Naomi membelai dengan pelan pipi putrinya yang sedang tertidur pulas. jemarinya menggenggam jemari mungil Anaknya kemudian dia mengecupnya berkali-kali. Kini usia Lea sudah delapan tahun tidak terasa mereka berdua sudah melewati perjalanan yang panjang.
Kesayangan Bunda, tetap jadi semangat Bunda selalu ya Nak. Kalau tanpa Lea, Bunda tidak akan semangat lagi menjalani kehidupan Bunda walaupun kita cuma berdua, Bunda akan lakukan untuk kebahagiaan Lea nanti. Kita akan selalu bahagia jika kita sama-sama selalu. Kejadian Lea demam tinggi kemarin membuat Naomi takut.
Naomi mengusap air mata yang jatuh di pipinya bagaimana tidak dia di uji dengan ujian hidup yang sangat dahsyat semua orang meninggalkannya yang tersisa di hidupnya cuma ada Lea. Naomi menutup mulutnya agar tangisannya tidak membangunkan Lea. Kini dia memeluk putrinya tersebut hingga dia terlelap dalam tidurnya. Ketika Naomi
memejamkan matanya kilasan kejadian masa lalu muncul lagi secara nyata.
"Tolong jangan pukul aku lagi, Jangan siksa aku lagi Ma.. !" Naomi menangis mengharap belas kasihan dari mertuanya , mengingat kondisi dia hamil tua takut terjadi apa-apa dengan kandungannya.
"Ttolong kasihani aku dan anak ku Ma...!" suara Naomi bergetar menahan sakit akibat cambukan yang bertubi-tubi kepadanya.
"Sakit Ma.. "
Cambukan itu tetap di lakukan kepada Naomi tanpa peduli teriakan dan tanpa rasa iba sama sekali. Dia benar-benar memanfaatkan kesempatan ini disaat Carlos tidak berada dirumah. Karena anaknya sedang perjalanan bisnis ke Bali.
"Kalau Mama pengen aku bercerai dari Mas Carlos aku akan bersedia jika itu bisa membuat Mama bahagia."
Seketika Kegiatan itu pun berhenti. Ini yang Yuni mau kan dari dulu.
"Dasar perempuan tak tau diri seharusnya kamu nggak menikah dengan anak ku. Aku nggak sudi punya menantu seperti mu." Dia benar-benar merendahkan harga diri Naomi.
" Cih.. Dasar wanita murahan.. !" u*patan dan cacian yang dia tahan selama ini akhirnya tersalurkan juga kepada Naomi.
" Aku heran, Apa yang kamu lakukan terhadap anak ku Hah, hingga dia mau menikah dengan mu ?"
"Apakah kamu menjual tubuh mu untuk mendapatkan cinta dari anak ku ?" Dia kembali menjambak rambut Naomi.
"Ma, sakit.." Naomi menggenggam tangan ibu mertuanya agar dia tidak menjambak dengan kuat.
"Mulai hari ini kamu harus pergi dari rumah ini dan kamu harus pergi dari kehidupan Carlos."
"Dan ingat jangan pernah bawa barang berharga satu pun dari rumah ini kecuali baju kumuh mu itu. Proses perceraian mu akan di percepat kamu harus tanda tangan ini dulu dan letakkan di meja ini aku akan mengambilnya nanti." Dia meletakkan berkas surat perceraian itu di meja.
"Kamu tidak perlu datang karena semuanya sudah di urus."
"Oh ya satu lagi yang harus kamu tahu Carlos sudah memiliki wanita lain yang jauh cantik dari mu." Mama Yuni pergi dengan menutup pintu dengan keras.
"Ternyata benar yang pernah aku lihat waktu itu." Naomi bergumam pelan.
Naomi menangis sesenggukan di kamarnya, Mama maafkan Naomi ya Ma Naomi tidak bisa mewujudkan menjadi istri selamanya Mas Carlos. Disaat seperti ini Naomi sangat membutuhkan peran Mamanya untuk mendukungnya tapi sayangnya kecelakaan fatal yang menimpah orang tuanya membuat Naomi menjadi seorang yatim piatu.
"Maafkan Naomi Ma, Pa karena sudah mengecewakan kalian."
Naomi dengan tertatih mengemaskan barangnya dan ia juga membawa buku tabungan yang disisipkan setiap harinya dia harus menyembunyikannya agar tidak ketahuan sama Mama mertuanya dia berjalan dengan pelan menahan perihnya sekujur tubuhnya oleh cambukan, Naomi berharap Bayinya tidak kenapa-kenapa di dalam perutnya.
Dia mengusap lembut perutnya, " Hallo sayangnya Bunda, maafkan bunda ya Nak ! " Seharusnya kita bahagia Nak tapi takdir Tuhan berkata lain. Naomi kembali menangis terisak-isak.
