Pagi-pagi sekali Anne menemui Elanor di tepi sungai dekat dengan rumahnya. Dia meminta Elanor menemuinya karena merasa perlu membicarakan banyak hal yang bersifat rahasia dengan Elanor tentang Edward.
“Aku sudah menjalin hubungan dengannya cukup lama. Aku mencintainya dan dia mencintaiku bahkan lebih dari cintaku padanya, Elanor. Dia teramat loyal padaku sampai aku tertarik pada Harry yang datang dengan ketampanannya yang luar biasa. Aku sangat senang karena dia menyambut perasaanku. Kuharap kau menolak Edward—“ Elanor menoleh tajam.
“Dia mencintaiku, Elanor. Dan harusnya kau tahu kalau dia menikahimu bukan karena menginginkanmu. Kamu hanya semacam pelampiasan. Seleranya bukan pelayan rendahan sepertimu.” Kata demi kata yang dilontarkan Anne begitu menyakitinya. Entah sadar atau tidak Anne begitu jahat padanya. Mengatakan bahwa dirinya ‘pelayan rendahan’ begitu membuat Elanor berang. Meski begitu dia masih bisa mengendalikan emosinya.
“Siapa bilang Edward hanya menjadikan aku sebagai pelampiasannya?” Elanor berkata seperti bukan seorang pelayan melainkan seorang wanita yang berpendidikan.
Anne tampak terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Elanor begitu dengan kepercayaan diri.
“Kalau saya hanya sebagai pelampiasannya, dia tentu tidak akan mau menikahi saya. Nyonya hanya merasa iri atau sejenis iri terhadap saya karena mantan kekasih Anda menginginkan untuk menikah dengan saya. Dia pria yang tampan, mapan dan terpandang di seantreo negeri ini. Anda tentu menyesal karena memilih seorang pria seperti Tuan Harry dibandingkan Edward.” Elanor tidak tahu apa yang menggerakkan bibirnya hingga dia dengan lancang menghina pria yang dicintainya. Tapi perkataan Anne begitu menyakitinya hingga dia harus membalas penghinaan Anne yang keterlaluan.
“Kau—berani-beraninya—“
“Saya sudah tidak bekerja untuk suami Anda. Saya calon istri Edward Ferrars. Putra dari Lord Ferrars.” Elanor tampak senang mengatakan hal semacam itu. Dia berhasil membuat Anne terbelalak tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dia harus menyudahi penderitaannya. Salah satu cara mengangkat derajatnya di mata manusia adalah menikah dengan Edward. Dia ingin membuat Anne semakin iri padanya.
Anne menatap Elanor dengan ketidakpercayaan.
“Sungguh, kau seperti bukan Elanor,” ucapnya seraya menggeleng.
“Anda tentu tidak menutup mata kan kalau saya dan suami Anda saling menginginkan?”
Anne menatap Elanor jengkel. Ya, dia tidak menutup mata. Dia selalu curiga bahwa antara Harry dan Elanor tidak hanya berhubungan antara pelayan dan tuannya. Tapi dia menepis semua itu karena Elanor tak pantas bersaing dengannya.
“Berengsek kau!”
“Lebih berengsek saya atau Anda, Nyonya. Anda pernah melakukan aborsi kan saat masih sekolah dulu?”
Kedua daun bibir Anne menganga tak percaya seorang pelayan seperti Elanor tahu rahasia kelamnya semasa sekolah.
***
Pernikahan Elanor dan Edward berlangsung megah. Edward menghadiahi Elanor mansion yang cukup berdekatan dengan rumah ala kadarnya milik Harry dan Anne. Semua tamu-tamu terhormat senatreo negeri datang untuk mengucapkan selamat. Elanor yang memang cantik tampak makin cantik di hari pernikahannya. Beberapa orang yang tidak suka pada status Elanor memang mencemoohnya secara membabi buta dan menjadikannya bahan gosip dan hujatan terkhusus wanita-wanita lajang yang mengincar Edward. Tapi keluarga Edward adalah keluarga yang baik hati. Mereka tidak mementingkan seberapa tinggi statusmu atau seberapa banyak hartamu. Elanor gadis yang baik. Mereka tidak bisa untuk menolak Elanor sebagai menantunya meskipun terkadang masih ada perasaan was-was kenapa Edward memilih Elanor sebagai istrinya.
