Elanor mengenakan pakaiannya secara terburu-buru begitupun dengan Harry hingga mereka sadar. Yang datang adalah Anne dan para pelayannya. Wajah Elanor memerah. Dia agak pucat sehingga menarik kecurigaan Anne.
“Kenapa Elanor?”
“Tidak, Nyonya.” Sanggah Elanor.
“Kenapa kau mengunci pintunya?” Sebelah alis Anne melengkung.
“Emm—“ Elinor tampak ragu dan bingung. “Aku takut ada orang asing datang.”
“Apakah suamiku sudah pulang?” tanpa mempercayai jawaban Elanor, Anne masuk ke rumah.
“Ya, Tuan baru datang dan dia baru mandi.”
Anne kembali menatap Elanor. Tatapan menusuk. Tatapan kecurigaan.
“Saya permisi.” Elanor melesat pergi.
“Kau sudah pulang sayangku?” Harry mendekati Anne dan mencium bibirnya singkat.
“Ya,” sahut Anne.
“Bagaimana keadaan ibumu? Elanor bilang dia sedang sakit?”
“Ibu memang suka sakit mendadak. Tapi tadi dokter bilang tidak apa. Dia hanya butuh istirahat dan tidak boleh kelelahan.”
Harry mengangguk. “Makan yuk! Elanor sudah menyiapkan makanan kita.”
Anne mengangguk. Dia menelan semua kecurigaannya.
***
Malam menelan siang.
Harry terbaring di ranjangnya. Anne tertidur nyenyak. Dia masih memikirkan Elanor. Rasanya belum puas menikmati kebersamaan dengan Elanor. Dia selalu ingin Elanor. Dia baru memainkan sebelah d**a Elanor dengan lidahnya saat Anne datang.
Elanor, sedang apa kau?
Ingin rasanya dia beranjak dari ranjang dan menemui Elanor. Dan kembali menghabiskan waktu dengan pelayannya. Dia ingin sekali. Tapi bagaimana dengan Anne. Bagaimana kalau perselingkuhan mereka diketahui Anne. Anne akan menceraikannya atau Anne akan mema’afkannya dan mengusir Elanor. Dia akan mengadu pada mertuanya dan semua akan makin runyam.
***
Suatu pagi yang mengguncang hati Elanor juga Harry—keluarga Harry memberitahu soal Edward yang berniat memperistri Elanor. Edward meminta pada Mr.Roget tentang Elanor. Semua tentu terkejut—apalagi Mrs. Roget. Dia tercengang mendengar pria terhormat yang dikenal masyarakat luas karena tahta dan hartanya meminta Elanor sebagai istrinya.
Elanor memang cantik, tapi mereka tak pernah menyangka bahwa kecantikan Elanor mampu meluluhkan pemuda tampan ini. Mrs. Roget menghubungi Harry lewat surat dan dia meminta Elanor ke rumahnya untuk bertemu dengannya. Dia teramat senang karena pelayan Harry akan memiliki gelar yang istimewa.
“Terpujilah, kau, Elanor.” Mrs. Roget menatap Elanor dengan mata berbinar-binar.
Di sana ada Mrs. Roget, Elanor dan Harry. Dan Bibi Arra.
Elanor menoleh pada Harry. Kemudian tatapannya kembali pada Mrs. Roget. “Aku tidak berniat menikah, Nyonya.”
Hening.
Semua terdiam. Mendadak bisu. Burung-burung yang ada di dalam sangkarnya pun mendadak bisu.
Ini gila! Elanor sudah tidak waras. Penawaran yang hanya ada sekali dalam hidupnya. Edward—pemuda yang terhormat itu ingin mengangkat derajat Elanor yang hanya sebagai seorang pelayan rendahan. Demi apa pun—Susan yakin semua wanita di seantreo negeri ini yang bekerja sebagai pelayan tidak akan menolak pinangan Edward.
“Maksudmu apa?” Mrs. Roget bertanya tidak percaya.
“Aku tidak ingin menikah,” Elanor menekuk wajahnya.
Harry tampak lega. “Mom, Elanor tidak ingin menikah. Jangan paksa dia.”
Bibi Arra kecewa. Tentu saja. Dia adalah salah satu orang yang menentang cinta Elanor pada Harry.