"Pasti kamu tadi kaget mendengar teriakkan dan tangisan bunda ya Nak."
"Kita tidak bisa lagi barengan sama Ayah lagi, tolong maafkan bunda, kamu terpaksa harus berpisah dari Ayah, semoga suatu saat kamu menerima keputusan Bunda ini. Bunda akan menganggap semua ini takdir dari Tuhan untuk Bunda. Mari kita pergi sejauh nya dari kota ini"
"Tapi tenang aja Bunda akan membahagiakan mu sampai kapanpun, apa perlu bunda akan mempertaruhkan nyawa Bunda untuk mu. Mari hidup bahagia bersama Bunda ya Nak." Naomi bergumam pelan lagi sambil mengusap perutnya yang semakin besar itu, air matanya mengalir deras tanpa bisa dia cegah.
Naomi berpamitan dengan mbok yang sudah baik dengannya, aku tahu mereka semua akan di suruh Mama Yuni tutup mulut agar tidak mengadu sama Mas Carlos. Tidak papa aku akan terima semua ini. Mungkin inilah jalan yang sudah di gariskan Tuhan untuk ku.
TIDAK JANGAN PUKULI AKU... !! Naomi seketika membuka matanya dengan napas memacu kencang dan keringat yang bercucuran di pelipisnya.
Naomi seketika duduk dan mencium putrinya tersebut " Lea kesayangan Bunda."
Naomi menghela napasnya lagi mimpi buruk itu lagi, dia turun dari kasur menuju ke dapur untuk mengambil minum dan seketika dia meneguk habis satu gelas air putih ditangannya tersebut.
"Bunda..! " hampir saja gelas ditangannya Naomi terlepas.
"Astaga bikin Bunda kaget aja sayang".
"Hehe.. Maaf Bun, Lea cari Bunda tadi kok tidak ada disampingnya Lea makanya Lea mengecek Bunda keluar eh nggak tahu nya Bunda ada di sini."
"Hmm"
"Kenapa Bunda bangun ?"
Tiba-tiba Lea duduk di dekat Naomi.
"Tadi Bunda cuma haus saja sayang"
"Apakah Lea senang tinggal di kota ini selama ini atau kita pindah saja dari kota ini, kita bisa menetap di Desa saja disana jauh lebih tenang dan damai."
"Astaga Bunda ngomong apa sih ngapain kita tinggal di Desa ? Lea suka kok tinggal disini."
"Ya, kita bisa hidup nyaman, aman disana Bunda bisa berkebun juga di Desa."
"Astaga Bun, jangan aneh deh Lea aja nggak pernah lihat Bunda pegang cangkul atau alat perkakas lain. Jangan ngusulin yang tidak-tidak Bun, untuk tinggal di Desa tanpa ada persiapan. "Lea mencemooh Bundanya.
Naomi mematung mendengarkan ucapan Lea, dia benar tidak pernah memegang alat perkakas berkebun kalau pun untuk bersih-bersih di kebun rumah depan dia membayarnya kepada tukang kebun langganan Budhe.
"Dan ingat jangan pernah untuk lari dari kenyataan yang ada Bun, Lea udah tau Bunda seperti apa, Lea udah berada diperut Bunda selama sembilan bulan."
Naomi melongo mendengar ucapan Lea Astaga kenapa anak ini semakin pintar aja. Batin Naomi dalam hatinya.
"Asal Bunda tau, Lea malah takut Bunda ninggalin Lea, Lea tidak punya siap-siap selain Bunda di kehidupannya Lea Bun. Lea cuma punya Bunda dan jangan tinggalin Lea ya Bun seperti Ayah ninggalin kita."
"Degg,," Naomi kaget dengan ucapan anaknya barusan.
"Lea takut Bun, Lea nggak bisa ngebahagian Bunda jadi Allah akan menggambil Bunda dari Lea."
"Lea takut hal itu akan terjadi Bun, padahal Lea sayang banget sama Bunda.. " Air mata Lea mengalir di pipinya. Dengan terisak-isak Lea tetap melanjutkan omongannya.
"Lea akan baik-baik saja kalau Bunda selalu mendukung Lea di belakang Lea Bun. Lea janji akan jadi Anak yang penurut, anak baik, anak yang nggak mengeluh. Lea benar-benar akan hancur jika Lea tanpa Bunda."
Naomi memeluk anaknya dan mengusap lembut punggung Anaknya, kok dia sampai sejauh itu pikirannya. Aku jadi takut mendengarkan ucapan Lea barusan kalau aku sudah tidak ada lagi di dunia ini, siapa yang akan menemani Lea, kami hanya berdua.
"Tuhan kali ini saja izinkan aku melukis kebahagiaan di wajah anakku..!"
***