Hari-hari dilalui Elanor dengan kepedihan hati yang tak bisa digambarkan langit. Dia terlalu mencintai Harry dan cintanya semakin bertambah besar saat Harry menyentuhnya. Dan semakin bertambah lagi ketika dia tahu Harry memiliki perasaan yang sama. Udara di sekitarnya seakan menyesakkan d**a. Dia berlapan g d**a ketika Harry menikah dengan Anne. Dia tetap setia pada Harry meski Harry sudah menikah. Dia tetap setia menjadi pelayan untuk Tuannya.
Edward beserta rombongan keluarganya berbincang hangat dengan keluarga Roget. Harry memilih tidak ikut serta dalam perbincangan. Dia memilih menghabiskan waktu di Istal bersama kuda putih kesayangannya.
Saat Harry memberitahu soal Edward yang ingin menikah dengan Elanor, Anne terkejut. Sangat terkejut. Edward adalah mantan kekasihnya, mereka berpisah karena Anne jatuh hati pada Harry. Tapi lebih dari itu ada satu kenangan buruk dari keduanya. Ada dendam dalam diri Edward terhadap Harry karena mengambil Anne-nya. Dan dia mungkin berniat melampiaskan dendamnya pada Harry dengan menikahi Elanor. Entah dari mana dia tahu soal Elanor dan Harry.
“Nah, Elanor, ajak Edward berjalan-jalan ke kebun belakang kita yang indah.” Kata Mrs. Roget menatap Elanor.
“Baik, Nyonya.”
“Eh, kau tidak boleh memanggilku seperti itu, Elanor. Panggil aku Bibi Susan.” Mrs. Roget tersenyum senang.
Elanor hanya mengangguk. “Mari, Tuan Edward.”
Edward tersenyum.
Mereka berdua sampai di kebun belakang. Berdiri di bawah pohon ek.
“Jangan menatapku seperti itu, Tuan.” Protes Elanor saat menoleh pada Edward yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak disukai Elanor. Seperti tatapan seorang pria pada wanita berpakaian seksi.
“Aku tidak tahu mau berbincang apa denganmu.” Edward memulai. “Selain menganggumi kecantikanmu, Elanor. Pantas Harry pun menyukaimu.” Edward membuang wajah saat Elanor menoleh.
“Terima kasih atas pujiannya. Kau pria terpandang. Tampan dan berharta. Kenapa kau memilihku untuk dijadikan istrimu, Tuan? Aku rasa di luar sana banyak yang lebih cantik daripada aku dan lebih terpandang daripada aku yang hanya seorang pelayan.”
“Karena Harry telah mengambil kekasihku, Elanor. Dan ini adalah saatnya aku mengambil seseorang yang Harry miliki.”
Elanor menatap Edward tajam.
Dia menggeleng tak percaya. “Niatmu jahat, Tuan Edward.”
“Oh ya? Bagaimana dengan Harry yang menikahi Anne? Dia mengambil Anne dan tidak memilihmu?”
“Darimana Anda tahu semua itu?”
Sebelah sudut bibir Edward tertarik ke atas membentuk senyuman sinis.
***
Elanor memeluk Harry erat saat semua orang mengantar kepulangan keluarga Ferras. Dia menangis dengan luapan emosi yang entah bagaimana begitu meluap. Dia benci takdirnya. Dia benci apa yang sudah digariskan takdir.
Harry hanya membelai lembut punggung Elanor.
“Aku tidak bisa memegang janjiku untuk tidak menikah, Tuan.” Katanya di sela isak tangisnya.
“Aku tidak bisa. Aku ingin sekali, Tuan. Aku ingin sekali tetap menjadi pelayanmu. Aku ingin tetap bersamamu selamanya.”
“Elanor, tidak apa. Tidak apa. Kita akan tetap bertemu, Elanor. Mungkin kau miliknya tapi yang terpenting adalah di hatimu tetap ada aku. Aku tidak bisa mencegah pernikahan kalian. Keluarga Ferrars punya kuasa. Aku harap kau bahagia dengan Edward.”
