Jauh di masa depan. Nafas Ita tersengal. Peluh memenuhi pelipis. Beberapa telah jatuh merembas ke busa kasur. Ia memandangi sekitar. Ini masih kamarnya. Jam menunjukan pukul dua belas malam. Ia berjalan gontai menuju pintu. Rasa lelah memenuhi diri setelah berbagai bunga tidur seolah memaksa masuk hingga memenuhi isi kepala. Sebuah cermin menampakan sosok Ita setelah tidak sengaja melewatinya. Merasa ada kejanggalan. Ita mendekat. "Kok aku nangis sih?" Monolognya setelah tahu air mukanya sembab berlinang air mata dengan hidung memerah. Memutuskan untuk tidak memikirkan. Ita beralih setelah menghapus jejak air mata. Tenggorokannya terasa kering. Ia butuh minum. "Sayang? Belum tidur?" Saut Ria. Ibu kandung Ita. "Udah Ma. Aku kebangun tadi." "Lho muka mu kok kayak gitu. Kamu habis nan