Malam setelah pernikahan mereka, Edward selalu sibuk dengan teman-temannya. Elanor berbaring di ranjang sendirian. Dia memikirkan banyak hal. Dia tidak menepati janjinya pada Harry untuk tidak menikah. Dia juga telah menghina Harry di depan Anne. Itu semua karena dendam dan rasa sakit hatinya. Dia sudah diperbudak oleh cintanya pada Harry tapi di sisi lain dia sangat membenci Anne sehingga mungkin pernikahan dengan Edward dapat membuat hidupnya lebih baik dan bisa melupakan Harry.
“Aku harus bahagia,” gumamnya seraya menyeka air matanya mengingat Harry.
Edward datang. Dia menyalakan lampu. Elanor yang sadar akan kedatangan Edward berpura-pura tidur. Dia merasakan bau alkohol dari napas pria itu. Merasa geli saat bulu-bulu halus di rahang Edward mengenai wajahnya. Tapi dia memilih terdiam. Tetap pura-pura tertidur. Dia belum siap disentuh Edward. Dan belum mau. Dia hanya mau Harry yang menyentuhnya.
Dan syukurlah, sentuhan-sentuhan itu tidak berlangsung lama. Bau napas Edward hilang dan sepertinya pria itu berbaring di atas ranjangnya.
***
Pagi yang disertai dengan keterkejutan karena kedatangan lima orang pelayan baru di mansion mewah ini. Salah satu pelayan itu memberikan sebuah surat dari Mrs. Ferrars. Elanor agak memusingkan para pelayan yang datang karena sebelum kedatangan lima pelayan ini, rumah ini sudah memiliki empat pelayan. Tiga orang pelayan dan satu tukang kebun. Baginya, Mrs. Ferrars begitu memanjankannya secara berlebihan. Elanor membuka surat dari mertuanya itu.
Elanorku, sayang.
Dengan kehadiran lima orang pelayan tambahan yang kukirim, aku ingin kau tidak bekerja berat-berat. Biarkan mereka mengerjakan semuanya. Kau hanya perlu menyuruh-nyuruh saja. Aku berharap kau bahagia bersama Edward. Apa pun statusmu itu aku akan tetap menganggapmu sebagai menantuku. Ada beberapa orang yang mencela dirimu tapi aku membalas celaan mereka karena bagiku kau sekarang adalah anggota keluarga kami dan mereka berhak memanggilmu dengan Mrs. Ferarrs.
Elanor, aku harap kau dan Edward dapat memberikan kami cucu-cucu yang menggemaskan. Minggu depan kami akan berkunjung ke sana. Kuharap semuanya berjalan dengan baik. Aku akan memberikanmu obat tradisional untuk kesuburanmu. Suamiku sangat mendambakan cucu dari putra kesayangan kami.
“Aku rasa ibumu berlebihan,” ujar Elanor saat dia dan Edward berada di meja makan. Para pelayan itu sibuk mondar-mandir tak keruan sehingga membuat Elanor agak kurang suka.
Suaminya hanya diam dan tidak menatap Elanor sama sekali. Entah kenapa Edward malah tampak dingin dan agak menakutkan bagi Elanor. Rahangnya yang kukuh seakan menasbihkan bahwa dia pria yang elegan. Kesan itu berbeda dari saat Elanor bertemu dengannya pertama kali dan kedua kali.
“Aku akan pulang sore, Elanor. Kuharap kau tetap di rumah. Lakukan apa yang kau suka. Kalau kau mau pergi bawa serta dua pelayan rumah.” Edward yang telah menghabiskan sarapannya bangkit dari kursi. “Dan jangan pernah berbuhungan dengan Harry lagi.” Dia membungkuk mensejajarkan wajahnya dengan Elanor yang hanya dipisahkan meja bulat kecil. “Kau istriku—jangan macam-macam.” Ancamnya dengan nada posesif dan tatapan mata yang menakutkan. Elanor tak pernah menduga Edward semengerikan ini ketika mengatakan ancamannya.
***