Arman Yang Suntuk

1225 Kata
Perahu besar berlayar, diiringi hujan meninggalkan dermaga. Sorot lampu mercusuar bersilangan memberi arah. Tak terasa sudah dua bulan ia bekerja. Bahu dan tangannya sudah mulai terbiasa mengangkat beban berat. Kaki-kakinya begitu lincah menyusuri koridor-koridor. Ia pun sudah tak tersesat lagi. Semua silangan lorong bagaikan peta yang sudah terekam dalam memori otaknya. Hanya saja, melankolisme itu belum juga hilang. Rasa sentimentil yang terpelihara sejak dulu sempat membuatnya tertekan. Serba salah dalam menghadapi berbagai situasi. Tempat itu memang tempat orang-orang keras tanpa air mata, tanpa terlalu peduli akan ketersinggungan satu sama lain. Hidup dan berbaur satu atap dengan berbagai bangsa memang susahsusah gampang. Selain standar bahasa Inggris yang tidak seragam, bahasa asal masing-masing masih digunakan. Agak sulit mengetahui jika mereka sedang membicarakan orang lain, bisa jadi kita yang sedang dibicarakan. Bawaannya jadi curiga melulu. Orang Indonesia sendiri agak kurang kompak. Meskipun mereka berada pada dimensi internasional, orang Jawa seringnya berbicara bahasa Jawa dan berkelompok dengan Jawa lagi, orang Sunda juga begitu. Seperti ketika sedang makan bersama di satu meja, orang Bali cuek saja berbicara bahasa Bali dengan sesama Bali walaupun dalam satu meja itu ada orang Indonesia dari suku lain. Sekedar informasi, di sini yang paling sering konflik sampai baku hantam sesama crew adalah orang Indonesia. Dan yang paling memalukan, seringnya bukan berantem dengan crew dari negara lain, tetapi justru sesama orang Indonesia. Kadang Heru merasa tak berbangsa meskipun sesungguhnya orang Indonesia adalah yang terbanyak di sana. Kalau sudah begini sepertinya semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadi tidak relevan untuk kondisi dimana para pahlawan devisa terombang-ambing jauh di laut orang. Seharusnya mereka lebih bersatu, senasib sepenanggungan. Rasanya baru mengerti kalau kita dulu mudah dipecah belah dan dijajah. Tapi itu dulu, masih bodoh dan primitif, tapi kalau sekarang, rasanya lucu, sudah merdeka lama tapi masih mau dijajah, dipecah dan diprovokasi. Dalam kondisi nasioanlisme dari berbagai bangsa yang bercampur sifat kedaerahan yang carut marut sejak perusahaan pelayaran ini merekrut mereka, akhirnya beberapa istilah bahasa pun tercipta. Bukan bahasa prokem atau slang. Tetapi bahasa mereka, bahasa kapal. Mereka mengganti istilah missing on duty atau mangkir dari tugas menjadi pagulung, kata yang diambil dari bahasa Tagalog. Chiky-chiky artinya main perempuan di lokalisasi, di pub dan sejenisnya. Hop sigere dari bahasa Belanda, entah apa benar mengejanya seperti itu, yang jelas artinya ayo cepat”. Lalu ada istilah makan artinya juga makan dan putangina untuk kata u*****n, ”sialan”. Orang-orang stress jangan ditanya, cukup banyak. Ada sebagian orang yang hampir setiap ke luar dari crew shower, berjalan santai tanpa busana menuju kabinnya. Hanya kepala dan muka saja yang ditutup handuk menyerupai ninja, dengan anggapan, orang lain tidak akan tahu kalau yang telanjang itu siapa. Ada juga yang mogok kerja tak mau keluar kabin, sering tertawa sendiri, kencing di washtafel sampai berenang di kolam khusus pasanger dan berbagai kelakuan aneh lainnya. Begitu pula dengan konflik sesama pekerja, jangan heran bila sering terjadi. Sumber masalah biasanya karena hitung-hitungan dalam porsi tugas, atau hanya karena komunikasi yang tidak lancar, tidak bisa saling memahami dan mudah tersinggung. Tapi yang paling menjengkelkan kalau kita mendapatkan mitra kerja yang hobinya makan tulang kawan, egois dan tak peduli hakekat kerja sama sebagai satu tim kerja. Seperti bekerja satu shift dengan Arman, orang Indonesia juga. Orangnya emosional, seenaknya dan hobi pagulung. Anak-anak lain juga sudah memperingatkan sebelumnya. Selama itu mereka mencoba untuk bisa memaklumi dan selalu menutupinya dihadapan Menir. Ketika baru bekerja selama 6 bulan, Arman meminta ijin untuk pulang karena istrinya akan melahirkan anak pertamanya. Tentu saja perusahaan tidak mengijinkan karena kontraknya masih enam bulan lagi. Ia diijinkan pulang jika ia membayar tiket pulangnya sendiri ditambah biaya yang