“Tidak, Elanor!” wajah Mrs. Roget begitu merah keunguan hingga membuat Elanor takut. “Ini kesempatan yang sangat baik untukmu. Kau tahu betapa bahagianya aku ketika Edward datang dan membicarakan tentangmu. Kau gila kalau sampai tidak mau menikah dengan Edward.”
Ini bukan soal untuk kebahagiaan Elanor. Tapi ini soal bagaimana nanti keluarga Roget terkenal karena memiliki pelayan yang dinikahi seorang putra bangsawan terkenal.
“Kalau kau menolak pinangan Edward, jangan pernah menjadi pelayan di rumah ini lagi. Kau tidak akan aku anggap, Elanor.” Ancam Mrs. Roget seraya bangkit.
Elanor tampak bersedih. Dia menatap Harry yang balik menatapnya dengan tatapan sendu.
“Elanor, kita perlu bicara. Aku tunggu di kebun belakang.” Bibi Arra bangkit.
“Elanor,” Harry menatapnya.
“Aku tidak ingin menikah denganyang lain selain Tuan,” air mata Elanor merebak.
Harry tampak sedih. “Aku tidak tahu, Elanor. Keluarga Edward Ferrars memiliki kekuasaan yang besar di negeri ini. Aku tidak mengerti kenapa dia menginginkanmu. Dan aku benar-benar tidak ingin dia memilikimu.”
“Apa yang harus aku lakukan, Tuan?” Elanor bertanya.
Harry hanya terdiam. Perlukah dia jujur pada ibunya tentang perasaan Elanor?
***
“Elanor, aku senang ada pria seperti Edward yang meminangmu. Terima dia, Elanor. Dia benar-benar ingin mempersuntingmu. Ini rezeki, Elanor.” Bibi Arra menyentuh kedua pipi Elanor. “Kau beruntung, sayang. Bibi akan senang kau menikah dengan seorang pria bangsawan. Apalagi kedua orang tuamu di sana, mereka akan sangat senang. Edward tidak takut dengan cemoohan orang-orang karena memperistri seorang pelayan.”
Elanor tak berekspresi. Wajahnya tetap sama sendu dan muram.
Elanor tak sanggup menolak Mrs. Roget yang memintanya stay di rumah Mrs. Roget dan tidak ikut pulang bersama Harry. Mrs. Roget meminta Elanor tetap di sini sampai Edward kembali dan bertemu Elanor.
Harry menatap Elanor yang—seakan tidak bisa menolak semua yang digariskan takdir. Dia tak kuasa berontak. Dia hanya seorang pelayan. Dia hanya yatim piatu. Dia tidak punya siapa pun kecuali keluarga Roget dan Bibi Arra yang memiliki hak atas dirinya.
Harry sama muramnya dengan Elanor. Dia bisa apa? Memilih Elanor sebagai pasangan hidupnya pun dia tak bisa. Harry hanya seorang pria yang terlalu takut pada orang tuanya, statusnya dan masyarakat. Kehormatan keluarganya adalah hal penting bagi Mrs. Roget.
Elanor masuk ke kamarnya dan menangis. Dia tidak bisa memiliki pria yang dicintainya. Dia pun harus pasrah ketika harus menikah dengan pria yang tak dicintainya.
Hanya wajah Harry yang selalu terukir dalam hatinya.
Takdir begitu kejam untuk seorang Elanor.
***
Hari-hari dilalui Elanor dengan kepedihan hati yang tak bisa digambarkan langit. Dia terlalu mencintai Harry dan cintanya semakin bertambah besar saat Harry menyentuhnya. Dan semakin bertambah lagi ketika dia tahu Harry memiliki perasaan yang sama. Udara di sekitarnya seakan menyesakkan d**a. Dia berlapang d**a ketika Harry menikah dengan Anne. Dia tetap setia pada Harry meski Harry sudah menikah. Dia tetap setia menjadi pelayan untuk Tuannya.
Edward beserta rombongan keluarganya berbincang hangat dengan keluarga Roget. Harry memilih tidak ikut serta dalam perbincangan. Dia memilih menghabiskan waktu di Istal bersama kuda putih kesayangannya.
***