Room of Spirit

498 Kata
Kabin B 82 serasa panggung hiburan, dipenuhi asap rokok dengan sorot lampu warna-warni yang berputar-putar di atas kepala. Jose dan Ding baru saja membeli lampu disko seharga 30 dollar di San Juan, Puerto Rico. Mereka memang kurang kerjaan. Seperti biasa malam itu mereka mengadakan ritual alias minum sampai mabok. Sebotol Light Bacardi dan Cherry Brandy diletakan di tengah lingkaran bersama ice bucket dan cemilan. ”Kapal ini sudah seperti play group. Anak-anak kecil dan ABG berkeliaran dimana-mana.” Noel berkata sambil menggoyangkan minuman racikannya. ”Terang aja, sekarang ini kan anak-anak sekolah di Amerika lagi Summer Holiday. Jadi wajar aja kalau minggu-minggu ini banyak passenger keluarga.” Ujar Toni nampak tenang. ”Bukan apa-apa, anak-anak kecil itu bener-bener bikin kesel. Mereka berani mengorder sendiri tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sudah begitu yang dipesan banyak, semua pingin dicoba padahal yang dimakan sedikit, kadang hanya diacak-acak tidak dimakan. Yang paling ngeselin itu kemarin. Semua tombol di dalam lift public area dipencet. Jelas saja semua orang pada ngedumel, saya sendiri jadi terlambat mengantar orderan.” Noel mengakhiri keluhannya. ”Kalau saya yang tidak kuat itu, ngelihat cewek-cewek ABG nya. Baru umur segitu badannya sudah pada jadi. Kayak Britney Spears. Sayanya sih kuat, tapi adik saya ini, meronta-ronta, pussiiing!!! Sugeng tak kalah berkomentar. Otaknya memang yang paling m***m. ”Watch your mind, guys. Behave yourself. Amerika sangat concern terhadap s****l harassment (pelecahan s****l). Jangankan megang, ngeliatin dengan tatapan nakal saja sudah termasuk s****l harassment. Khususnya sama yang di bawah umur. Walaupun kita melakukannya suka sama suka, tetapi orang tuanya tahu dan tidak suka, maka orang-tuanya bisa nuntut. Sudahlah, kita ini sudah cukup lama di sini, masak masih culture shock juga.” Toni berkata sambil bersiap menyulut rokok. Ia memang yang paling stabil. ”Kalau ngordernya banyak tapi ngasih uang tip, ya tidak masalah. Tapi kalian tahu sendiri anak-anak tidak bakalan ngasih uang tip. Satu banding seratus, sekalinya ngasih paling recehan. Jose ikut berkomentar. Ia memang yang paling hitungan. Jose memang money oriented. Tapi itu wajar, yang lain pun sering begitu hanya tidak blak-blakan. Bagi mereka smile is money dan semua tidak ada yang gratis. ”Nyari duit itu seperti ombak, kadang naik kadang turun. Kalau sekarang paceklik siapa tahu besok panen. Tidak usah terlalu dipikirin. Nikmati saja pekerjaan kita.” Tiba-tiba Ding bersuara. Dari tadi ia hanya diam di pojok sambil senyum-senyum sendiri. Efek mariuana sepertinya sudah mulai nampak, ia menggisapnya sendiri, yang lain tidak ada yang mau. Ding memang paling nekad. Paket kecil mariuana ia dapatkan dari seorang sopir taxi di Ocho Rios, Jamaica. Kota kecil yang jaraknya dua jam berkendara menuju Kingston Town, tempat kediaman Sang Legendaris Reggae, Bob Marley. ”Kamu kalau lagi teler, kadang pinter, Ding.” Ujar Heru sambil menyemprotkan pengharum ruangan ke sekitar Ding duduk. Jaga-jaga kalau ada sekuriti kapal yang berpatroli. Bau asap mariuana sangat mudah dikenali. ”Jangan semprot saya terus, dong! Memangnya saya nyamuk.” Spontan semua tertawa ngakak dan merasa lucu berlebihan. Kabin jadi sangat gaduh. Sugeng pun berguling-gulingan di kasur. Dasar mabok!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN