Elanorku, sayang.
Dengan kehadiran lima orang pelayan tambahan yang kukirim, aku ingin kau tidak bekerja berat-berat. Biarkan mereka mengerjakan semuanya. Kau hanya perlu menyuruh-nyuruh saja. Aku berharap kau bahagia bersama Edward. Apa pun statusmu itu aku akan tetap menganggapmu sebagai menantuku. Ada beberapa orang yang mencela dirimu tapi aku membalas celaan mereka karena bagiku kau sekarang adalah anggota keluarga kami dan mereka berhak memanggilmu dengan Mrs. Ferarrs.
Elanor, aku harap kau dan Edward dapat memberikan kami cucu-cucu yang menggemaskan. Minggu depan kami akan berkunjung ke sana. Kuharap semuanya berjalan dengan baik. Aku akan memberikanmu obat tradisional untuk kesuburanmu. Suamiku sangat mendambakan cucu dari putra kesayangan kami.
“Aku rasa ibumu berlebihan,” ujar Elanor saat dia dan Edward berada di meja makan. Para pelayan itu sibuk mondar-mandir tak keruan sehingga membuat Elanor agak kurang suka.
Suaminya hanya diam dan tidak menatap Elanor sama sekali. Entah kenapa Edward malah tampak dingin dan agak menakutkan bagi Elanor. Rahangnya yang kukuh seakan menasbihkan bahwa dia pria yang elegan. Kesan itu berbeda dari saat Elanor bertemu dengannya pertama kali dan kedua kali.
“Aku akan pulang sore, Elanor. Kuharap kau tetap di rumah. Lakukan apa yang kau suka. Kalau kau mau pergi bawa serta dua pelayan rumah.” Edward yang telah menghabiskan sarapannya bangkit dari kursi. “Dan jangan pernah berbuhungan dengan Harry lagi.” Dia membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan Elanor yang hanya dipisahkan meja bulat kecil. “Kau istriku—jangan macam-macam.” Ancamnya dengan nada posesif dan tatapan mata yang menakutkan. Elanor tak pernah menduga Edward semengerikan ini ketika mengatakan ancamannya.
***
Hari berlalu begitu saja sejak Elanor menyandang status sebagai Mrs. Ferrars. Dia menikmati hari-harinya sebagai nyonya. Dimanja para pelayan, mendapatkan apa pun yang diinginkan dan setiap kali dirinya berjumpa dengan orang lain—mereka menatap Elanor dengan tatapan penuh penghormatan dan Elanor menikmati sikap baik orang-orang padanya karena statusnya. Tapi, dia diperlakukan Edward tidak sebagai seorang istri. Entah kenapa pria itu seakan mencampakkannya.
Sikapnya dingin dan sering kali menjauhi Elanor. Mereka tidur satu ranjang tapi Edward seakan tak berniat menyentuh Elanor meski dia pernah merasakan cumbuan Edward saat malam pengantin. Elnaor tidak mempermasalahkan itu, karena dia pun tidak mencintai Edward. Dan dia cukup bahagia hidup sebagai Mrs. Ferrars meskipun hatinya masih terluka. Masih ada Harry di sana—Tuan yang selalu dicintainya.
Apa kabar pria itu?
“Elanor,” Elanor terkesiap mendengar suara hangat Edward.
Suaminya duduk di sampingnya di dekat perapian. Menatap Elanor serius sebelum mengatakan sesuatu.
“Kau butuh apa?” tanya Elanor bukan seperti seorang istri yang menanyakan kebutuhan suaminya melainkan seperti seorang asisten.
“Tidak,” Edward menggeleng. “Aku tidak butuh apa-apa. Kau sedang apa?”
Elanor menatap syal yang dirajutnya. “Merajut syal,” jeda sejenak. “untukmu.” Lanjutnya. Edward tersenyum.
“Terima kasih.”
Elanor merasakan kekakuan antara dirinya dan Edward. Setelah dipikir-pikir rasanya Edward adalah pria pendiam. Atau dia menyesal karena menikahi dirinya. Menikahi seorang pelayan.
“Aku ingin membicarakan masalah serius denganmu, Elanor.”
Elanor menatap Edward serius seraya memiringkan kepalanya agar lebih fokus. “Tentang apa?”
“Tentang pernikahan kita.”
Pikiran buruk menyelubungi kepala Elanor. Dia takut Edward menyesal menikahinya dan meminta sebuah perceraian. Ya ampun, bercerai adalah suatu hal yang buruk. Teramat buruk bagi seorang wanita apalagi dia adalah mantan pelayan dari keluarga Roget.
“Aku tak pernah menyangka menikamu, Elanor. Kau tak pernah masuk dalam daftar wanita yang ingin kumiliki. Lebih kepada—wanita yang ingin kunikmati.” Kalimat itu seperti pisau yang menusuk d**a Elanor. Apakah dia tampak serendah itu? Apa hanya karena dia cantik tapi memiliki status yang hanya sebagai pelayan keluarga Roget? Apa yang salah dalam dirinya sehingga Edward terang-terangan mengatakan hal yang menyakitkan.
Ekspresi wajah Elanor berubah padam dan itu disadari oleh Edward.
“Elanor, seperti yang sudah kubilang bahwa aku tidak mencintaimu. Ini semacam dendamku pada Harry karena telah mengambil Anne. Tapi setelah mengenalmu, kau adalah wanita baik. Aku memang baru mengenalmu baru-baru ini, tapi kau tidak punya gelagat seperti wanita-wanita lainnya. Aku puas dapat memilikimu dan menjauhkanmu dari Harry.”
Hening.
Keheningan yang ganjil.
“Kau masih mencintai Harry?” pertanyaan itu membuat Elanor gundah.
“Kenapa kau bertanya demikian?”
“Karena kalau kau masih mencintainya, ada kemungkinan kalian akan bertemu lagi. Aku tidak ingin kau bertemu dengannya Elanor. Aku tidak ingin kau merusak harga diriku. Apalagi kalau ada yang tahu dan hubunganmu dengan Harry akan menciptakan skandal yang mencoreng nama keluarga Ferrars dan Roget.”
Elanor menelan ludah.
Dia tentu saja ingin mengenyahkan perasaannya pada Harry apalagi mengingat penghinaan Anne padanya. Tapi, perasaan ini seperti melekat ratusan abad yang berkarat di hatinya. Di mana Harry sangat sulit dilepaskan dari hatinya yang rapuh, cintanya yang besar, dan harapannya untuk tetap bersama pria itu.
***
Mrs. Ferrars mengunjungi Elanor sesuai dengan isi suratnya. Dia bertandang dengan membawakan banyak sekali buah-buahan dan makanan ringan yang dibelinya di pasar tradisional. Mrs. Ferrars bukan wanita angkuh seperti kebanyakan wanita bangsawan lainnya. Dia anggun dan memiliki karakter baik. Dia tidak pernah melihat orang dari status dan hartanya, baginya semua itu sama. Sama-sama manusia dan sama-sama makhluk hidup yang tinggal di Bumi Tuhan. Edward perlu bersyukur memiliki seorang ibu yang sangat mulia seperti Mrs. Ferrars.
“Mungkin akan lebih baik kalau foto pernikahamu di pasang di sini,” ujar Mrs. Ferrars menunjuk dinding atas sampig sofa. “Emm, Elanor,” panggil sang ibu mertua ramah.
“Ya, Ibu,” sahut Elanor.
“Kalau kau perlu apa-apa, jangan sungkan untuk mengabari kami ya. Aku harus segera pulang karena sepupu Edward akan datang ke rumah dan dia meminta untuk tinggal di rumahmu untuk beberapa minggu. Awalnya aku menolaknya karena aku tahu dia memiliki perasaan pada Edward. Aku takut dia mengacaaukan kalian. Jadi, kupikir aku akan pulang dan menahannya dan tidak membiarkannya mengunjungi kalian apalagi tinggal di rumah kalian.” Mrs. Ferrars tersenyum geli.
Dia bangkit dari sofa berjalan menuju keluar pintu dengan Elanor di sampingnya. Dia terus mengoceh akan banyak hal. Tentang masa kecil Edward, tentang keluarganya dan tentang keluarga Roget. Dia cukup mengenal keluarga Roget.
“Aku tidak terlalu menyukai mantan majikanmu itu.” Ucapnya membuat Elanor penasaran.
***