telah dikeluarkan perusahaan untuk mendatangkannya. Itu semua sudah tertulis dalam kontrak kerja yang mereka tandatangani. Sejak saat itu ia mulai sering uring-uringan dan emosinya pun sangat tidak stabil. Masih satu jam lagi shift itu berakhir. Orderan pada jamjam itu memang sudah tidak banyak lagi. Heru duduk di dekat telepon sambil memulai membungkus cutlery (sendok, garpu dan pisau) dengan napkin (serbet makan). Membungkusnya menjadi bentuk gulungan seperti lilin. Sebelum jam 12 malam, harus sudah jadi minimal 150 gulungan. Ia melirik jam tangan. Sudah setengah jam Arman belum kembali. Ngantar satu orderan saja segini lamanya. Ia mulai panik, kesal. Ia tak sanggup menggulung sebanyak itu seorang diri. Dalam keheningan Room Service Station suara langkah kaki terdengar. Arman berdiri dengan wajah tanpa dosa. Heru hanya meliriknya menahan kekesalan. Arman mengambil cangkir dan menaruhnya dibawah kran cappuccino machine, kemudian meminumnya perlahan, seperti di rumah sendiri. ”Hati-hati, Man! Minumnya di gudang dishwasher saja. Bahaya kalau ketahuan Menir.” ”Tenang saja, nanti Menir saya ajak ngopi bareng, Arman menjawab ketus. Arman juga tidak membantunya menggulung. Ia justru mondar-mandir antara dishwasher dan ruang tempat Heru duduk. Ingin rasanya menegur. Arman jelas tidak peduli dengan apa yang sedang Heru lakukan. Tiba-tiba ia menghampiri. “Her! Saya turun duluan! Saya lagi tidak mood kerja.” Spontan Heru menatapnya tajam. ”Yang bener saja! Shift kita masih satu jam lagi. Apa kamu tidak lihat gulungan baru sedikit. Masak saya harus mengerjakan semuanya sendiri.” Heru benar-benar kesal, mancing emosi, ngajak ribut. Namun Arman hanya menatap seolah menantang. ”Tidak usah rajin-rajin lah. Biar anak shift malam yang mengerjakannya. Sekarang kerjakan saja sedapatnya.” ”Tidak bisa begitu, Man! Dari dulu ini tugas shift sore. Apa nanti kata anak-anak? Emosinya benar-benar terpancing. Arman tetap diam tak bereaksi. ”Terserahlah! Yang jelas saya mau turun sekarang. Kalau kamu mau lapor Menir, silahkan. Paling-paling saya dipecat. Malah kebetulan, saya bisa pulang gratis.” Ia pun berlalu menuju pintu ke luar. ”Taik!” Ucapan kekesalan yang mendalam, keluar begitu saja tanpa bisa terbendung. Arman menghentikan langkah seketika, menoleh pada Heru. ”Apa kamu bilang?” Ia menatap Heru dengan tatapan yang mengerikan. Wajahnya mulai memerah. Ia mendekat. Jantung Heru berdebar kencang. Pandangannya ia alihkan ke arah lain. ”Apa kamu bilang?” tanyanya sekali lagi. ”Tidak. Kalau kamu mau turun duluan, ya tidak apa-apa.” Jawab Heru, suaranya gemetar menahan emosi. Ia sungguh tak mau ribut. ”Coba bilang sekali lagi?” Arman terus menyayat dengan tatapannya. Jarak mereka hanya terpaut 30 cm. Heru tertunduk menghindari tatapan. Jantungnya semakin berdebar. Lalu seketika satu pukulan keras menghantam perutnya. Ia terhuyung memegangi perut. Tak kuasa ia terduduk di lantai. Sakitnya bukan main. Pukulannya tepat mengenai ulu hati. Rasanya mual dan sesak, nafasnya terengal-engal. ”Ada apa ini?” Suara Kantayong mengagetkan mereka. Sekilas Heru meliriknya lalu kembali tertunduk memegangi perut. ”Jangan ikut campur!” Seru Arman pada Kantayong. Dengan wajah yang masih menyala, Arman pun segera berlalu meninggalkan mereka. Kantayong segera membantu Heru berdiri dan memapahnya ke kursi. Heru pun mulai dapat mengatur nafas. ”Kalian berkelahi?” Kantayong menatap menyelidik. Heru tetap tertunduk menghindari tatapannya. Ia tak ingin Kantayong melihat air mata yang mulai ke luar karena menahan emosi. ”Ini tidak bisa dibiarkan. Kamu harus melaporkan dia!” ”Sudahlah, saya tidak apa-apa.” Heru mencoba mengatur nafas. ”Tapi ini sudah keterlaluan!” Kantayong jadi ikut emosi. ”Percuma, dia cukup pintar tidak memukul saya di bagian wajah, sehingga tidak ada bekasnya. Tidak akan ada yang percaya karena tidak ada bukti penganiayaan. ”Tapi saya kan bisa jadi saksi!” Perasaannya memang lebih sakit dibanding perut yang terpukul, namun rasa kesetiakawanan dari teman yang tak sebangsa seketika saja memberikan ketrentaman tersendiri. Ia mulai tenang. “Thanks my friend. Tapi sudahlah, saya tidak ingin masalah ini jadi panjang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN