudah ke hijau. Sean lajukan mobilnya perlahan. Kaki kiri melepas rem, tangan kanan santai memegang kemudi.
Di sebelah Sean, Aire menggeleng -spontan. Saat ingat lagi mimpinya dan bagaimana Sean tau, cewek itu langsung menutup mulut dengan wajah memerah.
KENAPA SEAN BISA TAU?!!
Apa jangan-jangan... Aire bersuara?
"Kamu mimpi apa sih sampai berisik kayak gitu?" tanya Sean tanpa menoleh. Tangan kiri laki-laki itu sudah beralih memindahkan persneling mobil.
Jantung Aire lari di tempat. "Emang... berisik gimana, P-pak?"
"Kamu merintih. Emang ada yang sakit?"
Ada! Soalnya ada yang gigit-gigit di mimpi! "Ngga ada, Pak. Ngga ada yang sakit."
Sean tidak menyahut selama beberapa saat, membuat Aire pikir obrolan mereka langsung berakhir begitu saja. Sampai laki-laki yang mengenakan kemeja panjang biru muda itu bertanya dengan nada datar, "Atau kamu lagi mimpi ciuman sama seseorang?"
Aire terperangah. Wajahnya langsung panas. Rasanya ingin nyungsep ke rawa-rawa. Ditambah Sean yang menatapnya sebentar dengan tajam sebelum kembali menatap jalanan.
"Saya tau itu suara macam apa."
Terus buat apa ditanya?!
Boleh tidak sih, Aire pingsan lagi?
***
Sepanjang sisa perjalanan, Aire berusaha memejamkan mata. Pura-pura tidur biar bisa tidur betulan.
Tapi mana bisa?
Gara-gara pertanyaan Sean yang tidak tau tempat, kesadaran Aire langsung lompat ke batas tertinggi sampai dia tidak bisa mengantuk lagi.
Kalau tadi Aire berharap suasana tidak terlalu hening. Sekarang sebaliknya. Dia takut kalau suasana yang tidak hening malah memancing Sean untuk bertanya yang iya-iya lagi.
Sebagai gantinya, yang bisa dilakukan Aire adalah bergelung di balik jas yang meski itu milik Sean, mampu membuatnya merasa nyaman dan tersembunyi. Karena jasnya terlalu besar untuk Aire. Belum lagi... aroma parfumnya yang kembali menyeruak tanpa permisi. Ah iya, sepertinya Aire mulai nyaman dengan aroma yang selalu mengingatkannya pada Sean itu.
Aire mengarahkan pandangan ke luar jendela di sisi kirinya, mengamati rintik gerimis yang makin deras jadi hujan.
Di luar mendung. Suasana jadi makin syahdu.
Melewati Bogor Tengah, mereka terus ke arah Bogor Selatan. Sesaat, Aire mendapati kalau Sean juga mengerling ke papan jalan yang menunjukkan arah ke Puncak. Hm. Sepertinya mereka berpikiran sama.
Sambil acuh tidak acuh, Aire kembali melirik Sean. Laki-laki itu betah sekali mengemudi santai dengan satu tangan. Tidak tau kapan, tapi lengan panjang kemeja Sean sudah digulung sampai siku.
Emang ngga dingin apa? Pikir Aire.
Sean berdehem. "Kamu mau makan dulu?"
"Bapak tanya saya?" Soalnya agak aneh sih. Kenapa harus tanya Aire dulu?
"Kamu pikir saya ngomong sama demit?"
"Pak! Ih jangan gitu, ntar betulan datang gimana?"
"Demitnya?"
"Ngga usah disebut deh, Pak."
"Terus gimana pertanyaan saya tadi?"
"Eh- terserah Bapak aja."
"Jangan ngasih jawaban terserah ke saya. Ngga sopan banget."
Ya ampun! Aire salah apa coba? Kenapa Sean ini jutek sekali? Aturan yang jutek itu perempuan kan?
Ah iya, tapi disini Sean bosnya. Jadi Aire jangan banyak mengeluh. Harusnya begitu. Dia kemudian berdehem sebelum menjawab, "Kalau ke tempat tanaman dulu baru makan gimana, Pak? Biar makannya ngga keburu-buru?"
Sean mengangguk. "Asal kamu janji ngga pingsan lagi gara-gara telat makan sih saya oke aja."
Sudahlah, Aire menyerah.
Mereka diam-diaman lagi. Lebih tepatnya Aire yang mendiamkan Sean. Lebih tepatnya lagi, Sean memang pendiam kalau tidak ada yang perlu dibicarakan. Irit kata. Lebih baik dia gunakan waktu bicaranya buat berpikir.
Hujan turun semakin deras waktu mereka tiba di tempat tujuan. Lokasi parkir yang agak jauh membuat Aire ragu untuk turun. Setelah mengamati sekitar, tatapannya jatuh pada seorang ojek payung yang masih wara-wiri mengantar penumpang turun.
Oke, Aire akan menunggu. Dia bahkan tidak terlalu memperhatikan Sean yang sudah turun duluan dari mobil.
Sampai kemudian pintu di sebelah Aire dibuka dari luar. Sean pelakunya. Dengan tangan kiri menggenggam pegangan payung putih transparan, tatapannya terarah pada mata kucing Aire, kemudian bibirnya.
"Ayo turun," ujarnya pendek.
"Saya nunggu ojek payung, Pak."
"Kelamaan. Mobil mau saya kunci."
"Tapi payungnya kecil, Pak."
"Ngga usah banyak alasan. Cepet turun. Atau kamu sengaja ngga mau turun biar bisa pake jas saya terus?"
"Ih, ngga kali, Pak." Aire langsung menghempaskan jas kebesaran Sean, membuat kemejanya yang agak berantakan terlihat.
Kemudian, tangan Sean terulur. Bukan untuk meraih tangan Aire. Tapi untuk merapikan kerah kemeja Aire yang membuat empunya menahan napas dengan tubuh kaku.
Tau tidak sih?
Sedikit saja tangan Sean turun, bisa kena 'itu'.
Tapi habis itu tangan Sean naik, secara tersirat memberi sentuhan lembut dari dagu menyusuri garis rahang Aire. Kemudian merapikan rambut pegawainya yang berantakan. Dan lagi, dia kembali menyelipkan helai rambut Aire ke belakang telinga, sebelum membuat usapan halus di pipinya.
Permukaan kulit yang halus itu merona begitu saja.
Rona merah cantik yang alami. Di atas pipinya yang halus. Halus dan menggemaskan. Sean sampai khilaf.
Oh iya, soal tadi. Hanya Tuhan, Sean, dan pengamen yang menyanyikan lagu Sesuatu Di Jogja yang tau apa yang terjadi waktu Aire tidur.
Dipandangi seintens itu oleh makhluk rupawan seperti Sean, berikut sentuhan-sentuhan kecilnya yang menghanyutkan, Aire jadi merinding.
Dia buru-buru turun dari mobil, menyuruk ke payung yang sama dengan Sean, dan merasa agak menyesal.
Sean memang tidak mengusapi wajahnya lagi dengan sentuhan yang bikin merinding. Tapi tangan kanan laki-laki itu langsung merengkuh pinggangnya erat, menarik Aire serapat mungkin dengan tubuh Sean yang tinggi besar.
Pinggang loh ini!
Aire dapat merasakan jemari Sean di pinggangnya. Terasa menggelitik padahal tidak diapa-apakan.
Usai menutup pintu dan mengunci mobil, mereka menjauh.
Gara-gara rengkuhan Sean yang rapat sekali, Aire jadi merasakan kalau rengkuhan Sean itu... hangat dan nyaman.
Tapi hal itu malah membuat Aire jadi keki. Pokoknya dia tidak nyaman kalau orang itu Sean!
Padahal dilihat dari segi manapun, pemandangan 2 orang yang berjalan di bawah payung putih transparan itu romantis sekali.
***
[]