“Ting-Tung.”
“Room Service!” Heru berseru sambil menekan bel di Cabin 715.
Walau dibarengi teriakan memperkenalkan diri, pintunya masih saja tertutup. Tangan dan bahunya mulai kesemutan menahan tray yang terisi penuh dengan makanan pesanan si penghuni kabin. Ia hampir memencetnya sekali lagi ketika pintu akhirnya terbuka.
Seorang gadis kecil berumur delapan tahunan membukakan pintu.
”Ouw, Breakfast!” ujarnya ceria.
“Good morning! How are you this morning?” Heru menyapa ramah. Suaranya terdengar imut dibuat-buat.
Gadis kecil itu tidak menjawab hanya membukakan pintu lebih lebar. Heru pun segera masuk dan menaruh orderan di meja. Ia juga merasa tidak perlu menata apalagi berlama-lama sambil berbasa-basi karena ia yakin tidak akan ada uang tip dari seorang anak kecil. Namun sebelum Heru beranjak, sebuah suara terdengar dari samping.
”Good morning!” Seorang pria berumur, agak botak dan berkacamata muncul dari dalam kamar mandi.
”Selamat pagi, tuan. Bagaimana kabar anda pagi ini. Apa tidur anda nyenyak semalam?” Heru menyapanya dengan greeting yang standar.
”Saya agak sedikit mabuk laut semalam. Saya sangat jarang bepergian dengan kapal laut.” Pria itu menjawab sambil memeriksa breakfast pesanannya.
”Siapa nama kamu?”
”My name is Heru, Sir.”
”Oke, saya ingin kamu mengantar makanan seperti ini, tiap pagi, jam-jam segini. Kalau bisa jam delapan on time. Jadi saya tidak perlu lagi menggantungkan breakfast card di gagang pintu tiap malamnya. Otomatis seperti ini tiap pagi, dan ingat, jam delapan on time.”
”Baiklah tuan, saya akan mencoba melayani anda sebaik mungkin.”
”Bagus. By the way nama saya Davis dan ini keponakan saya Medelaine. Kami hanya berdua di sini.” Pria itu memperkenalkan dirinya sambil mengusap kepala keponakannya. Gadis kecil itu pun merapatkan tubuhnya di pinggang pamannya.
Setelah menunggu sesaat dan tidak juga ada tanda-tanda uang tip, Heru pun segera beranjak ke luar kabin. ”See you tomorrow, Sir! Have a nice day.”
Begitulah seterusnya, setiap pagi tepat jam delapan Ia pun mengantar orderan breakfast untuk Mr Davis dan si kecil Madelaine. Ini sudah hari ke empat dan masih saja uang tip itu tidak pernah nongol. Hari itu Madelaine kembali membukakan pintu. Tanpa menggubrisnya, Heru pun segera masuk. Percuma saja bertegur sapa dengannya, bakalan dicuekin. Tak terlihat Mr Davis di kabin. Madelaine kembali duduk di atas kasur sambil menonton kartun.
”Kemana pamanmu, Madelaine?” Akhirnya ia pun bertanya.
”Paman sedang berjalan-jalan di Lower Promenade Deck. Sebentar lagi ia kembali.” Jawabnya ketus. Matanya tetap menatap TV.
”Kenapa kamu tidak ikut berolah raga bersamanya?”
Ia menatap Heru sekilas. ”Terlalu pagi. Saya lebih baik di sini. T&T and Cartoon Network, filmnya bagus-bagus sampai jam sepuluh.”
Heru hendak beranjak pergi ketika Madelaine memanggilnya.
”Tolong kamu tata dulu makanannya, jangan tinggalkan begitu saja.”
Heru terkejut seketika. ”Gila bener anak ini. Pamannya saja tidak pernah komplain.”
”Oh, maaf. Saya lupa.” Heru gelagapan menahan malu.
”No, you dont. Setiap hari kamu memang tidak pernah menatanya.” Ketus sekali bicara anak itu. Bikin kesal bertubi-tubi. Sebetulnya tidak terlalu repot menata makanan itu, hanya saja dari awal Heru sudah keburu malas duluan.
”Madelaine, saya tidak pernah melihat kamu bermain dengan anak-anak lainnya di kapal ini. Banyak anak-anak yang bermain di children club. Mereka kelihatan sangat gembira menikmati pelayaran.” Heru mencoba membicarakan topik lain. Gadis kecil itu sepertinya tidak punya teman. Selalu terlihat bermain sendiri atau bersama pamannya kemana-mana.
”Saya tahu di sini ada children club, tapi saya tidak suka mereka. Menjemukan.” Madelaine menjawab tanpa berpaling. Anak itu memang aneh. Heru hanya geleng-geleng.
”Heru! Apa kamu punya anak?” Tiba-tiba gadis kecil itu bertanya.
”Nop.” Jawab Heru singkat tanpa berpaling. Tangannya masih terus menata makanan.
“Are you married?”
“Nop, Im free like a bird.”
”Sudah berapa lama kamu kerja di sini?”
Heru melirik. Tumben ia bertanya-tanya sedetil itu, kayak orang gede saja.
”Baru empat bulan.” Heru bersiap pergi.
”Apa kamu suka melakukan ini?”
”Melakukan apa?”
”Working on board.” Ia mulai tidak memperhatikan TV.
Kali ini Heru tidak menjawabnya. Ia pun berbalik hendak berlalu.
”Heru!” Madelaine memanggilnya keras. ”You dont like me, do you?” Medelaine turun dari tempat tidur, menghampiri Heru. Mata kelabunya menatap tajam.
”I know, you dont like me. Saya juga tahu kalau melayani anak-anak memang merepotkan.” Tanpa menunggu jawaban, Medelaine pun berpaling ke meja makan.
Heru hanya terdiam kaku tak tahu harus menjawab apa. Anak bule kadang terlihat lebih dewasa dari umurnya. Maklum, mungkin karena gizinya juga lain.
Madelaine duduk di kursi makan membelakanginya. Ia terlihat kesulitan membuka kerdus raisin brand cereal. Reflek, Heru segera membantu membukakan. Gadis kecil itu tak sadar Heru begitu sigap. Ia hanya memandang sambil mencomot strawberry yang menjadi hiasan di atas whipped cream Belgian waffle. Terus terang selain merasa tidak enak padanya, Heru juga takut jika ia mengadu pada pamannya. Heru hanya diam, tak berani memandangnya. Kerdus regular milk kemasan kecil ia buka ujungnya, kemudian membuka pula plastik penutup slice banana dalam fruit compote. Medelaine memperhatikan gerak-geriknya.
”Oh iya! Saya hampir lupa. Saya punya sesuatu untuk kamu.” Medelaine segera turun dari kursi menuju lemari.
Ia mengambil sebuah tas punggung kecil. Heru memperhatikan gerak-gerik tangan mungil itu mengubek-ubek isi tas, lalu mengeluarkan sebuah amplop putih dengan logo Silver Cruise Line. Heru mencoba-mengira-ngira. ”Jangan-jangan uang tip!” (sebagian passenger memang suka memasukan uang tip dalam amplop) ”Aduh, semoga saja. Tapi masak sih, anak sekecil itu?”
Madelaine pun menyodorkan amplop itu. ”Buka saja!” Pintanya lucu.
Heru segera membuka amplop itu dengan jantung berdebar... Tak ada uangnya. Hanya sebuah karton putih berukuran post card. Pada karton tergambar karikatur seorang anak perempuan yang sedang memberi makan pada seekor kucing.
”Do you like it? Saya yang menggambarnya tadi malam.”
Heru hanya bisa melongo.
****
Hari embarkasi pun tiba. Tepat sudah 10 hari, voyage 12, Caribbean Cruise berakhir. Semua orang nampak sibuk, lebih sibuk dari hari biasanya. Passenger akan pulang dan di hari yang sama sekitar 1200 passanger baru akan berlayar bersama mereka sampai 10 hari ke depan. Heru berjalan cepat membawa orderan Mr Davis. Di hari terakhirnya itu ia meminta breakfast diantar satu jam lebih awal.