“Tidak,” Elanor menggeleng. “Aku tidak akan bahagia bersama pria manapun kecuali denganmu, Tuan.” Elanor mendongak, menatap Harry.
Harry menatap Elanor gamang. Dia pun merasa bingung di satu sisi dia menginginkan Elanor di sisi lain kalau Elanor menolak Edward bisa saja Elanor akan ditendang dari keluarga Roget. Apa yang harus dilakukannya? Membawa Elanor ke tempat perasingan di mana hanya dia yang tahu keberadaan Elanor dan sesekali mengunjunginya? Apakah itu ide yang tepat bagi seorang wanita yang begitu tulus mencintainya?
“Kita tidak akan bisa bersama Elanor.” Pernyataan itu meluncur seperti sebuah pisau yang dilempar tepat di jantung hati Elanor. Dia mencoba tenang. Karena ya, memang seperti itulah keinginan takdir dan Elanor tidak punya kuasa.
Harry memutuskan untuk pulang ke rumahnya dengan membawa perasaan yang tidak keruan.
***
Pagi-pagi sekali Anne menemui Elanor di tepi sungai dekat dengan rumahnya. Dia meminta Elanor menemuinya karena merasa perlu membicarakan banyak hal yang bersifat rahasia dengan Elanor tentang Edward.
“Aku sudah menjalin hubungan dengannya cukup lama. Aku mencintainya dan dia mencintaiku bahkan lebih dari cintaku padanya, Elanor. Dia teramat loyal padaku sampai aku tertarik pada Harry yang datang dengan ketampanannya yang luar biasa. Aku sangat senang karena dia menyambut perasaanku. Kuharap kau menolak Edward—“ Elanor menoleh tajam.
“Dia mencintaiku, Elanor. Dan harusnya kau tahu kalau dia menikahimu bukan karena menginginkanmu. Kamu hanya semacam pelampiasan. Seleranya bukan pelayan rendahan sepertimu.” Kata demi kata yang dilontarkan Anne begitu menyakitinya. Entah sadar atau tidak Anne begitu jahat padanya. Mengatakan bahwa dirinya ‘pelayan rendahan’ begitu membuat Elanor berang. Meski begitu dia masih bisa mengendalikan emosinya.
“Siapa bilang Edward hanya menjadikan aku sebagai pelampiasannya?” Elanor berkata seperti bukan seorang pelayan melainkan seorang wanita yang berpendidikan.
Anne tampak terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Elanor begitu dengan kepercayaan diri.
“Kalau saya hanya sebagai pelampiasannya, dia tentu tidak akan mau menikahi saya. Nyonya hanya merasa iri atau sejenis iri terhadap saya karena mantan kekasih Anda menginginkan untuk menikah dengan saya. Dia pria yang tampan, mapan dan terpandang di seantreo negeri ini. Anda tentu menyesal karena memilih seorang pria seperti Tuan Harry dibandingkan Edward.” Elanor tidak tahu apa yang menggerakkan bibirnya hingga dia dengan lancang menghina pria yang dicintainya. Tapi perkataan Anne begitu menyakitinya hingga dia harus membalas penghinaan Anne yang keterlaluan.
“Kau—berani-beraninya—“
“Saya sudah tidak bekerja untuk suami Anda. Saya calon istri Edward Ferrars. Putra dari Lord Ferrars.” Elanor tampak senang mengatakan hal semacam itu. Dia berhasil membuat Anne terbelalak tak percaya dengan apa yang dikatakannya.
Dia harus menyudahi penderitaannya. Salah satu cara mengangkat derajatnya di mata manusia adalah menikah dengan Edward. Dia ingin membuat Anne semakin iri padanya.
Anne menatap Elanor dengan ketidakpercayaan.
“Sungguh, kau seperti bukan Elanor,” ucapnya seraya menggeleng.
“Anda tentu tidak menutup mata kan kalau saya dan suami Anda saling menginginkan?”
Anne menatap Elanor jengkel. Ya, dia tidak menutup mata. Dia selalu curiga bahwa antara Harry dan Elanor tidak hanya berhubungan antara pelayan dan tuannya. Tapi dia menepis semua itu karena Elanor tak pantas bersaing dengannya.
***