Mr. Davis terlihat sudah rapi. Koper-koper sudah siap tinggal dibawa. Sedangkan Madelaine nampak seperti biasa, menonton kartun dari atas tempat tidur. Heru menaruh orderan di atas meja dan segera menatanya.
“Are you ready to go, Sir?” Tanya Heru basa-basi.
“Yes. Back to reality. Work and work.”
“Bagaimana dengan pelayaran anda? Apakah menyenangkan?”
“Excellent. Thanks to you, Heru. Youve made us just like a king.”
“Im glad to hear that, Sir.”
“Madelaine juga kelihatannya senang dapat berlibur di sini. Bukan begitu, Madelaine?” Mr. Davis berpaling pada keponakannya.
“Ya, ya… Not bad.” Jawab Madelaine polos. Matanya masih tak berkedip menatap TV.
”Heru, apa kamu suka dengan kucing?”
Heru terkejut mendengar pertanyaan Mr Davis. Seketika dipandangnya Madelaine. Begitu pula dengan gadis itu. Ia memandang Heru sambil tersenyum.
”Suka Tuan. Saya suka binatang, tapi tidak untuk memeliharanya. High cost, Tuan.” Jawab Heru yang masih heran dengan pertanyaan itu.
”Siapa tokoh kucing yang kamu sukai? Apakah film-film kartun Amerika juga diputar di Indonesia?” Mr Davis bertanya lagi. Masih soal kucing.
”Tentu saja, Tuan. Film-film kartun dan animasi di negara kami di d******i kartun-kartun serta animasi dari Amerika dan Jepang. Saya sendiri menyukai Tom & Jerry dan Doraemon.”
”Doraemon? Kucing apa itu?”
”Itu kucing kartun dari Jepang, Tuan.” Heru masih tak habis pikir dengan obrolan ini, kayak tidak ada obrolan lainnya.
”Kelihatannya kartun Jepang cukup mendapat tempat di negara-negara Asia seperti kalian.”
”Begitulah, Tuan.” Jawab Heru sembari memikirkan kata apa yang tepat untuk bisa berpamitan dengan mereka. Orderan yang belum diantar masih banyak.
“How about Garfield? Do you know Garfield?”
Heru gregetan. Kakinya sudah gatal ingin segera pergi.
”Ya Tuan, saya tau Garfield. Menurut saya Garfield benar-benar mencerminkan karakter kucing yang sebenarnya. Cuek dan hobinya tidur.”
Mr. Davis tersenyum. Lalu ia berpaling pada keponakannya.
”Madelaine, cepat berikan padanya!”
Gadis kecil itu segera beranjak dari tempat tidur. Ia menghampiri Heru lalu menjulurkan sebuah amplop putih.
Heru tidak segera meraihnya. Dipandangnya kedua orang itu.
Apakah ini lelucon lagi? Pikirannya menerka-nerka.
”Please! Terimalah! Jumlahnya memang tidak banyak. Ini sekedar hadiah atas pelayananmu kepada kami. Madelaine juga sering bercerita tentang kamu. Kalian kelihatannya berteman baik.”
Dengan ragu ia pun meraih amplop itu.
“Do you know who he is?” Madelaine bertanya sambil melepaskan tangannya dari amplop.
Heru tidak menjawab. Pikirannya masih belum konek.
“My uncle is the creator of Garfield.” Madelaine menjawab sendiri pertanyaannya dengan bangga.
Heru pun memandang Mr Davis. Ia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Madelaine.
Mr. Davis tersenyum. “Yes, shes right. Thats me. Im the creator of Garfield. JIM DAVIS.”
“Ya Tuhan! Celebriti dunia rupanya.”
Les enfants sont les clients de demain. Anak-anak adalah pelanggan kita di masa yang akan datang. Maka itu jagalah mereka.